Demi Efisiensi Closed House Kian Diminati (bag 1)

Kalaupun biaya harus dikeluarkan lebih besar dengan target output yang dihasilkan jauh lebih besar, kenapa tidak dilakukan ?

Penggunaan teknologi Closed House (kandang tertutup) pada peternakan unggas di Indonesia dalam 2 tahun terakhir berkembang sangat pesat.

Di Jogjakarta dan Jawa Tengah misalnya, dari segi kuantitas serta kualitas demikian maju dan progresif dalam penerapan Closed House dengan peralatan yang otomatis penuh (full automatic). Secara kualitas menyalip wilayah Jawa Timur yang lebih dulu mengenal dan mengadopsi teknologi tersebut.

Hari Sukmawan, peternak broiler (ayam pedaging) di Kecamatan Temon, Kulon Progo, Jogjakarta di 2011 ini memutuskan merenovasi 2 kandang broiler miliknya yang model panggung terbuka (opened) menjadi Closed House (sistem tertutup). Pasalnya, Hari yang mulai beternak bersama beberapa teman dengan populasi awal 5 ribu ekor di 2001 ini hampir 3 tahun terakhir mengalami kendala yang kompleks.

Sejak total kapasitasnya mencapai 30 ribu ekor per siklus, pengendalian penyakit dan cekaman cuaca ekstrem makin merepotkan, dan serbuan lalat yang dikeluhkan masyarakat saat panen juga makin tinggi. Keuntungan yang diterima pun fluktuatif akibat performa yang dihasilkan juga naik turun.

Pengalaman hampir sama dialami Setya Pudyastiwi. Pemilik kandang yang berlokasi di Bantul, Jogjakarta ini bercerita, kandang terbuka miliknya yang baru berjalan 5 periode belum sekalipun memberikan untung. Salah satu periode bahkan ia hanya memanen 50% ayam karena dihajar wabah penyakit.

Dan periode terakhir ia mengaku tak habis pikir dengan membengkaknya FCR (konversi pakan). Problem cuaca dan penyakit jadi sandungan utama peternakan yang dikelola bersama anaknya Aldhila Putra Satria Jaya ini sehingga ia memutuskan beralih ke Closed House. Berlokasi di daerah Kokap, Kulon Progo kini tengah dalam proses pembangunannya, yang terdiri atas 2 lantai untuk 24 ribu ekor broiler.

Lain kisah Wahyu Pratomo. yang telah membuktikan keuntungan penggunaan Closed House. Peternak broiler di Purworejo ini sejak awal usaha langsung menerapkan teknologi itu dengan kapasitas 23 ribu dan peralatan otomatis penuh, termasuk melengkapi dengan mini silo untuk mencegah keterlambatan pakan.

Kandang berbendera PT Organik Alam Lestari ini beroperasi terhitung Maret lalu, sudah panen 3 kali dan masuk periode ke-4. Performa yang dihasilkan 3 periode setidaknya menguatkan keyakinan Wahyu atas aplikasi Closed House. Data performa satu siklus dengan panen terbaik yang dicapai Wahyu adalah FCR 1,76; umur panen 29,84; bobot panen 1,99; kematian 1,99; serta IP 387,6. Sementara hasil rata-rata 3 periode dapat dilihat di tabel.

Investasi

Wahyu yang sebelumnya tak pernah kenal bisnis perunggasan dan lebih akrab dengan bisnis pupuk dan jasa konstruksi ini mengaku mempertaruhkan dana sebesar Rp. 946 juta untuk investasi Closed House. “Saya yakin, setelah dianalisis, modal yang dikeluarkan bakal terbayar lunas dalam waktu 2 tahun. Dengan asumsi target 7 siklus dalam setahun tercapai.” tegas Wahyu kepada TROBOS optimis.

Dijelaskan Wahyu, kandangnya terdiri atas 2 lantai berukuran 16 x 54 m² dengan kepadatan populasi 13,5 ekor per m². Bahkan rencananya akan ditingkatkan jadi 14 ekor per m² karena secara teori 15 ekor per m² dapat diterapkan, dengan catatan dilakukan penjarangan pada umur 28-29 hari. Sebagian ayam dipanen, kisaran bobot di umur tersebut 1,5-1,6 kg.

Hasil memuaskan pada siklus terakhir yang mampu meraup untung Rp. 3.050 per ekornya mendorong Wahyu memperbesar skala usaha. Di lokasi yang sama, ia telah selesai membangun kandang kedua berupa kandang 1 lantai berukuran 23 x 66 m², kapasitas 21 ribu ekor dengan biaya yang diperkirakan lebih kecil dari biaya kandang pertama.

Tidak hanya itu ia pun mengaku tengah mempersiapkan kandang ke-3 di Losari, Brebes dengan kapasitas 75 ribu ekor, 3 lantai ukuran 16 x 100 m² yang diperkirakan akan menelan modal sekitar Rp. 3,6 miliar. “Saya menyesal baru mengenal bisnis ini dengan segala teknologinya September tahun lalu. Kalau saja 10 tahun lalu saya tahu, saya membayangkan punya 600 ribu ayam sekarang.” selorohnya diiringi derai tawa.

Sementara Hari, menyebut biaya yang harus ia siapkan Rp. 400 juta untuk bangunan dan listrik, serta Rp. 400 juta lagi untuk mesin dan alat kelengkapan. “Rancangannya, 2 kandang masing-masing berukuran 10 x 115 m² dengan 2 lantai itu akan mampu meningkatkan populasi 2 kali lipat, menjadi 50 ribu – 60 ribu ekor ayam.” terang Hari.

Sedangkan kandang milik Setya unik. Pembangunannya menggunakan rangka baja ringan. Ia mengklaim ini sebagai uji coba yang pertama di Indonesia dan biaya yang dikeluarkannya 40% lebih rendah ketimbang menggunakan baja. Ia berani mencoba karena pihak kontraktor menjamin kekuatan kandang, dan memberi jaminan penggantian termasuk ayamnya apabila dalam 10 tahun terjadi kerusakan konstruksi.

Setya yakin dana Rp. 1,1 miliar yang dibelanjakannya kali ini akan impas dalam waktu 2,5 tahun. Ia mematok target dengan sistem Closed House, setidaknya ia bisa mendapatkan keuntungan Rp. 3.000 tiap ekor ayam.

Sales Area Manager Jateng-Jatim, PT Sierad Industries, Dhanang Purwantoro ikut menjelaskan Rp. 45 ribu per ekor adalah kisaran biaya atau investasi untuk membangun sebuah Closed House dari nol dengan peralatan otomatis penuh. Angka ini meliputi biaya konstruksi, mesin, dan peralatan otomatis penuh, minus lahan dan listrik. “Tinggal dikalikan jumlah populasi yang diinginkan.” ujar Dhanang. Sementara untuk kandang “up grade” atau modifikasi sebagaimana yang ditempuh Hari, angkanya lebih rendah.

dhanang closed house table

Komparasi Performa Ayam dengan Tipe Kandang Berbeda

Sebagai pembanding, Head of Production area Jateng-DIY, Sierad Produce, Abdullah Junaidi menunjukkan catatan biaya yang dibutuhkan untuk kandang panggung terbuka ada di kisaran Rp. 21 ribu per ekor. Karena investasi yang tidak kecil ini, kebanyakan peternak berpikir ulang untuk menerapkan Closed House. Junaidi sempat mengatakan, perlu hampir 2 tahun sejak ia mengenalkan pada Hari teknologi ini, sampai ia memutuskan merenovasi kandangnya.

Senior Sales Manager PT Sierad Industries, Agus Wahyu S secara terpisah menjelaskan, untuk modifikasi kandang menjadi Closed House dengan penambahan kipas, cooling pad (pendingin), dan tirai plastik biayanya berkisar Rp. 6.000 – Rp. 7.000 per ekor. Sementara modifikasi menjadi Closed House dengan penambahan kipas, cooling pad (pendingin), tirai plastik, tempat minum nipple dan tempat makan otomatis biayanya menjadi Rp. 8.000 – Rp. 9.000 per ekor.

