Benarkah “Closed House” Menyimpan Segudang Penyakit ?

Memang di lapangan banyak muncul pertanyaan kritis oleh peternak yang sedang diperkenalkan tentang sistem pemeliharaan kandang tertutup atau Closed House. Mulai yang benar-benar mengkritisi system itu sampai ke jenis pertanyaan yang cenderung menyesatkan.

Demikian paparan Ir Dhanang Purwantoro ketika tulisan Infovet edisi Maret 2012 yang lalu mengupas tentang Closed House dan banyak muncul perasaan skeptis dari yang belum menerapkan sistem itu.

Beredar informasi menyesatkan bahwa Closed House menjadi sarang aneka penyakit bagi kawasan sekitar, juga tentang aneka penyakit jamur yang tumbuh subur di kawasan sekitar dan bahkan ada informasi tentang tingginya kasus penyakit pernafasan dan penyakit lain yang penularannya melalui udara.
Dengan ringan Dhanang menjawab aneka keraguan yang belum menerapkan itu dengan mengajaknya berkunjung dan bertanya langsung yang sudah menerapkan sistem itu. Para peternak yang sedang berminat dan belum mengaplikasikan sistem itu dipersilakan bertanya langsung kepada peternak lain yang sudah menerapkannya.

Hasilnya berupa tanggapan yang memang beraneka ragam. Ada yang langsung memutuskan untuk mengaplikasikan dan ada yang masih terus berfikir ulang. Namun demikian mayoritas yang berminat akan dengan mantap untuk segera menerapkan sistem itu. Sebuah keraguan adalah hal yang biasa dialami oleh pelaku bisnis termasuk peternak. Sebab dengan keraguan akan muncul banyak pemikiran dan pertimbangan sehingga akhirnya dibuatlah sebuah keputusan.

Jika saja Closed House masih banyak persoalan dengan penyakit dan juga dengan hasil / produktifitas, maka tentu saja Closed House sudah tidak akan lagi diaplikasikan dan berhenti dalam pengembangan dan penyempurnaan. Buktinya bahwa sistem Closed House di luar negeri menjadi keharusan dan di Indonesia sendiri, hingga saat ini terus berkembang dan menjadi pilihan para peternak yang cerdas dan ingin meraih keuntungan berlipat.

“Kalau memang Closed House menjadi masalah baru dalam sistem pemeliharaan ayam, maka sudah pasti tiada lagi pengembangan dan penyempurnaan sistem itu, bahkan tidak ada lagi yang membuat peralatan pendukung untuk sistem itu. Namun buktinya, justru model dan bentuk peralatan pelengkap untuk Closed House terus diperbarui dan terus disempurnakan oleh para produsennya. Ini bukti nyata bahwa Closed House bukan menjadi biang munculnya aneka penyakit” ujar Dhanang dengan tegas, menolak sinyalemen yang salah.

Dhanang memang mengakui, banyak penawaran pembuatan Closed House yang diterima oleh para peternak di Indonesia, dengan tidak jelas jejak rekam perusahaannya. Kandang yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit itu, meskipun mampu memberikan peningkatkan produktifitas, ternyata ada yang tidak sepadan dengan nilai investasinya. Hal itu menurut Dhanang oleh karena ada segelintir perencana dan pembuat konstruksi kandang Closed House yang tidak menerapkan layanan lengkap atau paripurna. Antara perencana dan penyedia perlengkapan Closed House tidak satu atap, sehingga akan menghasilkan kandang sistem Closed House yang asal-asalan. “Jika perencana dan equipment untuk kandang Closed House tidak kualified, maka hanya akan menghasilkan kandang Closed House “ecek-ecek” dan barangkali benar jika kemudian banyak aneka penyakit dan gangguan pertumbuhan pada ayam-ayamnya” tegas Dhanang.

