Manajemen Biosekuriti Terbaik

Berbicara masalah biosekuriti sama juga dengan membicarakan kehidupan kita sehari-hari. Biosekuriti dapat diartikan sebagai tindakan pencegahan masuknya kuman patogen / bibit penyakit (virus, bakteri, parasit, jamur). Contoh sederhana dan biasa kita lakukan setiap hari yaitu mandi atau mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan suatu pekerjaan.

Masih berhubungan dengan biosekuriti, banyak media cetak saat ini menyorot kerugian besar akibat Ebola Virus Disease / EVD. Penyakit yang pertama kali terjadi tahun 1976 dinegara-negara Afrika Guinea, Sierra Lion, Liberia, Nigeria dan sekarang sudah menjalar ke Senegal sebagai negara kelima terkena wabah. Diawali dengan demam, sakit tenggorokan, nyeri otot dan sakit kepala ini biasanya diikuti dengan gejala mual, muntah dan diare, dapat ditularkan melalui kontak dengan darah / cairan tubuh hewan (monyet) atau manusia yang terinfeksi.

Untuk penanganan virus ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa tertatih-tatih mengumpulkan dana amanah (trustfund) senilai 1 miliar dollar AS atau Rp. 12,2 triliun. Virus yang pertama kali tahun 2014 masuk ke Amerika Serikat saat memulangkan perawat volunternya dari Afrika karena diduga tertular penyakit ini, dicemaskan bisa menyebar ke Eropa dan Asia. Jelas terlihat biosekuriti berperan penting dalam penanggulangan penyakit ini dan penerapan yang tidak konsisten mengakibatkan kerugian yang besar.

Tercatat bahwa Pemerintah Maroko mundur sebagai tuan rumah Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAP) dalam memperebutkan Piala Bangsa-Bangsa Afrika yang semula rencananya akan diselenggarakan tahun 2015, hal ini menyatakan biosekuriti juga mempunyai kaitan dengan kerugian / hilangnya peluang investasi / dana yang akan masuk.

Sebenarnya, penerapan biosekuriti yang ketat dan konsisten berarti juga mengurangi kejadian penyakit menjadi sekecil mungkin, sehingga kerugian ekonomi dapat diminimalkan.

Lalu, bagaimana halnya dengan pelaksanaan Biosekuriti di peternakan kita ? Dalam dunia peternakan khususnya peternakan unggas, penerapan biosekuriti bukan hal yang baru. Umumnya peternak unggas kita selain menerapkan biosekuriti dengan baik, juga melakukan tindakan supporting biosekuriti dengan cermat.

Salah satu contohnya adalah pemasukan bibit yang baik dari sumber terpercaya akan bibit unggul yang menerapkan biosekuriti. Juga pemasukan pakan, dimana selain memperhitungkan nilai nutrisi terkandung, sumber pakan diperoleh dari sumber / daerah bebas penyakit unggas. Pemasukan bibit atau pakan yang dari sumber yang salah atau tidak menerapkan biosekuriti akan riskan terhadap penyakit.

Manajemen kesehatan ternak erat kaitannya dengan biosekuriti, karena akan berdampak terhadap keberhasilan produksi ternak serta mengurangi resiko masuknya penyakit. Disini ada beberapa tips pelaksanaan biosekuriti yang baik untuk mencegah masuknya / menyebarnya kuman patogen / bibit penyakit :

Dhanang Closed House - Do Not Enter

  1. Pencegahan keluar masuknya orang :
    • Membuat tulisan jelas dan mudah terbaca (“DILARANG MASUK” atau “HANYA PETUGAS YANG BOLEH MASUK”)
    • Kandang ayam selalu dalam keaadaan tertutup dan hanya pekerja yang memiliki otoritas tertentu yang bisa membuka atau menutup
    • Jangan membolehkan tamu tak berkepentingan khusus memasuki daerah perkandangan. Tamu khusus yang berhubungan dengan masalah teknisi harus memakai baju luar untuk melindungi mereka maupun unggas kita dari kemungkinan kontaminasi silang
    • Semua rekaman tamu yang masuk (alamat, no telepon maupun instansi) sebaiknya disimpan dengan baik
  2. Pencegahan kontaminasi silang :
    • Petugas kandang sebaiknya memiliki baju, sepatu boots, topi dan sarung tangan khusus untuk bekerja di area kandang
    • Biasakan membasuh / mendesinfeksi tangan dan mengganti baju sebelum dan sesudah meninggalkan area perkandangan
    • Petugas kandang tidak mengunjungi flok unggas lainnya
    • Peralatan yang dibawa masuk untuk digunakan dalam kandang harus didisinfeksi sebelum dan sesudah keluar dari area perkandangan
    • Kendaraaan yang masuk area perkandangan juga didisinfeksi
    • Pemantauan juga diberlakukan bagi hewan liar seperti anjing, kucing, tikus dan burung liar
  3. Pengawasan pakan dan air minum :
    • Biosekuritas terhadap pakan dilakukan mengingat banyaknya agen penyakit dan toksin yang dapat mencemari makanan
    • Air merupakan sumber penularan penyakit seperti Salmonellosis dan Kolibasilosis. Pemeriksaan mutu air dapat berupa pemeriksaan kimiawi (kesadahan, metal, mineral) dan bakteriologis, atau secara kultur biakan
  4. Perawatan kandang :
    • Pencucian kandang ayam merupakan kegiatan biosekuritas yang paling berat. Segera setelah flok ayam diafkir dan liter diangkat keluar kandang, dilakukan pembersihan dan desinfeksi terhadap seluruh kandang dan lingkungannya
    • Pilihlah desinfektan (anti-mikrobial) yang sudah terdaftar dan memiliki nomor registerasi obat hewan. Sanitasi dimulai dari sabun tangan sampai dengan desinfektan semprot / kandang seperti golongan fenol (alkohol, lisol), chlorine, detergen, iodin. Untuk desinfeksi harian pada ayam, dapat menggunakan glutaraldehide
    • Beberapa desinfektan bekerja sendiri atau dikombinasi. Untuk kandang habis pakai dapat memakai formaldehide dicampur kalium permanganat
  5. Penanganan Limbah :
    • Kotoran ayam dan sekam basah, harus segera disingkirkan agar tidak mengundang lalat berkembang biak
  6. Pemeriksaan Laboratorium :
    • Walaupun kita sudah menerapkan biosekuriti dengan baik tidak ada salahnya secara berkala mengirimkan sampel darah ayam kita ke laboratorium yang sudah terakreditasi untuk mengetahui kondisi kesehatan ayam
    • Bila ditemukan penyakit segera mengirimkan sampel darah / ayam yang sehat / penyakit juga ke laboratorium kesehatan hewan

Kesimpulan

Biosekuriti merupakan cara efektif untuk menjaga sanitasi peternakan ayam kita. Program biosekuritas sebenarnya relatif tidak mahal tetapi merupakan cara efektif mencegah masuknya penyakit pada ayam. Dengan penerapan biosecuriti yang konsisten, peternakan dapat meminimalisir tingkat kematian pada ternak serta penularan penyakit.

Sumber :

Problematika Penyakit Ayam Pedaging

Banyak ayam pedaging punya masalah target panen tidak tercapai, selalu ada ayam kecil namun bukan kerdil. Penyakit yang banyak muncul adalah penyakit lama, namun gejalanya terkamuflase oleh infeksi sekunder sehingga penyebabnya sulit dipastikan. Beberapa kasus ayam yang sudah divaksin secara in ovo itu tidak kebal menerima tantangan virus lapangan. Mengapa dan bagaimana mengatasi semua problem ini ?

Sebagai dosen dan peneliti Laboratorium Patologi FKH IPB Bogor, Drh Hernomoadi Huminto MS banyak menerima sampel kiriman peternak untuk diperiksa secara laboratorium. Dari sampel ayam dengan berbagai gejala penyakit dan kelainan, yang sering diterima adalah ayam yang mempunyai masalah target panen tidak tercapai. Pada kondisi ayam pedaging sampel itu, ungkap Dr Her (panggilan akrabnya), “Selalu ada ayam kecil namun bukan kerdil”. Dengan otoritasnya sebagai dokter hewan pakar penyakit perunggasan, Drh Hernomoadi pun menganalisa masalah yang dijumpai pada peternakan dan ternak ayam pedaging ini. Menurutnya, banyaknya ayam kecil yang bukan kerdil ini, “Mungkin karena faktor manajemen”, ujarnya.

