Berhasil Di Pemeliharaan Ayam Pedaging Dengan Strategi 4-4-3

Empat kunci sukses yang dimaksud adalah indikator bagi indeks prestasi pemeliharaan ayam pedaging yang baik yaitu bila angka konversi pakan (FCR) rendah, berat badan bagus, umur panen pendek, dan kematian kecil. Sementara 4 elemen strategis itu adalah bibit DOC (Day Old Chicken) yang baik, pola manajemen yang terukur dan teratur, pola pakan yang baik, dan program medikasi yang produktif. Ditambah lagi perhatian ekstra untuk 3 fase kritis kehidupan broiler yaitu fase saat ayam umur 0-12 hari, 12-21 hari dan 21 hari sampai panen.

Demikian diungkapkan Aria Bimateja SPt, Sales Supervisor PT Sierad Produce Area Pare, Kediri, Jawa Timur saat ditemui Infovet disela customer gathering Sierad di Blitar.

Menurut Bima, demikian ia akrab disapa, kunci utama kesuksesan peternakan ayam pedaging ditunjukkan oleh kesuksesan di Indeks Prestasi atau Indeks Penampilan (Index Performance, IP). IP yang baik ini ditunjukkan oleh 4 indikator sebagai tolok ukur kesuksesan. 4 indikator bagi IP yang baik adalah bila angka konversi pakan (Feed Conversion Ratio, FCR) rendah, berat badan bagus, umur panen pendek, dan kematian kecil.

Bagaimana mencapai 4 hal indikator itu semua secara baik ? Dibutuhkan 4 elemen strategis”, ujar pria kelahiran 15 Desember 1980 ini.

Menurutnya 4 elemen yang strategis itu adalah bibit DOC (Day Old Chicken) yang baik, pola manajemen yang terukur dan teratur, pola pakan yang baik, dan program medikasi yang produktif.

Bima menambahkan, bibit DOC yang baik harus memenuhi berat badan standar ayam pedaging, lincah, gesit, terhindar dari kasus-kasus ompalitis, dan angka kematiannya kecil. Sedangkan pola manajemen yang terukur dan teratur harus memenuhi kaidah-kaidah tertentu. Kaidah-kaidah itu adalah konstruksi kandang yang sesuai di mana ventilasi nyaman, kepadatan ruang tidak boleh terlalu padat di mana 1 meter persegi kandang untuk 8 (delapan) ekor ayam untuk yang kandang terbuka, dan biosecurity.

Selanjutnya menurut alumnus Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (Fapet IPB) ini, program pakan yang baik adalah pakan menggunakan pakan-pakan unggulan dengan kualitas yang baik. Kandungan pakan spesifik dan tepat sesuai kebutuhan ayam dalam masa pre starter, starter dan finisher.

Adapun, “Medikasi yang produktif adalah meliputi vaksinasi, pengobatan, dan semprot kandang dengan desinfektan”, kata Aria.

3 Fase Kritis

Aria Bimateja SPt pun membagi masa hidup ayam pedaging dalam 3 fase. Fase pertama adalah fase saat ayam umur 0 hari sampai umur 12 hari. Fase ini disebut dengan nama fase hiperflasia atau sel tubuh mengalami perbanyakan atau pertambahan jumlah melalui pembelahan sel pertumbuhan.

Fase yang kedua adalah fase saat ayam umur 12-21 hari. Fase ini disebut dengan nama fase hiperflasia dan hipertropi, di mana selain bertumbuh ayam juga mulai mengalami pembesaran dan pendewasaan tubuh.

Fase ketiga adalah fase ketika umur ayam lebih dari 21 hari sampai masa panen. Fase ini disebut fase hipertropi, di mana ayam tidak lagi tumbuh namun hanya mengalami masa pembesaran dan pendewasaan tubuh sampai siap untuk dipanen.

Semua masa dalam fase-fase ini menurut Aria Bimateja kondisinya adalah kritis. Dalam kata lain dalam pemeliharaan ayam pedaging menurutnya adalah, “Semua masa kritis”, katanya seraya menegaskan masa kritis ini sejak ayam umur 0 hari sampai umur panen.

Ia juga menjelaskan tahap-tahap hidup ayam pedaging itu sebagai makhluk hidup. Pada mula kehidupannya, komponen hidup dari ayam pedaging itu belum sempurna atau belum ada semua, 48 kromosom belum lengkap. Sampai pada saatnya dengan tahapan hiperflasia semua kromosom itu lengkap jumlahnya sebanyak 48 kromosom. Selanjutnya pada fase hipertropi, 48 kromosom itu diperbesar.

Di masa pertumbuhan atau perbanyakan sel tadi, “Fase hiperflasia bila tidak optimal akan mengganggu pertumbuhan berikutnya”, ujar Aria Bimateja. Jika pertumbuhan pada periode ini terganggu, dapat dipastikan berpengaruh terhadap pertumbuhan selanjutnya di mana terjadi pertumbuhan hipertropia atau pembesaran atau pendewasaan sel tersebut.

Pada giliran berikutnya bila pertumbuhan tersebut tidak maksimal maka profit atau keuntungan peternak berkurang karena ayam kecil-kecil, berat badannya tidak sesuai dengan berat badan standar. Pertumbuhan sel tubuh memang tercermin pada pertambahan bobot badan.

Mengingat penting dan kritisnya semua masa, Bima memberi penekanan agar peternak memperhatikan kondisi ayam pedaging pada awal kehidupannya lantaran kondisi ayam pedaging pada masa ini sangat menentukan masa-masa berikutnya.

Pada periode ‘brooding’ atau masa pemanasan pengindukan buatan, pertumbuhan berlangsung sangat cepat dengan FCR yang sangat rendah. Saat ini hampir semua ransum yang dikonsumsi memang dialokasikan untuk pertumbuhan, sehingga bobot badan pada akhir minggu pertama mencapai 4 kali bobot badan awal DOC.

Sangat beralasan bila kemudian Bima mengatakan, “Pemeliharaan ayam pedaging dari A-Z yang paling penting di masa brooding atau masa pemanasan pengindukan buatan”. Dengan kondisi pemanasan pengindukan buatan ini dibuat seolah-olah sesuai dengan kondisi yang diberikan induk, Bima menegaskan kondisi yang rawan di sekitar 2 minggu pertama.

Selanjutnya setelah melewati masa pemanasan pengindukan buatan, lepas dari masa ini hasil penampilan ayam masuk kategori baik. Namun demikian masa setelah lepas pemanasan pengindukan buatan ini, masih penting bagi peternak untuk mengantisipasi kasus-kasus penyakit yang bersifat imunosupresif atau menekan kekebalan tubuh dan menghambat petumbuhan daging.

