Selamat Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1436 H

dhanang-closed-house-selamat-idul-fitri

“Tiada yang seindah ketika hati tersucikan. Bersih tanpa noda kebencian yang terbasuh oleh ramadhan dan kemurnian hati untuk saling memaafkan. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H. Minal aidzin wal fa idzin. Mohon maaf lahir batin.”

Advertisements

Sosialisasi Pengelolaan Usaha / Kegiatan Peternakan Berwawasan Lingkungan Hidup

Senin, 15 Juni 2015, bertempat di Aula Perpustakaan Kabupaten Bantul, dilaksanakan kegiatan Sosialisasi Pengelolaan Usaha / Kegiatan Peternakan Berwawasan Lingkungan.

Sosialisasi Pengelolaan Usaha / Kegiatan Peternakan Berwawasan Lingkungan Hidup

Sosialisasi Pengelolaan Usaha / Kegiatan Peternakan Berwawasan Lingkungan Hidup

Latar belakang dilaksanakannya kegiatan ini adalah banyaknya pengaduan terhadap usaha / kegiatan peternakan ayam di Kabupaten Bantul yang dilaporkan masyarakat terkait dugaan munculnya kebauan dan banyaknya lalat.

BLH Bantul berinisiatif mengumpulkan peternak ayam, untuk diberikan pengarahan tentang cara pengelolaan yang berwawasan lingkungan hidup, peternak yang diundang 100 orang, meliputi seluruh peternak ayam di Kabupaten Bantul, namun yang hadir dalam pelaksanaan sosialisasi kurang lebih 50 orang.

Acara Sosialisasi dibuka oleh Kepala BLH Bantul, yang diwakili oleh Bapak Sukamto, S.Pd, Kepala Bidang Penaatan Hukum dan Pengembangan Kapasitas. Narasumber adalah sebagai berikut : Ir. Priya Haryanta, M.MA, dari Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul, Yanatun Yunadiana, S.Si, M.Si dari Dinas Kesehatan Bantul, dan Dhanang Purwantoro, ST, Konsultan dan Peternak Ayam Kandang Tertutup.

Sosialisasi Pengelolaan Usaha / Kegiatan Peternakan Berwawasan Lingkungan Hidup

Sosialisasi Pengelolaan Usaha / Kegiatan Peternakan Berwawasan Lingkungan Hidup

Sosialisasi berjalan lancar dan disambut antusias oleh peternak ayam, pengelolaan kandang ayam yang selama ini masih tradisional dan menimbulkan dampak kebauan dan lalat perlu dikelola dengan baik dengan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produksi ternak, lebih ramah lingkungan, dan tidak berdampak pada masyarakat sekitarnya.

Pada kesempatan tersebut, Dhanang Purwantoro, ST selaku narasumber terakhir, telah berpengalaman membangun kandang ayam tertutup (Closed House) yang ramah lingkungan selama 14 tahun, sampai saat ini sudah 20 juta populasi ayam yang dibuatkan kandang tertutup (Closed House) oleh beliau, kandang tertutup merupakan teknologi yang ramah lingkungan, tidak menimbulkan bau dan lalat, angka kematian ayam 1 – 2 %, dan sangat menguntungkan, berdasarkan pengalaman sudah bisa balik modal antara 3,5 – 4 tahun. Populasi nasional saat ini 10-15 % telah menggunakan teknologi kandang tertutup atau Closed House, sehingga peluangnya masih sangat besar di Indonesia. Beliau adalah putra asli Bantul, peduli terhadap lingkungan hidup, tinggal di wilayah Banguntapan, pernah belajar khusus tentang kandang tertutup sampai ke Cina dan bersedia untuk membimbing peternak ayam di Bantul dengan penerapan teknologi ramah lingkungan untuk meningkatkan produksi ternak ayam di Bantul. Bisa dihubungi di nomor HP 082242979999 untuk konsultasi usaha peternakan ayam ramah lingkungan.

Sumber : Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Kabupaten Bantul

Problematika Penyakit Ayam Pedaging

Banyak ayam pedaging punya masalah target panen tidak tercapai, selalu ada ayam kecil namun bukan kerdil. Penyakit yang banyak muncul adalah penyakit lama, namun gejalanya terkamuflase oleh infeksi sekunder sehingga penyebabnya sulit dipastikan. Beberapa kasus ayam yang sudah divaksin secara in ovo itu tidak kebal menerima tantangan virus lapangan. Mengapa dan bagaimana mengatasi semua problem ini ?

