Sosialisasi Pengelolaan Usaha / Kegiatan Peternakan Berwawasan Lingkungan Hidup

Senin, 15 Juni 2015, bertempat di Aula Perpustakaan Kabupaten Bantul, dilaksanakan kegiatan Sosialisasi Pengelolaan Usaha / Kegiatan Peternakan Berwawasan Lingkungan.

Sosialisasi Pengelolaan Usaha / Kegiatan Peternakan Berwawasan Lingkungan Hidup

Sosialisasi Pengelolaan Usaha / Kegiatan Peternakan Berwawasan Lingkungan Hidup

Latar belakang dilaksanakannya kegiatan ini adalah banyaknya pengaduan terhadap usaha / kegiatan peternakan ayam di Kabupaten Bantul yang dilaporkan masyarakat terkait dugaan munculnya kebauan dan banyaknya lalat.

BLH Bantul berinisiatif mengumpulkan peternak ayam, untuk diberikan pengarahan tentang cara pengelolaan yang berwawasan lingkungan hidup, peternak yang diundang 100 orang, meliputi seluruh peternak ayam di Kabupaten Bantul, namun yang hadir dalam pelaksanaan sosialisasi kurang lebih 50 orang.

Acara Sosialisasi dibuka oleh Kepala BLH Bantul, yang diwakili oleh Bapak Sukamto, S.Pd, Kepala Bidang Penaatan Hukum dan Pengembangan Kapasitas. Narasumber adalah sebagai berikut : Ir. Priya Haryanta, M.MA, dari Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul, Yanatun Yunadiana, S.Si, M.Si dari Dinas Kesehatan Bantul, dan Dhanang Purwantoro, ST, Konsultan dan Peternak Ayam Kandang Tertutup.

Sosialisasi Pengelolaan Usaha / Kegiatan Peternakan Berwawasan Lingkungan Hidup

Sosialisasi Pengelolaan Usaha / Kegiatan Peternakan Berwawasan Lingkungan Hidup

Sosialisasi berjalan lancar dan disambut antusias oleh peternak ayam, pengelolaan kandang ayam yang selama ini masih tradisional dan menimbulkan dampak kebauan dan lalat perlu dikelola dengan baik dengan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produksi ternak, lebih ramah lingkungan, dan tidak berdampak pada masyarakat sekitarnya.

Pada kesempatan tersebut, Dhanang Purwantoro, ST selaku narasumber terakhir, telah berpengalaman membangun kandang ayam tertutup (Closed House) yang ramah lingkungan selama 14 tahun, sampai saat ini sudah 20 juta populasi ayam yang dibuatkan kandang tertutup (Closed House) oleh beliau, kandang tertutup merupakan teknologi yang ramah lingkungan, tidak menimbulkan bau dan lalat, angka kematian ayam 1 – 2 %, dan sangat menguntungkan, berdasarkan pengalaman sudah bisa balik modal antara 3,5 – 4 tahun. Populasi nasional saat ini 10-15 % telah menggunakan teknologi kandang tertutup atau Closed House, sehingga peluangnya masih sangat besar di Indonesia. Beliau adalah putra asli Bantul, peduli terhadap lingkungan hidup, tinggal di wilayah Banguntapan, pernah belajar khusus tentang kandang tertutup sampai ke Cina dan bersedia untuk membimbing peternak ayam di Bantul dengan penerapan teknologi ramah lingkungan untuk meningkatkan produksi ternak ayam di Bantul. Bisa dihubungi di nomor HP 082242979999 untuk konsultasi usaha peternakan ayam ramah lingkungan.

Sumber : Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Kabupaten Bantul

Advertisements

Pilah-Pilih Atap Untuk Ayam (bag 2)

Wahyu Pratomo, Direktur CV Intan Cahya, penyedia jasa konstruksi baja Closed House untuk unggas, turut memberi keterangan. Ia mengaku, beberapa waktu lalu tertarik menggunakan atap tersebut tetapi belakangan mundur dengan alasan harga. “Saya sekarang tengah membangun menambah Closed House di Kulon Progo (Yogyakarta – red) ukuran 12 x 126m. Kali ini saya ingin coba pakai atap itu, dikasih harga kisaran Rp. 500 juta. Wah, nggak jadi !“, ujar pria yang juga menyandang status peternak broiler dengan 3 Closed House berkapasitas total 125 ribu per siklus ini.

Wahyu percaya teknologi ini efektif mendukung terpenuhinya lingkungan ideal bagi hidup ayam dan mempermudah operasional Closed House. Ia yakin, teknologi ini akan semakin mendukung performa ayam, karena ayam lebih nyaman. Ditambahkan Dhanang, teknologi ini adalah cara mudah menurunkan suhu dalam kandang sehingga tenaga kandang dapat berkonsentrasi pada peralatan dan pekerjaan lain yang memberi dampak positif terdongkraknya performa ayam.

Menurut Wahyu ini sejatinya bukan teknologi baru. Penggunaan PU sudah banyak pada gedung atau bangunan lain. Lapisan insulasi banyak dimanfaatkan sebagai penahan suhu pada kamar pendingin agar tetap dingin. “Tapi pemanfaatan untuk kandang ayam masih baru“, ujar dia.