Lalu Dr Her pun menguraikan hal-hal lain yang sangat mungkin berpengaruh. Di antaranya adalah pakan. “Pakan mungkin berpengaruh”, ucapnya. Demikian pula dengan bahan bakar yang sangat dibutuhkan untuk pemanasan dan operasional kandang. Saat ini, “Bahan bakar sulit dan mahal”, katanya. Padahal bahan bakar ini sangat penting untuk menjadi sumber penghangat tubuh ayam terutama pada masa pengindukan atau pemanasan buatan alias brooding.

Masalah pemanas buatan untuk ayam itu ditengarai menjadi titik kritis pemeliharaan ayam yang akan berpengaruh selamanya pada kehidupan ayam di masa selanjutnya. Pengaruh harga bahan bakar yang mahal ini sangat dirasakan terutama oleh peternak kecil. Karena harganya yang mahal, banyak peternak yang memakai sumber panas alternatif. “Sekarang banyak peternak yang kembali memakai arang, lantaran harga minyak tanah yang mahal”, tulur Drh Hernomoadi.

Pembahan sumber panas juga berpengaruh pada konsistensi dan pengaturan panas yang juga terkait dengan ketekunan peternak. Jangan dianggap enteng, pengaturan pemanas yang tidak sesuai standar pada gilirannya nanti akan, “Berpengaruh pada panen ayam pedaging”, ungkap Dr Her. Tak mengherankan di masa panen muncul berat badan ayam pedaging yang di bawah standar dengan penampilan ayam yang kecil tadi.

Jangan dianggap enteng pula, dengan kondisi ayam yang kurang bagus pemeliharaannya lantaran berbagai faktor, sangat mungkin muncul penyakit-penyakit di peternakan ayam. Mungkin banyak faktor yang sudah dipenuhi, namun celah apapun dapat menjadi jalan masuknya bibit penyakit ayam yang ‘melahirkan’ penyakit pada ternak ayam pedaging.

Terkamuflasenya Penyakit Lama

Menurut Drh Hernomoadi Huminto MS, penyakit yang banyak muncul pada peternakan ayam pedaging adalah penyakit lama. Penyakit lama itu antara lain adalah CRD (Chonic Respiratory Disease), dengan kondisi pendukung utama adalah biosecurity yang kurang. Selain itu, lanjutnya, “Masih sering terjadi serangan penyakit Gumboro (IBD, Infectious Bursal Disease) yang ditandai dengan bursa fabrisius menjadi kecil”.

Sayangnya, tidaklah mudah menentukan diagnosa suatu penyakit di lapangan sehingga banyak peternak yang membutuhkan kepastian pendiagnosaan penyakit di laboratorium-laboratorium yang berkompeten seperti halnya Laboratorium Patologi FKH IPB yang dikepalai oleh Dr Her.

Gejala-gejala yang didapatkan pada penyakit-penyakit yang muncul di peternakan ayam pedaging umumnya terkamuflase oleh infeksi sekunder. Akibatnya untuk menilai kondisi serangan penyakit, penyebabnya akan sulit dipastikan”, tambah Dr Her.

Pasangan dari Drh Lies Parede MSc PhD dengan dikaruniai dua putra ini pun mengutarakan beberapa kemungkinan yang dapat menjadi penyebab adanya kamuflase penyakit oleh infeksi sekunder tersebut. Dia mengutarakan penyebab ini dengan melontarkan pertanyaan, “Apakah karena vaksinasi yang tidak tepat ? Misalnya penggunaan vaksin intermediate atau vaksin hot, apakah sudah tepat ?

Dan inilah yang ditengarai oleh Drh Hernomoadi sebagai hal yang paling kurang diperhatikan secara seksama oleh peternak. Yaitu, soal peneraan antibodi induk (maternal antibody). Banyak peternak yang menerapkan vaksinasi tanpa memperhatikan besar antibodi induk. Padahal, dalam vaksinasi, “Seharusnya peternak tahu berapa maternal antibodi ayam yang hendak divaksin, sehingga vaksinasi dapat tepat”, ujar Dr Her.

Lebih-lebih pada peternakan kecil, pakar kesehatan unggas ini menilai banyak peternakan yang menerapkan vaksinasi dengan patokan tidak tepat. Umumnya peternak melakukan program vaksinasi hanya berdasar perhitungan hari. Misalnya pada hari ke 10, 11 atau 12 melakukan vaksinasi tertentu. Hanya berdasar perhitungan hari tanpa mengindahkan perhitungan antibodi maternal, sangat masuk akal vaksinasi, “Kadang-kadang tidak tepat dan gagal”, ungkap Drh Hernomoadi.

Adapun dari pengamatannya terhadap perilaku peternak terhadap ternak ayam pedagingnya dalam operasional peternakan, beberapa kali dijumpai peternak membeli DOC sudah divaksinasi secara in ovo di hatchery atau masa penetasan. Harga dari DOC yang demikian lebih mahal daripada harga DOC yang tidak divaksin in ovo.

Harapan dari perlakukan pemberian vaksinasi in ovo itu memang ayam sudah punya kekebalan sehingga siap diternakkan dengan kondisi baik guna hasil yang terbaik pula. Namun, menurut pengamatan dan pengalaman Drh Hernomoadi Huminto MS, beberapa kasus yang masuk di Laboratorium Patologi FKH IPB, ayam yang sudah divaksin secara in ovo itu tidak kebal menerima tantangan virus lapangan.

Beberapa kasus lain yang dijumpai adalah AI (Avian Influenza, Flu Burung) dan ND (New Castle Disease atau Tetelo). Pada ayam yang kelihatannya dipelihara hingga mencapai bobot 2 kilogram atau lebih, Drh Her menyarankan harus direvaksinasi lagi. Berdasar penelitian, pengalaman dan pengamatannya terhadap ayam yang tidak kebal terhadap tantangan virus lapangan meski sudah divaksin in ovo, Drh Hernomoadi Huminto MS berkesimpulan, guna hasil terbaik pemeliharaan ayam pedaging, “Tidak bisa mengandalkan vaksinasi in ovo saja”, pungkasnya.

Sumber :

Pasca AI Kualitas DOC Sangat Fluktuatif

Bibit memang merupakan pangkal awal dari sebuah produktifitas usaha budidaya peternakan, tidak terkecuali ayam negeri, baik potong maupun petelur. Sebagai komponen hulu, bisa menjadi kunci yang mana untuk meraih keuntungan jika diusahakan secara komersial. Sebaliknya, bisa menjadi petaka bagi peternak jika kualitas bibit tidak seperti yang diharapkan.

Dan sebagai produk hidup, maka sudah pasti kestabilan kualitas tidak akan bisa produsen yang menjamin atau memberi garansi. Sebab terlalu banyak aspek yang berpengaruh terhadap produk bibit itu. Walaupun bagaimana, produsen bibit, relatif sama persis dengan usaha komersial, yaitu memproduksi secara intens dan optimal untuk menghasilkan bibit yang akan dilempar ke pasar. Upaya untuk menghasilkan yang terbaik itu, relatif sama persis dengan peternak komersial yaitu menghasilkan produk yang terbaik, berupa tinggi produktifitas dan efisien, rendah angka kesakitan dan juga rendah angka kematian serta yang pasti menguntungkan.

Berikut ini hasil investigasi Tim Pemantau Lapangan Infovet yang menggali pendapat dari peternak dan pemasar bibit ayam (DOC).

Menurut Drh Rama Dharmawan, staf pada Balai Besar Veteriner Wates, bahwa bibit merupakan kunci gerbang pembuka keberhasilan sebuah usaha peternakan. Oleh karena itu jika bisa diperoleh sebuah paket bibit ayam (DOC) dengan kualitas baik, maka pintu ruangan besar untuk meraih keuntungan terbentang luas.

“Secara teoritis dan memang seharusnya begitu, bahwa produsen sudah diberi rambu untuk memproduksi dengan sertifikasi dan persyaratan tertentu. Seperti bobot standar awal, jaminan bebas penyakit tertentu dan kualitas induknya. Namun demikian, oleh karena faktor yang mengitari di sisi masa produksi bibit sangat banyak, maka setidaknya standar terendah yang bisa ditoleransi harus terpenuhi. Misalnya bobot awal bibit”, ujar Rama yang berniat melanjutkan pendidikan di Australia itu.