Penyakit-penyakit tersebut yang sering muncul berupa penyakit pernapasan, CRD, Koriza, CRD kompleks dan kasus-kasus yang menyerang pencernaan berupa enteritis alias infeksi usus halus. Dan, Aria Bimateja SPt memberi jaminan bila 4 elemen strategis tersebut dipenuhi secara disiplin, niscaya masalah penyakit ini dapat dieliminir, tertanggulangi dan dicegah. Dan lebih dari itu, 4 kunci sukses pemeliharaan ayam pedaging dapat dipenuhi guna produksi terbaik.

Advertisements

Ayam Pedaging Berubah, Peternak Harus ‘Improve’

Secara nyata sifat ayam pedaging menurun atau berubah. Kondisi ideal atau keadaan yang tanpa kendala merupakan hal yang tidak mudah ditemui. Maka banyak faktor yang harus diperhatikan agar pertumbuhan ayam pedaging optimal. Tidak bisa dengan memakai manajemen peternak masa sebelumnya, manajemen di kandang menuntut peternak selalu menemukan hal yang baru dan lebih baik.

Technical Support di Tim Marketing PT Sierad Produce Tbk Sidoarjo Drh Mulyanto menyatakan penampilan ayam pedaging sudah berubah seiring dengan kemajuan rekayasa genetika yang diterapkan untuk mencipta bibit ayam pedaging unggul. Pendeknya, ayam pedaging modern telah menjadi hasil rekayasa genetika dengan tingkat pertumbuhan tubuh yang cepat.

Dari tahun ke tahun sifat ayam pedaging terus menyesuaikan perubahan ini. Guna mengoptimalkan kemampuan produksi ayam pedaging ini, sayangnya telah mengorbankan bagian lain, seperti sistem kekebalan tubuh. “Sistem imunologi akan dikorbankan”, kata Drh Mulyanto yang alumnus FKH Unair ini.

Dikorbankannya sistem kekebalan tubuh ini antara lain kondisi penampilan ayam pedaging di lapangan seolah-olah mudah sakit. Ayam pedaging menjadi sangat rentan terhadap faktor-faktor pemicu penyakit. Sedangkan penyakit tampak begitu kejam terhadap ayam yang rentan ini. Tak mengherankan pada saat ini banyak sekali ditemukan manisfestasi penyakit yang tidak dengan mudah dapat didiagnosa, seolah-olah satu penyakit bersembunyi atau saling menutupi manifestasinya dengan penyakit lain.

Peternak harus selalu ‘improve’, menyesuaikan dan sampai mendapatkan kecocokan dengan kondisi terbaru”, ujar Drh Mulyanto. Kalau perusahaan pembibitan menetapkan standar-standar tertentu dalam pemeliharaan ayam sesuai dengan masa-masa hidupnya seperti awal pemeliharaan, masa pertumbuhan dan masa panen, penerapan di lapangan, “Lebih membutuhkan kemampuan manajerial dari peternak”, tegasnya.

Lebih baik pada aplikasi di lapangan ini berarti peternak lebih disiplin. Di sisi lain hal ini butuh biaya yang berarti segala penyesuaian di lapangan butuh dana tambahan. Soal penyesuaian di lapangan ini, di antaranya adalah kondisi kandang dan lingkungan kandang yang berpengaruh sebesar 70 persen bagi keseluruhan pemeliharaan hingga produksi atau panen.

Kalau kebutuhan ayam pada setiap fase terpenuhi, baru peternak boleh berharap peternakan yang dikelola bisa memunculkan potensi genetik. Sebab, meski secara genetik bagus, sifat unggul ini baru bisa muncul bila ayam diberi tempat dan kesempatan sesuai dengan kebutuhan genetiknya”, tegas Drh Mulyanto.

Menurutnya yang dimaksud dengan tempat berhubungan dengan peralatan di kandang. Pada saat awal pertumbuhan di mana ayam membutuhkan pemanas buatan untuk pengindukan, “Kalau selama ini cukup dengan kompor minyak, sekarang lebih bagus dengan gasolec (pemanas gasolec dengan bahan bakar gas dalam tabung elpiji)”, katanya.

Drh Mulyanto pun menambahkan kalau pemanas pengindukan buatan ini dulu punya perbandingan 1 pemanas untuk 1000 ekor DOC, dengan gasolec sekarang 1 untuk 500-700 ekor. “Kalau dulu kemampuan menawar penggunaan alat ini dikedepankan, dengan kondisi bibit yang sekarang semakin berkurang kemungkinannya, yang berarti peternak akan berusaha sebisa mungkin menyediakan”, ujarnya. Jelas, untuk penyediaan ini peternak mesti menyediakan dana.

Salah satu tindakan praktis yang butuh penyesuaian lain adalah ketika ayam mencapai umur minggu ketiga, atau berumur 14-21 hari. Pada saat umur ini, ayam mengalami masa di mana sistem kekebalan dari induk sudah minimal sementara kekebalan aktif dari tubuh ayam sendiri baru dimulai. Tak heran sistem kekebalan tubuh yang rendah ini bisa mengakibatkan ayam mudah terserang penyakit.

Pada saat ayam berumur 3 (tiga) minggu ini, pertambahan berat badan dan konsumsi pakannya cukup tinggi. Lagi pula, minggu ke tiga merupakan masa di mana ayam sering mengalami stres akibat perlakuan vaksinasi, turun sekam dan perubahan perlakuan dari pemakaian pemanas hingga tanpa pemanas.

Apa yang dapat dilakukan peternak dengan kondisi lapangan seperti ini ? Di antaranya, peternak dapat melakukan vaksinasi pada pagi hari atau sore hari guna mengurangi stres pada ayam. Selanjutnya memberikan larutan gula 2 persen selama 2 jam, ditambah vitamin anti stres pada saat sebelum dan sesudah vaksinasi atau saat turun sekam.

Larutan tersebut berfungsi guna membantu memperbaiki sistem kekebalan. Peternak seyogyanya tidak mengubah dan membatasi pakan pada periode ini lantaran dapat menambah stres ayam. Tentu saja udara mesti selalu dijaga agar kualitasnya selalu baik. Dan tak lupa peternak mesti meningkatkan biosecurity kandang.

Akhirnya, Drh Mulyanto memberi ketegasan, “Kandang harus lebih bagus, ventilasi harus lebih bagus, meski sekarang hal ini tidak mudah didapatkan tetap tidak boleh seperti kondisi peternakan sebelumnya”.

Hanya dengan cara ‘improve’ yang berarti memperbaiki, memajukan, mengembangkan, memanfaatkan semua hal yang baik guna perbaikan dan pengembangan seperti yang demikian, peternak dapat mengimbangi upaya-upaya perbaikan genetik ayam pedaging yang telah dilakukan para ahli guna menghasilkan produksi terbaik.