Marketing Manager Equipment Division PT Agrinusa Jaya Santosa, Teddy Chandra punya patokan yang berbeda.
Hitungan dia, modifikasi kandang menjadi Closed House dengan penambahan kipas cooling pad dan tirai plastik, controller biaya per ekornya baik untuk broiler dan layer di kisaran Rp. 10.000. Biaya itu di luar biaya kandang. “Closed House untuk tiap daerah akan berbeda tergantung kondisi daerah tersebut dan untuk daerah pesisir pantai lebih baik karena kelembabannya lebih rendah.” imbuh Teddy.

Cara kalkulasi berbeda dipunyai President Director PT Berdikari Sarana Jaya, Deddy Kurnia. Menurut dia, modifikasi kandang menjadi Closed House membutuhkan biaya sekitar Rp. 70 juta. Angka tersebut digunakan untuk membeli kebutuhan kipas 5-6 unit dan tirai plastik pada kandang dengan ukuran 10 x 80 m². “Pembuatan Closed House bisa dipertimbangkan dengan dana yang diinginkan peternak karena Closed House ini bisa dibuat mewah sekali atau justru sederhana. Balik modal Rp. 70 juta bisa dikalkulasi dengan mengkombinasikan tempat makan yang dibuatkan semi otomatis.” paparnya.

Efisiensi

Deddy mengatakan Closed House lebih menguntungkan dari segi efisiensi, performa, dan banyak efek positifnya. Sayang, kompetisi peternak dalam penerapan teknologi Closed House di Indonesia masih rendah sehingga biaya produksi masih tinggi. “Intervensi harga jual produk sulit dilakukan, karena tergantung pasar. Maka yang bisa dimainkan dengan Closed House adalah bagaimana harga pokok produksi (HPP) ini bisa lebih rendah. Investasi awal untuk Closed House mahal, tetapi biaya operasional per ekornya jauh lebih murah.” ia berargumentasi.

Teddy berpendapat, peternak yang sudah mengerti Closed House dan mampu menjalankan dengan lebih baik serta lebih efisien, akan bisa menghitung profit dari teknologi tersebut. Besarnya investasi, pemakaian listrik, termasuk biaya lingkungan, semua bisa dihitung dan dibandingkan dengan sistem kandang terbuka.

Tapi terkadang peternak masih berpikir, begini saja sudah untung kenapa harus pakai Closed House. Padahal beberapa tahun belakangan ini tantangan di peternakan unggas tidak lebih baik bahkan cuaca tidak mendukung, dan Closed House bisa menjadi solusi.” papar Teddy.

Agus membenarkan, penggunaan Closed House secara umum belum banyak berkembang khususnya di broiler komersil karena peternak belum mengetahui atau memahami keuntungannya atau terkendala faktor lainnya. Padahal sistem Closed House sangat baik dan cocok diterapkan di Indonesia yang memiliki temperatur udara tidak stabil. “Dengan sistem Closed House usaha peternakan akan lebih efisien baik di kepadatan populasi, penggunaan pakan, kematian dan keseragaman bobot ayam.” tegasnya.

Dhanang memberikan gambaran efisiensi yang dapat dicapai teknologi ini. Dicontohkannya, 1 kandang closed house dengan ukuran tertentu mampu memuat 24 ribu ekor broiler dan cukup dioperasikan oleh 2 tenaga kerja. Sementara dengan sistem terbuka, untuk ukuran yang sama diperlukan setidaknya 5 kandang yang masing-masing berkapasitas 5 ribu ekor, dengan 10 tenaga kerja (2 orang per kandang).

Belum lagi kalau lokasinya terpencar, problemnya beragam dengan ancaman yang beragam juga. “Keuntungan atau nilai lebih yang utama dari Closed House adalah kepadatan meningkat kapasitas tampung berlipat efisiensi terdongkrak.” ujarnya.

Bersambung : Demi Efisiensi Closed House Kian Diminati (bag 2)
Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/efisiensi-closed-house-bag-1/

Advertisements

Era Besar-Besaran Teknologi Modern Closed House

Inilah era kebangkitan penerapan teknologi modern Closed House secara besar-besaran untuk pemeliharaan ayam. Peternak menunjukkan antusias dan kesiapannya untuk terus maju. Angin segar bagi dunia peternakan Indonesia.

Peternakan rakyat di Jawa Timur sudah menuju kandang modern dengan teknologi lebih tinggi. Demikian Sales Area Manager PT Sierad Industries Dhanang Purwantoro ST seraya mengungkap, grup PT Sierad Produce Tbk mempelopori pembangunan kandang ayam dengan sistem tertutup (Closed House) di daerah Jawa Timur ini, juga di Jawa Tengah dan Jawa Barat. “Jumlahnya kurang lebih puluhan sampai ratusan di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat.” kata Dhanang.

Menurut Dhanang Purwantoro selaku Sales Area Manager Wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, peta peternakan ayam di Jawa Timur ini memang sudah bagus dalam penerapan kandang tertutup baru. Penggunaan kandang tertutup di Jawa Timur ini sudah diterapkan sejak 2008 di Brondong, Madiun, Kediri, dan Tuban. Pihaknya setidaknya telah melakukan peningkatan atau upgrade terhadap 20 peternak. Setidaknya, “Kurang lebih 20 kandang Closed House telah dibangun“, ujarnya.

Satu tim bersama Sales Sierad Industries Jawa Timur Sukadana ST, di bawah pimpinan Sales Manager Sierad Industries Ir Agus Wahyu, Dhanang ST bertanggungjawab membuat dan membangun kandang tertutup dengan dasar meningkatkan kualitas peternak maupun kualitas ayam.

Tempat-tempat dibangunnya kandang tertutup atau Closed House di Jawa Timur itu mulai dari Madura sampai dengan perbatasan Madiun Jawa Timur. Khususnya peternakan ayam pedaging, tim Dhanang memang sudah melayani daerah Madiun, Surabaya, Gresik, Lamongan, Tuban, Bojonegoro, termasuk di Madiun, Kediri, Magetan, dan Tulungagung.

Rata-rata kapasitus kadang milik peternak itu antara 20.000 sampai dengan 100.000 ekor. Namun, ada kandang yang kecil-kecil juga. Selebihnya masib banyak daftar lagi kandang yang lain. Status pengembangan kandang tertutup itu, semua di bawah kemitraan. Sedangkan untuk peternakan ayam petelur, sejumlah 1 (satu) sampai 2 (dua) peternakan ayam petelur di Blitar baru mulai ditata“, ungkap Dhanang.

Adapun meski kandang tertutup serentak dibangun di mana-mana, kandang terbuka atau Open House tetap ada. Tim Dhanang memberi peningkatan atau upgrade secara pelan-pelan agar kualitas peternak lebih baik. Cara meng-upgrade inilah dengan Closed House, dengan tujuan utama pendapatan peternak lebih baik.

Menurut Dhanang Purwantoro, keunggulan Closed House yang pertama adalah tidak ada gangguan seperti lalat di mana lingkungan lebih baik. Keunggulan kedua adalah menghemat tempat. Di mana, kandang yang semula kandang panggung dengan kapasitus 5000 dengan kandang tertutup bisa dipergunakan 2 kali lebih hemat. Di sini, bagian kanan dan lantai atas serta lantai bawah dipakai semua.

Dengan sistem kandang tertutup, kualitas ayam lebih baik, adapun angka kematian rendah. Selanjutnya, kondisi pertumbuhan ayam merata, menghasilkan penampilan ayam yang baik secara maksimal. “Banyak keuntungan yang didapatkan dengan kandang closed house”, tegas Dhanang.

Closed House Haji Karto

Berkat pengembangan Closed House secara besar-besaran di Jawa Timur itu, seorang peternak bernama Haji Karto memelihara 100.000-an ekor ayam pedaging. Itulah kondisi senyatanya di Brondong Kabupaten Tuban yang lokasinya dekat dengan pusat wisata terkenal WBL (Wisata Bahari Lamongan). Pertumbuhan kandang-kandang peternakan di wilayah ini memang sangat pesat.

Haji Karto peternak Tuban yang memulai usaha peternakannya langsung menggunakan kandang modern. Pembangunan Closed House dimulai sejak tahun 2009. Sebelumnya dia adalah petani tambak 25 hektar. Lahannya terletak di dekat pantai. Lahan ini merupakan daerah pertambakan dengan lingkungan yang bersuhu panas.