Lebih lanjut Rama menjelaskan, bahwa harus diketahui dan dipahami oleh para peternak, bahwa memang aspek ke”ajegan” atau stabilitas kualitas bibit relatif tidak akan mungkin terjadi. Sehingga sangat wajar bila kemudian peternak mengeluhkan adanya perbedaan produktifitas walaupun dengan merk yang sama. Terlebih dengan merk yang berbeda, sudah pasti akan menjadi lebih lebar deviasi perbedaan itu.

Menurutnya, ia sering menerima informasi dan keluhan dari peternak tentang naik dan turunnya produktifitas maupun performans. Selalu ia jelaskan hal itu, bahwa tidak ada satupun jaminan pasti kestabilan kualitas bibit. Namun demikian, yang justru lebih penting bagi peternak sebagai konsumen, adalah berupaya dari waktu ke waktu untuk terus memperbaiki cara pengelolaan.

“Wong tidak ada ruginya koq seandainya kita terus berusaha untuk meningkalkan manajemen pemeliharaan. Dan disitulah kunci memasuki keuntungan yang jauh lebih besar”, ujar Rama.

Ketika disodorkan kenyataan bahwa ada aspek penting yang lain yang sangat mempengaruhi keuntungan peternak yaitu harga jual hasil produksi. Rama menjawab, bahwa hal itu jelas sangat tergantung akan tingkat penawaran dan permintaan. Tidak ada sama sekali kaitannya dengan kualitas bibit.

Sedangkan Ir Dhanang Purwantoro, seorang praktisi peternakan kawasan Wonogiri Jawa Tengah dan Wonosari mengungkapkan hal yang berbeda. Menurutnya, kualitas bibit memang dirinya sudah memahami. Kestabilan kualitas DOC memang sangat sulit untuk diperoleh dari satu periode ke periode berikutnya.

Meski demikian, selama ini justru ia mencoba menyiasati dengan cara pengelolaan yang selalu berubah. Pengertian berubah itu, menurut Dhanang adalah selalu mencoba memberikan perhatian yang berlebih dan selalu meningkatkan dari periode ke periode. Bahkan, ujar Dhanang, dirinya selalu membaca dan mengamati perilaku peternak lain. Jika dalam periode ini, para peternak mengerem atau mengurang populasi dari merk tertentu oleh karena periode kemarin/sebelumnya dimana kualitasnya “kurang baik”, kemudian mengganti dengan merk lain yang dipandang lebih baik. Maka ia justru menjatuhkan pilihan bibit/DOC yang kurang disenangi para peternak umum.

Bukan saja pilihan itu oleh karena harganya jauh lebih murah, karena jenis DOC sore hari alias kurang laku, namun justru menurutnya itu sebuah tantangan untuk membuktikan hahwa sebenarnya ada aspek lain yang lebih penting yaitu pengelolaan. Menurutnya, manajemen pemeliharaan yang selama ini diserahkan secara lepas oleh para peternak kepada pekerja kandang, adalah kekeliruan besar. Terlebih jika DOC itu termasuk DOC yang dimarjinalkan/ditolak halus para peternak. Maka harus ada perhatian yang lebih dari cara pengelolaan selama ini. Hasilnya, menurut Dhanang selama ini tidak ada masalah, bahkan selalu mencapai hasil yang memuaskan. “Ini fakta lho… bukan isapan jempol”, tutur Dhanang meyakinkan Infovet.

Urusan harga jual pasar yang naik turun, itu memang akan dialami oleh semua peternak. Artinya meskipun mereka memakai bibit yang sedang favorit pada periode itu, toh masalah harga jual juga mengikuti mekanisme pasar. Oleh karena itu jika kita menjatuhkan pilihan dengan bibit/DOC yang kurang favorit pada suatu periode, dengan harga di bawah harga pasar, namun dengan sistem dan cara pengelolaan yang benar, akhirnya hasil akhir sama saja dengan yang memakai bibit favorit.

Kemudian datang pendapat lain dari Misaljo dan Drs Irwanto, yang berprofesi sebagai pemasar bibit ayam/DOC. Menurut Misaljo, yang juga menjadi agen aneka DOC ayam negeri maupun ayam kampung bahwa dirinya terlalu sering menerima keluhan yang beraneka dengan substansi keluhan yang sama yaitu performans kurang baik.

Bibit Ayam Potong Merk “A” dan “B“ pada periode ini menunjukkan hasil baik, yaitu cepat tumbuh besar, konsumsi pakan efisien, angka kematian rendah. Sedangkan Merk “C” dan “D” serta “E” sebaliknya yaitu angka kematian tinggi, kurang efisien pakan serta lambat tumbuh, ayamnya kerdil. Begitu juga dengan ayam petelur, dengan ragam keluhan masa produksi lambat, tingkat kematian tinggi dan masa produksi pendek/cepat afkir, puncak produksi sangat pendek.

Namun ternyata periode berikutnya bisa berbalik. dimana DOC merk “A” dan “B” performansnya sangat buruk sekali. Dan sebaliknya merk “C” dan “D” justru menjadi lebih baik. Sedangkan merk “E” tetap buruk performansnya.

Sebagai penjual DOC, memang dirinya akan selalu menerima dan berhadapan secara langsung dengan keluhan itu, oleh karena itu menurutnya para produsen memang harus selalu menjaga kualitasnya, agar dirinya yang termasuk penghubung antara produsen dengan peternak tidak terus terteror dengan masalah itu. Lebih dari 20 tahun sebagai penjual DOC, Misaljo akhirnya menganggap keluhan itu menjadi kurang begitu direspon jika berhadapan dengan peternak. Sedangkan Irwanto yang baru menekuni itu sekitar 10 tahun terakhir ini, masih selalu risau jika dikomplain oleh peternak.

Misaljo akhirnya mengambil jalur tengah dengan siap selalu menerima keluhan dan keluhan itu ia sampaikan lagi ke agen pemasok. Masalah itu menjadi perhatian atau tidak bagi Misaljo itu bukan soal. Sebab Misaljo sudah faham benar akan fluktuasi kualitas DOC selama ini. Bahkan menurutnya, sejak ada wabah AI, kualitas DOC ayam petelur sangat jauh sekali jika dibandingkan dengan kualitas sebelum merebak wabah AI.

Menurut Misaljo atas dasar laporan para peternak pelanggannya, bahwa usia awal produksi ayam pasca wabah AI menjadi lebih lambat, alias tertunda dan mundur. Begitu juga dengan puncak produksi yang relatif lebih pendek. Ayam lebih sering mengalami gangguan kesehatan serta yang meresahkan adalah usia produksi lebih pendek. Katanya ayam petelur dan potong sekarang adalah ayam modern, ternyata justru lebih rendah performansnya dari pada ayam klasik atau masa lalu.

Hal yang sama dirasakan oleh Haji Saelan, peternak ayam potong di Tegal Jateng, bahwa produktifitas ayam potong sekarang jauh dibawah performans ayam potong masa 10 tahun yang lalu. Apakah ini oleh karena akibat penyakit AI atau karena memang kualitas pakan yang ada saat ini kurang baik. Padahal harga pakan terus bergerak naik dari waktu ke waktu. Jika bukan oleh karena pakan, tentunya bibitnya yang harus dipertanyakan tentang kualitas baik buruknya.

Sedangkan Dhanang dan Rama berpendapat memang benar pasca wabah AI masuk Indonesia, harus diakui adanya penurunan performans ayam komersial. Menurut Dhanang, tidak bisa dibantah, bahwa produsen bibit/DOC juga pasti terkena imbas wabah AI, sehingga ibarat pabrik, mesinnya juga kena, sudah pasti hasil produksinya akan terpengaruh juga. Beberapa produsen mungkin akan tetap mencoba menekan pengaruh buruk dari libasan penyakit AI itu, sehingga produk DOC nya masih relatif lebih sama. Sedangkan yang lain meski sudah berupaya namun barangkali gagal mencapai tujuan, akhirnya DOC yang diproduksi kurang seperti yang diharapkan.