Sepertinya Dhanang memang berniat menyanggah pendapat yang salah tentang sistem kandang tertutup, maka kepada Infovet ditawarkan untuk melihat sendiri di lapangan akan hasil yang diperoleh para peternak yang sudah mengaplikasikan Closed House. Memang benar adanya, bahwa ada beberapa konstruksi Closed House yang asal-asalan, meski equipment yang digunakan berkualitas relative bagus. Akhirnya memang kurang optimal, alias tidak setara dengan nilai investasi pembuatan kandang Closed House. Sedangkan pada Closed House dengan disain konstruksi dan equipment yang sesuai rekomendasi pembuat peralatan, akan diperoleh hasil yang sungguh mencengangkan.

Bahkan ketua APAYO Drh Hary Wibowo, dengan nada berkelakar bahwa jika Closed House sudah banyak menjadi pilihan peternak, akan mengancam para peternak skala menengah seperti dirinya.
“Kalau Closed House sudah banyak diterapkan oleh para peternak, maka tidak perlu ada lagi model kemitraan, karena hasil pemeliharaan dengan sistem itu mampu memelihara dalam jumlah banyak dalam satu kandang dan irit tenaga kerja. Sedangkan model kemitraan, sampai saat ini lebih cenderung memberi kesempatan peluang usaha kepada para peternak skala gurem” jelasnya.

Berkaitan dengan intensitas gangguan kesehatan atau serangan penyakit pada kandang Closed House, menurut Hary, memang harus diakui menjadi sangat minimalis. Artinya problema penyakit yang sering menjadi masalah pada sistem terbuka, akan dipangkas pada titik terkecil dan sebaliknya produktifitas akan mencapai titik maksimal. Hal yang sama ditekankan oleh Dhanang, bahwa Closed House akan membuat produktifitas ayam mencapai titik optimal, dengan resiko gangguan kesehatan atau serangan penyakit sangat rendah sekali.
Di samping itu, memang harus diakui pula, bahwa tingkat keseragaman pertumbuhan dapat terjaga dengan baik. Namun dengan catatan jika Closed House dibuat dengan aturan yang benar. Disain dan equipment yang ditawarkan oleh Dhanang, memberikan jaminan akan hasil yang memuaskan. Dan bahkan ia mengklaim sebagai perencana dan pelaksana pembuatan Closed House yang terbaik di Indonesia sampai saat ini.

Infovet yang melihat dan membuktikan di lapangan pada kandang Closed House hasil pekerjaan Dhanang, bahwa aspek uniformitas / keseragaman pertumbuhan nyaris mencapai 95% atau jauh di atas rata-rata keseragaman pertumbuhan pada sistem kandang terbuka yang hanya mencapai 65-75% saja. Dan dari hasil recording / catatan harian, terlihat sekali tingkat mortalitas yang sangat rendah sekali dan bahkan nyaris total dalam periode pemeliharaan selalu di bawah 1%. Sebuah angka yang selalu dinanti dan diharapkan oleh para peternak.  Memang harus diakui, bahwa meski secara kasat mata terlihat, bahwa begitu padat dan rapat populasi ayam dalam suatu kandang, namun ternyata ayam sangat nyaman dan tidak terlihat sedikitpun ayam terganggu dalam bernafas maupun gerakannya. Inilah yang dimaksud dengan efisiensi ruangan dan kenyamanan.

Selanjutnya terkait dengan informasi adanya gangguan penyakit yang berasal dari Jamur dalam pakan dan penyakit CRD kompleks, Dhanang menyanggah dan menjelaskan akan sinyalemen itu. Memang tidak salah jika sinyalemen akan munculnya penyakit itu pada kandang Closed House, namun itu terjadi umumnya pada kandang Closed House yang konstruksinya ecek-ecek. Mengapa bissa terjadi demikian ?. Oleh karena umumnya, kandang Closed House yang dibangun tidak sesuai dengan disain yang benar, justru akan menjadi masalah bagi ternak yang berada di dalamnya. Kasus penyakit oleh karena jamur yang terjadi pada Closed House ecek-ecek, lebih disebabkan mekanisme penyimpanan dan pengelolaan pakan yang tidak baik. Pada Closed House yang baik, lanjut Dhanang, tempat utama pakan / silo, ada treatment pakan sebelum di alirkan ke tempat-tempat pakan pada kandang. Sehingga potensi terjadi kontaminasi agen infeksi jamur relative akan sangat kecil terjadi. Begitu juga dengan tangki penyimpan air minum yang selalu rutin mendapatkan treatmen, maka akan diperoleh air minum yang sangat hygienis. Jadi Closed House konstruksi yang ditawarkan Dhanang dengan tempat pakan dan minum yang serba otomatis.