Posisi pemeliharaan ayam pedaging Haji Karto pada saat tulisan ini dibuat adalah sedang memasukkan atau Chick in DOC (Day Old Chicken). Kesadaran Haji Karto untuk menerapkan kandang tertutup untuk peternakannya adalah lantaran karena sekarang sudah waktunya menggunakan teknologi maju. Hal ini terkait dengan isu pemanasan global dan situasi daerah Tuban yang panas.

Pembangunan kandang tertutup Haji Karto sendiri melalui beberapa tahap. Tahap pertama dengan populasi 55.400 ekor. Kemudian disusul dengan tahap kedua dengan populasi ayam 55.400 ekor lagi. Ukuran kandang tertutup yang dibangun untuk populasi 55.400 ekor ayam pedaging itu adalah panjang 110 meter, lebar 12 meter, kepadatan kandang 14 ekor/m², terdiri dari 3 lantai.

Selanjutnya di kandang tertutup Haji Karto ini akan dibangun tempat pakan otomatis juga. Atas prestasinya dalam pembangunan Closed House itu, Haji Karto dan beberapa peternak lainnya dari seluruh Indonesia diberi fasilitas oleh PT Sierad Produce untuk mengikuti customer gathering dan Indolivestock 2010 di Jakarta.

Closed house Suparno

Suparno peternak ayam pedaging dari Lamongan Jawa Timur. Usaha beternaknya berawal dari peternak lama yang mulai dari kandang terbuka atau Open House. Ia beralih mengembangkan diri ke kandang modern secara Closed House pada akhir 2009.

Tahap pertama pembuatan kandangnya adalah 36.960 ekor. Disusul tahap kedua pembangunan kandang juga untuk populasi ayam sejumlah 36.960. Ukuran kandang tertutup-nya yang dibangun untuk populasi 36.960 ekor itu adalah panjang 110 meter, lebar 12 meter, kepadatan kandang 14, terdiri dari 2 lantai.

Kondisi lahan tempat kandang peternakannya berdiri adalah berpasir cenderung seperti bukit-bukit kecil yang tandus. Menurut Suparno, kandang tertutup lebih menjanjikan dengan pengelolaan benar-benar secara profesional.

Pendanaan

Soal pendanaan guna pembangunan kandang-kandang tertutup itu, salah satunya, “Dengan menggandeng investor dari Bank BNI untuk membangun kandang-kandang modern itu.” kata Dhanang Purwantoro ST. Dana itu dibagi dua, soal dana konstruksi tanggung jawab pemilik kandang. Adapun alokasi biaya untuk bahan-bahan yang digunakan disesuaikan dengan kondisi masing-masing lokasi di mana kandang didirikan.

Misalnya, pada lokasi berpasir, maka dicari sistem cor yang harganya paling murah. Sementara kalau di daerah setempat banyak terdapat kayu, maka untuk bahan-bahan bangunan tertutup digunakan kayu. Sedangkan pada daerah lain yang terdapat bahan bangunan dengan harga paling murah adalah besi, maka untuk bahan pembangunan Closed House digunakan besi. Contohnya, ungkap Dhanang, “Di Yogyakarta, harga besi dan pasir cenderung murah, maka dipilih besi yang lebih murah untuk membangun kandang.

Konstruksi kandang sendiri menjadi bahan pertimbangan untuk bahan dan peralatan. Untuk perhitungan biaya, nilai peralatan antara Rp.10.000-Rp.20.000 per ekor. Kisaran harganya tergantung bahan-bahan material yang dikehendaki peternakan.

Dan kini, pengembangan perkandangan sistem Closed House terus berlangsung dengan langkah pasti. Hal ini terutama semata-mata karena peternak mendapatkan manfaatnya yang luar biasa. Pengembangan teknologi maju jelas memberi kemudahan dan patut terus diikuti. Para peternak kita pun terbukti menunjukkan kesiapannya.

Sumber : Infovet, Agustus 2010

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/era-besar-besaran-teknologi-modern-closed-house/

Pasca AI Kualitas DOC Sangat Fluktuatif

Bibit memang merupakan pangkal awal dari sebuah produktifitas usaha budidaya peternakan, tidak terkecuali ayam negeri, baik potong maupun petelur. Sebagai komponen hulu, bisa menjadi kunci yang mana untuk meraih keuntungan jika diusahakan secara komersial. Sebaliknya, bisa menjadi petaka bagi peternak jika kualitas bibit tidak seperti yang diharapkan.

Dan sebagai produk hidup, maka sudah pasti kestabilan kualitas tidak akan bisa produsen yang menjamin atau memberi garansi. Sebab terlalu banyak aspek yang berpengaruh terhadap produk bibit itu. Walaupun bagaimana, produsen bibit, relatif sama persis dengan usaha komersial, yaitu memproduksi secara intens dan optimal untuk menghasilkan bibit yang akan dilempar ke pasar. Upaya untuk menghasilkan yang terbaik itu, relatif sama persis dengan peternak komersial yaitu menghasilkan produk yang terbaik, berupa tinggi produktifitas dan efisien, rendah angka kesakitan dan juga rendah angka kematian serta yang pasti menguntungkan.

Berikut ini hasil investigasi Tim Pemantau Lapangan Infovet yang menggali pendapat dari peternak dan pemasar bibit ayam (DOC).

Menurut Drh Rama Dharmawan, staf pada Balai Besar Veteriner Wates, bahwa bibit merupakan kunci gerbang pembuka keberhasilan sebuah usaha peternakan. Oleh karena itu jika bisa diperoleh sebuah paket bibit ayam (DOC) dengan kualitas baik, maka pintu ruangan besar untuk meraih keuntungan terbentang luas.

“Secara teoritis dan memang seharusnya begitu, bahwa produsen sudah diberi rambu untuk memproduksi dengan sertifikasi dan persyaratan tertentu. Seperti bobot standar awal, jaminan bebas penyakit tertentu dan kualitas induknya. Namun demikian, oleh karena faktor yang mengitari di sisi masa produksi bibit sangat banyak, maka setidaknya standar terendah yang bisa ditoleransi harus terpenuhi. Misalnya bobot awal bibit”, ujar Rama yang berniat melanjutkan pendidikan di Australia itu.

Lebih lanjut Rama menjelaskan, bahwa harus diketahui dan dipahami oleh para peternak, bahwa memang aspek ke”ajegan” atau stabilitas kualitas bibit relatif tidak akan mungkin terjadi. Sehingga sangat wajar bila kemudian peternak mengeluhkan adanya perbedaan produktifitas walaupun dengan merk yang sama. Terlebih dengan merk yang berbeda, sudah pasti akan menjadi lebih lebar deviasi perbedaan itu.

Menurutnya, ia sering menerima informasi dan keluhan dari peternak tentang naik dan turunnya produktifitas maupun performans. Selalu ia jelaskan hal itu, bahwa tidak ada satupun jaminan pasti kestabilan kualitas bibit. Namun demikian, yang justru lebih penting bagi peternak sebagai konsumen, adalah berupaya dari waktu ke waktu untuk terus memperbaiki cara pengelolaan.

“Wong tidak ada ruginya koq seandainya kita terus berusaha untuk meningkalkan manajemen pemeliharaan. Dan disitulah kunci memasuki keuntungan yang jauh lebih besar”, ujar Rama.

Ketika disodorkan kenyataan bahwa ada aspek penting yang lain yang sangat mempengaruhi keuntungan peternak yaitu harga jual hasil produksi. Rama menjawab, bahwa hal itu jelas sangat tergantung akan tingkat penawaran dan permintaan. Tidak ada sama sekali kaitannya dengan kualitas bibit.

Sedangkan Ir Dhanang Purwantoro, seorang praktisi peternakan kawasan Wonogiri Jawa Tengah dan Wonosari mengungkapkan hal yang berbeda. Menurutnya, kualitas bibit memang dirinya sudah memahami. Kestabilan kualitas DOC memang sangat sulit untuk diperoleh dari satu periode ke periode berikutnya.