Sumber : Infovet, Agustus 2010

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/ayam-pedaging-berubah-peternak-harus-improve/

Demi Efisiensi Closed House Kian Diminati (bag 2)

Ukuran ideal kandang Closed House. kata Dhanang, lebar 12 m panjang 120 m untuk kapasitas 21 ribu ekor per lantai. “Itu angka optimal, yang paling efisien. Hubungannya dengan kemampuan alat-alat“, terangnya.

Untuk daya tahan kandang, dijelaskan dia, mulai melakukan renovasi kecil pada tahun ke-5 untuk beberapa komponen tertentu seperti tirai. Sementara mesin pakan, drinker, kipas, baru di tahun ke-10 perlu perawatan.

Sementara itu, Junaidi menerangkan, kelebihan Closed House adalah keuntungan lebih terukur dan bisa
diestimasikan secara lebih pasti sejak awal. Berbeda dengan kandang terbuka yang risiko gagal panennya masih tinggi. Terlebih fluktuasi cuaca saat ini demikian besar, pertaruhan antara untung atau rugi masih sama besar. “Meski investasinya besar, keuntungan dengan Closed House sepadan, dan kembalinya investasi lebih terukur.” katanya.

Junaidi memberi catatan, adanya perbedaan signifikan antara kandang yang sepenuhnya otomatis dengan kandang yang meski sudah tertutup tetapi masih menerapkan sistem manual untuk peralatan pakan. “Ada signifikansi output ketika sistem kandang ditingkatkan dari terbuka menjadi tertutup, dan dari tertutup manual menjadi otomatis penuh.” paparnya. Biasanya FCR dan umur panen beda, kembali ia merujuk pada tabel komparasi (tabel). Penjelasannya, kendati suhu sudah terkontrol potensi kesalahan manusia masih lebar dan eftsiensi pakan belum maksimal.

Pemahaman peternak pada biaya tak jarang masih perlu dikoreksi. Langkah menekan biaya dianggap sebagai keuntungan. Menghemat dengan jalan mengurangi pakan, tidak menyalakan kipas, mengurangi frekuensi pembersihan sekam, masih kerap ditempuh, padahal dampaknya produktivitas menurun signifikan. “Keuntungan itu adanya di ujung usaha. Kalaupun biaya harus dikeluarkan lebih banyak dengan target output yang dihasilkan jauh lebih besar, kenapa tidak dilakukan ?” tanya Junaidi retorik. Biaya seharusnya dihitung dengan rumus “berapa Rp. dibutuhkan untuk mendapatkan 1 kg ayam“.

Lebih Nyaman

Menurut Deddy, dengan penggunaan Closed House ayam akan lebih nyaman hidup di dalam kandang karena mendapat pasokan udara yang cukup. Dari segi penyakit pun bisa dilokalisasi sehingga tidak menyebar ke kandang lain. “Dengan hidup ayam yang lebih nyaman akan berpengaruh pada mortalitas, kesehatan dan keseragamannya.” terangnya.

Hal yang sama disampaikan Teddy. Dengan Closed House udara yang diproduksi selalu segar karena sirkulasi udara tidak pernah absen untuk membuang panas dan amoniak. Sedangkan kandang terbuka, sirkulasi tergantung lingkungan yang terkadang tidak ada tiupan udara. Sirkulasi yang tidak lancar berpotensi menimbulkan penyakit karena suhu tubuh ayam akan naik akibat amoniak dan panas meningkat, berpusaran di kandang dan tidak keluar. “Closed House bukan hanya untuk menurunkan suhu tapi yang penting mengatur sirkulasi udara.” ujarnya.

Dengan Closed House temperatur dalam kandang lebih stabil dan bisa diatur sesuai kebutuhan. Kebutuhan oksigen dalam kandang lebih terpenuhi dan udara dalam kandang lebih sejuk dan segar karena adanya sirkulasi udara yang baik. Ini dikemukakan Agus.

Lingkungan pun lebih bersih karena tidak banyak lalat dan tidak menimbulkan bau yang mencemari lingkungan. “Yang paling penting mengurangi stress ayam karena tidak kontak langsung dengan lingkungan luar. Dan kepadatan kandang lebih besar yaitu 28 kg per m² atau 15 ekor per m² dibanding kandang terbuka yang 15 kg per m² atau 8 ekor per m².” tuturnya.

Edukasi

Meski sistem Closed House sangat mendukung keberhasilan usaha, menjadi tidak berarti apabila tidak dibarengi manajemen yang baik. Tenaga kandang mutlak menguasai teknis produksi dan teknis alat.

Mencegah kejadian buruk, Junaidi menjelaskan pihaknya menerapkan metode khusus dalam alih teknologi kepada pemilik dan tenaga kandang. Calon tenaga kandang “disekolahkan” selama 2 periode di kandang yang sudah lebih dulu menerapkan sistem ini. “Alih teknologi untuk menekan sekecil mungkin kesalahan operasional, penerapan sebuah teknologi tinggi menuntut disiplin dan komitmen tenaga kandang dalam menjalankan prosedur sehari-hari.” jelas pria yang biasa disapa Juned ini.

Lanjut Junaidi, sumber penyakit ada 2, dari dalam dan dari luar peternakan. Dari dalam tergantung sumber daya manusia dan kualitas manajemen. “Kecerobohan adalah sumber penyakit. Meski kandang sudah closed, apabila aspek ini masih rendah, potensi penyakit besar.” kata dia. Sementara dari luar antara lain lingkungan, suhu, hama, dan lalu lintas. Dan untuk variabei ini di dalam sistem Closed House sudah ditekan jauh, sehingga fokusnya lebih pada aspek dari dalam.

Dhanang mengimbuhkan, saat pemasangan alat di kandang baru, calon tenaga kandang ia wajibkan ikut terlibat agar memahami prinsip kerjanya yang serba otomatis. “Sehingga menguasai betul secara teknis, ayam umur sekian harus bagaimana. Dan di kemudian hari bila terjadi kendala mesin atau kerusakan kecil dapat langsung segera menangani.” jelasnya. Ia menambahkan, dengan operasional yang otomatis, tenaga kandang bisa lebih fokus pada kontrol kondisi status ayam. Keganjilan perilaku ayam lebih cepat terdeteksi sehingga hasil pun lebih maksimal.

Prospektif

Junaidi punya kisaran, saat ini 20% mitra Sierad di Jawa Timur menerapkan kandang Closed House. Sementara Jawa Tengah-Jogjakarta riil 11 %, tetapi diperkirakan dengan proses yang tengah berjalan, sampai akhir tahun ini angkanya akan sama dengan Jawa Timur.

