AI Terbaru Terus Memburu Dan Diburu

Muncul AI gejala baru ? Infovet melakukan investigasi serentak pada peternak, praktisi, dan ahli di borbagai wilayah di Indonesia. Hasilnya ? Anda akan dibawa pada suatu fenomena baru kasus AI tahun 2007, yang punya gambaran realitas berbeda (baca: ada perkembangan) dengan kasus Al tahun 2003-2004.

Ayam Potong Tidak Terbebas

Awalnya para pedagang ayam potong tidak tahu apa yang terjadi dibalik kematian lebih dari 80% jumlah ayam yang baru diangkut dari kandang milik peternak. Namun oleh karena kejadian itu terus berulang maka, akhirnya terkuak kasus itu adalah manifestasi semakin nyata kasus wabah penyakit Avian Influenza (AI) pada ayam potong.

Kasus penyakit yang sempat menggegerkan industri perunggasan domestik itu meski sudah memasuki tahun ke lima, selama ini lebih banyak menerjang ayam petelur. Sangat sedikit kejadiannya bahkan tidak setiap daerah dijumpai kasus penyakit itu pada ayam potong.

Beberapa waktu lalu para peternak ayam potong masih bisa membusungkan dada bahwa AI hanya menyerang ayam yang umur produksinya tua seperti ayam petelur. Dan ayam potong diasumsikan terbebas dan sergapan.

Dengan semakin merebaknya kasus AI pada ayam potong, menyebabkan hantaman bertalu-talu seperti rendahnya harga jual hasil produksi yang berlangsung cukup lama. Menurut Catatan Infovet selama lebih dari 6 minggu harga jual ayam besar sempat menyentuh setengahnya dari biaya titik impas. Pihak lain juga terjadi daya serap pasar yang terus melemah.

Drh. Wakhid N. dari PT Vaksindo Satwa Nusantara mengungkapkan kasus ini menjadi masalah serius yang harus diupayakan pemecahannya secara bersama seluruh stake holder, seperti peternak, pemerintah ataupun produsen vaksin dan obat-obatan hewan.

Upaya ini sangat mendesak dan penting agar kasus itu tidak semakin meluluh-lantakan industri perunggasan nasional, diperparah dengan ancaman akan masuknya produk unggas dari negeri manca.

Respon Peternak

Diceritakan oleh Wakhid banyak peternak juga pedagang ayam potong mengeluhkan wabah penyakit itu, yang nota bene selama ini disikapi oleh peternak ayam potong dengan dingin. Di Jogjakarta dan Jawa Tengah sendiri kasus penyakit itu pada ayam potong relatif belum menjadi masalah, namun di daerah lain sudah menjadi teror yang sangat menakutkan.

Teror yang menakutkan itu dapat diambil contoh kasus yang faktual terjadi belum lama ini di kawasan Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi. Seperti diutarakan Ir Dhanang Purwantoro dan PT Biotek Jogja yang pernah terjadi peternak ayam potong dengan populasi 60.000 ekor berumur 11 hari, nekad mengambil keputusan menumpas total populasi oleh karena kandang-kandang di sekitarya sudah terserang penyakit AI.

Argumen pemilik daripada menderita kerugian yang lebih besar di kemudian hari alias pada saat bertambah umur, maka langkah yang sengaja merugikan diri sendiri itu jauh lebih ringan. Langkah itu menurut pandangan umum adalah sebuah langkah “gila” tetapi justru rasional menurut si pelaku.

Kasus tersebut membuat jantung pelaku usaha budidaya perunggasan berdetak tak karuan. Oleh karena itu kebersamaan antar pemangku usaha itu menjadi sangat penting sekali.

Investigasi Infovet ke lapangan di Jogjakarta kasus penyakit itu sampai saat tulisan ini dibuat memang belum ditemukan. Namun di Jawa Tengah, khususnya di Purwokerto kasus itu sudah pernah ditemukan meski frekuensinya baru 4 kali dengan populasi yang relatif sangat kccil yaitu total populasi 4.500 ekor.

Ir Agus W alias “Suwingi” petugas lapangan yang banyak membimbing para peternak mengungkapkan umumnya kasus itu banyak terjadi di kawasan pantai selatan sekitar Gombong terjadi pada peternak mikro dengan populasi 1500 ekor per periode.