Meski demikian, selama ini justru ia mencoba menyiasati dengan cara pengelolaan yang selalu berubah. Pengertian berubah itu, menurut Dhanang adalah selalu mencoba memberikan perhatian yang berlebih dan selalu meningkatkan dari periode ke periode. Bahkan, ujar Dhanang, dirinya selalu membaca dan mengamati perilaku peternak lain. Jika dalam periode ini, para peternak mengerem atau mengurang populasi dari merk tertentu oleh karena periode kemarin/sebelumnya dimana kualitasnya “kurang baik”, kemudian mengganti dengan merk lain yang dipandang lebih baik. Maka ia justru menjatuhkan pilihan bibit/DOC yang kurang disenangi para peternak umum.

Bukan saja pilihan itu oleh karena harganya jauh lebih murah, karena jenis DOC sore hari alias kurang laku, namun justru menurutnya itu sebuah tantangan untuk membuktikan hahwa sebenarnya ada aspek lain yang lebih penting yaitu pengelolaan. Menurutnya, manajemen pemeliharaan yang selama ini diserahkan secara lepas oleh para peternak kepada pekerja kandang, adalah kekeliruan besar. Terlebih jika DOC itu termasuk DOC yang dimarjinalkan/ditolak halus para peternak. Maka harus ada perhatian yang lebih dari cara pengelolaan selama ini. Hasilnya, menurut Dhanang selama ini tidak ada masalah, bahkan selalu mencapai hasil yang memuaskan. “Ini fakta lho… bukan isapan jempol”, tutur Dhanang meyakinkan Infovet.

Urusan harga jual pasar yang naik turun, itu memang akan dialami oleh semua peternak. Artinya meskipun mereka memakai bibit yang sedang favorit pada periode itu, toh masalah harga jual juga mengikuti mekanisme pasar. Oleh karena itu jika kita menjatuhkan pilihan dengan bibit/DOC yang kurang favorit pada suatu periode, dengan harga di bawah harga pasar, namun dengan sistem dan cara pengelolaan yang benar, akhirnya hasil akhir sama saja dengan yang memakai bibit favorit.

Kemudian datang pendapat lain dari Misaljo dan Drs Irwanto, yang berprofesi sebagai pemasar bibit ayam/DOC. Menurut Misaljo, yang juga menjadi agen aneka DOC ayam negeri maupun ayam kampung bahwa dirinya terlalu sering menerima keluhan yang beraneka dengan substansi keluhan yang sama yaitu performans kurang baik.

Bibit Ayam Potong Merk “A” dan “B“ pada periode ini menunjukkan hasil baik, yaitu cepat tumbuh besar, konsumsi pakan efisien, angka kematian rendah. Sedangkan Merk “C” dan “D” serta “E” sebaliknya yaitu angka kematian tinggi, kurang efisien pakan serta lambat tumbuh, ayamnya kerdil. Begitu juga dengan ayam petelur, dengan ragam keluhan masa produksi lambat, tingkat kematian tinggi dan masa produksi pendek/cepat afkir, puncak produksi sangat pendek.

Namun ternyata periode berikutnya bisa berbalik. dimana DOC merk “A” dan “B” performansnya sangat buruk sekali. Dan sebaliknya merk “C” dan “D” justru menjadi lebih baik. Sedangkan merk “E” tetap buruk performansnya.

Sebagai penjual DOC, memang dirinya akan selalu menerima dan berhadapan secara langsung dengan keluhan itu, oleh karena itu menurutnya para produsen memang harus selalu menjaga kualitasnya, agar dirinya yang termasuk penghubung antara produsen dengan peternak tidak terus terteror dengan masalah itu. Lebih dari 20 tahun sebagai penjual DOC, Misaljo akhirnya menganggap keluhan itu menjadi kurang begitu direspon jika berhadapan dengan peternak. Sedangkan Irwanto yang baru menekuni itu sekitar 10 tahun terakhir ini, masih selalu risau jika dikomplain oleh peternak.

Misaljo akhirnya mengambil jalur tengah dengan siap selalu menerima keluhan dan keluhan itu ia sampaikan lagi ke agen pemasok. Masalah itu menjadi perhatian atau tidak bagi Misaljo itu bukan soal. Sebab Misaljo sudah faham benar akan fluktuasi kualitas DOC selama ini. Bahkan menurutnya, sejak ada wabah AI, kualitas DOC ayam petelur sangat jauh sekali jika dibandingkan dengan kualitas sebelum merebak wabah AI.

Menurut Misaljo atas dasar laporan para peternak pelanggannya, bahwa usia awal produksi ayam pasca wabah AI menjadi lebih lambat, alias tertunda dan mundur. Begitu juga dengan puncak produksi yang relatif lebih pendek. Ayam lebih sering mengalami gangguan kesehatan serta yang meresahkan adalah usia produksi lebih pendek. Katanya ayam petelur dan potong sekarang adalah ayam modern, ternyata justru lebih rendah performansnya dari pada ayam klasik atau masa lalu.

Hal yang sama dirasakan oleh Haji Saelan, peternak ayam potong di Tegal Jateng, bahwa produktifitas ayam potong sekarang jauh dibawah performans ayam potong masa 10 tahun yang lalu. Apakah ini oleh karena akibat penyakit AI atau karena memang kualitas pakan yang ada saat ini kurang baik. Padahal harga pakan terus bergerak naik dari waktu ke waktu. Jika bukan oleh karena pakan, tentunya bibitnya yang harus dipertanyakan tentang kualitas baik buruknya.

Sedangkan Dhanang dan Rama berpendapat memang benar pasca wabah AI masuk Indonesia, harus diakui adanya penurunan performans ayam komersial. Menurut Dhanang, tidak bisa dibantah, bahwa produsen bibit/DOC juga pasti terkena imbas wabah AI, sehingga ibarat pabrik, mesinnya juga kena, sudah pasti hasil produksinya akan terpengaruh juga. Beberapa produsen mungkin akan tetap mencoba menekan pengaruh buruk dari libasan penyakit AI itu, sehingga produk DOC nya masih relatif lebih sama. Sedangkan yang lain meski sudah berupaya namun barangkali gagal mencapai tujuan, akhirnya DOC yang diproduksi kurang seperti yang diharapkan.

Menurut Rama, keluhan yang ia terima tentang produktifitas dan kualitas DOC memang bersitat linier atau terkait langsung. Dimana akibat wabah AI 5-6 tahun yang lalu itu, para produsen DOC masih belum berhasil juga melepaskan pengaruh buruknya. Terkait dengan lambat pertumbuhan dan lambat produksi adalah indikator penting yang tidak bisa dibantah akan adanya pengaruh buruk itu yang masih melekat. Untuk itu peternak hanya ada satu jalan yaitu selalu meningkatkan dan meningkatkan cara budidayanya.

Infovet, Oktober 2009

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/pasca-ai-kualitas-doc-sangat-fluktuatif/

Ketika Pakan Berbaur Dengan Jamur

Memang diakui ada peningkatan permintaan obat anti jamur dan juga anti lalat selama musim penghujan akhir-akhir ini. Selain itu memang permintaan vitamin dan enrofloxacin juga sedikit mengalami kenaikan.

Pakan pada ternak adalah ibarat BBM (Bahan Bakar Minyak) pada mesin sebuah kendaraan. Jika saja tercampur baur dengan bahan lain sudah pasti akan menyebabkan jalannya mesin tersendat bahkan bisa mogok.

Begitu juga dengan pakan yang mulai kandungan gizinya sangat tinggi, maka tidak saja sangat bermanfaat dan disukai ayam, akan tetapi juga menjadi tempat yang menyenangkan bagi mikroorganisme untuk tumbuh berkembang dengan cepat.

Jika saja mikroorganisme itu, sebut saja jamur tercampur baur dan berkembang, maka bukan saja menyebabkan kualitas pakan menurun atau terdegradasi. Akibatnya seperti halnya dengan mesin kendaraan, maka bukan saja ayam menjadi terhambat pertumbuhannya akan tetapi juga bisa berakhir dengan sakit dan mati.

Berbicara jamur pada pakan unggas ternyata persoalan menjadi lebih ruwet dibanding esensi dan substansi persolaan itu. Juga bagaimana upaya dan apa yang seharusnya dilakukan. Harus diakui peternak yang sekarang ini masih bertahan memang termasuk peternak pilihan dan cerdas-cerdas. Hal ini dialami oleh Infovet ketika mencoba mengorek masalah jamur pada pakan.

Pengalaman yang sama diutarakan oleh para TS, pendamping lapangan kepada Infovet. Oleh karena itu sebenarnya hal ini merupakan indikator baik, semakin bergerak maju dan profesionalnya para peternak.