Selain itu, sistem pengatur udara yang bersifat otomatis dan didukung mega blower keluar / exhaust fan yang penempatannya selalu diperhitungkan dengan matang, maka potensi gangguan penyakit CRD ataupun penyakit pernafasan lainnya,  akan sangat kecil terjadi. Penempatan mega blower yang asal pasang, tidak sesuai dengan seharusnya, maka tidak akan mampu memberikan kenyamanan ayam yang berada di dalam. Mega blower tidak hanya berfungsi untuk membantu mengatur suhu udara di dalam kandang saja, namun juga berfungsi membuang gas amoniak dan sulfida yang  menjadi gas iritans pada sistem pernafasan ayam. Dengan demikian, efek buruk gas iritans itu tiada akan merusak kesehatan ayam. Sebab gas itu menjadi pemicu awal munculnya gangguan pernafasan yang disebabkan oleh agen penyakit virus, mycoplasma maupun bakteri serta jamur.

Pada kandang Closed House ‘ecek-ecek’ sering justru kasus penyakit CRD maupun mycotoxin, memang menjadi masalah serius setelah kasus penyakit konvensional lainnya mampu ditekan. Hal itu jelas sekali oleh karena penempatan dan penataan alat pengatur suhu ruangan yang salah dan atau kurang tepat. Juga oleh karena pengatur suhu ruangan yang tidak bersifat otomatis. Mestinya jika mau menerapkan Closed House, maka semua haruslah bersifat otomatis, dengan mengurangi kontak sekecil mungkin pekerja dengan ayam.

Kasus penyakit CRD ataupun penyakit lainnya yang penularannya lebih cenderung melalui udara, pada kandang sistem Closed House akan dapat ditekan sekecil mungkin. Namun dengan syarat, bahwa disain dan konstruksi Closed House harus sesuai dengan rekomendasi termasuk peralatan yang digunakan.

(Sumber : Infovet, 2012)

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/benarkah-closed-house-menyimpan-segudang-penyakit/

Kandang Broiler Sistem Closed House

Kandang sistem closed house adalah kandang tertutup yang menjamin keamanan secara biologi (kontak dengan organisme lain) dengan pengaturan ventilasi yang baik sehingga lebih sedikit stress yang terjadi pada ternak. Tujuan membangun kandang closed house adalah:

  1. Untuk menyediakan udara yang sehat bagi ternak (sistem ventilasi yang baik) yaitu udara yang menghadirkan sebanyak-banyaknya oksigen, dan mengeluarkan sesegera mungkin gas-gas berbahaya seperti karbondioksida dan amonia.
  2. Menyediakan iklim yang nyaman bagi ternak. Untuk menyediakan iklim yang kondusif bagi ternak dapat dilakukan dengan cara: mengeluarkan panas dari kandang yang dihasilkan dari tubuh ayam dan lingkungan luar, menurunkan suhu udara yang masuk serta mengatur kelembaban yang sesuai. Untuk menciptakan iklim yang sejuk dan nyaman maka bagi ayam harus dikondisikan chilling effect (angin berembus), alat yang digunakan seperti kipas angin (blower). Bila chilling effect tidak mampu mencapai iklim yang diiginkan terutama pada daerah yang terlampau panas maka dapat digunakan cooling system. Yaitu sistem pendingin dengan mengalirkan air pada alat-alat yang berupa cooling pad, cooling net stsu cell deck.
  3. Meminimumkan tingkat stress pada ternak. Agar tingkat stress pada ayam lebih minimun maka dapat dilakukan dengan cara mengurangi stimulasi yang dapat menyebabkan stress, dengan cara mengurangi kontak dengan manusia (misalnya dengan feeder dan drinker otomatis, vaksinasi dengan spray dll), meminimumkan cahaya dan lain-lain.