Berbeda dengan yang di Botabek yang terkuak karena komplain dari pedagang ayam, justru peternak dan Agus yang pertama kali menduga hal itu oleh karena penyakit AI.

“Ayam-ayam itu seminggu saat mau dipanen masih segar bugar dan nafsu makan biasa saja, tapi 2 hari kemudian langsung mati mendadak dengan total kematian mencapai 60% dari total populasi 1000-1500 ekor. Sava menduga hal itu mungkin karena ND. Namun kemudian ada sejawat Dokter hewan mendiagnosa kasus penyakit itu tak lain adalah AI”, ujar Agus.

Gejala Klinik Berbeda

Pada Pebruari 2007, tim Drh Agus Damar Kristiyanto Kepala Seksi Penjualan PT Romindo Primavetcom di Tangerang menjumpai kasus AI pada ayam broiler di Baleraja, dengan kematian 70 persen, dijumpai pada ayam umur 15 hari, 23 hari, dan saat panen.

Kondisi biosecurity peternakan di tempat itu cenderung ketat, namun ayam tidak divaksin. Khawatir kondisi itu terulang, peterak beramai-ramai menjual dan membagi-bagi ayamnya. Namun kondisi masing-masing peternakan, tidaklah sama.

Hikmahnya, peternak yang tidak pernah memakai vaksin AI pada ayam pedaging mau mencobanya. Pada anak ayam umur 1 atau 4 hari, dosis yang dipakai adalah 1/2 dosis untuk ayam petelur. Kemudian setelah ditest antibodinya pada umur 27 hari, tidak menunjukkan kena AI.

Menurut Drh Damar, kasus AI semacam itu saat itu belum muncul di Jakarta, diketahui tidak ada antibodinya. Namun perlu terus untuk dipantau.

Sedangkan di Jawa Timur, Drh Prabadasanta Hudyono dari PT Multibreeder Adirama Indonesia menuturkan menemui AI yang tergolong baru dengan kecenderungan berbeda dengan AI yang telah dikenal.

Pada kasus AI yang ditemui Maret 2007 suhu tubuh ayam rata-rata sangat tinggi.

Panasnya tubuh ayam dapat dibandingkan dengan kasus gumboro di mana suhu tubuh sangat panas. Kasus AI di Madiun dan Magetan Jawa Timur ini juga menyerang 2500 milik seorang peternak yang membuatnya sangat kehilangan.

“Kelihatannya AI pun punya generasi baru, tidak kalah sama Nissan (merek mobil) yang punya generasi baru”, Drh Praba mengambil perumpamaan. Menurutnya, tampaknya virus sudah mengganggu pusat pengaturan suhu tubuh, sehingga suhu tubuh panas sekali.

Keiika jari tangan dimasukkan kloaka hingga tuba fallopii untuk memeriksa telur, nyenggol daging di sekitar ginjal, jari tangan seperti dislomot (terkena bara panas) api. Telur, daerah tuba fallopii sangat panas. Ayam demam bersuhu lebih panas dari kasus-kasus terdahulu. Jenis antigennya membuat orang penasaran untuk mengetahui secara pasti.

Masih H5N1

Akibat serangannya, ayam kampung banyak yang mati. Pertama kali menemukan kasusnya, tim Drh Praba melakukan kroscek, hasilnya memang cenderung ada ciri baru, tapi tipe virusnya masih H5N1.

Namun virus H5N1 ini menyerang ke organ tubuh yang beda. Sifatnya pun masih HPAI (tipe ganas/Highly Photogenic Avian Influenza) bukan LPAI (Lowly hatogenic Avian Influenza/AI tipe tidak ganas).

Kasus ini mulai kelihatan di beberapa tempat. Pada kasus yang terjadi di Magetan, pada kandang yang terserang, ternyata dalam satu kandang terdapat ayam yang campur-campur jenisnya, ada ayam ras yang bercampur ayam kampung dan lain-lain. Belum ada kasus pada orang.

Panas tubuh yang sangat tinggi pada ayam ini. menurut Drh Praba merupakan manifestasi dari atresia ovari. Ayam yang dulu belum pernah di vaksin, belum nampak gejala. Namun setelah ayam divaksin, ada serangan baru, maka terjadi tarik-menarik kekuatan antara antigen dan antibodi secara luar biasa sehingga suhu tubuh meningkat drastis lantaran syaraf pusat di hipofisa terganggu. Akibatnya pengontrol suhu tubuh pun turun.