Akarnya pada Pakan Pabrikan ?

“Ngomongin jamur sebenarnya adalah membahas sesuatu yang tidak terlihat tetapi nyata kelihatan bentuk kerugian yang akan ditanggung para peternak. Pabrikan pakan jika memang tulus, tidak perlu memberi ‘bonus’ akan tetapi cukup harga pakan yang wajar dengan kondisi riil lapangan. Bonus yang saya maksud adalah terlalu sering pakan dari pabrik sudah mengandung bibit jamur”, ujar Sumardiman kepada Infovet di kandangnya di kawasan Pegunungan Pajangan Bantul Yogyakarta.

Lebih lanjut Sumardiman. menjelaskan bahwa masalah jamur tidak bisa disalahkan dan ditimpakan kepada peternak. Sebab sejatinya, kontaminasi jamur dan bibit jamur sudah ada sejak dari pakan itu dibuat. Meski benar, didalam proses pengolahan sudah diupayakan bahan bebas dari jamur. Namun siapa yang bisa menjamin kemudian pakan itu bisa bebas dari jamur.

Bonus dalam tanda petik, adalah tercemarnya pakan yang diterima oleh peternak dengan jamur. Kalau boleh berbicara serius, memang pada batas ambang atau toleransi tertentu jamur masih bisa dibiarkan alias ditolerir, karena tidak menyebabkan masalah pada ayam.

Namun tidak bisa ada pihak manapun yang bisa membantah bahwa memang benar pada saat itu saja, jumlah koloni memang masih sedikit. Akan tetapi jika memasuki musim hujan, terlebih seperti tahun 2007-2008 ini, bukankah merupakan lingkungan kondusif bagi jamur untuk berbiak dan berbaur di dalam pakan.

Sekecil apapun jumlah koloni itu jika kondisi lingkungan sangat mendukung maka, sudah pasti akan memunculkan masalah ketika pakan itu tiba di gudang para peternak. Kemudian umumnya menimpakan kesalahan munculnya jamur kepada para peternak, yang dikatakan gudangnya kurang baik atau apalah sejuta alasan yang buruk-buruk pada diri peternak.
“Biasanya dan umumnya ketika muncul kasus penyakit yang diduga disebabkan oleh jamur maka pihak produsen pakan jarang mau mengakui akar masalah di pihaknya akan tetapi kita, para peternak yang dikambing hitamkan”, ujar Sumardiman sengit.

Kiranya mencermati keluhan dan gugatan dari Sumardiman ini, akan lebih baik jika pihak feedmill memberikan penjelasan. agar tidak muncul curiga dan prasangka yang sebenarnya muncul karena misskomunikasi semata. Kita tunggu suara dari pabrikan mendengarkan pendapat Sumardiman itu.

Sumardiman sendiri ketika melihal pakan yang diperuntukkan bagi ayamnya jika sudah terindikasi tercemar jamur, maka pilihannya hanya membakar agar tidak menjadi masalah baru di kandangnya. Langkah itu ditempuh agar tidak disalahgunakan pekerja kandang dengan dijual atau justru diberikan ke ayamnya yang akan beresiko tinggi pada farmnya.

Sebagai peternak ayam petelur yang memulai usahanya dari nol, Sumardiman yang pernah bekerja di sebuah farm besar di Kalimantan itu sangat mafhum sekali dengan pakan yang tercemar jamur. Hasil pengamatannya selama ini, manifestasi pakan jika tercemar jamur, akan tetapi belum kasat mata, maka andalannya dengan melihat indikasi ayam ketika makan dan minum.

Menurut Sumardiman, jika pakan sudah bercampur baur dengan jamur, maka ketika ayam mengkonsumsi pakan sebentar-sebentar minum. “Pokoknya, cara mudah atas dasar pengalaman saya jika ayam mematuk pakan 1-2 kali kemudian diikuti minum berkali-kali maka itu indikasi kuat pakan sudah tercampur jamur meski belum terlihat oleh mata kita.” ujarnya.

Akibatnya Vaksinasi Tidak Optimal

Hal yang hampir mirip juga diungkapkan oleh Tjuntoko, pengelola ayam layer di Sukorejo Jawa Tengah. Hal itu memang benar, ujar Tjuntoko lebih lanjut. Selain itu adalah aspek bau pakan sangat tidak enak. Terutama jika jamur sudah begitu banyak muncul di dalam pakan. Cara menekan agar jamur tidak secara cepat mencemari stock pakan yang lain adalah dengan pemberian obat anti jamur dalam pakan. Tjuntoko biasa memakai merk X yang mengandung bahan aktif propilen glikol dan kalsium propionate.

Sedangkan cara pengobatan ayam yang kemudian sakit akibat pakan seperti itu, tidak ada yang lain selain pemberian multivitamin dan sangat perlu antibiotika untuk jaga-jaga adanya infeksi sekunder. Indikasi lain adanya jamur dalam pakan adalah jika itu berlangsung lama, maka biasanya hasil vaksinasi tidak optimal. Artinya meski program vaksinasi berjalan baik, seperti yang disarankan namun sudah pasti kemampuan memprotek penyakit kurang baik.

Harga dan Kualitas Tidak Sepadan ?

Sedangkan Kartinah. peternak ayam potong di Magelang merasa heran dengan harga pakan yang terus melangit akan telapi kualitasnya tidak sepadan. Dalam awal tahun 2008 ini saja, menurutnya sudah lebih dari 2 kali mengalami kenaikan. Istilah harga pakan yang sering disebut “subsidi harga” sebenarnya telah membuat dirinya bingung. Katanya harga tidak berubah akan tetapi oleh karena pihak pabrikan mencabut subsidi, maka harga sebenarnya juga naik.

“Wong mau bilang naik saja. kenapa mesti bilang subsidinya dicabut”, tegasnya. Sebenarnya lanjut Kartinah bahwa hal itu bukan masalah besar, jika saja kenaikan harga diimbangi dengan peningkatan kualitas. Kartinah semakin bingung, ketika nilai tukar dollar menguat, harga juga ikut naik. Akan tetapi denger-denger nilai dollar melemah alias turun, tetapi tetap saja naik dengan alasan. harga minyak melangit.

Benar juga keluhan kualitas dan korelasinya dengan harga. Akan tetapi hal itu dijelaskan bahwa kemungkinan turunnya kualitas karena musim penghujan, sehingga bahan baku berkualitas buruk, juga dampak dalam pengangkutan yang terus diguyur hujan, bahkan banjir.

“Banyak penjelasan yang tidak jelas, tetapi semakin membingungkan. Karena kata, para petugas saya di lapangan kasus pakan yang buruk menyebabkan ayam tidak tumbuh besar, tetapi sebaliknya. Bahkan senyatanya banyak kasus penyakit yang menurut dugaan saya yang tidak tabu kesehatan hewan, itu pasti karena DOC dan Pakan yang tidak berkualitas”, ujarnya dengan nada keras.

Menurut Kartinah lebih lanjut, mau jamur atau kuman virus, yang jelas hasil panennya sangat buruk sekali. Tidak ada lain jika ayam tidak bertambah besar pasti karena penyebabnya pakan semata. “Ini pikiran orang bodoh seperti saya, Kalau sampeyan bilang itu mungkin karena jamur, naluri bodoh saya yang tetap saja karena pakannya jelek. Titik.” ujar Kartinah semakin menggebu.

Tidak Semata Soal Pakan

Sedangkan Ir Dhanang Purwantoro, terlalu sederhana menyebut pakan sebagai biang keladi gagalnya penen ayam yang berbobot. Sebab sebagai peternak yang juga Tenaga Pendamping lapangan dari PT Biotek, masalah lambatnya pertumbuhan pada ayam potong tidak semata karena kualitas DOC dan pakan semata.

Terlalu kompleks dan banyak aspek yang melingkupi. Pengalamannya selama ini, ketika banyak orang menolak memelihara ayam dari sebuah merk tertentu karena diduga DOC nya kurang baik, ternyata Dhanang justru tertantang untuk mencoba itu.