Sayangnya harga terlalu tinggi. Sebagai pembanding, dengan ukuran yang sama Wahyu hanya menghabiskan biaya sekitar Rp. 150 juta untuk atap plafon. Wahyu semula mengaku senang saat belakangan dipasarkan produk tersebut yang merupakan buatan dalam negeri. “Saya senang karena saya pikir dengan produk dalam negeri bisa lebih murah, ternyata ndak“, ucapnya bernada menyayangkan.

Wibowo tak menampik produknya 20-30% lebih mahal ketimbang atap konvensional. Tapi selain tampilan jauh lebih bagus, sandwich panel selama 20-30 tahun tidak akan rusak. Pelanggannya mengakui nilai lebih tersebut. “Murah, tapi 3 atau 4 tahun harus dibongkar ganti atap baru, itu jauh lebih tidak efisien“, ujarnya setengah berdalih.

Investasi atap sandwich panel untuk Closed House baik layer maupun broiler sama. Ia menyebut kisaran Rp. 600 juta untuk ukuran 10 x 120 m². Harga Rp. 150 ribu per m². “Kalau pakai atap biasa Rp. 110 – 115 ribu per m². Tapi insulasinya beda jauh, dan praktis tinggal pasang“, ucapnya promosi. Sehari, kata Wibowo, dapat terpasang 300 m² dengan pekerja 4 orang. Sementara atap konvensional paling banter 150 m², belum lagi insulasinya ribet.

Keluhan dana yang terbatas ditanggapi Wibowo dengan menyodorkan alternatif pilihan. “Bisa disesuaikan budgetnya. Yang penting secara fungsi dapat“, katanya. Ia memisalkan, opsi penggunaan jenis natural color dan bagian bawah paperfelt, ini mampu menekan harga sampai 20%. Jadi peternak masih ada pilihan. tetap dapat memiliki atap ideal.

Plafon Kurang Maksimal

Batal menggunakan atap PU, untuk calon kandang barunya Wahyu mengaku membuat modifikasi atap hasil kreasinya sendiri. Menggunakan beberapa bahan yang banyak ditemui di pasaran ia membuat atap berinsulasi. “Galvalume di 2 sisi, dengan insulasi di tengahnya memanfaatkan aluminium foil“, tuturnya rigid. Kalkulasi dia, ongkos yang dikeluarkan tidak lebih dan Rp. 250 juta. Dan ia yakin, kreasinya ini mampu memberikan fungsi atap yang ideal, menekan suhu dalam kandang.

Sebelumnya, dalam membangun Closed House, baik untuk sendiri maupun penyediaan bagi peternak lain, Wahyu masih menggunakan tipe atap dengan plafon. Dan ia mengakui, di iklim tropis dengan suhu yang fluktuatif, atap biasa memiliki kesulitan tersendiri dalam menurunkan suhu. Dia mencontohkan kandangnya yang di Losari dengan 3 lantai, performa ayam di lantai paling atas adalah yang terendah. “Artinya, di atas ini paling panas dan atap plafon tidak maksimal meredam panas paparan sinar matahari“, terangnya.

Selain itu, atap plafon membutuhkan biaya maintenance (perawatan). Kata Dhanang, untuk plafon berbahan terpal atau plastik menuntut renovasi di tahun ke-6, sementara plafon berbahan galvalume setelah 15 tahun harus diganti. Sedangkan atap golongan III tanpa plafon mampu bertahan selama kandang berdiri.

Wahyu menambahkan, tindakan sanitasi dengan semprotan bertekanan tinggi berpotensi menimbulkan kerusakan pada plafon. Belum lagi, apabila listrik padam. Dijelaskan Wahyu, saat listrik kembali menyala, otomatis semua blower menyala sehingga hembusan angin mendadak kencang dan memberikan tekanan menghentak pada plafon.

Perlu Kipas Banyak

Tapi Teddy punya analisa berbeda. Ia justru menyarankan perlunya mempertimbangkan biaya operasional yang harus dikeluarkan bila akan memilih kandang jenis A frime tanpa plafon untuk Closed House. Meski atap dengan bahan PU dapat menahan panas, kata dia, karena tanpa plafon maka udara di dalam kandang menjadi sangat besar. “Ini membutuhkan jumlah kipas yang lebih banyak untuk mengalirkan udara“, jelas Teddy. Otomatis, penggunaan listrik juga lebih besar. Ia membandingkan, perbedaan pemakaian jumlah kipas antara kandang berplafon dengan tanpa plafon sekitar 25%. Meskipun, ia mengimbuhkan, tergantung cuaca di masing-masing lokasi juga.

Teddy menilai yang paling ideal adalah menggunakan atap PU, dengan ditambah plafon juga. Walaupun investasi atau modal lebih banyak, tetapi metode ini efektif menurunkan suhu kandang. Disamping panas diredam atap, ruang kosoog antara atap dan plafon juga menghambat aliran panas ke dalam kandang sehingga lebih dingin. Nilai lebihnya, plafon juga memperkecil volume udara dalam kandang sehingga tidak menuntut penggunaan kipas yang banyak.