Didalam sebuah kandang ternak unggas ini harus diperhatikan kualitas udaranya. Kualitas udara dilihat dari kandungan oksigen, karbondioksida, karbonmonoksida dan amoniak dengan batasan tertentu. Adapun batasan yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:

  • Oksigen > 19.6%
  • Karbondioksida < 0.3%
  • Karbonmonoksida < 10 ppm
  • Amonia < 10 ppm

Bila kondisi kandang tidak sesuai dengan ketentuan diatas maka ventilasi yang kurang harus ditingkatkan.

  • Kelembaban relatif >< 45 – 65%
  • Kecepatan angin setelah 28 hari >< 350 – 500 FPM (Feet Per Minute)

Kecepatan angin diatas 500 FPM tidak ekonomis dan tidak berpengaruh positif bagi performa ayam. Closed house dapat bervariasi tergantung pada lingkungan dan kemampuan finansial peternak. Secara umum ragam yang ada di lapangan terdiri dari::

  1. Sistem Tunnel : menggunakan fan dan tirai tanpa cooling system.
  2. Full closed house : ada fan, cooling system dan tirai/penutup dinding samping.
  3. Full otomatic closed house.

Pada sistem 1 dan 2 umumnya menggunakan alat pakan dan minum manual atau tempat pakannya saja manual sementara air minum menggunakan bell drinker. Pada sistem 3, closed house dengan perlengkapan serba otomatis termasuk alarm sistemnya. Struktur umum kandang sistem terbuka (Closed house) dan perlengkapanya:

  1. Bangunan kandang: baik bangunan baru maupun renovasi kandang.
  2. Kipas/fan: dapat terdiri dari exhaust fan, blower fan, ceiling/roof fan ataupun wall fan.
  3. Material cooling dan perlengkapannya: celpad/evaporative pad, material cooling lainnya ataupun fogging system.
  4. Dinding kandang: dapat berupa solid wall, tirai/curtain system dan celing material.
  5. Filter cahaya/light filter/light trap
  6. Air inlet
  7. Lighting system
  8. Control panel + electrical system

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/kandang-broiler-sistem-closed-house/

Tingkatkan Produksi Broiler Dengan Cara Modern

Ayam pedaging atau broiler lebih bagus hasil produksinya pada kandang sistem closed house daripada ayam petelur dengan sistem sama. Peningkatan teknologi secara menyeluruh berdampak besar bagi peningkatan produksi. Tidak ada kata tidak untuk penggunaan sistem closed house buat pemeliharaan ayam pedaging dengan hasil terbaik.

Inilah suatu cara modern untuk meningkatkan produksi ayam pedaging secara signifikan. Dengan cara ini tidak ada gangguan pemeliharaan ayam pedaging karena lingkungan lebih baik, tempat pemeliharaan lebih hemat, kualitas ayam lebih baik, angka kematian rendah, kondisi pertumbuhan ayam merata, dan penampilan ayam yang dihasilkan baik secara maksimal.

Cara ini adalah cara yang sudah dikenal masyarakat perunggasan Indonesia dalam dekade ini, dan kali ini ditegaskan oleh Sales Area Manager PT Sierad Industry, Dhanang Purwantoro ST. Tak lain tak bukan, cara ini adalah sistem kandang tertutup atau lebih dikenal dengan closed house yang ternyata lebih banyak digunakan untuk pemeliharaan ayam pedaging dibanding untuk pemeliharaan ayam petelur.

Bagaimana dan mengapa penerapan kandang tertutup lebih banyak khusus pada pemeliharaan ayam pedaging ?. Menurut Dhanang, secara penelitian, efek kandang tertutup untuk ayam pedaging menghasilkan perbedaan mencolok dibanding kandang postal dan kandang terbuka.
“Keberadaan, fungsi dan manfaat closed house pada prinsipnya tidak peduli kondisi daerah. Pada keadaan lingkungan daerah apapun, secara fleksibel kondisinya dapat diadaptasi oleh kandang tertutup”, tuturnya.