Sebagai dosen dan peneliti Laboratorium Patologi FKH IPB Bogor, Drh Hernomoadi Huminto MS banyak menerima sampel kiriman peternak untuk diperiksa secara laboratorium. Dari sampel ayam dengan berbagai gejala penyakit dan kelainan, yang sering diterima adalah ayam yang mempunyai masalah target panen tidak tercapai. Pada kondisi ayam pedaging sampel itu, ungkap Dr Her (panggilan akrabnya), “Selalu ada ayam kecil namun bukan kerdil”. Dengan otoritasnya sebagai dokter hewan pakar penyakit perunggasan, Drh Hernomoadi pun menganalisa masalah yang dijumpai pada peternakan dan ternak ayam pedaging ini. Menurutnya, banyaknya ayam kecil yang bukan kerdil ini, “Mungkin karena faktor manajemen”, ujarnya.

Lalu Dr Her pun menguraikan hal-hal lain yang sangat mungkin berpengaruh. Di antaranya adalah pakan. “Pakan mungkin berpengaruh”, ucapnya. Demikian pula dengan bahan bakar yang sangat dibutuhkan untuk pemanasan dan operasional kandang. Saat ini, “Bahan bakar sulit dan mahal”, katanya. Padahal bahan bakar ini sangat penting untuk menjadi sumber penghangat tubuh ayam terutama pada masa pengindukan atau pemanasan buatan alias brooding.

Masalah pemanas buatan untuk ayam itu ditengarai menjadi titik kritis pemeliharaan ayam yang akan berpengaruh selamanya pada kehidupan ayam di masa selanjutnya. Pengaruh harga bahan bakar yang mahal ini sangat dirasakan terutama oleh peternak kecil. Karena harganya yang mahal, banyak peternak yang memakai sumber panas alternatif. “Sekarang banyak peternak yang kembali memakai arang, lantaran harga minyak tanah yang mahal”, tulur Drh Hernomoadi.

Pembahan sumber panas juga berpengaruh pada konsistensi dan pengaturan panas yang juga terkait dengan ketekunan peternak. Jangan dianggap enteng, pengaturan pemanas yang tidak sesuai standar pada gilirannya nanti akan, “Berpengaruh pada panen ayam pedaging”, ungkap Dr Her. Tak mengherankan di masa panen muncul berat badan ayam pedaging yang di bawah standar dengan penampilan ayam yang kecil tadi.

Jangan dianggap enteng pula, dengan kondisi ayam yang kurang bagus pemeliharaannya lantaran berbagai faktor, sangat mungkin muncul penyakit-penyakit di peternakan ayam. Mungkin banyak faktor yang sudah dipenuhi, namun celah apapun dapat menjadi jalan masuknya bibit penyakit ayam yang ‘melahirkan’ penyakit pada ternak ayam pedaging.

Terkamuflasenya Penyakit Lama

Menurut Drh Hernomoadi Huminto MS, penyakit yang banyak muncul pada peternakan ayam pedaging adalah penyakit lama. Penyakit lama itu antara lain adalah CRD (Chonic Respiratory Disease), dengan kondisi pendukung utama adalah biosecurity yang kurang. Selain itu, lanjutnya, “Masih sering terjadi serangan penyakit Gumboro (IBD, Infectious Bursal Disease) yang ditandai dengan bursa fabrisius menjadi kecil”.

Sayangnya, tidaklah mudah menentukan diagnosa suatu penyakit di lapangan sehingga banyak peternak yang membutuhkan kepastian pendiagnosaan penyakit di laboratorium-laboratorium yang berkompeten seperti halnya Laboratorium Patologi FKH IPB yang dikepalai oleh Dr Her.

Gejala-gejala yang didapatkan pada penyakit-penyakit yang muncul di peternakan ayam pedaging umumnya terkamuflase oleh infeksi sekunder. Akibatnya untuk menilai kondisi serangan penyakit, penyebabnya akan sulit dipastikan”, tambah Dr Her.

Pasangan dari Drh Lies Parede MSc PhD dengan dikaruniai dua putra ini pun mengutarakan beberapa kemungkinan yang dapat menjadi penyebab adanya kamuflase penyakit oleh infeksi sekunder tersebut. Dia mengutarakan penyebab ini dengan melontarkan pertanyaan, “Apakah karena vaksinasi yang tidak tepat ? Misalnya penggunaan vaksin intermediate atau vaksin hot, apakah sudah tepat ?

Dan inilah yang ditengarai oleh Drh Hernomoadi sebagai hal yang paling kurang diperhatikan secara seksama oleh peternak. Yaitu, soal peneraan antibodi induk (maternal antibody). Banyak peternak yang menerapkan vaksinasi tanpa memperhatikan besar antibodi induk. Padahal, dalam vaksinasi, “Seharusnya peternak tahu berapa maternal antibodi ayam yang hendak divaksin, sehingga vaksinasi dapat tepat”, ujar Dr Her.