Masing-masing tipe punya plus minus, kata Teddy. Alternatif lain, menggunakan atap zincalume tanpa lapisan PU kemudian dibuat plafon. Bila merujuk pada penjelasan Dhanang, tipe ini adalah atap golongan I. Menurut Teddy, investasi tipe ini sama dengan atap beriapis PU tanpa plafon. Bedanya, yang pakai plafon biaya operasional harian lebih rendah karena menghemat kipas dan listrik.

Sebagai jalan keluar plafon yang mudah rusak, Teddy menyarankan untuk menggunakan zincalume sebagai bahan pembuatan plafon. Alih-alih plastik atau terpal. Teddy mengaku lebih memilih tipe atap dengan zincalume dengan drop ceiling (plafon). “Ditambahkan glass wool di atas plafon juga tidak apa-apa“, ujarnya. Investasinya juga lebih tegangkau, menurut dia.

Plafon untuk Broiler

Aneng Lim, Sales Manager PT Big Dutchman Agriculture Indonesia mengutarakan, tipe kandang dengan flat ceiling (plafon) cocok untuk broiler. Sebaliknya, tipe ini tidak pas untuk layer karena tekanannya terlalu besar bagi kandang layer yang menggunakan cages (kandang individual). Sependapat dengan Teddy, Lim mengatakan untuk broiler yang terbaik adalah menggunakan atap berinsulasi PU dan ditambah plafon.

Atap Closed House paling sederhana, dijelaskan Lim, tipe A sudah menggunakan insulasi dengan tulang rangka yang masih terlihat sehingga aliran udara menemui banyak rintangan yang berakibat terjadi turbelensi. Solusinya, ditutup dengan lapisan metal dengan ketebalan lebih tipis ketimbang metal di bagian atas. “Bisa ditambahkan glass wool atau tidak“, katanya.

Tipe berikutnya menggunakan flat ceiling, dan tipe ketiga menurut Lim menggunahan PU panel atau kadang disebut juga dengan sandwich panel. PU diakuinya mahal, alternatif pilihan adalah galvanis, tetapi perlu plafon dan glass wool yang diletakkan di plafon sebagai insulasi. Dan dibandingkan penggunaan glass wool, PU lebih rapi.

Pihaknya menyediakan kebutuhan galvanis dengan spesifikasi ketebalan 275 gr/m², sementara ukuran panjang tergantung permintaan pelanggan. Tetapi, kata Lim lagi, lebar lebih dari 12m kontraktor akan kesulitan karena panjang besi per 6m. “Di Indonesia ukuran standar kandang 12 x 120m“, sebut dia.

Untuk PU, tersedia di pasaran panjang 6-12m. Lebih dari itu, kata Lim lagi, akan kesulitan loadingnya. PU sedang marak. Menurut dia PU aman, tidak beracun karena lapisannya tertutup. “Untuk satu kandang kira-kira dibutuhkan 315 lembar“, imbuh dia.

Sirkulasi dan Turbulensi

Ayam sebagai makhluk hidup bermetabolisme dan melepaskan panas tubuh. Panas tubuh, bersama gas ammonia akan naik ke atas mengisi ruangan dalam Closed House. “Udara inilah yang harus dikeluarkan“, terang Teddy. Aliran udara yang baik akan menghasilkan sirkulasi atau ventilasi ideal dalam kandang, sehingga sejuk dan nyaman bagi ayam.

Konstruksi plafon sangat menentukan nilai aliran udara di dalam kandang. Teddy memberi catatan penting untuk model plafon yang flat (datar) berpenampang melintang berbentuk kotak dengan sudut-sudut lancip. Tipe ini menghasilkan turbelensi aliran udara karena saling bertabrakan. Sedangkan untuk model plafon yang curve, artinya ujung-ujungnya berupa lengkungan, aliran udara lebih lancar. “Turbelensi ini tidak disukai ayam“, katanya. Dan kalau turbelensi itu sangat kuat maka akan ada bagian tempat yang kosong udara dan titik tersebut akan dijauhi ayam. Idealnya, udara mengalir lembut dan rata.

Untuk tinggi antara atap dengan plafon, menurut Teddy tidak ada angka ideal. Ruang kosong ini menjadi pendingin alami. Untuk menambah peredam panas, bisa dipakai glass wool yang ditempel pada plafon. “Dan biasanya tikus tidak suka glass wool. Selain itu, baiknya plafon dilapisi plastik agar tidak ada bocor“, pesan Teddy.

Teddy memberikan keterangan tambahan, dudukan atap jarak antara satu dengan lainnya 3-6m. Banyaknya kolom dudukan kandang sangat tergantung panjang kandang. Panjang kandang rata-rata 120m. Untuk kemiringan atap, ada hitungan tersendiri. “Kita paling sering memakai 8-11 derajat“, sebutnya. Kemiringan ditentukan variabel berapa banyak bahan atap yang akan digunakan, dan aliran air. Atap yang terlalu landai, air akan lambat mengalir sehingga membebani atap tersebut.