Akan tetapi, untuk pemeliharaan ayam petelur penggunaan kandang tertutup masih diteliti efektivitasnya. Secara keseluruhan, sedikit atau kurang dilakukan penelitian oleh berbagai pihak tentang dampak penggunaan kandang tertutup terhadap pemeliharaan ayam petelur.

Efektivitas pemeliharaan ayam petelur pada dasarnya tergantung produksi telur. Berdasar penelitian di Bali, Malang dan Tuban, penggunaan kandang tertutup untuk ayam petelur tetap berdampak pada pertumbuhan tubuh ayam, kurang berpengaruh untuk peningkatan produksi telur. Dari sedikit penelitian yang ada itu, hasilnya memang, “Ada perbedaan tapi belum signifikan, berbeda dengan untuk ayam pedaging yang hasilnya sangat signifikan atau berbeda nyata”, tegas Dhanang.

Menurut Dhanang Purwantoro, dengan kandang tertutup peternak bisa mengantisipasi segala musim. “Perbedaan musim panas dan musim penghujan dapat diatasi dengan penggunaan kandang closed house”, katanya. Dengan kandang tertutup, kondisi lingkungan bisa diantisipasi dengan baik. Bilamana suhu tidak panas, kondisi ayam tidak bermasalah, open house baik, closed house pun baik.

Hal ini berbeda dengan pemakaian kandang terbuka atau open house. Pada daerah panas seperti di Tuban Jawa Timur yang kondisi suhunya cenderung tinggi pada musim panas, pengaruh suhu panas sangat terasa. Kecenderungan suhu pada saat ini sebesar 32, 34, 37 derajat Celsius. Pada suhu lingkungan setinggi ini, ayam susah untuk berproduksi maksimal.

Sebaliknya pada musim banyak hujan, kelembaban sangat tinggi. Kondisi lingkungan memang antara lain mempengaruhi keberadaan lalat dan lain-lain. Pada peternakan open house kondisi berpengaruh buruk seperti ini sangat terasakan. Sebaliknya, dapat dikurangi dengan pemakaian kandang tertutup.

“Penggunaan closed house tetap efisien untuk menghadapi kondisi lingkungan ini”, ujar Dhanang. Memang pengaruh musim masih ada namun dapat dikata sedikit. Adapun kelembaban udara susah dikendalikan, namun demikian lebih banyak keunggulan kandang tertutup.

Kondisi kandang tertutup yang paling susah mengendalikan kelembaban ini lantaran pengaruh udara luar yang basah, di mana hujan terjadi secara terus-menerus baik siang maupun malam. Untuk menetralisir hal ini bagi kondisi dalam ruang, dibutuhkan heater atau pemanas ruangan untuk kandang tertutup.

Kecepatan udara dalam ruangan sudah diatur oleh adanya external house van. Pengaturan kecepatan udara ini seharusnya melewati heater atau mesin pemanas ruangan. Namun, untuk lingkungan di Indonesia, mesin pemanas ruangan tidak lazim digunakan. Mesin pendingin ruangan sudah ada namun mesin pemanas ruangan tidak ada.

Secara kenyataan di lapangan, tidak lazim digunakan mesin pemanas ruangan untuk Indonesia yang beriklim tropis. Berbeda dengan lingkungan di luar negeri yang lazim digunakan mesin pendingin dan pemanas ruangan“, ujar Dhanang Purwantoro.

Kalau unsur-unsur pemeliharaan ayam pedaging yang baik di dalam kandang tertutup tersebut dipenuhi, sesungguhnya apapun kondisi lingkungan tidak ada pengaruhnya bagi pemeliharaan dan hasilnya. Sedangkan di Indonesia sendiri, tidak harus diterapkan mesin pengatur udara tersebut, karena kondisinya belum terlalu ekstrim, masih bisa ditolerir dan peternak masih dapat berhati-hati.

Jelas pemakaian teknologi modern kandang tertutup untuk pemeliharaan ayam pedaging ini lebih baik dari pada pemakaian open house. Pada musim penghujan, kondisi kandang open house semakin beresiko lagi.