Menurut Prof Drh Charles Ranggatabbu MSc PhD, gejala itu muncul seiring perkembangan AI di mana ayam yang sudah vaksin AI dan diberlakukan biosecurity secara ketat. Dalam tubuh ayam antibodi virus ditekan terus, sehingga antibodi membentuk sistem perlawanan baru.

Dekan FKH UGM ini mengungkapkan, kasus ini berbeda dengan kasus tahun 2003-2004 yang kondisinya sama. Variasi pada kasus yang sekarang, mungkin terjadi variasi susunan genetik virus. Misalnya susunan asam amino 1-3, walau tipe virus ini masih HPAI. Akibatnya gejala klinis dan patologi klinis berbeda dengan yang terjadi pada kasus 2003-2004.

Kasus 2003-2004 gejalanya khas, dan tidak terjadi pada ayam broiler. Kasus pada ayam layer fase pertumbuhan dan remaja (pullet) pun tidak ada. Namun terjadi kematian ringan pada ayam layer yang menyebabkan penurunan produksi.

Kasus yang sekarang, secara patologi memang tidak ada gejala. Namun gejala klinis pada ayam petelur terjadi perdarahan di ovarium. Adapun pemeriksaan secara klinis dan patologi klinis, serologis titer AB tidak seragam.

Umumnya broiler yang tidak divaksinasi, begitu ada kontak dengan virus lapang, serangan susah dielakkan. Kematian pun tak dapat dihindari. Sementara itu, gejala perdarahan yang ekstensif tidak dijumpai pada ayam petelur dan ayam pedaging. Biosccurity mulai kendor.

Kasus AI pada ayam layer peternakan komersial, membuat peterak sangat tegang. Kematian ayam meningkat. Antigen virus itu diperiksa di laboratorium FKHU UGM, tipe virusnya masih HPAI H5N1.

Kasusnya ternyata tidak hanya terjadi pada ayam layer, tapi juga pada ayam broiler dan ayam buras pada petrmakan rakyat. Walaupun tipe virus juga H5N1, susahnya gejala klinis dan patologi klinisnya tidak spesifik seperti kasus AI pada tahun 2003 dan 2004.

Perubahan Molekular Serang Otak

Terjadinya variasi gejala dan patologi ayam pada kasus 2007 ini, menurut Prof Charles karena ada pergerakan dinamika molekularnya. Ada perubahan variasi 1-2 asam amino, 1-2 isolat dicurigai telah mengalami perubahan ini. Untuk penelitian ini diperlukan standar emasnya, standar penelitian terbaik.

Menurut Prof Charles, penelitian terhadap kasus demi kasus, terutama terhadap faktor selular dan bioselular virus, tidak bisa dengan pola dan cara seperti yang telah dilakukan, begitu saja terus-menerus. Perlu diteliti lebih dalam terhadap gen H dan N-nya, protein-protein lain, reseptor-reseptornya dan lain-lain yang sejauh ini belum dilakukan mengingat terbatasnya dana.

Untuk penelitian lebih canggih memang diperlukan kerjasama dengan berbagai institusi yang lebih maju, misalnya Biologi Molekular Balitbangkes dan dibutuhkan prakarsa ahli-ahli biologi. Juga dibutuhkan program yang lebih maju dan penelitian-penelitian canggih lain mengingat isolat-isolat bahan hewan di Indonesia jumlahnya banyak sekali. Kita pun tidak bisa menekuni dan mengelola bidang ini secara sepotong-sepotong seperti yang terjadi saat ini.

Dr Drh CA Nidom MS yang kini juga Wakil Dekan III FKH Unair ini, menuturkan kasus AI bergaya baru itu dalam analisanya sudah menyerang otak. Toksin atau racun dari virus itu sudah mengganggu termoregulator di otak. Akibatnya suhu tubuh yang ditimbulkan sangat tinggi dan dengan sendirinya mengganggu metabolisme.

Menurut Dr Nidom, akibatnya ada dua kemungkinan yang terjadi pada ayam, yaitu ayam itu dapat bertahan atau tidak dapat bertahan. Bila ayam dapat bertahan, produksinya akan turun Sedangkan ayam yang tidak bertahan akan mati.