Lebih-lebih pada peternakan kecil, pakar kesehatan unggas ini menilai banyak peternakan yang menerapkan vaksinasi dengan patokan tidak tepat. Umumnya peternak melakukan program vaksinasi hanya berdasar perhitungan hari. Misalnya pada hari ke 10, 11 atau 12 melakukan vaksinasi tertentu. Hanya berdasar perhitungan hari tanpa mengindahkan perhitungan antibodi maternal, sangat masuk akal vaksinasi, “Kadang-kadang tidak tepat dan gagal”, ungkap Drh Hernomoadi.

Adapun dari pengamatannya terhadap perilaku peternak terhadap ternak ayam pedagingnya dalam operasional peternakan, beberapa kali dijumpai peternak membeli DOC sudah divaksinasi secara in ovo di hatchery atau masa penetasan. Harga dari DOC yang demikian lebih mahal daripada harga DOC yang tidak divaksin in ovo.

Harapan dari perlakukan pemberian vaksinasi in ovo itu memang ayam sudah punya kekebalan sehingga siap diternakkan dengan kondisi baik guna hasil yang terbaik pula. Namun, menurut pengamatan dan pengalaman Drh Hernomoadi Huminto MS, beberapa kasus yang masuk di Laboratorium Patologi FKH IPB, ayam yang sudah divaksin secara in ovo itu tidak kebal menerima tantangan virus lapangan.

Beberapa kasus lain yang dijumpai adalah AI (Avian Influenza, Flu Burung) dan ND (New Castle Disease atau Tetelo). Pada ayam yang kelihatannya dipelihara hingga mencapai bobot 2 kilogram atau lebih, Drh Her menyarankan harus direvaksinasi lagi. Berdasar penelitian, pengalaman dan pengamatannya terhadap ayam yang tidak kebal terhadap tantangan virus lapangan meski sudah divaksin in ovo, Drh Hernomoadi Huminto MS berkesimpulan, guna hasil terbaik pemeliharaan ayam pedaging, “Tidak bisa mengandalkan vaksinasi in ovo saja”, pungkasnya.

Sumber :

Berhasil Di Pemeliharaan Ayam Pedaging Dengan Strategi 4-4-3

Empat kunci sukses yang dimaksud adalah indikator bagi indeks prestasi pemeliharaan ayam pedaging yang baik yaitu bila angka konversi pakan (FCR) rendah, berat badan bagus, umur panen pendek, dan kematian kecil. Sementara 4 elemen strategis itu adalah bibit DOC (Day Old Chicken) yang baik, pola manajemen yang terukur dan teratur, pola pakan yang baik, dan program medikasi yang produktif. Ditambah lagi perhatian ekstra untuk 3 fase kritis kehidupan broiler yaitu fase saat ayam umur 0-12 hari, 12-21 hari dan 21 hari sampai panen.

Demikian diungkapkan Aria Bimateja SPt, Sales Supervisor PT Sierad Produce Area Pare, Kediri, Jawa Timur saat ditemui Infovet disela customer gathering Sierad di Blitar.

Menurut Bima, demikian ia akrab disapa, kunci utama kesuksesan peternakan ayam pedaging ditunjukkan oleh kesuksesan di Indeks Prestasi atau Indeks Penampilan (Index Performance, IP). IP yang baik ini ditunjukkan oleh 4 indikator sebagai tolok ukur kesuksesan. 4 indikator bagi IP yang baik adalah bila angka konversi pakan (Feed Conversion Ratio, FCR) rendah, berat badan bagus, umur panen pendek, dan kematian kecil.

Bagaimana mencapai 4 hal indikator itu semua secara baik ? Dibutuhkan 4 elemen strategis”, ujar pria kelahiran 15 Desember 1980 ini.

Menurutnya 4 elemen yang strategis itu adalah bibit DOC (Day Old Chicken) yang baik, pola manajemen yang terukur dan teratur, pola pakan yang baik, dan program medikasi yang produktif.

Bima menambahkan, bibit DOC yang baik harus memenuhi berat badan standar ayam pedaging, lincah, gesit, terhindar dari kasus-kasus ompalitis, dan angka kematiannya kecil. Sedangkan pola manajemen yang terukur dan teratur harus memenuhi kaidah-kaidah tertentu. Kaidah-kaidah itu adalah konstruksi kandang yang sesuai di mana ventilasi nyaman, kepadatan ruang tidak boleh terlalu padat di mana 1 meter persegi kandang untuk 8 (delapan) ekor ayam untuk yang kandang terbuka, dan biosecurity.

