Modernisasi Demi Efisiensi dan Produksi

Tuntutan efisiensi dan produktifitas tinggi, Closed House dipercaya jadi solusi

Dengan pertumbuhan ekonomi 6,7% di 2011, industri perunggasan di Indonesia diprediksi akan terus bertumbuh. Di 2012 ini, Asosiasi Produsen Pakan Indonesia (GPMT) mengestimasi konsumsi pakan ternak akan mencapai angka 12,3 juta ton, tumbuh 9,8% dari tahun lalu.

Dari angka produksi tersebut, 98% adalah pakan unggas dengan rincian 45% broiler (ayam pedaging), 44% layer (ayam petelur), 9% breeder (ayam pembibit). Sementara angka dari Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) produksi DOC (anak ayam umur sehari) broiler pada 2012 diestimasi mencapai 1.961.000.000 ekor, dan DOC layer 83.113.000 ekor. Jumlah DOC broiler meningkat 18% dari angka 2011, sementara jumlah DOC layer tidak ada kenaikan karena ada gangguan produksi di breeder 5-10 %.

Meski tumbuh positif, industri perunggasan tanah air dinilai masih lemah dalam hal efisiensi dan daya saing. Ini diutarakan dengan nada pengakuan oleh Sudirman, Ketua GPMT. Di sebuah diskusi perunggasan di Kementerian Pertanian, ia mengatakan industri perunggasan Indonesia harus mendongkrak efisiensi dan daya saing. Salah satunya dengan modernisasi dari hulu hingga ke hilir. Mengadopsi teknologi adalah salah satu kunci utama meraih target efisiensi. Dan di hulu, pilihan Closed House (kandang tertutup) menjadi keniscayaan sebagai bentuk modernisasi demi efisiensi untuk memenuhi tuntutan pasar, memenangi persaingan, dan menyiasati tekanan perubahan iklim.

Sudirman mengamati, sejak 5 tahun terakhir, tren investasi Closed House tumbuh dengan sangat cepat. “Ini menggembirakan, banyak sekali peternak yang membangun Closed House atau mengkonversi kandangnya menjadi kandang yang lebih modern”, katanya.

A Nirwan, General Manager PT Gemilang Citra Indo, produsen peralatan dan kandang unggas menyampaikan keterangan serupa. Meski breeding masih mendominasi jumlah kandang bertipe Closed House, kata Nirwan, 5 tahun belakangan pertumbuhan investasi Closed House untuk peternakan broiler komersial tumbuh signifikan. Ia menyebut, wilayah Jawa Timur dan Jawa Barat adalah yang terbanyak. Sinyalemen lain positifnya pertumbuhan Closed House di Indonesia, menurut dia adalah berdatangannya produsen peralatan dan kandang asal China dan Taiwan.

Dimintai analisisnya, pakar agribisnis perunggasan Arief Daryanto mengistilahkan, industri perunggasan tengah mengalami “Expansionary Mode On” atau masa perkembangan dan perluasan. Arief menyebut data, ”Di 2011 Charoen Pokphand meningkatkan kapasitas DOC sebesar 18%, Japfa 16%, Malindo 21%, dan Sierad 38%“. Dengan penambahan kapasitas DOC sebesar itu, simpul Arief, bisa dihitung berapa banyak kebutuhan Closed House.

Apa yang diungkapkan Arief sejalan dengan data Nirwan. “Tahun lalu permintaan membangun full Closed House atau sekadar modifikasi sedang tinggi-tingginya. Di 2011, pertumbuhan penjualan kami lebih dari 5“, ungkapnya. Di 2012, Nirwan memprediksi tingkat investasi Closed House akan lebih bagus dibanding 2011. “Trennya bagus, apalagi rupiah menguat“, ujarnya optimis.

Investasi Closed House di Level Peternak

Salah satunya, adalah kandang broiler komersial milik Wahyu Pratomo peternak mitra binaan PT Sierad Produce (Sierad) yang berlokasi di Losari, Jawa Tengah. Closed House berlantai 3 dengan ukuran 16m x 106m ini mampu dimuati hampir 70 ribu ekor broiler, dan sudah chick-in (masuk DOC/anak ayam umur sehari) perdana Juni 2012 lalu. Closed House di Losari ini merupakan kandang ke-3 milik Wahyu dengan menganut sistem full automatic (serba otomatis sepenuhnya).