Dr Nidom saat ini sedang mendeteksi ada hal aneh dengan perubahan itu. Saat ini tahap penelitian di laboratoriumnya, preparat virus masih ditanam pada telur, dan membutuhkan waktu sekitar 2-3 minggu untuk mendapatkan hasilnya.

Untuk kali ini kita tahu kecurigaannya, dengan menyerangnya virus ke otak/susunan syaraf pusat, kemungkinan dapat terjadi perubahan protein dan DNA dari virus sehingga dapat menembus barier syaraf di otak, menganggu termoregulator dan muncullah panas tinggi itu!

Adapun menurut Drh Lies Parede MSc PhD dari Balitvet Bogor, mungkin virus HPAI H5N1 dari daerah-daerah yang disebutkan para narasumber tadi sudah mengalami rekombinasi, dengan perbedaan kecil dibanding kasus pada tahun 2003. Analisa akurat menunggu hasil pemeriksaan dan laboratorium biologi molekuler.

Tentang pantat ayam yang dimasuki jari orang, ia menjelaskan, suhu badan orang adalah 37 derajad Celsius, sedang badan ayam 41 derajad Celsius. Dengan dimasukkannya jari orang ke dalam pantat ayam sudah tentu akan sangat panas. Apalagi bila ayam dalam kondisi demam bersuhu 42-43 derajad Celsius.

Di samping itu Dr Lies menganjurkan untuk perlakuan itu supaya berhati-hati sebab tangan itu dapat memasukkan kuman ke dalam tubuh ayam dan dapat mengakibatkan infeksi Salphingitis.

Menurutnya, serangan virus HPAI H5NI mengakibatkan septisemia dengan peradangan sistemik pada multi organ interna maupun eksterna. Maka timbulah demam seperti interleukin, TNF (Tumor Nekrosis faktoe Alfa), PGE-2 (Prostaglandin E-2) dan lain-lain.

Menurut penelitian Lab Patologi FKH IPB, sepanjang tahun 2003-2007 kasus HPAI H5N1 menimbulkan kerusakan patologi makro dan mikro yang sama, perdarahan multifokus organ, di antaranya ovum dari ovarium ayam yang bertelur dan enchepalitis pada otak dari multifokus nekrosis yang masih ditemukan.

Soal kerusakan otak ayam pada tahun 2003, sudah dikonfirmasikan oleh Lab Patologi FKH IPB dan BPPV Wates Yogyakarta dalam Konferensi Asosiasi Patologi Veteriner 2004 di Maros Sulawesi Selatan.

Analisa secara ilmiah virus tahun 2007 tersebut sudah mengalami rekombinasi. meski sifatnya masih serupa ganasnya dengan virus H5N1 tahun 2003. Sedangkan kejadiannya pada ayam juga masih serupa, yaitu pada ayam kampung, ayam aduan, ayam komersil petelur maupun pedaging dari berbagai umur.

Kembali ke Biosecurity

Soal pengendalian, menurut Dr Lies, sudah merupakan kenyataan bahwa virus HPAI H5NI dapat dikendalikan dengan vaksin, yaitu dengan vaksin holomog dan virus lapang. Dan pemilihannya, dianjurkan sebagaimana pencarian untuk vaksin pada manusia, vaksin AI mesti cocok, program tepat dan murah terjangkau peternak.

Munculnya kasus yang mengejutkan itu, menurut Prof Charles Ranggatabbu karena biosecurity mulai kendor. Terjadi perbedaan nyata antara layer divaksinasi dan biosecurity ketat dengan biosecurity yang jebol dan tidak dilakukan vaksinasi. Pada kondisi yang terakhir, kematian meningkat sangat tinggi.

Prof Charles mengingatkan bila ada kasus janganlah gegabah, Lalu jangan menjual hidup-hidup yang ayam terserang AI. Kotoran ayam yang sudah disimpan 1 minggu, harus dikeluarkan. Juga ketatkan kontrol lalu lintas. “Biosecurity adalah andalan. Tanpa itu ayam akan kena AI lagi”, tekan Charles. (Untung Satriyo, Yonathan Rahardjo)

Sumber : Infovet, Mei 2007

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/ai-avian-influenza-terbaru-terus-memburu-dan-diburu/

Closed House Sebuah Tuntutan Memenangi Pertarungan Di Pasar ASEAN

Efisiensi dan kualitas adalah sebuah keharusan dalam meningkatkan nilai tawar dan memenangi kompetisi pasar. Demikian juga dengan industri perunggasan domestik saat ini, terutama dikaitkan dengan era baru pasar bebas ASEAN pada akhir tahun 2015 mendatang.