Tetapi, sekali lagi dikatakan Dhanang, dalam kualitas Jawa Tengah-Jogjakarta lebih maju. Maksudnya, penerapan sistem sekaligus peralatan yang otomatis penuh lebih progresif. Sedangkan wilayah timur cenderung aplikasinya tidak penuh, tetapi modifikasi. Deddy memprediksi penggunaan Closed House di peternakan khususnya broiler dan layer (ayam petelur) komersial akan menjadi suatu kebutuhan dengan semakin banyaknya tantangan. Ditambah peternakan yang sudah mulai dekat perumahan dan harga tanah yang semakin mahal sehingga dengan tanah yang ada kapasitasnya bisa ditingkatkan. “Sistem Closed House makin prospektif, pasarnya masih terbuka karena penggunaan di broiler komersial baru 20-30%, layer komersial bukan yang pullet baru 10%. Sedangkan di breeding (pembibitan) sudah hampir 80%.” ujarnya.

Teddy mengatakan, jika pertumbuhan ekonomi terus membaik, daya beli masyarakat meningkat permintaan akan penggunaan Closed House akan meningkat pula. Apalagi persoalan penyakit dan pakan yang mahal menuntut pelaku usaha melakukan efisiensi. “Semua mengejar ke efisiensi sekecil apapun untuk menjadi pemenang.” tandasnya.

Titik krusial yang kerap mengganjal tumbuhnya teknologi ini di lapangan adalah kontinuitas pasokan listrik di seluruh wilayah tanah air yang rendah. Kebutuhan listrik tanpa terputus bagi aplikasi terutama yang otomatis penuh bersifat mutlak. Padahal peternak ketika membangun Closed House umumnya sudah harus membangun jaringan listrik yang biayanya tak kecil.

Setya misalnya harus merogoh kocek sedikitnya Rp. 25 juta untuk mengalirkan listrik dengan menambah 3 tiang listrik (togor). Sementara Hari mengaku keluar dana khusus Rp. 68 juta dengan penambahan 11 tiang listrik. Itu pun tak cukup aman. Karena listrik yang kerap padam, peternak harus menyiapkan genset untuk antisipasi. Kalau tidak ingin ayamnya terpanggang kepanasan atau mati kelaparan dan kehausan di saat listrik dari PLN ngadat.

Sumber : Trobos, Juli 2011 (Efisiensi Closed House (bag 2))

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/efisiensi-closed-house-bag-2/

Demi Efisiensi Closed House Kian Diminati (bag 1)

Kalaupun biaya harus dikeluarkan lebih besar dengan target output yang dihasilkan jauh lebih besar, kenapa tidak dilakukan ?

Penggunaan teknologi Closed House (kandang tertutup) pada peternakan unggas di Indonesia dalam 2 tahun terakhir berkembang sangat pesat.

Di Jogjakarta dan Jawa Tengah misalnya, dari segi kuantitas serta kualitas demikian maju dan progresif dalam penerapan Closed House dengan peralatan yang otomatis penuh (full automatic). Secara kualitas menyalip wilayah Jawa Timur yang lebih dulu mengenal dan mengadopsi teknologi tersebut.

Hari Sukmawan, peternak broiler (ayam pedaging) di Kecamatan Temon, Kulon Progo, Jogjakarta di 2011 ini memutuskan merenovasi 2 kandang broiler miliknya yang model panggung terbuka (opened) menjadi Closed House (sistem tertutup). Pasalnya, Hari yang mulai beternak bersama beberapa teman dengan populasi awal 5 ribu ekor di 2001 ini hampir 3 tahun terakhir mengalami kendala yang kompleks.

Sejak total kapasitasnya mencapai 30 ribu ekor per siklus, pengendalian penyakit dan cekaman cuaca ekstrem makin merepotkan, dan serbuan lalat yang dikeluhkan masyarakat saat panen juga makin tinggi. Keuntungan yang diterima pun fluktuatif akibat performa yang dihasilkan juga naik turun.

Pengalaman hampir sama dialami Setya Pudyastiwi. Pemilik kandang yang berlokasi di Bantul, Jogjakarta ini bercerita, kandang terbuka miliknya yang baru berjalan 5 periode belum sekalipun memberikan untung. Salah satu periode bahkan ia hanya memanen 50% ayam karena dihajar wabah penyakit.

Dan periode terakhir ia mengaku tak habis pikir dengan membengkaknya FCR (konversi pakan). Problem cuaca dan penyakit jadi sandungan utama peternakan yang dikelola bersama anaknya Aldhila Putra Satria Jaya ini sehingga ia memutuskan beralih ke Closed House. Berlokasi di daerah Kokap, Kulon Progo kini tengah dalam proses pembangunannya, yang terdiri atas 2 lantai untuk 24 ribu ekor broiler.

Lain kisah Wahyu Pratomo. yang telah membuktikan keuntungan penggunaan Closed House. Peternak broiler di Purworejo ini sejak awal usaha langsung menerapkan teknologi itu dengan kapasitas 23 ribu dan peralatan otomatis penuh, termasuk melengkapi dengan mini silo untuk mencegah keterlambatan pakan.

Kandang berbendera PT Organik Alam Lestari ini beroperasi terhitung Maret lalu, sudah panen 3 kali dan masuk periode ke-4. Performa yang dihasilkan 3 periode setidaknya menguatkan keyakinan Wahyu atas aplikasi Closed House. Data performa satu siklus dengan panen terbaik yang dicapai Wahyu adalah FCR 1,76; umur panen 29,84; bobot panen 1,99; kematian 1,99; serta IP 387,6. Sementara hasil rata-rata 3 periode dapat dilihat di tabel.

Investasi

Wahyu yang sebelumnya tak pernah kenal bisnis perunggasan dan lebih akrab dengan bisnis pupuk dan jasa konstruksi ini mengaku mempertaruhkan dana sebesar Rp. 946 juta untuk investasi Closed House. “Saya yakin, setelah dianalisis, modal yang dikeluarkan bakal terbayar lunas dalam waktu 2 tahun. Dengan asumsi target 7 siklus dalam setahun tercapai.” tegas Wahyu kepada TROBOS optimis.

Dijelaskan Wahyu, kandangnya terdiri atas 2 lantai berukuran 16 x 54 m² dengan kepadatan populasi 13,5 ekor per m². Bahkan rencananya akan ditingkatkan jadi 14 ekor per m² karena secara teori 15 ekor per m² dapat diterapkan, dengan catatan dilakukan penjarangan pada umur 28-29 hari. Sebagian ayam dipanen, kisaran bobot di umur tersebut 1,5-1,6 kg.

Hasil memuaskan pada siklus terakhir yang mampu meraup untung Rp. 3.050 per ekornya mendorong Wahyu memperbesar skala usaha. Di lokasi yang sama, ia telah selesai membangun kandang kedua berupa kandang 1 lantai berukuran 23 x 66 m², kapasitas 21 ribu ekor dengan biaya yang diperkirakan lebih kecil dari biaya kandang pertama.