Kepada TROBOS Wahyu mengaku, kali ini ia menggelontorkan dana tak kurang dari Rp. 4 miliar. Biaya kandang dan peralatan disebut Rp. 55 ribu per ekor, di luar lahan. Dan ia melengkapi kandang dengan 8 kamera CCTV (TV pengawas jarak jauh) di bagian dalam dan luar kandang, serta menggunakan baby chick (tempat pakan DOC) yang harganya 2 kali lipat wadah pakan konvensional, dengan alasan efisiensi. Sementara untuk Closed House pertama plus ke-2 di Purworejo yang berkapasitas total 44 ribu ekor, nilai investasi keduanya hampir Rp. 2 miliar.

Dhanang Purwantoro, Sales Area Manager PT Sierad Industries, mengklaim kandang broiler komersial milik Wahyu di Losari itu adalah yang pertama di Indonesia dengan sistem serba otomatis dan dipantau menggunakan CCTV. “Di mana pun pemilik bisa mengontrol kandangnya”, ungkap Dhanang. Recording (pencatatan) performa budidaya dibuat online. Bisa diakses oleh pemilik kandang, tim kemitraan Sierad, teknisi kandang dari PT Sierad Industries, dan pihak manajemen pusat Sierad. “Sepanjang ada akses internet, pihak-pihak itu bisa memantau“, timpalnya.

Di Purbalingga, Adityo Wibowo, juga peternak broiler mitra binaan Sierad, tak kalah ambisius. Bangunan lama berupa gudang disulap jadi Closed House bersistem serba otomatis. Berukuran 18m x 62m, 2 lantai, dan berkapasitas 30 ribu ekor. Bila ditotal, peternak muda ini telah merogoh kocek Rp. 900 juta untuk modifikasi itu.

Sementara itu, Tri Hardiyanto Ketua Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) mengakui, investasi Closed House yang serba otomatis dan canggih di anggotanya masih sangat sedikit. “Ada, tapi tak banyak“, ujar Tri. Tapi ia berkilah, ini bukan berarti peternak Gopan tidak melek teknologi perkandangan modern. “Kami lebih ke arah investasi tepat guna. Setingkat demi setingkat dalam menerapkan teknologi modern yang ada. Sebagai contoh, memberi sentuhan teknologi menggunakan blower (kipas) pada Open House (kandang terbuka) atau modifikasi ke Closed House tanpa cooling pad“, beber dia. Pasalnya, imbuhnya, selain modal, Closed House mutlak diiringi cara berpikir yang modern.

Di peternakan layer komersial, teknologi Closed House juga diserap oleh Eko Yudi Purwanto. Eko adalah pengelola peternakan Rossa Farm yang berlokasi di Srengat, Blitar, Jawa Timur. Jarak antar kandang satu dengan kandang berikutnya dalam satu peternakan dan dengan peternakan lain demikian rapat memaksa Eko me-modern-kan kandang-kandang layernya. Meski belum full Closed House, Eko mengadopsi prinsip-prinsip Closed House, dan secara bertahap ia mengaplikasikan teknologi demi efisiensi dan kenyamanan ayam-ayamnya. Di kandangnya Eko mengadopsi tipe tunnel (seperti terowongan) untuk memastikan sirkulasi udara yang baik.

Closed House di Level Korporasi

Sementara di Jawa Barat, setahun lalu, PT QL Trimitra yang didukung QL Resources Berhad, korporasi asal Malaysia menanamkan dana miliaran rupiah untuk Closed House ayam petelur komersial. Semua peralatan dan sistemnya serba otomatis dan canggih. Pengambilan telur dan pembuangan feses pun sudah menggunakan conveyor. Cecep Mochamad Wahyudin yang Pimpinan PT QL Trimitra menginformasikan, populasi layer komersial perusahaannya 1,6 juta ekor dengan produksi telur per hari 15 ton.

Di korporasi besar, Closed House tampak seperti satu paket, di level breeding dan begitu pula di level company farm yang memelihara broiler atau layer komersial. Sebagai contoh PT Ciomas Adi Satwa (Ciomas). Informasi Imam Wahyudi, Senior Vice President Head of Broiler Division Ciomas, sekitar 90% company farm Ciomas sudah menggunakan Closed House meski tipenya berbeda-beda di tiap daerah, mulai dari semi Closed House hingga Full Closed House.