Kalkulasi investasi total kandang dengan ukuran standar 12 x 120m, menurut Teddy berkisar Rp. 1,2 – 1,3 M. “Kalau komplit dengan peralatan menghabiskan Rp. 2 M“, sebutnya. Dan atap, katanya, menelan 50-60% dari total biaya. Diakuinya, pembangunan Closed House mahal di atap.

Sumber : Trobos, September 2013

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/pilah-pilih-atap-untuk-kandang-ayam-ii/

Pilah-Pilih Atap Untuk Ayam (bag 1)

Atap sandwich panel dengan insulasi PU dipercaya mampu meredam suhu dalam Closed House, membantu memberikan lingkungan ideal bagi hidup ayam. Tetapi harga mahal banyak dikeluhkan, sebagian lagi masih memilih atap plafon.

Gagasan penyediaan Closed House (kandang tertutup) untuk unggas, ditujukan dengan maksud menyediakan lingkungan yang ideal bagi hidup ayam secara kontinu. Ayam terhindar dari cekaman cuaca ekstrem di luar dan nyaman berada di dalamnya, sehingga akan memberikan feed back berupa performa yang optimal sesuai potensi genetik. Dan ujungnya, peternak pemilik akan dapat meraup untung yang sepadan dari usahanya budidaya ayam, baik itu broiler (ayam pedaging) maupun layer (ayam petelur).

Closed House mensyaratkan terpenuhinya parameter-parameter standar tertentu untuk dapat disebut mampu menyediakan lingkungan sesuai kebutuhan ideal hidup ayam. Area Manager of East Indonesia PT Sierad Industries, Dhanang Purwantoro menyebut parameter vital yang ideal dalam kabin Closed House antara lain suhu 27-28°C, kelembaban di kisaran 70% dan kecepatan aliran udara 2,5 m/detik.

Dan atap, menjadi komponen krusial yang berkontribusi dalam pencapaian parameter-paramater tersebut sehingga sebuah kandang layak menyandang nama Closed House. Terutama perannya dalam mengendalikan suhu dan terciptanya sirkulasi udara atau ventilasi yang baik, dan kedua tersebut akan menentukan tingkat kelembaban dalam kandang.

Sejauh pengalamannya sekian lama dan sekian banyak melayani pembangunan Closed House bagi peternak broiler maupun layer. Dhanang Purwantoro mengelompokkan atap menjadi 3 golongan berdasarkan bahan yang dipakai. Ia memaparkan, golongan pertama adalah atap yang terbuat dari 1 lapis jenis bahan, misalnya seng, galvalume (material berbahan logam baja) atau asbes saja. Golongan dua, berupa atap berbahan seng atau galvalume yang berlapis insulasi sederhana. Dan lapisan insulasi dapat menggunakan aluminium foil, glasswool, atau expanded polystyrene (EPS), sejenis bahan yang umum dikenal dengan styrofoam.

Sementara golongan ketiga, Dhanang menyebut istilah atap galvalume insulated. Tipe ini tebal dan padat, berupa lapisan kompleks yang memanfaatkan EPS dan polyurethane (PU) sebagai bahan insulasi.

Lebih lanjut Dhanang menjelaskan, untuk tipe atap golongan I dan II mensyaratkan beberapa kelengkapan. Pertama, tipe tersebut menuntut desain konstruksi yang kuat. Kedua, harus didukung desain sirkulasi udara yang bagus. “Supaya tercapai sirkulasi yang baik maka perlu tambahan cone di bagian atas kandang, atau penambahan kipas, atau dibuat adanya udara alami dari samping“, papar dia.

Yang ketiga, tipe ini perlu tambahan sprinkle (semprotan) air di atap. Selain itu, atap golongan I dan II menuntut mutlak adanya plafon karena aliran panas sebagian besar masih mampu menerabas tembus atap. Ruang kosong antara atap dan plafon merupakan penghambat aliran panas yang menjadikan kabin di bawahnya lebih dingin.

Dikatakan Dhanang, fokus utama fungsi atap adalah membendung panas dari atas, meredam paparan sinar matahari. Dan atap golongan III mampu membendung panas dari atas dengan maksimal sehingga suhu dalam Closed House dapat turun signifikan. “Jadi jenis ini pilihan ideal“, katanya. Dhanang menyebut atap berbahan insulasi EPS dan PU ini, tanpa perlu plafon dipercaya dapat menurunkan suhu 3-5°C, dalam kabin Closed House.

Polyurethane Insulation

Praktisi perunggasan Teddy Chandra punya penjelasan sendiri. Ia mengatakan. saat ini kandang terutama Closed House arahnya menggunakan zincalume sebagai atap karena lebih mudah pemasangannya dan struktur lebih ringan. “Seperti yang banyak digunakan untuk bangunan gudang“, kata dia. Teddy menjelaskan, zincalume adalah lapisan plat yang dilapisi dengan zinc dan sering disebut metal seed. Terbuat dari zinc dan alumunium, zinc dapat menahan panas dan menyerap panas tapi tidak dalam jumlah besar karena ada alumuniumnya.