Hasilnya, justru tidak kalah dengan merk lain yang menurut para peternak berkualitas baik. “Secara ekstrim saya pernah mencoba memelihara ayam dari DOC polos yang sudah pasti berkualitas kurang baik. Akan tetapi ternyata hasilnya sangat baik. Ini bukan klaim saya tetapi para bakul ayam besar yang mengomentari hasil ayam saya itu”, ujarnya penuh percaya diri.

Juga ketika orang rame-rame menyebut pakan merk X kualitasnya buruk, justru Dhanang tertantang untuk membuktikan. Ini bukan isapan jempol, lanjut Dhanang karena hasilnya juga cukup baik, sekedar untuk tidak mengatakan sangat baik.

Berbicara masalah jamur dalam pakan, menurutnya hal itu sangat sulit untuk membuat sebuah kepastian. Untuk pakan yang bebas dari jamur tentu sebuah keniscayaan. Begitu juga, apakah mesti jamur itu akan menyebabkan sebuah gangguan pertumbuhan apalagi penyakit, tentu juga ada aspek lain yang mendukung.

Kemudian jika berbicara pada ayam petelur, tidak berbeda jauh dengan ayam potong, bahwa untuk munculnya gangguan produktifitas ataupun pada kesehatan ayam. maka tergantung kepada pengelolanya.

Mestinya ketika musim hujan seperti saat ini, tidak boleh peternak dengan seenaknya dan lengah dalam pemberian preparat anti jamur. Sebab kapan sebuah preparat itu dibutuhkan tergantung dari improvisasi dan kecerdasannya.

Memang benar jamur muncul kapan saja. Musim penghujan ataupun ketika kemarau. Artinya lanjut Dhanang, intensitas perhatian pengelolaan pakan dalam menghadapi kemungkinan penurunan kualitas harus diperhatikan sangat cermat.

Secara sederhana, menurutnya, jika musim penghujan yang berjalan dalam periode agak panjang seperti awal tahun 2008 ini, maka sudah pasti perlunya pemberian preparat anti jamur dalam pakan. Peternak dapat memilih merk yang paling sreg di hatinya.

“Pengertian saya tentang kualitas pakan dan kontaminan jamur, sangat bergantung kepada para peternak ataupun para manajer farm dalam menyikapinya. Jika musim hujan seperti saat ini, pemberian preparat anti jamur dalam pakan tentu sebuah keharusan, meski gudang yang digunakan sudah sangat representatif. Oleh karena itu jika gudang pakan, di bawah standar, maka tidak ada solusi lain tentang perlunya preparat anti jamur pada pakan”, ujarnya semakin percaya diri.

Obat Anti Jamur Meningkat

Bagaimana kaitan musim hujan di mana potensi pakan berjamur dengan outset penjualan obat anti jamur ?. Mungkin Misaljo dari Samudera PS Kulon Progo setidaknya dapat mewakili penjual sapronak mempunyai jawaban. Menurutnya, omset penjualan obat-obatan selama tahun 2007 sampai awal tahun 2008 tidak banyak berubah alias tetap sepi-sepi saja.

Samudera PS yang banyak melayani para peternak ayam petelur skala mikro di kawasan itu, memang menyediakan secara lengkap aneka kebutuhan sapronak perunggasan. Ketika ditanyakan apakah benar ada permintaan lonjakan obat anti jamur yang dicampur dalam pakan selama musim penghujan ini, Misaljo hanya menggelengkan kepala.

“Wah sepi benar sekarang ini. Sejak tahun lalu (maksudnya 2007) sampai menginjak bulan kedua tahun 2008, omset secara keseluruhan tidak banyak beranjak bahkan ada kecenderungan turun”, ujarnya pelan.

Namun memang diakui ada peningkatan permintaan obat anti jamur dan juga anti lalat selama musim penghujan akhir-akhir ini. Selain itu memang permintaan vitamin dan enrofloxacin juga sedikit mengalami kenaikan. Akan tetapi, Misaljo dengan tegas mengakui bahwa bisnis sapronak perunggasan selama 5 tahun ini semakin sepi saja. Benarkah ?

Sumber : Infovet, Maret 2008

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/ketika-pakan-berbaur-dengan-jamur/

AI Terbaru Terus Memburu Dan Diburu

Muncul AI gejala baru ? Infovet melakukan investigasi serentak pada peternak, praktisi, dan ahli di borbagai wilayah di Indonesia. Hasilnya ? Anda akan dibawa pada suatu fenomena baru kasus AI tahun 2007, yang punya gambaran realitas berbeda (baca: ada perkembangan) dengan kasus Al tahun 2003-2004.

Ayam Potong Tidak Terbebas

Awalnya para pedagang ayam potong tidak tahu apa yang terjadi dibalik kematian lebih dari 80% jumlah ayam yang baru diangkut dari kandang milik peternak. Namun oleh karena kejadian itu terus berulang maka, akhirnya terkuak kasus itu adalah manifestasi semakin nyata kasus wabah penyakit Avian Influenza (AI) pada ayam potong.

Kasus penyakit yang sempat menggegerkan industri perunggasan domestik itu meski sudah memasuki tahun ke lima, selama ini lebih banyak menerjang ayam petelur. Sangat sedikit kejadiannya bahkan tidak setiap daerah dijumpai kasus penyakit itu pada ayam potong.

Beberapa waktu lalu para peternak ayam potong masih bisa membusungkan dada bahwa AI hanya menyerang ayam yang umur produksinya tua seperti ayam petelur. Dan ayam potong diasumsikan terbebas dan sergapan.

Dengan semakin merebaknya kasus AI pada ayam potong, menyebabkan hantaman bertalu-talu seperti rendahnya harga jual hasil produksi yang berlangsung cukup lama. Menurut Catatan Infovet selama lebih dari 6 minggu harga jual ayam besar sempat menyentuh setengahnya dari biaya titik impas. Pihak lain juga terjadi daya serap pasar yang terus melemah.

Drh. Wakhid N. dari PT Vaksindo Satwa Nusantara mengungkapkan kasus ini menjadi masalah serius yang harus diupayakan pemecahannya secara bersama seluruh stake holder, seperti peternak, pemerintah ataupun produsen vaksin dan obat-obatan hewan.

Upaya ini sangat mendesak dan penting agar kasus itu tidak semakin meluluh-lantakan industri perunggasan nasional, diperparah dengan ancaman akan masuknya produk unggas dari negeri manca.

Respon Peternak

Diceritakan oleh Wakhid banyak peternak juga pedagang ayam potong mengeluhkan wabah penyakit itu, yang nota bene selama ini disikapi oleh peternak ayam potong dengan dingin. Di Jogjakarta dan Jawa Tengah sendiri kasus penyakit itu pada ayam potong relatif belum menjadi masalah, namun di daerah lain sudah menjadi teror yang sangat menakutkan.

Teror yang menakutkan itu dapat diambil contoh kasus yang faktual terjadi belum lama ini di kawasan Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi. Seperti diutarakan Ir Dhanang Purwantoro dan PT Biotek Jogja yang pernah terjadi peternak ayam potong dengan populasi 60.000 ekor berumur 11 hari, nekad mengambil keputusan menumpas total populasi oleh karena kandang-kandang di sekitarya sudah terserang penyakit AI.

Argumen pemilik daripada menderita kerugian yang lebih besar di kemudian hari alias pada saat bertambah umur, maka langkah yang sengaja merugikan diri sendiri itu jauh lebih ringan. Langkah itu menurut pandangan umum adalah sebuah langkah “gila” tetapi justru rasional menurut si pelaku.

Kasus tersebut membuat jantung pelaku usaha budidaya perunggasan berdetak tak karuan. Oleh karena itu kebersamaan antar pemangku usaha itu menjadi sangat penting sekali.

Investigasi Infovet ke lapangan di Jogjakarta kasus penyakit itu sampai saat tulisan ini dibuat memang belum ditemukan. Namun di Jawa Tengah, khususnya di Purwokerto kasus itu sudah pernah ditemukan meski frekuensinya baru 4 kali dengan populasi yang relatif sangat kccil yaitu total populasi 4.500 ekor.

Ir Agus W alias “Suwingi” petugas lapangan yang banyak membimbing para peternak mengungkapkan umumnya kasus itu banyak terjadi di kawasan pantai selatan sekitar Gombong terjadi pada peternak mikro dengan populasi 1500 ekor per periode.