Begitu juga dengan Sierad. “Pasti, Level On-Farm (budidaya) Sierad semuanya sudah difasilitasi Closed House”, tutur Sudirman FX yang juga direktur Sierad. Sedangkan kemitraannya, di Jawa Tengah saja, info Dhanang, tahun ini 20%-nya menggunakan Closed House. Bahkan untuk menggenjot konversi kandang ke Closed House bagi mitranya di seluruh Indonesia, Sierad Industries menggandeng perusahaan China yang bisa membuat Closed House dengan dana terjangkau.

Efisiensi atau Mati

Menurut Sudirman, yang tidak efisien pasti mati. Sebab proses evolusi dan struktur biaya produksi terus berubah dari tahun ke tahun. “Jadi perubahan pola pemeliharaan unggas dari konvensional ke semi-modern dan modern adalah tuntutan efisiensi, bukan gaya hidup”, tuturnya.

Wahyu bahkan berpendapat, peternak yang tidak mau mengarah ke Closed House secara alami akan tergilas. Hukum bisnisnya, yang tidak mau berubah akan tersingkir. Sebab “pertempuran” saat ini dan ke depan ada di efisiensi. Dan Closed House memberikan jaminan efisiensi. Dari kepadatan populasi saja, Closed House mampu lebih efisien. Kandang open maksimal di angka 10 ekor/m², sementara kandang tertutup mampu 15 ekor/m². Belum penghematan lainnya, dari pakan, periode siklus, sampai kesehatan ayam. “Cepat atau lambat dan tidak bisa tidak ke depan peternak akan memilih Closed House. Catatannya, teknologi tinggi ini perlu dibarengi cara berpikir dan manajemen yang baik”, katanya.

Aneng Lim yang Sales Manager PT Big Dutchman Agriculture Indonesia sependapat bahwa Closed House menjanjikan efisiensi. Bahkan kata Aneng, Closed House dengan menggunakan tipe cage akan jauh lebih efisien. “Pada broiler, kepadatan kandang bisa 3,5 kali lipat dari tipe litter. Panen 2 hari lebih awal. Kesehatan terjaga, sehingga produksi pun lebih optimal”, ungkapnya. Jadi, pesan Aneng, industri perunggasan Indonesia jangan terus tertinggal. Investasi di Closed House adalah salah satu siasat untuk mengejar ketertinggalan dari negara lain.

Eko pun satu suara tentang efisiensi yang diberikan Closed House. Dengan Closed House, Eko mendapatkan efisiensi pakan yang lebih baik. “Selain itu produktivitas tinggi, kematian dan deplesi rendah, dan berat badan saat afkir bagus. Intinya dengan Closed House ayam nyaman, peternak tenang”, tuturnya.

Efisiensi juga terkait dengan pengaruh lingkungan. Kata Chandra Brahmantya, Head Internal Production PT QL Trimitra, pengaruh lingkungan seperti perubahan cuaca menuntut penggunaan Closed House. “Closed House kan memang dibuat untuk mengatasi perubahan cuaca yang sangat ekstrim”, cetusnya.

Paparan Imam sejalan dengan pernyataan Chandra. Terangnya, dengan Closed House pengaruh perubahan cuaca dapat dikendalikan oleh peralatan dan sistem yang telah dipasang. Sedangkan pada Open House dibutuhkan usaha yang tinggi untuk mengatasi ketidakteraturan cuaca yang ada. Bila tidak terkendali, fisiologi ayam akan terganggu, lalu stress dan terserang penyakit. Imbasnya efisiensi tak akan tercapai.

Dari sisi preferensi pasar, tutur Abdullah Junaedi dari Sierad, ayam hasil panen dari Closed House lebih diminati karena lebih bersih, memar pada karkas minimal, dan terpenting harganya tak berbeda dengan ayam hasil panen dari Open House. “Apalagi rumah potong ayam yang menuntut ayam dengan keseragaman tinggi dalam jumlah besar. Maka ayam hasil panen dari Closed House-lah pilihannya”, terang Junaedi.

Sumber : Trobos, Juli 2012

Sumber 2 : http://dhanangclosedhouse.com/modernisasi-demi-efisiensi-dan-produksi/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s