Selanjutnya menurut alumnus Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (Fapet IPB) ini, program pakan yang baik adalah pakan menggunakan pakan-pakan unggulan dengan kualitas yang baik. Kandungan pakan spesifik dan tepat sesuai kebutuhan ayam dalam masa pre starter, starter dan finisher.

Adapun, “Medikasi yang produktif adalah meliputi vaksinasi, pengobatan, dan semprot kandang dengan desinfektan”, kata Aria.

3 Fase Kritis

Aria Bimateja SPt pun membagi masa hidup ayam pedaging dalam 3 fase. Fase pertama adalah fase saat ayam umur 0 hari sampai umur 12 hari. Fase ini disebut dengan nama fase hiperflasia atau sel tubuh mengalami perbanyakan atau pertambahan jumlah melalui pembelahan sel pertumbuhan.

Fase yang kedua adalah fase saat ayam umur 12-21 hari. Fase ini disebut dengan nama fase hiperflasia dan hipertropi, di mana selain bertumbuh ayam juga mulai mengalami pembesaran dan pendewasaan tubuh.

Fase ketiga adalah fase ketika umur ayam lebih dari 21 hari sampai masa panen. Fase ini disebut fase hipertropi, di mana ayam tidak lagi tumbuh namun hanya mengalami masa pembesaran dan pendewasaan tubuh sampai siap untuk dipanen.

Semua masa dalam fase-fase ini menurut Aria Bimateja kondisinya adalah kritis. Dalam kata lain dalam pemeliharaan ayam pedaging menurutnya adalah, “Semua masa kritis”, katanya seraya menegaskan masa kritis ini sejak ayam umur 0 hari sampai umur panen.

Ia juga menjelaskan tahap-tahap hidup ayam pedaging itu sebagai makhluk hidup. Pada mula kehidupannya, komponen hidup dari ayam pedaging itu belum sempurna atau belum ada semua, 48 kromosom belum lengkap. Sampai pada saatnya dengan tahapan hiperflasia semua kromosom itu lengkap jumlahnya sebanyak 48 kromosom. Selanjutnya pada fase hipertropi, 48 kromosom itu diperbesar.

Di masa pertumbuhan atau perbanyakan sel tadi, “Fase hiperflasia bila tidak optimal akan mengganggu pertumbuhan berikutnya”, ujar Aria Bimateja. Jika pertumbuhan pada periode ini terganggu, dapat dipastikan berpengaruh terhadap pertumbuhan selanjutnya di mana terjadi pertumbuhan hipertropia atau pembesaran atau pendewasaan sel tersebut.

Pada giliran berikutnya bila pertumbuhan tersebut tidak maksimal maka profit atau keuntungan peternak berkurang karena ayam kecil-kecil, berat badannya tidak sesuai dengan berat badan standar. Pertumbuhan sel tubuh memang tercermin pada pertambahan bobot badan.

Mengingat penting dan kritisnya semua masa, Bima memberi penekanan agar peternak memperhatikan kondisi ayam pedaging pada awal kehidupannya lantaran kondisi ayam pedaging pada masa ini sangat menentukan masa-masa berikutnya.

Pada periode ‘brooding’ atau masa pemanasan pengindukan buatan, pertumbuhan berlangsung sangat cepat dengan FCR yang sangat rendah. Saat ini hampir semua ransum yang dikonsumsi memang dialokasikan untuk pertumbuhan, sehingga bobot badan pada akhir minggu pertama mencapai 4 kali bobot badan awal DOC.

Sangat beralasan bila kemudian Bima mengatakan, “Pemeliharaan ayam pedaging dari A-Z yang paling penting di masa brooding atau masa pemanasan pengindukan buatan”. Dengan kondisi pemanasan pengindukan buatan ini dibuat seolah-olah sesuai dengan kondisi yang diberikan induk, Bima menegaskan kondisi yang rawan di sekitar 2 minggu pertama.

Selanjutnya setelah melewati masa pemanasan pengindukan buatan, lepas dari masa ini hasil penampilan ayam masuk kategori baik. Namun demikian masa setelah lepas pemanasan pengindukan buatan ini, masih penting bagi peternak untuk mengantisipasi kasus-kasus penyakit yang bersifat imunosupresif atau menekan kekebalan tubuh dan menghambat petumbuhan daging.

Penyakit-penyakit tersebut yang sering muncul berupa penyakit pernapasan, CRD, Koriza, CRD kompleks dan kasus-kasus yang menyerang pencernaan berupa enteritis alias infeksi usus halus. Dan, Aria Bimateja SPt memberi jaminan bila 4 elemen strategis tersebut dipenuhi secara disiplin, niscaya masalah penyakit ini dapat dieliminir, tertanggulangi dan dicegah. Dan lebih dari itu, 4 kunci sukses pemeliharaan ayam pedaging dapat dipenuhi guna produksi terbaik.