Berbeda dengan yang di Botabek yang terkuak karena komplain dari pedagang ayam, justru peternak dan Agus yang pertama kali menduga hal itu oleh karena penyakit AI.

“Ayam-ayam itu seminggu saat mau dipanen masih segar bugar dan nafsu makan biasa saja, tapi 2 hari kemudian langsung mati mendadak dengan total kematian mencapai 60% dari total populasi 1000-1500 ekor. Sava menduga hal itu mungkin karena ND. Namun kemudian ada sejawat Dokter hewan mendiagnosa kasus penyakit itu tak lain adalah AI”, ujar Agus.

Gejala Klinik Berbeda

Pada Pebruari 2007, tim Drh Agus Damar Kristiyanto Kepala Seksi Penjualan PT Romindo Primavetcom di Tangerang menjumpai kasus AI pada ayam broiler di Baleraja, dengan kematian 70 persen, dijumpai pada ayam umur 15 hari, 23 hari, dan saat panen.

Kondisi biosecurity peternakan di tempat itu cenderung ketat, namun ayam tidak divaksin. Khawatir kondisi itu terulang, peterak beramai-ramai menjual dan membagi-bagi ayamnya. Namun kondisi masing-masing peternakan, tidaklah sama.

Hikmahnya, peternak yang tidak pernah memakai vaksin AI pada ayam pedaging mau mencobanya. Pada anak ayam umur 1 atau 4 hari, dosis yang dipakai adalah 1/2 dosis untuk ayam petelur. Kemudian setelah ditest antibodinya pada umur 27 hari, tidak menunjukkan kena AI.

Menurut Drh Damar, kasus AI semacam itu saat itu belum muncul di Jakarta, diketahui tidak ada antibodinya. Namun perlu terus untuk dipantau.

Sedangkan di Jawa Timur, Drh Prabadasanta Hudyono dari PT Multibreeder Adirama Indonesia menuturkan menemui AI yang tergolong baru dengan kecenderungan berbeda dengan AI yang telah dikenal.

Pada kasus AI yang ditemui Maret 2007 suhu tubuh ayam rata-rata sangat tinggi.

Panasnya tubuh ayam dapat dibandingkan dengan kasus gumboro di mana suhu tubuh sangat panas. Kasus AI di Madiun dan Magetan Jawa Timur ini juga menyerang 2500 milik seorang peternak yang membuatnya sangat kehilangan.

“Kelihatannya AI pun punya generasi baru, tidak kalah sama Nissan (merek mobil) yang punya generasi baru”, Drh Praba mengambil perumpamaan. Menurutnya, tampaknya virus sudah mengganggu pusat pengaturan suhu tubuh, sehingga suhu tubuh panas sekali.

Keiika jari tangan dimasukkan kloaka hingga tuba fallopii untuk memeriksa telur, nyenggol daging di sekitar ginjal, jari tangan seperti dislomot (terkena bara panas) api. Telur, daerah tuba fallopii sangat panas. Ayam demam bersuhu lebih panas dari kasus-kasus terdahulu. Jenis antigennya membuat orang penasaran untuk mengetahui secara pasti.

Masih H5N1

Akibat serangannya, ayam kampung banyak yang mati. Pertama kali menemukan kasusnya, tim Drh Praba melakukan kroscek, hasilnya memang cenderung ada ciri baru, tapi tipe virusnya masih H5N1.

Namun virus H5N1 ini menyerang ke organ tubuh yang beda. Sifatnya pun masih HPAI (tipe ganas/Highly Photogenic Avian Influenza) bukan LPAI (Lowly hatogenic Avian Influenza/AI tipe tidak ganas).

Kasus ini mulai kelihatan di beberapa tempat. Pada kasus yang terjadi di Magetan, pada kandang yang terserang, ternyata dalam satu kandang terdapat ayam yang campur-campur jenisnya, ada ayam ras yang bercampur ayam kampung dan lain-lain. Belum ada kasus pada orang.

Panas tubuh yang sangat tinggi pada ayam ini. menurut Drh Praba merupakan manifestasi dari atresia ovari. Ayam yang dulu belum pernah di vaksin, belum nampak gejala. Namun setelah ayam divaksin, ada serangan baru, maka terjadi tarik-menarik kekuatan antara antigen dan antibodi secara luar biasa sehingga suhu tubuh meningkat drastis lantaran syaraf pusat di hipofisa terganggu. Akibatnya pengontrol suhu tubuh pun turun.

Menurut Prof Drh Charles Ranggatabbu MSc PhD, gejala itu muncul seiring perkembangan AI di mana ayam yang sudah vaksin AI dan diberlakukan biosecurity secara ketat. Dalam tubuh ayam antibodi virus ditekan terus, sehingga antibodi membentuk sistem perlawanan baru.

Dekan FKH UGM ini mengungkapkan, kasus ini berbeda dengan kasus tahun 2003-2004 yang kondisinya sama. Variasi pada kasus yang sekarang, mungkin terjadi variasi susunan genetik virus. Misalnya susunan asam amino 1-3, walau tipe virus ini masih HPAI. Akibatnya gejala klinis dan patologi klinis berbeda dengan yang terjadi pada kasus 2003-2004.

Kasus 2003-2004 gejalanya khas, dan tidak terjadi pada ayam broiler. Kasus pada ayam layer fase pertumbuhan dan remaja (pullet) pun tidak ada. Namun terjadi kematian ringan pada ayam layer yang menyebabkan penurunan produksi.

Kasus yang sekarang, secara patologi memang tidak ada gejala. Namun gejala klinis pada ayam petelur terjadi perdarahan di ovarium. Adapun pemeriksaan secara klinis dan patologi klinis, serologis titer AB tidak seragam.

Umumnya broiler yang tidak divaksinasi, begitu ada kontak dengan virus lapang, serangan susah dielakkan. Kematian pun tak dapat dihindari. Sementara itu, gejala perdarahan yang ekstensif tidak dijumpai pada ayam petelur dan ayam pedaging. Biosccurity mulai kendor.

Kasus AI pada ayam layer peternakan komersial, membuat peterak sangat tegang. Kematian ayam meningkat. Antigen virus itu diperiksa di laboratorium FKHU UGM, tipe virusnya masih HPAI H5N1.

Kasusnya ternyata tidak hanya terjadi pada ayam layer, tapi juga pada ayam broiler dan ayam buras pada petrmakan rakyat. Walaupun tipe virus juga H5N1, susahnya gejala klinis dan patologi klinisnya tidak spesifik seperti kasus AI pada tahun 2003 dan 2004.

Perubahan Molekular Serang Otak

Terjadinya variasi gejala dan patologi ayam pada kasus 2007 ini, menurut Prof Charles karena ada pergerakan dinamika molekularnya. Ada perubahan variasi 1-2 asam amino, 1-2 isolat dicurigai telah mengalami perubahan ini. Untuk penelitian ini diperlukan standar emasnya, standar penelitian terbaik.

Menurut Prof Charles, penelitian terhadap kasus demi kasus, terutama terhadap faktor selular dan bioselular virus, tidak bisa dengan pola dan cara seperti yang telah dilakukan, begitu saja terus-menerus. Perlu diteliti lebih dalam terhadap gen H dan N-nya, protein-protein lain, reseptor-reseptornya dan lain-lain yang sejauh ini belum dilakukan mengingat terbatasnya dana.

Untuk penelitian lebih canggih memang diperlukan kerjasama dengan berbagai institusi yang lebih maju, misalnya Biologi Molekular Balitbangkes dan dibutuhkan prakarsa ahli-ahli biologi. Juga dibutuhkan program yang lebih maju dan penelitian-penelitian canggih lain mengingat isolat-isolat bahan hewan di Indonesia jumlahnya banyak sekali. Kita pun tidak bisa menekuni dan mengelola bidang ini secara sepotong-sepotong seperti yang terjadi saat ini.

Dr Drh CA Nidom MS yang kini juga Wakil Dekan III FKH Unair ini, menuturkan kasus AI bergaya baru itu dalam analisanya sudah menyerang otak. Toksin atau racun dari virus itu sudah mengganggu termoregulator di otak. Akibatnya suhu tubuh yang ditimbulkan sangat tinggi dan dengan sendirinya mengganggu metabolisme.