Menurut Rama, keluhan yang ia terima tentang produktifitas dan kualitas DOC memang bersitat linier atau terkait langsung. Dimana akibat wabah AI 5-6 tahun yang lalu itu, para produsen DOC masih belum berhasil juga melepaskan pengaruh buruknya. Terkait dengan lambat pertumbuhan dan lambat produksi adalah indikator penting yang tidak bisa dibantah akan adanya pengaruh buruk itu yang masih melekat. Untuk itu peternak hanya ada satu jalan yaitu selalu meningkatkan dan meningkatkan cara budidayanya.

Infovet, Oktober 2009

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/pasca-ai-kualitas-doc-sangat-fluktuatif/

Ketika Pakan Berbaur Dengan Jamur

Memang diakui ada peningkatan permintaan obat anti jamur dan juga anti lalat selama musim penghujan akhir-akhir ini. Selain itu memang permintaan vitamin dan enrofloxacin juga sedikit mengalami kenaikan.

Pakan pada ternak adalah ibarat BBM (Bahan Bakar Minyak) pada mesin sebuah kendaraan. Jika saja tercampur baur dengan bahan lain sudah pasti akan menyebabkan jalannya mesin tersendat bahkan bisa mogok.

Begitu juga dengan pakan yang mulai kandungan gizinya sangat tinggi, maka tidak saja sangat bermanfaat dan disukai ayam, akan tetapi juga menjadi tempat yang menyenangkan bagi mikroorganisme untuk tumbuh berkembang dengan cepat.

Jika saja mikroorganisme itu, sebut saja jamur tercampur baur dan berkembang, maka bukan saja menyebabkan kualitas pakan menurun atau terdegradasi. Akibatnya seperti halnya dengan mesin kendaraan, maka bukan saja ayam menjadi terhambat pertumbuhannya akan tetapi juga bisa berakhir dengan sakit dan mati.

Berbicara jamur pada pakan unggas ternyata persoalan menjadi lebih ruwet dibanding esensi dan substansi persolaan itu. Juga bagaimana upaya dan apa yang seharusnya dilakukan. Harus diakui peternak yang sekarang ini masih bertahan memang termasuk peternak pilihan dan cerdas-cerdas. Hal ini dialami oleh Infovet ketika mencoba mengorek masalah jamur pada pakan.

Pengalaman yang sama diutarakan oleh para TS, pendamping lapangan kepada Infovet. Oleh karena itu sebenarnya hal ini merupakan indikator baik, semakin bergerak maju dan profesionalnya para peternak.

Akarnya pada Pakan Pabrikan ?

“Ngomongin jamur sebenarnya adalah membahas sesuatu yang tidak terlihat tetapi nyata kelihatan bentuk kerugian yang akan ditanggung para peternak. Pabrikan pakan jika memang tulus, tidak perlu memberi ‘bonus’ akan tetapi cukup harga pakan yang wajar dengan kondisi riil lapangan. Bonus yang saya maksud adalah terlalu sering pakan dari pabrik sudah mengandung bibit jamur”, ujar Sumardiman kepada Infovet di kandangnya di kawasan Pegunungan Pajangan Bantul Yogyakarta.

Lebih lanjut Sumardiman. menjelaskan bahwa masalah jamur tidak bisa disalahkan dan ditimpakan kepada peternak. Sebab sejatinya, kontaminasi jamur dan bibit jamur sudah ada sejak dari pakan itu dibuat. Meski benar, didalam proses pengolahan sudah diupayakan bahan bebas dari jamur. Namun siapa yang bisa menjamin kemudian pakan itu bisa bebas dari jamur.

Bonus dalam tanda petik, adalah tercemarnya pakan yang diterima oleh peternak dengan jamur. Kalau boleh berbicara serius, memang pada batas ambang atau toleransi tertentu jamur masih bisa dibiarkan alias ditolerir, karena tidak menyebabkan masalah pada ayam.

Namun tidak bisa ada pihak manapun yang bisa membantah bahwa memang benar pada saat itu saja, jumlah koloni memang masih sedikit. Akan tetapi jika memasuki musim hujan, terlebih seperti tahun 2007-2008 ini, bukankah merupakan lingkungan kondusif bagi jamur untuk berbiak dan berbaur di dalam pakan.

Sekecil apapun jumlah koloni itu jika kondisi lingkungan sangat mendukung maka, sudah pasti akan memunculkan masalah ketika pakan itu tiba di gudang para peternak. Kemudian umumnya menimpakan kesalahan munculnya jamur kepada para peternak, yang dikatakan gudangnya kurang baik atau apalah sejuta alasan yang buruk-buruk pada diri peternak.
“Biasanya dan umumnya ketika muncul kasus penyakit yang diduga disebabkan oleh jamur maka pihak produsen pakan jarang mau mengakui akar masalah di pihaknya akan tetapi kita, para peternak yang dikambing hitamkan”, ujar Sumardiman sengit.

Kiranya mencermati keluhan dan gugatan dari Sumardiman ini, akan lebih baik jika pihak feedmill memberikan penjelasan. agar tidak muncul curiga dan prasangka yang sebenarnya muncul karena misskomunikasi semata. Kita tunggu suara dari pabrikan mendengarkan pendapat Sumardiman itu.

Sumardiman sendiri ketika melihal pakan yang diperuntukkan bagi ayamnya jika sudah terindikasi tercemar jamur, maka pilihannya hanya membakar agar tidak menjadi masalah baru di kandangnya. Langkah itu ditempuh agar tidak disalahgunakan pekerja kandang dengan dijual atau justru diberikan ke ayamnya yang akan beresiko tinggi pada farmnya.

Sebagai peternak ayam petelur yang memulai usahanya dari nol, Sumardiman yang pernah bekerja di sebuah farm besar di Kalimantan itu sangat mafhum sekali dengan pakan yang tercemar jamur. Hasil pengamatannya selama ini, manifestasi pakan jika tercemar jamur, akan tetapi belum kasat mata, maka andalannya dengan melihat indikasi ayam ketika makan dan minum.

Menurut Sumardiman, jika pakan sudah bercampur baur dengan jamur, maka ketika ayam mengkonsumsi pakan sebentar-sebentar minum. “Pokoknya, cara mudah atas dasar pengalaman saya jika ayam mematuk pakan 1-2 kali kemudian diikuti minum berkali-kali maka itu indikasi kuat pakan sudah tercampur jamur meski belum terlihat oleh mata kita.” ujarnya.

Akibatnya Vaksinasi Tidak Optimal

Hal yang hampir mirip juga diungkapkan oleh Tjuntoko, pengelola ayam layer di Sukorejo Jawa Tengah. Hal itu memang benar, ujar Tjuntoko lebih lanjut. Selain itu adalah aspek bau pakan sangat tidak enak. Terutama jika jamur sudah begitu banyak muncul di dalam pakan. Cara menekan agar jamur tidak secara cepat mencemari stock pakan yang lain adalah dengan pemberian obat anti jamur dalam pakan. Tjuntoko biasa memakai merk X yang mengandung bahan aktif propilen glikol dan kalsium propionate.

Sedangkan cara pengobatan ayam yang kemudian sakit akibat pakan seperti itu, tidak ada yang lain selain pemberian multivitamin dan sangat perlu antibiotika untuk jaga-jaga adanya infeksi sekunder. Indikasi lain adanya jamur dalam pakan adalah jika itu berlangsung lama, maka biasanya hasil vaksinasi tidak optimal. Artinya meski program vaksinasi berjalan baik, seperti yang disarankan namun sudah pasti kemampuan memprotek penyakit kurang baik.

Harga dan Kualitas Tidak Sepadan ?

Sedangkan Kartinah. peternak ayam potong di Magelang merasa heran dengan harga pakan yang terus melangit akan telapi kualitasnya tidak sepadan. Dalam awal tahun 2008 ini saja, menurutnya sudah lebih dari 2 kali mengalami kenaikan. Istilah harga pakan yang sering disebut “subsidi harga” sebenarnya telah membuat dirinya bingung. Katanya harga tidak berubah akan tetapi oleh karena pihak pabrikan mencabut subsidi, maka harga sebenarnya juga naik.

“Wong mau bilang naik saja. kenapa mesti bilang subsidinya dicabut”, tegasnya. Sebenarnya lanjut Kartinah bahwa hal itu bukan masalah besar, jika saja kenaikan harga diimbangi dengan peningkatan kualitas. Kartinah semakin bingung, ketika nilai tukar dollar menguat, harga juga ikut naik. Akan tetapi denger-denger nilai dollar melemah alias turun, tetapi tetap saja naik dengan alasan. harga minyak melangit.