Dalam aplikasinya, lanjut Teddy, kandang dengan atap zincalume ada 2 tipe. Pertama, kandang tanpa plafon atau diistilahkan dengan A frime (konstruksi menyerupai huruf A), dan kedua adalah kandang dengan plafon yang diistilahkan dengan ceiling.

Pada kandang A frime, atap berfungsi sekaligus sebagai plafon. Ini menjadikan volume udara pada kandang tipe ini lebih besar ketimbang kandang dengan plafon. “Atap kandang A frime biasanya menggunakan bahan PU, bentuk luarnya bergelombang dengan lapisan tengah diberi PU”, terang Teddy.

Kondisi cuaca sekarang yang makin panas, tambah Teddy, menjadikan PU dipilih untuk fungsi meredam panas. Kalau zincalume hanya sedikit menahan panas. sedangkan PU mampu memblokir panas jauh lebih besar.

PU berupa bahan kimia seperti styrofoam yang disuntikan di antara lapisan metal, menjadi keras sehingga mudah dipasang tinggal dirakit. Densitas atau kepadatannya lebih rapat daripada styrofoam. Penggunaan PU mengadopsi metode pembuatan cooling room (ruang pendingin). PU dapat menahan suhu sehingga ruangan dalam pendingin tetap dingin. Artinya bisa juga menahan panas.

Yang belum banyak orang pahami, Teddy memberi catatan, material PU sebagai penahan panas tidak sebaik penggunaan sebagai penahan dingin. “Semakin dingin suhu, PU makin kuat“, ujarnya. Tetapi untuk suhu panas, di titik tertentu PU akan rusak. Sehingga sebagai penahan panas umur penggunaannya (life time) lebih pendek ketimbang sebagai penahan dingin. “Untuk cooling room PU bisa bertahan selamanya, tapi untuk panas lama-lama akan rusak seperti krupuk kena air, jadi gembos atau mengempis“, papar Teddy.

Penggunaan PU yang mulai rusak ditandai dengan kandang yang memanas. PU yang rusak akan menipis dan terbentuk rongga-rongga seperti kawah.

Teddy menambahkan catatan, bagaimanapun PU bahan kimia dan bersifat toksik. Terlebih bila terbakar. “Asapnya aja mematikan, tidak boleh terhirup“, Teddy mewanti-wanti. Tetapi, tidak ada bahan seperti PU yang lebih aman. Untuk itu kandang Closed House mutlak menuntut keamanan karena menggunakan material yang mudah terbakar dan sangat berbahaya jika terbakar.

Sandwich Panel Roof

PT Mitra Manunggal Selaras (MMS), adalah produsen atap berbahan zincalume sebagai lapisan metal di kedua sisi (atas dan bawah) dan PU sebagai insulasi di tengahnya. Direktur PT MMS, FX Triagus S Wibowo mengatakan, produknya ini banyak dikenal dengan sandwich panel roof. “Sekarang lagi tren rangka baja ringan dengan atap sandwich panel atau sering disebut panel roof“, ujar dia.

PT MMS sampai hari ini merupakan satu-satunya produsen dalam negeri untuk atap tipe sandwich. Penyebutan sandwich, karena bentuknya berlapis. Lapisan terluar terbuat dan metal, tengah ada insulasi yang berguna sebagai peredam suara dan peredam panas, dan lapisan bawah metal lagi.

Struktur ini kata Wibowo, lebih efisien daripada struktur konvensional yang menggunakan atap metal dengan insulasi berupa glass wool atau alumunium foil. Dan bahan-bahan tersebut bersifat toksik atau beracun tidak baik untuk kesehatan ayam.

Aplikasi sandwich panel, lanjut dia, menyesuaikan ukuran Closed House yang diinginkan peternak. “Roofing by design“, ujar Wibowo mantap. Ukuran berapapun pihaknya dapat membuat “Tanpa sambungan, tanpa ada space. Efisiensi, itu yang kami tawarkan“, tambah dia. Ketebalan atap produk ini 2,5 cm dengan density (kepadatan) 40 kg/m³, diyakini mampu meredam panas secara efektif, memberikan suhu nyaman bagi ayam dalam kandang.

Wibowo mengklaim, efisiensi bisa mencapai 15-20%. Di siang hari saat suhu di luar mencapai 40°C, di dalam kandang bisa 36-34°C. Sebaliknya, di malam hari dengan fan dan ventilasi yang berjalan baik, suhu dalam kandang tetap hangat meski di luar dingin. Ini karena udara dingin luar tidak mampu menembus atap.

Mahal

Alasan biaya menjadi pertimbangan tersendiri bagi peternak untuk menggunakan PU atau yang menurut Dhanang masuk golongan III. “Harganya sangat tinggi”, kata Dhanang. Ia menambahkan, di lingkungan internal Sierad Group atap jenis ini baru digunakan pada peternakan breeding (pembibitan), untuk komersil belum ada yang menggunakan.