Ayam Pedaging Berubah, Peternak Harus ‘Improve’

Secara nyata sifat ayam pedaging menurun atau berubah. Kondisi ideal atau keadaan yang tanpa kendala merupakan hal yang tidak mudah ditemui. Maka banyak faktor yang harus diperhatikan agar pertumbuhan ayam pedaging optimal. Tidak bisa dengan memakai manajemen peternak masa sebelumnya, manajemen di kandang menuntut peternak selalu menemukan hal yang baru dan lebih baik.

Technical Support di Tim Marketing PT Sierad Produce Tbk Sidoarjo Drh Mulyanto menyatakan penampilan ayam pedaging sudah berubah seiring dengan kemajuan rekayasa genetika yang diterapkan untuk mencipta bibit ayam pedaging unggul. Pendeknya, ayam pedaging modern telah menjadi hasil rekayasa genetika dengan tingkat pertumbuhan tubuh yang cepat.

Dari tahun ke tahun sifat ayam pedaging terus menyesuaikan perubahan ini. Guna mengoptimalkan kemampuan produksi ayam pedaging ini, sayangnya telah mengorbankan bagian lain, seperti sistem kekebalan tubuh. “Sistem imunologi akan dikorbankan”, kata Drh Mulyanto yang alumnus FKH Unair ini.

Dikorbankannya sistem kekebalan tubuh ini antara lain kondisi penampilan ayam pedaging di lapangan seolah-olah mudah sakit. Ayam pedaging menjadi sangat rentan terhadap faktor-faktor pemicu penyakit. Sedangkan penyakit tampak begitu kejam terhadap ayam yang rentan ini. Tak mengherankan pada saat ini banyak sekali ditemukan manisfestasi penyakit yang tidak dengan mudah dapat didiagnosa, seolah-olah satu penyakit bersembunyi atau saling menutupi manifestasinya dengan penyakit lain.

Peternak harus selalu ‘improve’, menyesuaikan dan sampai mendapatkan kecocokan dengan kondisi terbaru”, ujar Drh Mulyanto. Kalau perusahaan pembibitan menetapkan standar-standar tertentu dalam pemeliharaan ayam sesuai dengan masa-masa hidupnya seperti awal pemeliharaan, masa pertumbuhan dan masa panen, penerapan di lapangan, “Lebih membutuhkan kemampuan manajerial dari peternak”, tegasnya.

Lebih baik pada aplikasi di lapangan ini berarti peternak lebih disiplin. Di sisi lain hal ini butuh biaya yang berarti segala penyesuaian di lapangan butuh dana tambahan. Soal penyesuaian di lapangan ini, di antaranya adalah kondisi kandang dan lingkungan kandang yang berpengaruh sebesar 70 persen bagi keseluruhan pemeliharaan hingga produksi atau panen.

Kalau kebutuhan ayam pada setiap fase terpenuhi, baru peternak boleh berharap peternakan yang dikelola bisa memunculkan potensi genetik. Sebab, meski secara genetik bagus, sifat unggul ini baru bisa muncul bila ayam diberi tempat dan kesempatan sesuai dengan kebutuhan genetiknya”, tegas Drh Mulyanto.

Menurutnya yang dimaksud dengan tempat berhubungan dengan peralatan di kandang. Pada saat awal pertumbuhan di mana ayam membutuhkan pemanas buatan untuk pengindukan, “Kalau selama ini cukup dengan kompor minyak, sekarang lebih bagus dengan gasolec (pemanas gasolec dengan bahan bakar gas dalam tabung elpiji)”, katanya.

Drh Mulyanto pun menambahkan kalau pemanas pengindukan buatan ini dulu punya perbandingan 1 pemanas untuk 1000 ekor DOC, dengan gasolec sekarang 1 untuk 500-700 ekor. “Kalau dulu kemampuan menawar penggunaan alat ini dikedepankan, dengan kondisi bibit yang sekarang semakin berkurang kemungkinannya, yang berarti peternak akan berusaha sebisa mungkin menyediakan”, ujarnya. Jelas, untuk penyediaan ini peternak mesti menyediakan dana.

Salah satu tindakan praktis yang butuh penyesuaian lain adalah ketika ayam mencapai umur minggu ketiga, atau berumur 14-21 hari. Pada saat umur ini, ayam mengalami masa di mana sistem kekebalan dari induk sudah minimal sementara kekebalan aktif dari tubuh ayam sendiri baru dimulai. Tak heran sistem kekebalan tubuh yang rendah ini bisa mengakibatkan ayam mudah terserang penyakit.