Tidak hanya itu ia pun mengaku tengah mempersiapkan kandang ke-3 di Losari, Brebes dengan kapasitas 75 ribu ekor, 3 lantai ukuran 16 x 100 m² yang diperkirakan akan menelan modal sekitar Rp. 3,6 miliar. “Saya menyesal baru mengenal bisnis ini dengan segala teknologinya September tahun lalu. Kalau saja 10 tahun lalu saya tahu, saya membayangkan punya 600 ribu ayam sekarang.” selorohnya diiringi derai tawa.

Sementara Hari, menyebut biaya yang harus ia siapkan Rp. 400 juta untuk bangunan dan listrik, serta Rp. 400 juta lagi untuk mesin dan alat kelengkapan. “Rancangannya, 2 kandang masing-masing berukuran 10 x 115 m² dengan 2 lantai itu akan mampu meningkatkan populasi 2 kali lipat, menjadi 50 ribu – 60 ribu ekor ayam.” terang Hari.

Sedangkan kandang milik Setya unik. Pembangunannya menggunakan rangka baja ringan. Ia mengklaim ini sebagai uji coba yang pertama di Indonesia dan biaya yang dikeluarkannya 40% lebih rendah ketimbang menggunakan baja. Ia berani mencoba karena pihak kontraktor menjamin kekuatan kandang, dan memberi jaminan penggantian termasuk ayamnya apabila dalam 10 tahun terjadi kerusakan konstruksi.

Setya yakin dana Rp. 1,1 miliar yang dibelanjakannya kali ini akan impas dalam waktu 2,5 tahun. Ia mematok target dengan sistem Closed House, setidaknya ia bisa mendapatkan keuntungan Rp. 3.000 tiap ekor ayam.

Sales Area Manager Jateng-Jatim, PT Sierad Industries, Dhanang Purwantoro ikut menjelaskan Rp. 45 ribu per ekor adalah kisaran biaya atau investasi untuk membangun sebuah Closed House dari nol dengan peralatan otomatis penuh. Angka ini meliputi biaya konstruksi, mesin, dan peralatan otomatis penuh, minus lahan dan listrik. “Tinggal dikalikan jumlah populasi yang diinginkan.” ujar Dhanang. Sementara untuk kandang “up grade” atau modifikasi sebagaimana yang ditempuh Hari, angkanya lebih rendah.

dhanang closed house table

Komparasi Performa Ayam dengan Tipe Kandang Berbeda

Sebagai pembanding, Head of Production area Jateng-DIY, Sierad Produce, Abdullah Junaidi menunjukkan catatan biaya yang dibutuhkan untuk kandang panggung terbuka ada di kisaran Rp. 21 ribu per ekor. Karena investasi yang tidak kecil ini, kebanyakan peternak berpikir ulang untuk menerapkan Closed House. Junaidi sempat mengatakan, perlu hampir 2 tahun sejak ia mengenalkan pada Hari teknologi ini, sampai ia memutuskan merenovasi kandangnya.

Senior Sales Manager PT Sierad Industries, Agus Wahyu S secara terpisah menjelaskan, untuk modifikasi kandang menjadi Closed House dengan penambahan kipas, cooling pad (pendingin), dan tirai plastik biayanya berkisar Rp. 6.000 – Rp. 7.000 per ekor. Sementara modifikasi menjadi Closed House dengan penambahan kipas, cooling pad (pendingin), tirai plastik, tempat minum nipple dan tempat makan otomatis biayanya menjadi Rp. 8.000 – Rp. 9.000 per ekor.

Marketing Manager Equipment Division PT Agrinusa Jaya Santosa, Teddy Chandra punya patokan yang berbeda.
Hitungan dia, modifikasi kandang menjadi Closed House dengan penambahan kipas cooling pad dan tirai plastik, controller biaya per ekornya baik untuk broiler dan layer di kisaran Rp. 10.000. Biaya itu di luar biaya kandang. “Closed House untuk tiap daerah akan berbeda tergantung kondisi daerah tersebut dan untuk daerah pesisir pantai lebih baik karena kelembabannya lebih rendah.” imbuh Teddy.

Cara kalkulasi berbeda dipunyai President Director PT Berdikari Sarana Jaya, Deddy Kurnia. Menurut dia, modifikasi kandang menjadi Closed House membutuhkan biaya sekitar Rp. 70 juta. Angka tersebut digunakan untuk membeli kebutuhan kipas 5-6 unit dan tirai plastik pada kandang dengan ukuran 10 x 80 m². “Pembuatan Closed House bisa dipertimbangkan dengan dana yang diinginkan peternak karena Closed House ini bisa dibuat mewah sekali atau justru sederhana. Balik modal Rp. 70 juta bisa dikalkulasi dengan mengkombinasikan tempat makan yang dibuatkan semi otomatis.” paparnya.

Efisiensi

Deddy mengatakan Closed House lebih menguntungkan dari segi efisiensi, performa, dan banyak efek positifnya. Sayang, kompetisi peternak dalam penerapan teknologi Closed House di Indonesia masih rendah sehingga biaya produksi masih tinggi. “Intervensi harga jual produk sulit dilakukan, karena tergantung pasar. Maka yang bisa dimainkan dengan Closed House adalah bagaimana harga pokok produksi (HPP) ini bisa lebih rendah. Investasi awal untuk Closed House mahal, tetapi biaya operasional per ekornya jauh lebih murah.” ia berargumentasi.

Teddy berpendapat, peternak yang sudah mengerti Closed House dan mampu menjalankan dengan lebih baik serta lebih efisien, akan bisa menghitung profit dari teknologi tersebut. Besarnya investasi, pemakaian listrik, termasuk biaya lingkungan, semua bisa dihitung dan dibandingkan dengan sistem kandang terbuka.

Tapi terkadang peternak masih berpikir, begini saja sudah untung kenapa harus pakai Closed House. Padahal beberapa tahun belakangan ini tantangan di peternakan unggas tidak lebih baik bahkan cuaca tidak mendukung, dan Closed House bisa menjadi solusi.” papar Teddy.

Agus membenarkan, penggunaan Closed House secara umum belum banyak berkembang khususnya di broiler komersil karena peternak belum mengetahui atau memahami keuntungannya atau terkendala faktor lainnya. Padahal sistem Closed House sangat baik dan cocok diterapkan di Indonesia yang memiliki temperatur udara tidak stabil. “Dengan sistem Closed House usaha peternakan akan lebih efisien baik di kepadatan populasi, penggunaan pakan, kematian dan keseragaman bobot ayam.” tegasnya.