Benar juga keluhan kualitas dan korelasinya dengan harga. Akan tetapi hal itu dijelaskan bahwa kemungkinan turunnya kualitas karena musim penghujan, sehingga bahan baku berkualitas buruk, juga dampak dalam pengangkutan yang terus diguyur hujan, bahkan banjir.

“Banyak penjelasan yang tidak jelas, tetapi semakin membingungkan. Karena kata, para petugas saya di lapangan kasus pakan yang buruk menyebabkan ayam tidak tumbuh besar, tetapi sebaliknya. Bahkan senyatanya banyak kasus penyakit yang menurut dugaan saya yang tidak tabu kesehatan hewan, itu pasti karena DOC dan Pakan yang tidak berkualitas”, ujarnya dengan nada keras.

Menurut Kartinah lebih lanjut, mau jamur atau kuman virus, yang jelas hasil panennya sangat buruk sekali. Tidak ada lain jika ayam tidak bertambah besar pasti karena penyebabnya pakan semata. “Ini pikiran orang bodoh seperti saya, Kalau sampeyan bilang itu mungkin karena jamur, naluri bodoh saya yang tetap saja karena pakannya jelek. Titik.” ujar Kartinah semakin menggebu.

Tidak Semata Soal Pakan

Sedangkan Ir Dhanang Purwantoro, terlalu sederhana menyebut pakan sebagai biang keladi gagalnya penen ayam yang berbobot. Sebab sebagai peternak yang juga Tenaga Pendamping lapangan dari PT Biotek, masalah lambatnya pertumbuhan pada ayam potong tidak semata karena kualitas DOC dan pakan semata.

Terlalu kompleks dan banyak aspek yang melingkupi. Pengalamannya selama ini, ketika banyak orang menolak memelihara ayam dari sebuah merk tertentu karena diduga DOC nya kurang baik, ternyata Dhanang justru tertantang untuk mencoba itu.

Hasilnya, justru tidak kalah dengan merk lain yang menurut para peternak berkualitas baik. “Secara ekstrim saya pernah mencoba memelihara ayam dari DOC polos yang sudah pasti berkualitas kurang baik. Akan tetapi ternyata hasilnya sangat baik. Ini bukan klaim saya tetapi para bakul ayam besar yang mengomentari hasil ayam saya itu”, ujarnya penuh percaya diri.

Juga ketika orang rame-rame menyebut pakan merk X kualitasnya buruk, justru Dhanang tertantang untuk membuktikan. Ini bukan isapan jempol, lanjut Dhanang karena hasilnya juga cukup baik, sekedar untuk tidak mengatakan sangat baik.

Berbicara masalah jamur dalam pakan, menurutnya hal itu sangat sulit untuk membuat sebuah kepastian. Untuk pakan yang bebas dari jamur tentu sebuah keniscayaan. Begitu juga, apakah mesti jamur itu akan menyebabkan sebuah gangguan pertumbuhan apalagi penyakit, tentu juga ada aspek lain yang mendukung.

Kemudian jika berbicara pada ayam petelur, tidak berbeda jauh dengan ayam potong, bahwa untuk munculnya gangguan produktifitas ataupun pada kesehatan ayam. maka tergantung kepada pengelolanya.

Mestinya ketika musim hujan seperti saat ini, tidak boleh peternak dengan seenaknya dan lengah dalam pemberian preparat anti jamur. Sebab kapan sebuah preparat itu dibutuhkan tergantung dari improvisasi dan kecerdasannya.

Memang benar jamur muncul kapan saja. Musim penghujan ataupun ketika kemarau. Artinya lanjut Dhanang, intensitas perhatian pengelolaan pakan dalam menghadapi kemungkinan penurunan kualitas harus diperhatikan sangat cermat.

Secara sederhana, menurutnya, jika musim penghujan yang berjalan dalam periode agak panjang seperti awal tahun 2008 ini, maka sudah pasti perlunya pemberian preparat anti jamur dalam pakan. Peternak dapat memilih merk yang paling sreg di hatinya.

“Pengertian saya tentang kualitas pakan dan kontaminan jamur, sangat bergantung kepada para peternak ataupun para manajer farm dalam menyikapinya. Jika musim hujan seperti saat ini, pemberian preparat anti jamur dalam pakan tentu sebuah keharusan, meski gudang yang digunakan sudah sangat representatif. Oleh karena itu jika gudang pakan, di bawah standar, maka tidak ada solusi lain tentang perlunya preparat anti jamur pada pakan”, ujarnya semakin percaya diri.

Obat Anti Jamur Meningkat

Bagaimana kaitan musim hujan di mana potensi pakan berjamur dengan outset penjualan obat anti jamur ?. Mungkin Misaljo dari Samudera PS Kulon Progo setidaknya dapat mewakili penjual sapronak mempunyai jawaban. Menurutnya, omset penjualan obat-obatan selama tahun 2007 sampai awal tahun 2008 tidak banyak berubah alias tetap sepi-sepi saja.

Samudera PS yang banyak melayani para peternak ayam petelur skala mikro di kawasan itu, memang menyediakan secara lengkap aneka kebutuhan sapronak perunggasan. Ketika ditanyakan apakah benar ada permintaan lonjakan obat anti jamur yang dicampur dalam pakan selama musim penghujan ini, Misaljo hanya menggelengkan kepala.

“Wah sepi benar sekarang ini. Sejak tahun lalu (maksudnya 2007) sampai menginjak bulan kedua tahun 2008, omset secara keseluruhan tidak banyak beranjak bahkan ada kecenderungan turun”, ujarnya pelan.

Namun memang diakui ada peningkatan permintaan obat anti jamur dan juga anti lalat selama musim penghujan akhir-akhir ini. Selain itu memang permintaan vitamin dan enrofloxacin juga sedikit mengalami kenaikan. Akan tetapi, Misaljo dengan tegas mengakui bahwa bisnis sapronak perunggasan selama 5 tahun ini semakin sepi saja. Benarkah ?

Sumber : Infovet, Maret 2008

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/ketika-pakan-berbaur-dengan-jamur/

AI Terbaru Terus Memburu Dan Diburu

Muncul AI gejala baru ? Infovet melakukan investigasi serentak pada peternak, praktisi, dan ahli di borbagai wilayah di Indonesia. Hasilnya ? Anda akan dibawa pada suatu fenomena baru kasus AI tahun 2007, yang punya gambaran realitas berbeda (baca: ada perkembangan) dengan kasus Al tahun 2003-2004.

Ayam Potong Tidak Terbebas

Awalnya para pedagang ayam potong tidak tahu apa yang terjadi dibalik kematian lebih dari 80% jumlah ayam yang baru diangkut dari kandang milik peternak. Namun oleh karena kejadian itu terus berulang maka, akhirnya terkuak kasus itu adalah manifestasi semakin nyata kasus wabah penyakit Avian Influenza (AI) pada ayam potong.

Kasus penyakit yang sempat menggegerkan industri perunggasan domestik itu meski sudah memasuki tahun ke lima, selama ini lebih banyak menerjang ayam petelur. Sangat sedikit kejadiannya bahkan tidak setiap daerah dijumpai kasus penyakit itu pada ayam potong.

Beberapa waktu lalu para peternak ayam potong masih bisa membusungkan dada bahwa AI hanya menyerang ayam yang umur produksinya tua seperti ayam petelur. Dan ayam potong diasumsikan terbebas dan sergapan.

Dengan semakin merebaknya kasus AI pada ayam potong, menyebabkan hantaman bertalu-talu seperti rendahnya harga jual hasil produksi yang berlangsung cukup lama. Menurut Catatan Infovet selama lebih dari 6 minggu harga jual ayam besar sempat menyentuh setengahnya dari biaya titik impas. Pihak lain juga terjadi daya serap pasar yang terus melemah.

Drh. Wakhid N. dari PT Vaksindo Satwa Nusantara mengungkapkan kasus ini menjadi masalah serius yang harus diupayakan pemecahannya secara bersama seluruh stake holder, seperti peternak, pemerintah ataupun produsen vaksin dan obat-obatan hewan.

Upaya ini sangat mendesak dan penting agar kasus itu tidak semakin meluluh-lantakan industri perunggasan nasional, diperparah dengan ancaman akan masuknya produk unggas dari negeri manca.