Pada saat ayam berumur 3 (tiga) minggu ini, pertambahan berat badan dan konsumsi pakannya cukup tinggi. Lagi pula, minggu ke tiga merupakan masa di mana ayam sering mengalami stres akibat perlakuan vaksinasi, turun sekam dan perubahan perlakuan dari pemakaian pemanas hingga tanpa pemanas.

Apa yang dapat dilakukan peternak dengan kondisi lapangan seperti ini ? Di antaranya, peternak dapat melakukan vaksinasi pada pagi hari atau sore hari guna mengurangi stres pada ayam. Selanjutnya memberikan larutan gula 2 persen selama 2 jam, ditambah vitamin anti stres pada saat sebelum dan sesudah vaksinasi atau saat turun sekam.

Larutan tersebut berfungsi guna membantu memperbaiki sistem kekebalan. Peternak seyogyanya tidak mengubah dan membatasi pakan pada periode ini lantaran dapat menambah stres ayam. Tentu saja udara mesti selalu dijaga agar kualitasnya selalu baik. Dan tak lupa peternak mesti meningkatkan biosecurity kandang.

Akhirnya, Drh Mulyanto memberi ketegasan, “Kandang harus lebih bagus, ventilasi harus lebih bagus, meski sekarang hal ini tidak mudah didapatkan tetap tidak boleh seperti kondisi peternakan sebelumnya”.

Hanya dengan cara ‘improve’ yang berarti memperbaiki, memajukan, mengembangkan, memanfaatkan semua hal yang baik guna perbaikan dan pengembangan seperti yang demikian, peternak dapat mengimbangi upaya-upaya perbaikan genetik ayam pedaging yang telah dilakukan para ahli guna menghasilkan produksi terbaik.

Sumber : Infovet, Agustus 2010

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/ayam-pedaging-berubah-peternak-harus-improve/

Pilah-Pilih Atap Untuk Ayam (bag 2)

Wahyu Pratomo, Direktur CV Intan Cahya, penyedia jasa konstruksi baja Closed House untuk unggas, turut memberi keterangan. Ia mengaku, beberapa waktu lalu tertarik menggunakan atap tersebut tetapi belakangan mundur dengan alasan harga. “Saya sekarang tengah membangun menambah Closed House di Kulon Progo (Yogyakarta – red) ukuran 12 x 126m. Kali ini saya ingin coba pakai atap itu, dikasih harga kisaran Rp. 500 juta. Wah, nggak jadi !“, ujar pria yang juga menyandang status peternak broiler dengan 3 Closed House berkapasitas total 125 ribu per siklus ini.

Wahyu percaya teknologi ini efektif mendukung terpenuhinya lingkungan ideal bagi hidup ayam dan mempermudah operasional Closed House. Ia yakin, teknologi ini akan semakin mendukung performa ayam, karena ayam lebih nyaman. Ditambahkan Dhanang, teknologi ini adalah cara mudah menurunkan suhu dalam kandang sehingga tenaga kandang dapat berkonsentrasi pada peralatan dan pekerjaan lain yang memberi dampak positif terdongkraknya performa ayam.

Menurut Wahyu ini sejatinya bukan teknologi baru. Penggunaan PU sudah banyak pada gedung atau bangunan lain. Lapisan insulasi banyak dimanfaatkan sebagai penahan suhu pada kamar pendingin agar tetap dingin. “Tapi pemanfaatan untuk kandang ayam masih baru“, ujar dia.

Sayangnya harga terlalu tinggi. Sebagai pembanding, dengan ukuran yang sama Wahyu hanya menghabiskan biaya sekitar Rp. 150 juta untuk atap plafon. Wahyu semula mengaku senang saat belakangan dipasarkan produk tersebut yang merupakan buatan dalam negeri. “Saya senang karena saya pikir dengan produk dalam negeri bisa lebih murah, ternyata ndak“, ucapnya bernada menyayangkan.

Wibowo tak menampik produknya 20-30% lebih mahal ketimbang atap konvensional. Tapi selain tampilan jauh lebih bagus, sandwich panel selama 20-30 tahun tidak akan rusak. Pelanggannya mengakui nilai lebih tersebut. “Murah, tapi 3 atau 4 tahun harus dibongkar ganti atap baru, itu jauh lebih tidak efisien“, ujarnya setengah berdalih.

Investasi atap sandwich panel untuk Closed House baik layer maupun broiler sama. Ia menyebut kisaran Rp. 600 juta untuk ukuran 10 x 120 m². Harga Rp. 150 ribu per m². “Kalau pakai atap biasa Rp. 110 – 115 ribu per m². Tapi insulasinya beda jauh, dan praktis tinggal pasang“, ucapnya promosi. Sehari, kata Wibowo, dapat terpasang 300 m² dengan pekerja 4 orang. Sementara atap konvensional paling banter 150 m², belum lagi insulasinya ribet.