Dhanang memberikan gambaran efisiensi yang dapat dicapai teknologi ini. Dicontohkannya, 1 kandang closed house dengan ukuran tertentu mampu memuat 24 ribu ekor broiler dan cukup dioperasikan oleh 2 tenaga kerja. Sementara dengan sistem terbuka, untuk ukuran yang sama diperlukan setidaknya 5 kandang yang masing-masing berkapasitas 5 ribu ekor, dengan 10 tenaga kerja (2 orang per kandang).

Belum lagi kalau lokasinya terpencar, problemnya beragam dengan ancaman yang beragam juga. “Keuntungan atau nilai lebih yang utama dari Closed House adalah kepadatan meningkat kapasitas tampung berlipat efisiensi terdongkrak.” ujarnya.

Bersambung : Demi Efisiensi Closed House Kian Diminati (bag 2)
Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/efisiensi-closed-house-bag-1/

Era Besar-Besaran Teknologi Modern Closed House

Inilah era kebangkitan penerapan teknologi modern Closed House secara besar-besaran untuk pemeliharaan ayam. Peternak menunjukkan antusias dan kesiapannya untuk terus maju. Angin segar bagi dunia peternakan Indonesia.

Peternakan rakyat di Jawa Timur sudah menuju kandang modern dengan teknologi lebih tinggi. Demikian Sales Area Manager PT Sierad Industries Dhanang Purwantoro ST seraya mengungkap, grup PT Sierad Produce Tbk mempelopori pembangunan kandang ayam dengan sistem tertutup (Closed House) di daerah Jawa Timur ini, juga di Jawa Tengah dan Jawa Barat. “Jumlahnya kurang lebih puluhan sampai ratusan di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat.” kata Dhanang.

Menurut Dhanang Purwantoro selaku Sales Area Manager Wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, peta peternakan ayam di Jawa Timur ini memang sudah bagus dalam penerapan kandang tertutup baru. Penggunaan kandang tertutup di Jawa Timur ini sudah diterapkan sejak 2008 di Brondong, Madiun, Kediri, dan Tuban. Pihaknya setidaknya telah melakukan peningkatan atau upgrade terhadap 20 peternak. Setidaknya, “Kurang lebih 20 kandang Closed House telah dibangun“, ujarnya.

Satu tim bersama Sales Sierad Industries Jawa Timur Sukadana ST, di bawah pimpinan Sales Manager Sierad Industries Ir Agus Wahyu, Dhanang ST bertanggungjawab membuat dan membangun kandang tertutup dengan dasar meningkatkan kualitas peternak maupun kualitas ayam.

Tempat-tempat dibangunnya kandang tertutup atau Closed House di Jawa Timur itu mulai dari Madura sampai dengan perbatasan Madiun Jawa Timur. Khususnya peternakan ayam pedaging, tim Dhanang memang sudah melayani daerah Madiun, Surabaya, Gresik, Lamongan, Tuban, Bojonegoro, termasuk di Madiun, Kediri, Magetan, dan Tulungagung.

Rata-rata kapasitus kadang milik peternak itu antara 20.000 sampai dengan 100.000 ekor. Namun, ada kandang yang kecil-kecil juga. Selebihnya masib banyak daftar lagi kandang yang lain. Status pengembangan kandang tertutup itu, semua di bawah kemitraan. Sedangkan untuk peternakan ayam petelur, sejumlah 1 (satu) sampai 2 (dua) peternakan ayam petelur di Blitar baru mulai ditata“, ungkap Dhanang.

Adapun meski kandang tertutup serentak dibangun di mana-mana, kandang terbuka atau Open House tetap ada. Tim Dhanang memberi peningkatan atau upgrade secara pelan-pelan agar kualitas peternak lebih baik. Cara meng-upgrade inilah dengan Closed House, dengan tujuan utama pendapatan peternak lebih baik.

Menurut Dhanang Purwantoro, keunggulan Closed House yang pertama adalah tidak ada gangguan seperti lalat di mana lingkungan lebih baik. Keunggulan kedua adalah menghemat tempat. Di mana, kandang yang semula kandang panggung dengan kapasitus 5000 dengan kandang tertutup bisa dipergunakan 2 kali lebih hemat. Di sini, bagian kanan dan lantai atas serta lantai bawah dipakai semua.

Dengan sistem kandang tertutup, kualitas ayam lebih baik, adapun angka kematian rendah. Selanjutnya, kondisi pertumbuhan ayam merata, menghasilkan penampilan ayam yang baik secara maksimal. “Banyak keuntungan yang didapatkan dengan kandang closed house”, tegas Dhanang.

Closed House Haji Karto

Berkat pengembangan Closed House secara besar-besaran di Jawa Timur itu, seorang peternak bernama Haji Karto memelihara 100.000-an ekor ayam pedaging. Itulah kondisi senyatanya di Brondong Kabupaten Tuban yang lokasinya dekat dengan pusat wisata terkenal WBL (Wisata Bahari Lamongan). Pertumbuhan kandang-kandang peternakan di wilayah ini memang sangat pesat.

Haji Karto peternak Tuban yang memulai usaha peternakannya langsung menggunakan kandang modern. Pembangunan Closed House dimulai sejak tahun 2009. Sebelumnya dia adalah petani tambak 25 hektar. Lahannya terletak di dekat pantai. Lahan ini merupakan daerah pertambakan dengan lingkungan yang bersuhu panas.

Posisi pemeliharaan ayam pedaging Haji Karto pada saat tulisan ini dibuat adalah sedang memasukkan atau Chick in DOC (Day Old Chicken). Kesadaran Haji Karto untuk menerapkan kandang tertutup untuk peternakannya adalah lantaran karena sekarang sudah waktunya menggunakan teknologi maju. Hal ini terkait dengan isu pemanasan global dan situasi daerah Tuban yang panas.

Pembangunan kandang tertutup Haji Karto sendiri melalui beberapa tahap. Tahap pertama dengan populasi 55.400 ekor. Kemudian disusul dengan tahap kedua dengan populasi ayam 55.400 ekor lagi. Ukuran kandang tertutup yang dibangun untuk populasi 55.400 ekor ayam pedaging itu adalah panjang 110 meter, lebar 12 meter, kepadatan kandang 14 ekor/m², terdiri dari 3 lantai.

Selanjutnya di kandang tertutup Haji Karto ini akan dibangun tempat pakan otomatis juga. Atas prestasinya dalam pembangunan Closed House itu, Haji Karto dan beberapa peternak lainnya dari seluruh Indonesia diberi fasilitas oleh PT Sierad Produce untuk mengikuti customer gathering dan Indolivestock 2010 di Jakarta.

Closed house Suparno

Suparno peternak ayam pedaging dari Lamongan Jawa Timur. Usaha beternaknya berawal dari peternak lama yang mulai dari kandang terbuka atau Open House. Ia beralih mengembangkan diri ke kandang modern secara Closed House pada akhir 2009.