Bersambung (Pilah-Pilih Atap Untuk Ayam (bag 2))
Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/pilah-pilih-atap-untuk-kandang-ayam-i/

Closed House Ideal

Kandang Closed House secara harfiah adalah kandang tertutup. Tetapi, tidak sekadar itu saja. Kandang Closed House dibuat sedemikian rupa sehingga lingkungan di dalam kandang optimum untuk pertumbuhan ayam.

Menurut Boedi Poerwanto, Deputy Poultry Director PT. Sierad Produce, modifikasi kandang adalah penting dan bertujuan menyelamatkan peternak. Aplikasi teknologi ini membuat ayam dan lingkungan nyaman. Apalagi cuaca semakin ekstrim dan lahan peternakan semakin bersaing dengan pemukiman.

Namun yang terpenting dari modifikasi kandang adalah proses menuju Closed House. “Ya, seperti investasi setahap demi setahap menuju Closed House yang sesungguhnya“, katanya. Dengan kalkulasinya, Boedi yakin modifikasi kandang yang di dalamnya ada sentuhan teknologi dapat menurunkan biaya produksi dan meningkatkan keuntungan. Modifikasi kandang, lanjut Boedi, setahap demi setahap mengarah ke Full Closed House. Meski demikian, peternak cenderung melihat nominal investasi yang besar, ketimbang hasil yang akan diperoleh.

Boedi menerangkan, komponen penting yang harus dimodifikasi dan diberi sentuhan teknologi, adalah sistem ventilasi. Sebab ventilasi dapat memengaruhi tingkat kepadatan ayam dalam kandang. Ventilasi harus dibuat sedemikian rupa, agar stress panas dapat dicegah.

Boedi menegaskan, tujuan utama sistem ventilasi adalah memberikan kenyamanan pada ayam yang dipelihara. Ventilasi tidak selalu bisa memberikan kenyamanan. Apakah ventilasi bisa menyediakan suhu tertentu secara konstan dalam 24 jam? Nyatanya tidak setiap saat ada hembusan angin. Bila ada, kecepatan angin belum tentu sesuai. Ini akan berpengaruh pada suhu dan kelembaban dalam kandang. “Memenuhi zona nyaman ayam adalah prioritas, sementara sistem pemberian pakan dan air minum adalah pelengkap“, ujarnya.

Closed House adalah kandang tertutup, tetapi tidak sekadar itu. Banyak hal-hal penting yang harus diperhatikan agar Closed House berjalan dengan maksimal. Boedi mengatakan, sejak mengenal closed house tahun 1997-an, banyak hal yang ia perhalikan.

Masih banyak yang beranggapan bahwa kadang terbuka lalu ditutup sudah dikatakan Closed House. Padahal tidak sekadar itu. Kadangkala, tempat yang sudah tidak digunakan, bahkan gudang dijadikan kandang untuk ayam. Akhirnya lebar dan panjang kandang tidak sesuai dengan semestinya“, ujar Boedi. 12m x 120m sudah barang tentu melalui penelitian yang membutuhkan waktu yang cukup lama. Namun, peternak di Indonesia sendiri mengharapkan kandang yang bisa melebihi itu. “Memang ada efisiensi di sini, tetapi bagaimana dengan kecepatan angin di dalam kandang ?. Semakin lebar, luas penampangnya semakin luas, ini berarti membutuhkan kipas yang banyak. Namun, dengan semakin lebar, tidak menjamin kecepatan angin sama, justru semakin tidak baik. tidak rata“, akunya.

Terlebih, kelembaban pada Closed House harus mencapal 55%, sementara kelembaban di Indonesia lebih dari itu. Sehingga muncul ide minimum ventilation, bagaimana udara panas dan kelembaban bisa lebih cepat keluar. Dari sisi temperatur, apalagi tidak menggunakan cooling pad, panas tidak akan bisa turun. Tetapi, menggunakan cooling pad juga tidak menjamin aman, karena harus tahu cara-caranya. Ujung-ujungnya semua kembali kepada manusianya. Pegawai maupun anak kandang harus dididik. Kebanyakan kegagalan, umumnya karena mempunyai SDM yang tidak paham.

Menurutnya, Closed House diperlukan di Indonesia. Masalah yang sering dihadapi mitra-mitra peternak dengan kandang terbuka adalah mati angin, bahkan ada yang membangun kandang di tengah sawah. Padahal di tengah sawah pun tidak menjamin angin akan terus ada. Saat ini eranya Closed House, namun Closed House yang benar.

Sementara itu, Parlindungan Siahaan, Area Head Production PT. Multi Sarana Pakanindo mengungkapkan bahwa pada dasarnya kandang Closed House adalah kandang yang dibuat sedemikian rupa sehingga lingkungan di dalam kandang optimum untuk pertumbuhan ayam. Caranya adalah dengan meningkatkan ventilasi sehingga memberikan kenyamanan kepada ayam dengan sendirinya density atau kepadatan bisa bertambah, kesehatan ayam lebih baik, dan lingkungan juga menjadi tidak terganggu.