Menurut Dr Nidom, akibatnya ada dua kemungkinan yang terjadi pada ayam, yaitu ayam itu dapat bertahan atau tidak dapat bertahan. Bila ayam dapat bertahan, produksinya akan turun Sedangkan ayam yang tidak bertahan akan mati.

Dr Nidom saat ini sedang mendeteksi ada hal aneh dengan perubahan itu. Saat ini tahap penelitian di laboratoriumnya, preparat virus masih ditanam pada telur, dan membutuhkan waktu sekitar 2-3 minggu untuk mendapatkan hasilnya.

Untuk kali ini kita tahu kecurigaannya, dengan menyerangnya virus ke otak/susunan syaraf pusat, kemungkinan dapat terjadi perubahan protein dan DNA dari virus sehingga dapat menembus barier syaraf di otak, menganggu termoregulator dan muncullah panas tinggi itu!

Adapun menurut Drh Lies Parede MSc PhD dari Balitvet Bogor, mungkin virus HPAI H5N1 dari daerah-daerah yang disebutkan para narasumber tadi sudah mengalami rekombinasi, dengan perbedaan kecil dibanding kasus pada tahun 2003. Analisa akurat menunggu hasil pemeriksaan dan laboratorium biologi molekuler.

Tentang pantat ayam yang dimasuki jari orang, ia menjelaskan, suhu badan orang adalah 37 derajad Celsius, sedang badan ayam 41 derajad Celsius. Dengan dimasukkannya jari orang ke dalam pantat ayam sudah tentu akan sangat panas. Apalagi bila ayam dalam kondisi demam bersuhu 42-43 derajad Celsius.

Di samping itu Dr Lies menganjurkan untuk perlakuan itu supaya berhati-hati sebab tangan itu dapat memasukkan kuman ke dalam tubuh ayam dan dapat mengakibatkan infeksi Salphingitis.

Menurutnya, serangan virus HPAI H5NI mengakibatkan septisemia dengan peradangan sistemik pada multi organ interna maupun eksterna. Maka timbulah demam seperti interleukin, TNF (Tumor Nekrosis faktoe Alfa), PGE-2 (Prostaglandin E-2) dan lain-lain.

Menurut penelitian Lab Patologi FKH IPB, sepanjang tahun 2003-2007 kasus HPAI H5N1 menimbulkan kerusakan patologi makro dan mikro yang sama, perdarahan multifokus organ, di antaranya ovum dari ovarium ayam yang bertelur dan enchepalitis pada otak dari multifokus nekrosis yang masih ditemukan.

Soal kerusakan otak ayam pada tahun 2003, sudah dikonfirmasikan oleh Lab Patologi FKH IPB dan BPPV Wates Yogyakarta dalam Konferensi Asosiasi Patologi Veteriner 2004 di Maros Sulawesi Selatan.

Analisa secara ilmiah virus tahun 2007 tersebut sudah mengalami rekombinasi. meski sifatnya masih serupa ganasnya dengan virus H5N1 tahun 2003. Sedangkan kejadiannya pada ayam juga masih serupa, yaitu pada ayam kampung, ayam aduan, ayam komersil petelur maupun pedaging dari berbagai umur.

Kembali ke Biosecurity

Soal pengendalian, menurut Dr Lies, sudah merupakan kenyataan bahwa virus HPAI H5NI dapat dikendalikan dengan vaksin, yaitu dengan vaksin holomog dan virus lapang. Dan pemilihannya, dianjurkan sebagaimana pencarian untuk vaksin pada manusia, vaksin AI mesti cocok, program tepat dan murah terjangkau peternak.

Munculnya kasus yang mengejutkan itu, menurut Prof Charles Ranggatabbu karena biosecurity mulai kendor. Terjadi perbedaan nyata antara layer divaksinasi dan biosecurity ketat dengan biosecurity yang jebol dan tidak dilakukan vaksinasi. Pada kondisi yang terakhir, kematian meningkat sangat tinggi.

Prof Charles mengingatkan bila ada kasus janganlah gegabah, Lalu jangan menjual hidup-hidup yang ayam terserang AI. Kotoran ayam yang sudah disimpan 1 minggu, harus dikeluarkan. Juga ketatkan kontrol lalu lintas. “Biosecurity adalah andalan. Tanpa itu ayam akan kena AI lagi”, tekan Charles. (Untung Satriyo, Yonathan Rahardjo)

Sumber : Infovet, Mei 2007

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/ai-avian-influenza-terbaru-terus-memburu-dan-diburu/

Kandang Broiler Sistem Closed House

Kandang sistem closed house adalah kandang tertutup yang menjamin keamanan secara biologi (kontak dengan organisme lain) dengan pengaturan ventilasi yang baik sehingga lebih sedikit stress yang terjadi pada ternak. Tujuan membangun kandang closed house adalah:

  1. Untuk menyediakan udara yang sehat bagi ternak (sistem ventilasi yang baik) yaitu udara yang menghadirkan sebanyak-banyaknya oksigen, dan mengeluarkan sesegera mungkin gas-gas berbahaya seperti karbondioksida dan amonia.
  2. Menyediakan iklim yang nyaman bagi ternak. Untuk menyediakan iklim yang kondusif bagi ternak dapat dilakukan dengan cara: mengeluarkan panas dari kandang yang dihasilkan dari tubuh ayam dan lingkungan luar, menurunkan suhu udara yang masuk serta mengatur kelembaban yang sesuai. Untuk menciptakan iklim yang sejuk dan nyaman maka bagi ayam harus dikondisikan chilling effect (angin berembus), alat yang digunakan seperti kipas angin (blower). Bila chilling effect tidak mampu mencapai iklim yang diiginkan terutama pada daerah yang terlampau panas maka dapat digunakan cooling system. Yaitu sistem pendingin dengan mengalirkan air pada alat-alat yang berupa cooling pad, cooling net stsu cell deck.
  3. Meminimumkan tingkat stress pada ternak. Agar tingkat stress pada ayam lebih minimun maka dapat dilakukan dengan cara mengurangi stimulasi yang dapat menyebabkan stress, dengan cara mengurangi kontak dengan manusia (misalnya dengan feeder dan drinker otomatis, vaksinasi dengan spray dll), meminimumkan cahaya dan lain-lain.

Didalam sebuah kandang ternak unggas ini harus diperhatikan kualitas udaranya. Kualitas udara dilihat dari kandungan oksigen, karbondioksida, karbonmonoksida dan amoniak dengan batasan tertentu. Adapun batasan yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:

  • Oksigen > 19.6%
  • Karbondioksida < 0.3%
  • Karbonmonoksida < 10 ppm
  • Amonia < 10 ppm

Bila kondisi kandang tidak sesuai dengan ketentuan diatas maka ventilasi yang kurang harus ditingkatkan.

  • Kelembaban relatif >< 45 – 65%
  • Kecepatan angin setelah 28 hari >< 350 – 500 FPM (Feet Per Minute)

Kecepatan angin diatas 500 FPM tidak ekonomis dan tidak berpengaruh positif bagi performa ayam. Closed house dapat bervariasi tergantung pada lingkungan dan kemampuan finansial peternak. Secara umum ragam yang ada di lapangan terdiri dari::

  1. Sistem Tunnel : menggunakan fan dan tirai tanpa cooling system.
  2. Full closed house : ada fan, cooling system dan tirai/penutup dinding samping.
  3. Full otomatic closed house.

Pada sistem 1 dan 2 umumnya menggunakan alat pakan dan minum manual atau tempat pakannya saja manual sementara air minum menggunakan bell drinker. Pada sistem 3, closed house dengan perlengkapan serba otomatis termasuk alarm sistemnya. Struktur umum kandang sistem terbuka (Closed house) dan perlengkapanya:

  1. Bangunan kandang: baik bangunan baru maupun renovasi kandang.
  2. Kipas/fan: dapat terdiri dari exhaust fan, blower fan, ceiling/roof fan ataupun wall fan.
  3. Material cooling dan perlengkapannya: celpad/evaporative pad, material cooling lainnya ataupun fogging system.
  4. Dinding kandang: dapat berupa solid wall, tirai/curtain system dan celing material.
  5. Filter cahaya/light filter/light trap
  6. Air inlet
  7. Lighting system
  8. Control panel + electrical system

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/kandang-broiler-sistem-closed-house/