Jika kedua hal itu tak mampu ditegakkan, maka sudah pasti pasarlah yang ganti akan menggilas, dan kebangkrutan industri perunggasan di Indonesia menjelma menjadi kenyataan.

Demikianlah paparan Ir Dhanang Purwantoro ketika tampil mempresentasikan pendapatnya di hadapan para investor dari sebuah Konglomerasi Grup Otomotif yang berminat dengan bisnis perunggasan.

Menurut Dhanang, sebagai seorang praktisi Closed House yang cukup dikenal handal di Indonesia itu, bahwa pada sebuah kegiatan bisnis apapun termasuk perunggasan jika telah melalaikan filosofi efisiensi dan kualitas, hal itu ibarat berada di medan perang, tanpa membawa bekal senjata dan amunisinya yang memadai. Akhirnya keinginan dan misi untuk memenangkan sebuah kompetisi hanyalah tinggal impian.

Dalam pasar bebas ASEAN yang segera akan berlaku di Negara Negara anggota persekutuan Asia Tenggara itu, maka perdagangan barang dan jasa akan dibebaskan tarif bea masuk, kecuali memang ada produk tertentu. Kesepakatan pasar terbuka alias pasar bebas ASEAN itu memang akhirnya memaksa dan menuntut adanya jaminan kualitas dan efisiensi. Sebab, disamping masalah harga yang akan menjadi komponen penting dalam kompetisi, maka kualitas adalah komponen lain yang tak dapat ditinggalkan.

Dunia usaha perunggasan Indonesia, selama ini mengalami perkembangan yang cukup pesat. Baik dalam volume skala usaha maupun distribusi keberadaan geografisnya. Peternak dalam negeri selama ini masih diuntungkan dengan belum begitu signifikan produk dari Negara lain, sehingga harga jual hasil produksinya berupa telur dan daging ayam serta ikutannya, relatif “terjaga”. Istilah terjaga dalam tanda petik ini, lebih menjelaskan kondisi bahwa jika saja produk unggas dari negeri manca menyerbu, maka habislah masa depan bisnis perunggasan Indonesia.

Namun sejalan dengan telah diratifikasinya pasar terbuka wilayah regional ASEAN, maka iklim yang selama ini terlihat begitu dinikmati secara nyaman, maka kini menjadi terusik. Pelaku usaha bisnis perunggasan tidak lagi bisa mengandalkan pasar didalam negeri, namun juga harus siap bersaing secara terbuka dengan industri perunggasan dari Negara Negara ASEAN.

Sekali lagi Dhanang menekankan bahwa efisiensi dan kualitas adalah sebuah persyaratan yang tak dapat ditawar-tawar lagi. Dan peternak ayam dalam negeri meskipun hampir 10 tahun terakhir ini harus berjibaku dengan kenaikan ongkos produksi yang terus beranjak naik, juga sergapan aneka penyakit.

Sebuah sistem dan cara memelihara yang selama ini masih banyak peternak ayam di Indonesia lakukan adalah dengan kandang sistem terbuka, maka resikonya sangat besar dan jaminan kualitas produknya sangat rentan. Untuk itu meskipun masih belum begitu banyak peternak ayam di Indonesia yang mengaplikasikan kandang sistem tertutup (Closed House), namun sudah mampu memberikan pengaruh positif terhadap peternak lain yang masih dengan kandang konvensional atau terbuka. Peternak ayam yang masih menggunakan sistem konvensional sedikit demi sedikit telah mulai bermigrasi menerapkan Closed House. Meskipun pelan, akan tetapi secara faktual terus bertambah.

Oleh karena itu, budidaya perunggasan di Indonesia menjelang pasar bebas ASEAN itu, masih sangat prospektif. Sebuah peluang besar bagi para investor baru untuk tampil menjadi pemimpin bisnis unggas di tingkat domestik maupun di kawasan regional.