Terdapat liga tipe Closed House dilihat dari arah pergerakan udara di dalam kandang yaitu tipe tunnel, cross, dan transisi. Tipe tunnel merupakan tipe Closed House yang paling banyak digunakan di Indonesia“, terang Parlindungan. Secara sederhana tipe tunnel digambarkan sebagai suatu sistem di mana udara yang masuk melalui inlet di bagian depan kandang ditarik ke belakang dengan bantuan kipas. Tipe tunnel sendiri masih dibedakan menjadi dua yaitu tipe tunnel yang menggunakan cooling pad atau biasa juga disebut sistem Full Closed House dan tipe tunnel yang tidak menggunakan cooling pad atau sering disebut Semi Closed House. Umumnya, sambungnya, kandang Closed House yang tidak menggunakan cooling pad adalah kandang yang dimodifikasi dari kandang open karena terkadang terkendala pada konstruksi bangunannya. Cooling pad sendiri sebenarnya jarang digunakan di Indonesia, terutama di daerah dingin seperti Bogor karena cooling pad membuat kelembaban dalam kandang tinggi. Tetapi di daerah yang kelembabannya tidak terlalu tinggi seperti daerah Pantura dianjurkan untuk menggunakan cooling pad. Selain itu, cooling pad juga harganya mahal, sehingga terkadang peternak memllih untuk tidak menggunakan cooling pad untuk menghemat biaya. “Tetapi idealnya harus ada, sehingga saat dibutuhkan bisa langsung digunakan“, ujarnya.

Tipe yang paling ideal untuk kandang Closed House adalah kombinasi tipe cross dan tunnel. Menurut Slamet Muryo, Poultry Integration West Java PT. Multi Sarana Pakanindo, tipe cross digunakan saat brooding, sedangkan tipe tunnel digunakan saat ayam sudah besar. Tipe cross digunakan pada saat brooding bertujuan untuk menghindarkan ayam kecil terkena angin langsung dan menjaga kualitas oksigen yang masuk ke kandang. Seiring dengan pertumbuhan ayam, kecepatan angin dengan menggunakan tipe cross kurang sehingga beralihlah ke tipe tunnel. Untuk tipe transisi biasanya banyak digunakan di Eropa yang merupakan daerah dingin, untuk daerah tropis lebih cocok digunakan tipe cross yang dikombinasikan dengan tipe tunnel.

Sementara untuk peralatan di dalam kandang yang dibutuhkan oleh sebuah antara lain kipas, alat pengatur suhu, cooling pad (optional), pemanas untuk brooding, bisa gasolek atau heater. “Untuk Closed House temperaturnya adalah temperatur ruangan, karena heater diletakkan di ujung berlawanan dengan kipas sehingga udara panas ditarik oleh kipas jadi bisa menyebar ke seluruh kandang. Kalau gasolek cenderung spot-spot tertentu saja“, akunya. Selain itu, lanjutnya, heater sistemnya otomatis sehingga bisa lebih menghemat penggunaan gas. Dengan gas gasolek 1 tabung gas 50 kg hanya untuk 1000 ekor, sedangkan dengan heater 1 tabung gas 50 kg bisa untuk 2500 ekor. Selain itu diperlukan juga tirai yang rapat dan lampu yang benar-benar uniform. Kalau tempat pakan masih bisa digunakan yang manual, tetapi kalau tempat minum harus nipple. Ini untuk menghindari air tumpah sehingga litter menjadi basah dan membuat kelembaban di dalam kandang menjadi tinggi. “Tetapi yang full automatic lebih menguntungkan. karena hambatan udara di dalam kandang berkurang dibandingkan dengan memakai tempat pakan dan minum manual. Sehingga kerja kipas bisa lebih efisien. Anak kandang juga bisa bekerja dengan lebih nyaman, ayamnya juga tidak terganggu. dan biosekuritinya juga lebih terjaga. Performa ayam yang dicapai dikandang Closed House rata-rata mortalitas ≤ 3%, FCR ± 1.5, IP diatas 300“, ungkapnya.

Slamet mengatakan, standar kandang Closed House sendiri biasanya menggunakan populasi 20.000 ekor, dengan ukuran kandang lebar 12 meter dan panjang 120 meter, dengan arah sebaiknya tetap timur-barat Hal ini dikarenakan walaupun kandang sudah tertutup, panas matahari tetap akan berpengaruh ke dalam kandang. Untuk jumlah kipas disesuaikan dengan ukuran kandang dan ukuran panen ayam. Ukuran panen 1,6-1,7 kg, 7 kipas cukup, tapi kalau 1,8-2 kg harus 8 buah. Sementara itu lebar inlet untuk masuknya udara harus disesuaikan dengan jumlah kipas dan ukuran kandang. Jika ukuran lebar kandang adalah 12 meter dengan tinggi kandang 2,2 meter, maka lebar inletnya adalah 26,4 m² dengan jumlah kipas 7 buah.