Keluhan dana yang terbatas ditanggapi Wibowo dengan menyodorkan alternatif pilihan. “Bisa disesuaikan budgetnya. Yang penting secara fungsi dapat“, katanya. Ia memisalkan, opsi penggunaan jenis natural color dan bagian bawah paperfelt, ini mampu menekan harga sampai 20%. Jadi peternak masih ada pilihan. tetap dapat memiliki atap ideal.

Plafon Kurang Maksimal

Batal menggunakan atap PU, untuk calon kandang barunya Wahyu mengaku membuat modifikasi atap hasil kreasinya sendiri. Menggunakan beberapa bahan yang banyak ditemui di pasaran ia membuat atap berinsulasi. “Galvalume di 2 sisi, dengan insulasi di tengahnya memanfaatkan aluminium foil“, tuturnya rigid. Kalkulasi dia, ongkos yang dikeluarkan tidak lebih dan Rp. 250 juta. Dan ia yakin, kreasinya ini mampu memberikan fungsi atap yang ideal, menekan suhu dalam kandang.

Sebelumnya, dalam membangun Closed House, baik untuk sendiri maupun penyediaan bagi peternak lain, Wahyu masih menggunakan tipe atap dengan plafon. Dan ia mengakui, di iklim tropis dengan suhu yang fluktuatif, atap biasa memiliki kesulitan tersendiri dalam menurunkan suhu. Dia mencontohkan kandangnya yang di Losari dengan 3 lantai, performa ayam di lantai paling atas adalah yang terendah. “Artinya, di atas ini paling panas dan atap plafon tidak maksimal meredam panas paparan sinar matahari“, terangnya.

Selain itu, atap plafon membutuhkan biaya maintenance (perawatan). Kata Dhanang, untuk plafon berbahan terpal atau plastik menuntut renovasi di tahun ke-6, sementara plafon berbahan galvalume setelah 15 tahun harus diganti. Sedangkan atap golongan III tanpa plafon mampu bertahan selama kandang berdiri.

Wahyu menambahkan, tindakan sanitasi dengan semprotan bertekanan tinggi berpotensi menimbulkan kerusakan pada plafon. Belum lagi, apabila listrik padam. Dijelaskan Wahyu, saat listrik kembali menyala, otomatis semua blower menyala sehingga hembusan angin mendadak kencang dan memberikan tekanan menghentak pada plafon.

Perlu Kipas Banyak

Tapi Teddy punya analisa berbeda. Ia justru menyarankan perlunya mempertimbangkan biaya operasional yang harus dikeluarkan bila akan memilih kandang jenis A frime tanpa plafon untuk Closed House. Meski atap dengan bahan PU dapat menahan panas, kata dia, karena tanpa plafon maka udara di dalam kandang menjadi sangat besar. “Ini membutuhkan jumlah kipas yang lebih banyak untuk mengalirkan udara“, jelas Teddy. Otomatis, penggunaan listrik juga lebih besar. Ia membandingkan, perbedaan pemakaian jumlah kipas antara kandang berplafon dengan tanpa plafon sekitar 25%. Meskipun, ia mengimbuhkan, tergantung cuaca di masing-masing lokasi juga.

Teddy menilai yang paling ideal adalah menggunakan atap PU, dengan ditambah plafon juga. Walaupun investasi atau modal lebih banyak, tetapi metode ini efektif menurunkan suhu kandang. Disamping panas diredam atap, ruang kosoog antara atap dan plafon juga menghambat aliran panas ke dalam kandang sehingga lebih dingin. Nilai lebihnya, plafon juga memperkecil volume udara dalam kandang sehingga tidak menuntut penggunaan kipas yang banyak.

Masing-masing tipe punya plus minus, kata Teddy. Alternatif lain, menggunakan atap zincalume tanpa lapisan PU kemudian dibuat plafon. Bila merujuk pada penjelasan Dhanang, tipe ini adalah atap golongan I. Menurut Teddy, investasi tipe ini sama dengan atap beriapis PU tanpa plafon. Bedanya, yang pakai plafon biaya operasional harian lebih rendah karena menghemat kipas dan listrik.

Sebagai jalan keluar plafon yang mudah rusak, Teddy menyarankan untuk menggunakan zincalume sebagai bahan pembuatan plafon. Alih-alih plastik atau terpal. Teddy mengaku lebih memilih tipe atap dengan zincalume dengan drop ceiling (plafon). “Ditambahkan glass wool di atas plafon juga tidak apa-apa“, ujarnya. Investasinya juga lebih tegangkau, menurut dia.