Dhanang menjelaskan bahwa Closed House adalah salah satu cara budidaya ayam modern dengan sistem kandang tertutup yang banyak memberikan keuntungan. Bukti selama ini menunjukkan bahwa Closed House bukan saja memberikan sejumlah lipatan keuntungan yang nyaris 2,5 kali lipat dibandingkan dengan kandang konvensional. Selain itu juga mampu menekan resiko kerugian yang diakibatkan oleh sergapan aneka penyakit dan performans ayam yang buruk. Populasi ayam dalam kandang Closed House nyaris mengalami pertumbuhan yang seragam dan bagus dalam pencapaian bobotnya. Sehingga secara kualitas ayam yang berasal dari kandang Closed House memang relatif lebih bagus. Ayam yang dipelihara dalam kandang Closed House tumbuh dengan nyaman serta efisien dalam mengubah pakan menjadi bobot badan.

Beberapa keunggulan budidaya ayam modern dengan mengaplikasikan kandang Closed House antara lain adalah pemanfaatan luas lahan yang jauh sangat efisien, sebab untuk luas lahan dalam kandang Closed House bisa menampung 17 ekor ayam per meter persegi. Sedangkan untuk kandang konvensional hanya mampu menampung kapasitas 7-10 ekor saja. Bahkan jika kemudian konstruksinya dibuat bertingkat (tumbuh vertikal), maka berarti mampu menampung 48-51 ekor.

Manfaat utama yang selama ini dirasakan oleh peternak yang baru beralih dari kandang konvensional ke kandang Closed House adalah kasus wabah penyakit relatif dapat ditekan. Sehingga dalam 1 (satu) periode pemeliharaan tingkat kematiannya hanya berkisar 1-2% saja. Sedangkan pada kandang konvensional tingkat kematiannya rata-rata selalu diatas 5%.

“Bayangkan jika populasi dalam kandang Closed House dengan kapasitas 21.000 ekor saja. maka jumlah ayam yang mati hanya sekitar 420 ekor dalam setiap panen (ini saja dihitung dengan tingkat mortalitas paling maksimal 2%). Secdangkan pada kandang konvensional, jumlah ayam yang mati hampir pasti diatas 1050 ekor. Bahkan jika mortalitas pada angka moderat (10%), maka berarti menembus angka 2.100 ekor”, jelas Dhanang.

Jumlah 2.100 ekor itu jika dikonversi ke nominal Rupiah, maka menurut Dhanang berarti peternak sudah kehilangan uang atau menderita kerugian sebanyak Rp. 94.500.000, (dengan catatan bobot ayam 1,8 kg/ekor dan asumsi harga ayam hidup Rp. 25.000/ekor).
Sebuah angka yang sangat besar dan bermakna, bahwa aplikasi kandang Closed House akan mampu menambah keuntungan yang sangat menggiurkan. Masih ada beberapa kelebihan dan keuntungan yang sangat menjanjikan dengan aplikasi Closed House pada budidaya ayam modern. Namun memang kendala utama adalah pada besarnya nilai investasi untuk kandang sistem tertutup ini.

Menurut Dhanang, nominal dana yang dibutuhkan untuk investasi khusus untuk kandang dan peralatan tanpa lahan / tanah dan listrik, berkisar Rp. 1,4 s/d 1,9 Milyar. Meski untuk investasi yang demikian besar itu, sejatinya menurut pakar Closed House Indonesia ini, bahwa jangka waktu untuk kembalinya modal (ROI, Return On Investment) hanya berkisar 2,5-3 tahun saja. Artinya setelah pada tahun ke-4 dan selanjutnya, peternak akan menikmati hasil yang cukup menggiurkan. Terlebih lagi pasar untuk daging ayam pada era perdagangan bebas regional ASEAN akan semakin terbuka.

Disamping itu pasar dalam negeri yang masih potensial untuk menyerap lebih banyak lagi oleh karena realitasnya standar nilai kecukupan gizi penduduk Indonesia masih terlalu jauh dari standar yang direkomendasikan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Aplikasi Closed House pada budidaya ayam di Indonesia akhirnya menjadi sebuah keharusan jika tak ingin dirangsek oleh gelontoran daging ayam dari Negara lain.

(Sumber : Infovet, Nov 2014)

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/closed-house-sebuah-tuntutan-memenangi-pasar-asean/