Oleh karena manfaat yang begitu besar itu, menurut Ir Dhanang Purwantoro, orang-orang yang menggunakan kandang open house sudah mengarah ke kandang modern closed house dengan teknologi tinggi, dan hasil yang signifikan atau nyata.

Orang baru tidak takut lagi, mereka langsung membangun kandang modern closed house“, katanya.

Seorang peternak lokasi peternakannya di dekat WBL (Wisata Bahari Lamongan) dengan populasi pada satu lokasi sejumlah 100.000 ekor ayam pedaging misalnya, bahkan sudah memakai tempat pakan dan tempat minum otomatis.

Mengikuti perkembangan teknologi ini, manajemen pemeliharaan ayam pedaging memang terus di upgrade atau terus ditingkatkan dan disesuaikan. Kebutuhan pengelolaan peternakan yang mengikuti perkembangan ini kondisinya tidak seperti pada pemeliharaan dengan kandang terbuka lagi.

Pada umumnya, manajemen penangkapan dan penanganan setiap panen menyebabkan kematian tinggi pada saat panen. Adapun mulanya suhu stabil tidak berubah, namun lingkungan luar bersuhu panas. Perubahan suhu secara mencolok dari yang stabil menyebabkan ayam menjadi mudah mati. Problem ini sudah dapat diantisipasi dan diatasi dengan metode manajemen untuk kandang tertutup.

Adanya Closed House diikuti dengan kebutuhan-kebutuhan penunjang pada sisi obat-obatan dan lain-lain bidang pun mengikuti perkembangan ini. Perihal obat-obatan, ada obat yang didesain khusus dengan kondisi kandang tertutup. Untuk menghasilkan produksi terbaik, kondisi penanganan ayam di dalam kandang tertutup membutuhkan obat khusus. Dhanang pun mengungkap diproduksinya obat khusus antistres sebelum panen, dan obat ini masih merupakan rahasia perusahaan.

Adapun perlakuan khusus sebelum panen pun mempunyai perbedaan. Di sini para ahli terus mempersiapkan dan melakukan penelitian. “Perlakuan pada satu kandang tertutup berbeda dengan perlakuan pada kandang tertutup lain“, kata Dhanang.

Unsur-unsur penunjang yang khusus seperti obat khusus ini bermanfaat untuk menghilangkan efek-efek yang negatif. Jelas, dengan Closed House manajemen meningkat, teknik pengelolaan meningkat, “Tidak hanya monoton dengan cara pemeliharaan secara umum.” kata Dhanang.

Menurut Dhanang sendiri perusahaan-perusahaan tertentu mempunyai kelebihan tersendiri dalam hal pembangunan kandang tertutup ini. Ada perusahaan yang punya banyak kandang tertutup dengan banyaknya riset yang berhasil. Sementara untuk riset yang kurang berhasil dicoba dengan kandang yang lain.

Tim Dhanang sendiri memberi dukungan kepada manajemen kemitraan. Berapa jumlah kandang modern yang patut dibangun, timnya memberi masukan kepada manajemen kandang modern. Tempat pakan, tempat minum, Cooling Pad (mesin pendingin), pemanas ayam, Central Heater (pusat pengatur panas), External House Van (kipas angin udara luar), semua disiapkan 100 persen. Termasuk alat-alat untuk mengukur kelembaban, suhu dan kecepatan udara, semua dikelola secara komputer atau otomatis.

Dengan demikian tidak ada kata tidak untuk memanfaatkan teknologi modern guna diperoleh hasil paling baik bagi produksi dari pemeliharaan ayam pedaging.

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/tingkatkan-produksi-broiler-dengan-cara-modern/

Closed House : Peternakan Modern Dengan Investasi Padat

Industri perunggasan saat ini sudah berkembang sangat pesat. Peternak pun mulai menyadari akan kebutuhan teknologi yang modern. Kandang closed house dipilih karena memberikan keuntungan lebih bagi mereka.

Negara Indonesia masih potensial untuk pengembangan closed house ayam ras mengingat konsumsi masyarakat yang kian tumbuh. Sierad Produce, Tbk. sebagai salah satu perusahaan integrator perunggasan sigap melihat peluang di depan mata.