Plafon untuk Broiler

Aneng Lim, Sales Manager PT Big Dutchman Agriculture Indonesia mengutarakan, tipe kandang dengan flat ceiling (plafon) cocok untuk broiler. Sebaliknya, tipe ini tidak pas untuk layer karena tekanannya terlalu besar bagi kandang layer yang menggunakan cages (kandang individual). Sependapat dengan Teddy, Lim mengatakan untuk broiler yang terbaik adalah menggunakan atap berinsulasi PU dan ditambah plafon.

Atap Closed House paling sederhana, dijelaskan Lim, tipe A sudah menggunakan insulasi dengan tulang rangka yang masih terlihat sehingga aliran udara menemui banyak rintangan yang berakibat terjadi turbelensi. Solusinya, ditutup dengan lapisan metal dengan ketebalan lebih tipis ketimbang metal di bagian atas. “Bisa ditambahkan glass wool atau tidak“, katanya.

Tipe berikutnya menggunakan flat ceiling, dan tipe ketiga menurut Lim menggunahan PU panel atau kadang disebut juga dengan sandwich panel. PU diakuinya mahal, alternatif pilihan adalah galvanis, tetapi perlu plafon dan glass wool yang diletakkan di plafon sebagai insulasi. Dan dibandingkan penggunaan glass wool, PU lebih rapi.

Pihaknya menyediakan kebutuhan galvanis dengan spesifikasi ketebalan 275 gr/m², sementara ukuran panjang tergantung permintaan pelanggan. Tetapi, kata Lim lagi, lebar lebih dari 12m kontraktor akan kesulitan karena panjang besi per 6m. “Di Indonesia ukuran standar kandang 12 x 120m“, sebut dia.

Untuk PU, tersedia di pasaran panjang 6-12m. Lebih dari itu, kata Lim lagi, akan kesulitan loadingnya. PU sedang marak. Menurut dia PU aman, tidak beracun karena lapisannya tertutup. “Untuk satu kandang kira-kira dibutuhkan 315 lembar“, imbuh dia.

Sirkulasi dan Turbulensi

Ayam sebagai makhluk hidup bermetabolisme dan melepaskan panas tubuh. Panas tubuh, bersama gas ammonia akan naik ke atas mengisi ruangan dalam Closed House. “Udara inilah yang harus dikeluarkan“, terang Teddy. Aliran udara yang baik akan menghasilkan sirkulasi atau ventilasi ideal dalam kandang, sehingga sejuk dan nyaman bagi ayam.

Konstruksi plafon sangat menentukan nilai aliran udara di dalam kandang. Teddy memberi catatan penting untuk model plafon yang flat (datar) berpenampang melintang berbentuk kotak dengan sudut-sudut lancip. Tipe ini menghasilkan turbelensi aliran udara karena saling bertabrakan. Sedangkan untuk model plafon yang curve, artinya ujung-ujungnya berupa lengkungan, aliran udara lebih lancar. “Turbelensi ini tidak disukai ayam“, katanya. Dan kalau turbelensi itu sangat kuat maka akan ada bagian tempat yang kosong udara dan titik tersebut akan dijauhi ayam. Idealnya, udara mengalir lembut dan rata.

Untuk tinggi antara atap dengan plafon, menurut Teddy tidak ada angka ideal. Ruang kosong ini menjadi pendingin alami. Untuk menambah peredam panas, bisa dipakai glass wool yang ditempel pada plafon. “Dan biasanya tikus tidak suka glass wool. Selain itu, baiknya plafon dilapisi plastik agar tidak ada bocor“, pesan Teddy.

Teddy memberikan keterangan tambahan, dudukan atap jarak antara satu dengan lainnya 3-6m. Banyaknya kolom dudukan kandang sangat tergantung panjang kandang. Panjang kandang rata-rata 120m. Untuk kemiringan atap, ada hitungan tersendiri. “Kita paling sering memakai 8-11 derajat“, sebutnya. Kemiringan ditentukan variabel berapa banyak bahan atap yang akan digunakan, dan aliran air. Atap yang terlalu landai, air akan lambat mengalir sehingga membebani atap tersebut.

Kalkulasi investasi total kandang dengan ukuran standar 12 x 120m, menurut Teddy berkisar Rp. 1,2 – 1,3 M. “Kalau komplit dengan peralatan menghabiskan Rp. 2 M“, sebutnya. Dan atap, katanya, menelan 50-60% dari total biaya. Diakuinya, pembangunan Closed House mahal di atap.

Sumber : Trobos, September 2013

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/pilah-pilih-atap-untuk-kandang-ayam-ii/