Respon Peternak

Diceritakan oleh Wakhid banyak peternak juga pedagang ayam potong mengeluhkan wabah penyakit itu, yang nota bene selama ini disikapi oleh peternak ayam potong dengan dingin. Di Jogjakarta dan Jawa Tengah sendiri kasus penyakit itu pada ayam potong relatif belum menjadi masalah, namun di daerah lain sudah menjadi teror yang sangat menakutkan.

Teror yang menakutkan itu dapat diambil contoh kasus yang faktual terjadi belum lama ini di kawasan Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi. Seperti diutarakan Ir Dhanang Purwantoro dan PT Biotek Jogja yang pernah terjadi peternak ayam potong dengan populasi 60.000 ekor berumur 11 hari, nekad mengambil keputusan menumpas total populasi oleh karena kandang-kandang di sekitarya sudah terserang penyakit AI.

Argumen pemilik daripada menderita kerugian yang lebih besar di kemudian hari alias pada saat bertambah umur, maka langkah yang sengaja merugikan diri sendiri itu jauh lebih ringan. Langkah itu menurut pandangan umum adalah sebuah langkah “gila” tetapi justru rasional menurut si pelaku.

Kasus tersebut membuat jantung pelaku usaha budidaya perunggasan berdetak tak karuan. Oleh karena itu kebersamaan antar pemangku usaha itu menjadi sangat penting sekali.

Investigasi Infovet ke lapangan di Jogjakarta kasus penyakit itu sampai saat tulisan ini dibuat memang belum ditemukan. Namun di Jawa Tengah, khususnya di Purwokerto kasus itu sudah pernah ditemukan meski frekuensinya baru 4 kali dengan populasi yang relatif sangat kccil yaitu total populasi 4.500 ekor.

Ir Agus W alias “Suwingi” petugas lapangan yang banyak membimbing para peternak mengungkapkan umumnya kasus itu banyak terjadi di kawasan pantai selatan sekitar Gombong terjadi pada peternak mikro dengan populasi 1500 ekor per periode.

Berbeda dengan yang di Botabek yang terkuak karena komplain dari pedagang ayam, justru peternak dan Agus yang pertama kali menduga hal itu oleh karena penyakit AI.

“Ayam-ayam itu seminggu saat mau dipanen masih segar bugar dan nafsu makan biasa saja, tapi 2 hari kemudian langsung mati mendadak dengan total kematian mencapai 60% dari total populasi 1000-1500 ekor. Sava menduga hal itu mungkin karena ND. Namun kemudian ada sejawat Dokter hewan mendiagnosa kasus penyakit itu tak lain adalah AI”, ujar Agus.

Gejala Klinik Berbeda

Pada Pebruari 2007, tim Drh Agus Damar Kristiyanto Kepala Seksi Penjualan PT Romindo Primavetcom di Tangerang menjumpai kasus AI pada ayam broiler di Baleraja, dengan kematian 70 persen, dijumpai pada ayam umur 15 hari, 23 hari, dan saat panen.

Kondisi biosecurity peternakan di tempat itu cenderung ketat, namun ayam tidak divaksin. Khawatir kondisi itu terulang, peterak beramai-ramai menjual dan membagi-bagi ayamnya. Namun kondisi masing-masing peternakan, tidaklah sama.

Hikmahnya, peternak yang tidak pernah memakai vaksin AI pada ayam pedaging mau mencobanya. Pada anak ayam umur 1 atau 4 hari, dosis yang dipakai adalah 1/2 dosis untuk ayam petelur. Kemudian setelah ditest antibodinya pada umur 27 hari, tidak menunjukkan kena AI.

Menurut Drh Damar, kasus AI semacam itu saat itu belum muncul di Jakarta, diketahui tidak ada antibodinya. Namun perlu terus untuk dipantau.

Sedangkan di Jawa Timur, Drh Prabadasanta Hudyono dari PT Multibreeder Adirama Indonesia menuturkan menemui AI yang tergolong baru dengan kecenderungan berbeda dengan AI yang telah dikenal.

Pada kasus AI yang ditemui Maret 2007 suhu tubuh ayam rata-rata sangat tinggi.

Panasnya tubuh ayam dapat dibandingkan dengan kasus gumboro di mana suhu tubuh sangat panas. Kasus AI di Madiun dan Magetan Jawa Timur ini juga menyerang 2500 milik seorang peternak yang membuatnya sangat kehilangan.

“Kelihatannya AI pun punya generasi baru, tidak kalah sama Nissan (merek mobil) yang punya generasi baru”, Drh Praba mengambil perumpamaan. Menurutnya, tampaknya virus sudah mengganggu pusat pengaturan suhu tubuh, sehingga suhu tubuh panas sekali.

Keiika jari tangan dimasukkan kloaka hingga tuba fallopii untuk memeriksa telur, nyenggol daging di sekitar ginjal, jari tangan seperti dislomot (terkena bara panas) api. Telur, daerah tuba fallopii sangat panas. Ayam demam bersuhu lebih panas dari kasus-kasus terdahulu. Jenis antigennya membuat orang penasaran untuk mengetahui secara pasti.

Masih H5N1

Akibat serangannya, ayam kampung banyak yang mati. Pertama kali menemukan kasusnya, tim Drh Praba melakukan kroscek, hasilnya memang cenderung ada ciri baru, tapi tipe virusnya masih H5N1.

Namun virus H5N1 ini menyerang ke organ tubuh yang beda. Sifatnya pun masih HPAI (tipe ganas/Highly Photogenic Avian Influenza) bukan LPAI (Lowly hatogenic Avian Influenza/AI tipe tidak ganas).

Kasus ini mulai kelihatan di beberapa tempat. Pada kasus yang terjadi di Magetan, pada kandang yang terserang, ternyata dalam satu kandang terdapat ayam yang campur-campur jenisnya, ada ayam ras yang bercampur ayam kampung dan lain-lain. Belum ada kasus pada orang.

Panas tubuh yang sangat tinggi pada ayam ini. menurut Drh Praba merupakan manifestasi dari atresia ovari. Ayam yang dulu belum pernah di vaksin, belum nampak gejala. Namun setelah ayam divaksin, ada serangan baru, maka terjadi tarik-menarik kekuatan antara antigen dan antibodi secara luar biasa sehingga suhu tubuh meningkat drastis lantaran syaraf pusat di hipofisa terganggu. Akibatnya pengontrol suhu tubuh pun turun.

Menurut Prof Drh Charles Ranggatabbu MSc PhD, gejala itu muncul seiring perkembangan AI di mana ayam yang sudah vaksin AI dan diberlakukan biosecurity secara ketat. Dalam tubuh ayam antibodi virus ditekan terus, sehingga antibodi membentuk sistem perlawanan baru.

Dekan FKH UGM ini mengungkapkan, kasus ini berbeda dengan kasus tahun 2003-2004 yang kondisinya sama. Variasi pada kasus yang sekarang, mungkin terjadi variasi susunan genetik virus. Misalnya susunan asam amino 1-3, walau tipe virus ini masih HPAI. Akibatnya gejala klinis dan patologi klinis berbeda dengan yang terjadi pada kasus 2003-2004.

Kasus 2003-2004 gejalanya khas, dan tidak terjadi pada ayam broiler. Kasus pada ayam layer fase pertumbuhan dan remaja (pullet) pun tidak ada. Namun terjadi kematian ringan pada ayam layer yang menyebabkan penurunan produksi.

Kasus yang sekarang, secara patologi memang tidak ada gejala. Namun gejala klinis pada ayam petelur terjadi perdarahan di ovarium. Adapun pemeriksaan secara klinis dan patologi klinis, serologis titer AB tidak seragam.

Umumnya broiler yang tidak divaksinasi, begitu ada kontak dengan virus lapang, serangan susah dielakkan. Kematian pun tak dapat dihindari. Sementara itu, gejala perdarahan yang ekstensif tidak dijumpai pada ayam petelur dan ayam pedaging. Biosccurity mulai kendor.

Kasus AI pada ayam layer peternakan komersial, membuat peterak sangat tegang. Kematian ayam meningkat. Antigen virus itu diperiksa di laboratorium FKHU UGM, tipe virusnya masih HPAI H5N1.

Kasusnya ternyata tidak hanya terjadi pada ayam layer, tapi juga pada ayam broiler dan ayam buras pada petrmakan rakyat. Walaupun tipe virus juga H5N1, susahnya gejala klinis dan patologi klinisnya tidak spesifik seperti kasus AI pada tahun 2003 dan 2004.