Tahap pertama pembuatan kandangnya adalah 36.960 ekor. Disusul tahap kedua pembangunan kandang juga untuk populasi ayam sejumlah 36.960. Ukuran kandang tertutup-nya yang dibangun untuk populasi 36.960 ekor itu adalah panjang 110 meter, lebar 12 meter, kepadatan kandang 14, terdiri dari 2 lantai.

Kondisi lahan tempat kandang peternakannya berdiri adalah berpasir cenderung seperti bukit-bukit kecil yang tandus. Menurut Suparno, kandang tertutup lebih menjanjikan dengan pengelolaan benar-benar secara profesional.

Pendanaan

Soal pendanaan guna pembangunan kandang-kandang tertutup itu, salah satunya, “Dengan menggandeng investor dari Bank BNI untuk membangun kandang-kandang modern itu.” kata Dhanang Purwantoro ST. Dana itu dibagi dua, soal dana konstruksi tanggung jawab pemilik kandang. Adapun alokasi biaya untuk bahan-bahan yang digunakan disesuaikan dengan kondisi masing-masing lokasi di mana kandang didirikan.

Misalnya, pada lokasi berpasir, maka dicari sistem cor yang harganya paling murah. Sementara kalau di daerah setempat banyak terdapat kayu, maka untuk bahan-bahan bangunan tertutup digunakan kayu. Sedangkan pada daerah lain yang terdapat bahan bangunan dengan harga paling murah adalah besi, maka untuk bahan pembangunan Closed House digunakan besi. Contohnya, ungkap Dhanang, “Di Yogyakarta, harga besi dan pasir cenderung murah, maka dipilih besi yang lebih murah untuk membangun kandang.

Konstruksi kandang sendiri menjadi bahan pertimbangan untuk bahan dan peralatan. Untuk perhitungan biaya, nilai peralatan antara Rp.10.000-Rp.20.000 per ekor. Kisaran harganya tergantung bahan-bahan material yang dikehendaki peternakan.

Dan kini, pengembangan perkandangan sistem Closed House terus berlangsung dengan langkah pasti. Hal ini terutama semata-mata karena peternak mendapatkan manfaatnya yang luar biasa. Pengembangan teknologi maju jelas memberi kemudahan dan patut terus diikuti. Para peternak kita pun terbukti menunjukkan kesiapannya.

Sumber : Infovet, Agustus 2010

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/era-besar-besaran-teknologi-modern-closed-house/

Pasca AI Kualitas DOC Sangat Fluktuatif

Bibit memang merupakan pangkal awal dari sebuah produktifitas usaha budidaya peternakan, tidak terkecuali ayam negeri, baik potong maupun petelur. Sebagai komponen hulu, bisa menjadi kunci yang mana untuk meraih keuntungan jika diusahakan secara komersial. Sebaliknya, bisa menjadi petaka bagi peternak jika kualitas bibit tidak seperti yang diharapkan.

Dan sebagai produk hidup, maka sudah pasti kestabilan kualitas tidak akan bisa produsen yang menjamin atau memberi garansi. Sebab terlalu banyak aspek yang berpengaruh terhadap produk bibit itu. Walaupun bagaimana, produsen bibit, relatif sama persis dengan usaha komersial, yaitu memproduksi secara intens dan optimal untuk menghasilkan bibit yang akan dilempar ke pasar. Upaya untuk menghasilkan yang terbaik itu, relatif sama persis dengan peternak komersial yaitu menghasilkan produk yang terbaik, berupa tinggi produktifitas dan efisien, rendah angka kesakitan dan juga rendah angka kematian serta yang pasti menguntungkan.

Berikut ini hasil investigasi Tim Pemantau Lapangan Infovet yang menggali pendapat dari peternak dan pemasar bibit ayam (DOC).

Menurut Drh Rama Dharmawan, staf pada Balai Besar Veteriner Wates, bahwa bibit merupakan kunci gerbang pembuka keberhasilan sebuah usaha peternakan. Oleh karena itu jika bisa diperoleh sebuah paket bibit ayam (DOC) dengan kualitas baik, maka pintu ruangan besar untuk meraih keuntungan terbentang luas.

“Secara teoritis dan memang seharusnya begitu, bahwa produsen sudah diberi rambu untuk memproduksi dengan sertifikasi dan persyaratan tertentu. Seperti bobot standar awal, jaminan bebas penyakit tertentu dan kualitas induknya. Namun demikian, oleh karena faktor yang mengitari di sisi masa produksi bibit sangat banyak, maka setidaknya standar terendah yang bisa ditoleransi harus terpenuhi. Misalnya bobot awal bibit”, ujar Rama yang berniat melanjutkan pendidikan di Australia itu.

Lebih lanjut Rama menjelaskan, bahwa harus diketahui dan dipahami oleh para peternak, bahwa memang aspek ke”ajegan” atau stabilitas kualitas bibit relatif tidak akan mungkin terjadi. Sehingga sangat wajar bila kemudian peternak mengeluhkan adanya perbedaan produktifitas walaupun dengan merk yang sama. Terlebih dengan merk yang berbeda, sudah pasti akan menjadi lebih lebar deviasi perbedaan itu.

Menurutnya, ia sering menerima informasi dan keluhan dari peternak tentang naik dan turunnya produktifitas maupun performans. Selalu ia jelaskan hal itu, bahwa tidak ada satupun jaminan pasti kestabilan kualitas bibit. Namun demikian, yang justru lebih penting bagi peternak sebagai konsumen, adalah berupaya dari waktu ke waktu untuk terus memperbaiki cara pengelolaan.

“Wong tidak ada ruginya koq seandainya kita terus berusaha untuk meningkalkan manajemen pemeliharaan. Dan disitulah kunci memasuki keuntungan yang jauh lebih besar”, ujar Rama.

Ketika disodorkan kenyataan bahwa ada aspek penting yang lain yang sangat mempengaruhi keuntungan peternak yaitu harga jual hasil produksi. Rama menjawab, bahwa hal itu jelas sangat tergantung akan tingkat penawaran dan permintaan. Tidak ada sama sekali kaitannya dengan kualitas bibit.

Sedangkan Ir Dhanang Purwantoro, seorang praktisi peternakan kawasan Wonogiri Jawa Tengah dan Wonosari mengungkapkan hal yang berbeda. Menurutnya, kualitas bibit memang dirinya sudah memahami. Kestabilan kualitas DOC memang sangat sulit untuk diperoleh dari satu periode ke periode berikutnya.