Menurut Dhanang Purwantoro ST, Area Manager East Indonesia PT. Sierad Industries, dua tahun ini Sierad gencar membangun closed house di seluruh Indonesia, terutama di Jawa, baik internal farm maupun kemitraan, baik breeding farm maupun commercial farm. Internal farm banyak di daerah Jawa Barat. Sierad merupakan leader di bisnis unggas closed house ini. Berbicara proporsi open house dan closed house, Dhanang mengatakan bahwa angka nasional peternak pemakaiclosed house baru sekitar 10%. Sedangkan dalam konteks Sierad, dikatakan A. Junaidi, S.Pt. selaku Head Region Kemitraan Sierad Produce Jawa Tengah–DIY yang diiyakan oleh drh. Hery Budi Karyono selaku Business Unit Head Commercial Farm Indonesia PT. Sierad Produce, mitra (plasma) Sierad ada sekitar 34% yang sudah menerapkan teknologi closed house.

Hery mengungkapkan bahwa closed house optimal pada wilayah dengan ketinggian 200-400 mdpl. “Kalau open house searah angin, sedangkan closed house searah sinar matahari. Alih teknologi closed house diberikan melalui pelatihan bagi anak kandang di kandang mitra Sierad di bilangan Losari, Magelang milik Wahyu Pratomo yang sudah menggunakan CCTV untuk memantau anak kandang. Ada semacam ujian sehingga pihak Sierad dapat memutuskan layak tidaknya anak kandang untuk operasionalisasi closed house.

Keunggulan closed house di antaranya umur pemeliharaan lebih pendek, kepadatan (density) lebih padat, mengurangi bau amoniak dan populasi lalat yang pada open house sering berbenturan dengan masyarakat, kejadian penyakit minim, kecuali terjadi kecerobohan dalam pemeliharaan alias faktor manusia, seperti tidak disiplin dalam biosecurity, malas, dan lain-lain. Density 20 ekor per m2 dipraktekkan di Jawa Barat karena konsumen menerima bobot ayam 0,8-1 kg. Sedangkan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, density pada angka 15 ekor per m2 karena ayam kecil tidak laku, justru yang laku ayam besar.

Adalah Adityo Wibowo, pemilik bisnis bernama Mandiri Agro Sejahtera asal Gombong, Kebumen, Jawa Tengah yang melirik peluang closed house ayam ras pedaging bermitra dengan Sierad karena dipicu oleh menurunnya bisnis pupuk organik yang dilakoninya. “Closed house dua lantai ini Desember jadi, akhir Januari 2012 chick in pertama,” aku lulusan Fakultas Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada ini ketika ditemui PI di farm-nya di bilangan Bukateja, Purbalingga, Jawa Tengah (5/7).

Dikatakan Adit, sapaan akrabnya, kandang closed house full otomatic itu simple, praktis, mengurangi bau amoniak, dan tidak hanya piara ayam, tetapi diperlukan manajemen orang untuk operasional serta mortalitas hanya sekira 2-3%. Pada awal-awal pemeliharaan, closed house milik Adit diisi ayam dengan kepadatan 13,5 ekor per m2. “Tiga periode ini density sudah 15,7 ekor per m2. Rencananya akan 20 baru pada 2016,” ujarnya.

“Kami kongsi berlima dengan populasi 21 ribu ekor selama 7 periode awal,” aku pemilik closed house dua lantai berukuran 9m x 95m yang berada di Hargorejo, Kokap, Kulon Progo, DIY ini. Lamanya bertahan di angka 21 ribu ekor itu karena biaya banyak tersedot untuk membangun fasilitas yang memadai di sekitar farm, seperti jalan dan penembokan tanggul sungai karena berbatasan dengan kandang. Bahkan warga sekitar kandang sempat protes karena terganggu dengan bau amoniak dari blower yang mengarah ke permukiman warga. Akhirnya ditemukan solusi membuat cerobong pembuangan amoniak mengarah ke atas.

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/closed-house-peternakan-modern-dengan-investasi-padat/