Perubahan Molekular Serang Otak

Terjadinya variasi gejala dan patologi ayam pada kasus 2007 ini, menurut Prof Charles karena ada pergerakan dinamika molekularnya. Ada perubahan variasi 1-2 asam amino, 1-2 isolat dicurigai telah mengalami perubahan ini. Untuk penelitian ini diperlukan standar emasnya, standar penelitian terbaik.

Menurut Prof Charles, penelitian terhadap kasus demi kasus, terutama terhadap faktor selular dan bioselular virus, tidak bisa dengan pola dan cara seperti yang telah dilakukan, begitu saja terus-menerus. Perlu diteliti lebih dalam terhadap gen H dan N-nya, protein-protein lain, reseptor-reseptornya dan lain-lain yang sejauh ini belum dilakukan mengingat terbatasnya dana.

Untuk penelitian lebih canggih memang diperlukan kerjasama dengan berbagai institusi yang lebih maju, misalnya Biologi Molekular Balitbangkes dan dibutuhkan prakarsa ahli-ahli biologi. Juga dibutuhkan program yang lebih maju dan penelitian-penelitian canggih lain mengingat isolat-isolat bahan hewan di Indonesia jumlahnya banyak sekali. Kita pun tidak bisa menekuni dan mengelola bidang ini secara sepotong-sepotong seperti yang terjadi saat ini.

Dr Drh CA Nidom MS yang kini juga Wakil Dekan III FKH Unair ini, menuturkan kasus AI bergaya baru itu dalam analisanya sudah menyerang otak. Toksin atau racun dari virus itu sudah mengganggu termoregulator di otak. Akibatnya suhu tubuh yang ditimbulkan sangat tinggi dan dengan sendirinya mengganggu metabolisme.

Menurut Dr Nidom, akibatnya ada dua kemungkinan yang terjadi pada ayam, yaitu ayam itu dapat bertahan atau tidak dapat bertahan. Bila ayam dapat bertahan, produksinya akan turun Sedangkan ayam yang tidak bertahan akan mati.

Dr Nidom saat ini sedang mendeteksi ada hal aneh dengan perubahan itu. Saat ini tahap penelitian di laboratoriumnya, preparat virus masih ditanam pada telur, dan membutuhkan waktu sekitar 2-3 minggu untuk mendapatkan hasilnya.

Untuk kali ini kita tahu kecurigaannya, dengan menyerangnya virus ke otak/susunan syaraf pusat, kemungkinan dapat terjadi perubahan protein dan DNA dari virus sehingga dapat menembus barier syaraf di otak, menganggu termoregulator dan muncullah panas tinggi itu!

Adapun menurut Drh Lies Parede MSc PhD dari Balitvet Bogor, mungkin virus HPAI H5N1 dari daerah-daerah yang disebutkan para narasumber tadi sudah mengalami rekombinasi, dengan perbedaan kecil dibanding kasus pada tahun 2003. Analisa akurat menunggu hasil pemeriksaan dan laboratorium biologi molekuler.

Tentang pantat ayam yang dimasuki jari orang, ia menjelaskan, suhu badan orang adalah 37 derajad Celsius, sedang badan ayam 41 derajad Celsius. Dengan dimasukkannya jari orang ke dalam pantat ayam sudah tentu akan sangat panas. Apalagi bila ayam dalam kondisi demam bersuhu 42-43 derajad Celsius.

Di samping itu Dr Lies menganjurkan untuk perlakuan itu supaya berhati-hati sebab tangan itu dapat memasukkan kuman ke dalam tubuh ayam dan dapat mengakibatkan infeksi Salphingitis.

Menurutnya, serangan virus HPAI H5NI mengakibatkan septisemia dengan peradangan sistemik pada multi organ interna maupun eksterna. Maka timbulah demam seperti interleukin, TNF (Tumor Nekrosis faktoe Alfa), PGE-2 (Prostaglandin E-2) dan lain-lain.

Menurut penelitian Lab Patologi FKH IPB, sepanjang tahun 2003-2007 kasus HPAI H5N1 menimbulkan kerusakan patologi makro dan mikro yang sama, perdarahan multifokus organ, di antaranya ovum dari ovarium ayam yang bertelur dan enchepalitis pada otak dari multifokus nekrosis yang masih ditemukan.

Soal kerusakan otak ayam pada tahun 2003, sudah dikonfirmasikan oleh Lab Patologi FKH IPB dan BPPV Wates Yogyakarta dalam Konferensi Asosiasi Patologi Veteriner 2004 di Maros Sulawesi Selatan.

Analisa secara ilmiah virus tahun 2007 tersebut sudah mengalami rekombinasi. meski sifatnya masih serupa ganasnya dengan virus H5N1 tahun 2003. Sedangkan kejadiannya pada ayam juga masih serupa, yaitu pada ayam kampung, ayam aduan, ayam komersil petelur maupun pedaging dari berbagai umur.

Kembali ke Biosecurity

Soal pengendalian, menurut Dr Lies, sudah merupakan kenyataan bahwa virus HPAI H5NI dapat dikendalikan dengan vaksin, yaitu dengan vaksin holomog dan virus lapang. Dan pemilihannya, dianjurkan sebagaimana pencarian untuk vaksin pada manusia, vaksin AI mesti cocok, program tepat dan murah terjangkau peternak.

Munculnya kasus yang mengejutkan itu, menurut Prof Charles Ranggatabbu karena biosecurity mulai kendor. Terjadi perbedaan nyata antara layer divaksinasi dan biosecurity ketat dengan biosecurity yang jebol dan tidak dilakukan vaksinasi. Pada kondisi yang terakhir, kematian meningkat sangat tinggi.

Prof Charles mengingatkan bila ada kasus janganlah gegabah, Lalu jangan menjual hidup-hidup yang ayam terserang AI. Kotoran ayam yang sudah disimpan 1 minggu, harus dikeluarkan. Juga ketatkan kontrol lalu lintas. “Biosecurity adalah andalan. Tanpa itu ayam akan kena AI lagi”, tekan Charles. (Untung Satriyo, Yonathan Rahardjo)

Sumber : Infovet, Mei 2007

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/ai-avian-influenza-terbaru-terus-memburu-dan-diburu/

Benarkah “Closed House” Menyimpan Segudang Penyakit ?

Memang di lapangan banyak muncul pertanyaan kritis oleh peternak yang sedang diperkenalkan tentang sistem pemeliharaan kandang tertutup atau Closed House. Mulai yang benar-benar mengkritisi system itu sampai ke jenis pertanyaan yang cenderung menyesatkan.

Demikian paparan Ir Dhanang Purwantoro ketika tulisan Infovet edisi Maret 2012 yang lalu mengupas tentang Closed House dan banyak muncul perasaan skeptis dari yang belum menerapkan sistem itu.

Beredar informasi menyesatkan bahwa Closed House menjadi sarang aneka penyakit bagi kawasan sekitar, juga tentang aneka penyakit jamur yang tumbuh subur di kawasan sekitar dan bahkan ada informasi tentang tingginya kasus penyakit pernafasan dan penyakit lain yang penularannya melalui udara.
Dengan ringan Dhanang menjawab aneka keraguan yang belum menerapkan itu dengan mengajaknya berkunjung dan bertanya langsung yang sudah menerapkan sistem itu. Para peternak yang sedang berminat dan belum mengaplikasikan sistem itu dipersilakan bertanya langsung kepada peternak lain yang sudah menerapkannya.

Hasilnya berupa tanggapan yang memang beraneka ragam. Ada yang langsung memutuskan untuk mengaplikasikan dan ada yang masih terus berfikir ulang. Namun demikian mayoritas yang berminat akan dengan mantap untuk segera menerapkan sistem itu. Sebuah keraguan adalah hal yang biasa dialami oleh pelaku bisnis termasuk peternak. Sebab dengan keraguan akan muncul banyak pemikiran dan pertimbangan sehingga akhirnya dibuatlah sebuah keputusan.

Jika saja Closed House masih banyak persoalan dengan penyakit dan juga dengan hasil / produktifitas, maka tentu saja Closed House sudah tidak akan lagi diaplikasikan dan berhenti dalam pengembangan dan penyempurnaan. Buktinya bahwa sistem Closed House di luar negeri menjadi keharusan dan di Indonesia sendiri, hingga saat ini terus berkembang dan menjadi pilihan para peternak yang cerdas dan ingin meraih keuntungan berlipat.