Meski demikian, selama ini justru ia mencoba menyiasati dengan cara pengelolaan yang selalu berubah. Pengertian berubah itu, menurut Dhanang adalah selalu mencoba memberikan perhatian yang berlebih dan selalu meningkatkan dari periode ke periode. Bahkan, ujar Dhanang, dirinya selalu membaca dan mengamati perilaku peternak lain. Jika dalam periode ini, para peternak mengerem atau mengurang populasi dari merk tertentu oleh karena periode kemarin/sebelumnya dimana kualitasnya “kurang baik”, kemudian mengganti dengan merk lain yang dipandang lebih baik. Maka ia justru menjatuhkan pilihan bibit/DOC yang kurang disenangi para peternak umum.

Bukan saja pilihan itu oleh karena harganya jauh lebih murah, karena jenis DOC sore hari alias kurang laku, namun justru menurutnya itu sebuah tantangan untuk membuktikan hahwa sebenarnya ada aspek lain yang lebih penting yaitu pengelolaan. Menurutnya, manajemen pemeliharaan yang selama ini diserahkan secara lepas oleh para peternak kepada pekerja kandang, adalah kekeliruan besar. Terlebih jika DOC itu termasuk DOC yang dimarjinalkan/ditolak halus para peternak. Maka harus ada perhatian yang lebih dari cara pengelolaan selama ini. Hasilnya, menurut Dhanang selama ini tidak ada masalah, bahkan selalu mencapai hasil yang memuaskan. “Ini fakta lho… bukan isapan jempol”, tutur Dhanang meyakinkan Infovet.

Urusan harga jual pasar yang naik turun, itu memang akan dialami oleh semua peternak. Artinya meskipun mereka memakai bibit yang sedang favorit pada periode itu, toh masalah harga jual juga mengikuti mekanisme pasar. Oleh karena itu jika kita menjatuhkan pilihan dengan bibit/DOC yang kurang favorit pada suatu periode, dengan harga di bawah harga pasar, namun dengan sistem dan cara pengelolaan yang benar, akhirnya hasil akhir sama saja dengan yang memakai bibit favorit.

Kemudian datang pendapat lain dari Misaljo dan Drs Irwanto, yang berprofesi sebagai pemasar bibit ayam/DOC. Menurut Misaljo, yang juga menjadi agen aneka DOC ayam negeri maupun ayam kampung bahwa dirinya terlalu sering menerima keluhan yang beraneka dengan substansi keluhan yang sama yaitu performans kurang baik.

Bibit Ayam Potong Merk “A” dan “B“ pada periode ini menunjukkan hasil baik, yaitu cepat tumbuh besar, konsumsi pakan efisien, angka kematian rendah. Sedangkan Merk “C” dan “D” serta “E” sebaliknya yaitu angka kematian tinggi, kurang efisien pakan serta lambat tumbuh, ayamnya kerdil. Begitu juga dengan ayam petelur, dengan ragam keluhan masa produksi lambat, tingkat kematian tinggi dan masa produksi pendek/cepat afkir, puncak produksi sangat pendek.

Namun ternyata periode berikutnya bisa berbalik. dimana DOC merk “A” dan “B” performansnya sangat buruk sekali. Dan sebaliknya merk “C” dan “D” justru menjadi lebih baik. Sedangkan merk “E” tetap buruk performansnya.

Sebagai penjual DOC, memang dirinya akan selalu menerima dan berhadapan secara langsung dengan keluhan itu, oleh karena itu menurutnya para produsen memang harus selalu menjaga kualitasnya, agar dirinya yang termasuk penghubung antara produsen dengan peternak tidak terus terteror dengan masalah itu. Lebih dari 20 tahun sebagai penjual DOC, Misaljo akhirnya menganggap keluhan itu menjadi kurang begitu direspon jika berhadapan dengan peternak. Sedangkan Irwanto yang baru menekuni itu sekitar 10 tahun terakhir ini, masih selalu risau jika dikomplain oleh peternak.

Misaljo akhirnya mengambil jalur tengah dengan siap selalu menerima keluhan dan keluhan itu ia sampaikan lagi ke agen pemasok. Masalah itu menjadi perhatian atau tidak bagi Misaljo itu bukan soal. Sebab Misaljo sudah faham benar akan fluktuasi kualitas DOC selama ini. Bahkan menurutnya, sejak ada wabah AI, kualitas DOC ayam petelur sangat jauh sekali jika dibandingkan dengan kualitas sebelum merebak wabah AI.

Menurut Misaljo atas dasar laporan para peternak pelanggannya, bahwa usia awal produksi ayam pasca wabah AI menjadi lebih lambat, alias tertunda dan mundur. Begitu juga dengan puncak produksi yang relatif lebih pendek. Ayam lebih sering mengalami gangguan kesehatan serta yang meresahkan adalah usia produksi lebih pendek. Katanya ayam petelur dan potong sekarang adalah ayam modern, ternyata justru lebih rendah performansnya dari pada ayam klasik atau masa lalu.

Hal yang sama dirasakan oleh Haji Saelan, peternak ayam potong di Tegal Jateng, bahwa produktifitas ayam potong sekarang jauh dibawah performans ayam potong masa 10 tahun yang lalu. Apakah ini oleh karena akibat penyakit AI atau karena memang kualitas pakan yang ada saat ini kurang baik. Padahal harga pakan terus bergerak naik dari waktu ke waktu. Jika bukan oleh karena pakan, tentunya bibitnya yang harus dipertanyakan tentang kualitas baik buruknya.

Sedangkan Dhanang dan Rama berpendapat memang benar pasca wabah AI masuk Indonesia, harus diakui adanya penurunan performans ayam komersial. Menurut Dhanang, tidak bisa dibantah, bahwa produsen bibit/DOC juga pasti terkena imbas wabah AI, sehingga ibarat pabrik, mesinnya juga kena, sudah pasti hasil produksinya akan terpengaruh juga. Beberapa produsen mungkin akan tetap mencoba menekan pengaruh buruk dari libasan penyakit AI itu, sehingga produk DOC nya masih relatif lebih sama. Sedangkan yang lain meski sudah berupaya namun barangkali gagal mencapai tujuan, akhirnya DOC yang diproduksi kurang seperti yang diharapkan.

Menurut Rama, keluhan yang ia terima tentang produktifitas dan kualitas DOC memang bersitat linier atau terkait langsung. Dimana akibat wabah AI 5-6 tahun yang lalu itu, para produsen DOC masih belum berhasil juga melepaskan pengaruh buruknya. Terkait dengan lambat pertumbuhan dan lambat produksi adalah indikator penting yang tidak bisa dibantah akan adanya pengaruh buruk itu yang masih melekat. Untuk itu peternak hanya ada satu jalan yaitu selalu meningkatkan dan meningkatkan cara budidayanya.

Infovet, Oktober 2009

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/pasca-ai-kualitas-doc-sangat-fluktuatif/