“Kalau memang Closed House menjadi masalah baru dalam sistem pemeliharaan ayam, maka sudah pasti tiada lagi pengembangan dan penyempurnaan sistem itu, bahkan tidak ada lagi yang membuat peralatan pendukung untuk sistem itu. Namun buktinya, justru model dan bentuk peralatan pelengkap untuk Closed House terus diperbarui dan terus disempurnakan oleh para produsennya. Ini bukti nyata bahwa Closed House bukan menjadi biang munculnya aneka penyakit” ujar Dhanang dengan tegas, menolak sinyalemen yang salah.

Dhanang memang mengakui, banyak penawaran pembuatan Closed House yang diterima oleh para peternak di Indonesia, dengan tidak jelas jejak rekam perusahaannya. Kandang yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit itu, meskipun mampu memberikan peningkatkan produktifitas, ternyata ada yang tidak sepadan dengan nilai investasinya. Hal itu menurut Dhanang oleh karena ada segelintir perencana dan pembuat konstruksi kandang Closed House yang tidak menerapkan layanan lengkap atau paripurna. Antara perencana dan penyedia perlengkapan Closed House tidak satu atap, sehingga akan menghasilkan kandang sistem Closed House yang asal-asalan. “Jika perencana dan equipment untuk kandang Closed House tidak kualified, maka hanya akan menghasilkan kandang Closed House “ecek-ecek” dan barangkali benar jika kemudian banyak aneka penyakit dan gangguan pertumbuhan pada ayam-ayamnya” tegas Dhanang.

Sepertinya Dhanang memang berniat menyanggah pendapat yang salah tentang sistem kandang tertutup, maka kepada Infovet ditawarkan untuk melihat sendiri di lapangan akan hasil yang diperoleh para peternak yang sudah mengaplikasikan Closed House. Memang benar adanya, bahwa ada beberapa konstruksi Closed House yang asal-asalan, meski equipment yang digunakan berkualitas relative bagus. Akhirnya memang kurang optimal, alias tidak setara dengan nilai investasi pembuatan kandang Closed House. Sedangkan pada Closed House dengan disain konstruksi dan equipment yang sesuai rekomendasi pembuat peralatan, akan diperoleh hasil yang sungguh mencengangkan.

Bahkan ketua APAYO Drh Hary Wibowo, dengan nada berkelakar bahwa jika Closed House sudah banyak menjadi pilihan peternak, akan mengancam para peternak skala menengah seperti dirinya.
“Kalau Closed House sudah banyak diterapkan oleh para peternak, maka tidak perlu ada lagi model kemitraan, karena hasil pemeliharaan dengan sistem itu mampu memelihara dalam jumlah banyak dalam satu kandang dan irit tenaga kerja. Sedangkan model kemitraan, sampai saat ini lebih cenderung memberi kesempatan peluang usaha kepada para peternak skala gurem” jelasnya.

Berkaitan dengan intensitas gangguan kesehatan atau serangan penyakit pada kandang Closed House, menurut Hary, memang harus diakui menjadi sangat minimalis. Artinya problema penyakit yang sering menjadi masalah pada sistem terbuka, akan dipangkas pada titik terkecil dan sebaliknya produktifitas akan mencapai titik maksimal. Hal yang sama ditekankan oleh Dhanang, bahwa Closed House akan membuat produktifitas ayam mencapai titik optimal, dengan resiko gangguan kesehatan atau serangan penyakit sangat rendah sekali.
Di samping itu, memang harus diakui pula, bahwa tingkat keseragaman pertumbuhan dapat terjaga dengan baik. Namun dengan catatan jika Closed House dibuat dengan aturan yang benar. Disain dan equipment yang ditawarkan oleh Dhanang, memberikan jaminan akan hasil yang memuaskan. Dan bahkan ia mengklaim sebagai perencana dan pelaksana pembuatan Closed House yang terbaik di Indonesia sampai saat ini.

Infovet yang melihat dan membuktikan di lapangan pada kandang Closed House hasil pekerjaan Dhanang, bahwa aspek uniformitas / keseragaman pertumbuhan nyaris mencapai 95% atau jauh di atas rata-rata keseragaman pertumbuhan pada sistem kandang terbuka yang hanya mencapai 65-75% saja. Dan dari hasil recording / catatan harian, terlihat sekali tingkat mortalitas yang sangat rendah sekali dan bahkan nyaris total dalam periode pemeliharaan selalu di bawah 1%. Sebuah angka yang selalu dinanti dan diharapkan oleh para peternak.  Memang harus diakui, bahwa meski secara kasat mata terlihat, bahwa begitu padat dan rapat populasi ayam dalam suatu kandang, namun ternyata ayam sangat nyaman dan tidak terlihat sedikitpun ayam terganggu dalam bernafas maupun gerakannya. Inilah yang dimaksud dengan efisiensi ruangan dan kenyamanan.

Selanjutnya terkait dengan informasi adanya gangguan penyakit yang berasal dari Jamur dalam pakan dan penyakit CRD kompleks, Dhanang menyanggah dan menjelaskan akan sinyalemen itu. Memang tidak salah jika sinyalemen akan munculnya penyakit itu pada kandang Closed House, namun itu terjadi umumnya pada kandang Closed House yang konstruksinya ecek-ecek. Mengapa bissa terjadi demikian ?. Oleh karena umumnya, kandang Closed House yang dibangun tidak sesuai dengan disain yang benar, justru akan menjadi masalah bagi ternak yang berada di dalamnya. Kasus penyakit oleh karena jamur yang terjadi pada Closed House ecek-ecek, lebih disebabkan mekanisme penyimpanan dan pengelolaan pakan yang tidak baik. Pada Closed House yang baik, lanjut Dhanang, tempat utama pakan / silo, ada treatment pakan sebelum di alirkan ke tempat-tempat pakan pada kandang. Sehingga potensi terjadi kontaminasi agen infeksi jamur relative akan sangat kecil terjadi. Begitu juga dengan tangki penyimpan air minum yang selalu rutin mendapatkan treatmen, maka akan diperoleh air minum yang sangat hygienis. Jadi Closed House konstruksi yang ditawarkan Dhanang dengan tempat pakan dan minum yang serba otomatis.

Selain itu, sistem pengatur udara yang bersifat otomatis dan didukung mega blower keluar / exhaust fan yang penempatannya selalu diperhitungkan dengan matang, maka potensi gangguan penyakit CRD ataupun penyakit pernafasan lainnya,  akan sangat kecil terjadi. Penempatan mega blower yang asal pasang, tidak sesuai dengan seharusnya, maka tidak akan mampu memberikan kenyamanan ayam yang berada di dalam. Mega blower tidak hanya berfungsi untuk membantu mengatur suhu udara di dalam kandang saja, namun juga berfungsi membuang gas amoniak dan sulfida yang  menjadi gas iritans pada sistem pernafasan ayam. Dengan demikian, efek buruk gas iritans itu tiada akan merusak kesehatan ayam. Sebab gas itu menjadi pemicu awal munculnya gangguan pernafasan yang disebabkan oleh agen penyakit virus, mycoplasma maupun bakteri serta jamur.

Pada kandang Closed House ‘ecek-ecek’ sering justru kasus penyakit CRD maupun mycotoxin, memang menjadi masalah serius setelah kasus penyakit konvensional lainnya mampu ditekan. Hal itu jelas sekali oleh karena penempatan dan penataan alat pengatur suhu ruangan yang salah dan atau kurang tepat. Juga oleh karena pengatur suhu ruangan yang tidak bersifat otomatis. Mestinya jika mau menerapkan Closed House, maka semua haruslah bersifat otomatis, dengan mengurangi kontak sekecil mungkin pekerja dengan ayam.

Kasus penyakit CRD ataupun penyakit lainnya yang penularannya lebih cenderung melalui udara, pada kandang sistem Closed House akan dapat ditekan sekecil mungkin. Namun dengan syarat, bahwa disain dan konstruksi Closed House harus sesuai dengan rekomendasi termasuk peralatan yang digunakan.

(Sumber : Infovet, 2012)

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/benarkah-closed-house-menyimpan-segudang-penyakit/