Untuk kandang modifikasi dari Open ke Closed biaya yang ditambahkan jauh lebih efisien dibandingkan dengan membuat kandang baru. Tetapi kandang Open yang mau dimodifikasi menjadi kandang Closed jangan melupakan masalah konstruksi bangunan. “Konstruksi harus kuat karena setelah diubah jadi Closed semua lubang ventilasi ditutup sehingga jika ada hantaman angin dari sisi kandang, angin tidak bisa lewat sehingga jika konstruksi tidak kuat kandang bisa rubuh“, terang Adisak.

Pembangunan kandang Closed House baru dengan ukuran standar 12 x 120 meter lengkap dengan peralatannya menghabiskan dana kurang lebih 1,7-2 miliar rupiah. Sedangkan untuk modifikasi tergantung equipment yg digunakan. Kalau konstruksinya besi kandang bisa tahan sampai 20 tahun, sedangkan jika menggunakan kayu yang kualitasnya baik bisa sampai 15 tahun. “Dengan besaran Investasi ini dengan perkiraan harga ayam normal maka diperkirakan BEP akan tercapai dalam waktu kurang lebih tiga tahun. Sementara untuk efisiensi biaya menurut Adisak dengan menggunakan kandang Closed House bisa menghemat biaya hingga Rp. 500/ekor dibandingkan dengan kandang open“, tambahnya.

Closed House Terbesar

Di Pare, Kediri Jawa Timur terdapat Closed House berukuran kandang 16 m x 126 m (2.015 m² ), tiga lantai. Closed House ini secara nasional berskala terbesar untuk kandang ayam pedaging dan terbaik dengan kontruksi baja. Kapasitasnya, untuk satu kandang mencapai 80-90 ribu ekor. Jadi Closed House terbesar dan terbaik nasional sekarang posisinya dipegang Jawa Timur.

Demikian yang dikatakan, Dhanang yang bertemu pula dengan PI di Indo Livestock Expo & Forum 2013 di Nusa Bali belum lama ini. Sementara, katanya, Closed House terbesar yang berada di Jawa Tengah berukuran 24 m x 74 m (1.800 m²), berlantai tiga. Sedangkan untuk di Jawa Barat yakni di Cirebon, berukuran 16 m x 105 m (1.680 m²), juga berlantai tiga.

Pada Indo Livestock 2013, cerita Dhanang, perusahaannya mengundang pelanggan Closed House. Salah satu pelanggannya mempunyai kandang 18 m x 70 m (1.260 m²), dan saat pameran itu pelanggan tersebut menambah lagi ukuran 12 m x 120 m (1.440 m²). Desain kandang yang digunakan di mana lantai satu tanpa sekam, sementara lantai dua menggunakan sekam. “Kandang tanpa sekam sudah full automatic termasuk pengambilan kotorannya. Jadi, kita memang selalu menciptakan inovasi baru untuk kemajuan bidang peternakan nasional“, ungkapnya.

Menurut Dhanang, kebanyakan orang berpikir bahwa Closed House hanya berukuran 12 m x 120 m saja. Selama ini, dia mengaku selalu menyarankan untuk tidak tanggung-tanggung karena tujuannya untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

PI pernah menjumpai peternakan kandang tertutup di daerah Sugiyo, Lamongan, Jawa Timur, yang temyata merupakan pelanggan Dhanang juga. Dikonfirmasi kepada Dhanang mengenai jenis Closed House ini, dia mengatakan, di sini kalau membicarakan Closed House harus diperjelas dulu, ada Closed House yang sudah menganut sistem otomatis dan ada yang belum. Kedua jenis ini berbeda, di mana yang otomatis hasilnya benar-benar bisa maksimal.

Ada peternakan yang semi Closed House mengaku Closed House. Oleh sebab itu mengenai jenis ini, harus benar-benar jeli. Dhanang menangani Closed House yang full automatic. “Jika bicara Closed House, harus benar-benar diidentifikasi apakah sistemnya bahkan sampai ke dalamnya, karena meskipun sama-sama Closed House perbedaannya sangat besar“, akunya.

Kaitannya jelas dengan produksi. Dhanang mengatakan ini sudah diarahkan agar peternak betul-betul dapat mencapai hasil maksimal dengan investasi yang mungkin hanya selisih 25% lebih mahal, tetapi hasilnya jauh lebih maksimal, dan sangat berbeda.

Perbedaan dengan kompetitor, menurutnya perusahaannya tidak hanya menjual alat tetapi pelanggan juga dididik. Bila peternak mau membuat kandang Closed House, kita didik dulu. Tenaga kerja kandang pun dididik dan diturunkan di kandang yang sudah ada, termasuk di situ ada alih teknologi.

Sebisa mungkin, anak kandang diberikan teknologi Closed House, termasuk sistem cara kerja alat. Dengan demikian, transfer ilmu dan teknologi ke anak kandang atau bagian teknik bisa masuk. Sehingga, kalaupun ada masalah, mereka harus mengatasinya terlebih dahulu“, ujarnya. Dan karena kandang kita banyak. ianjutnya, kita tidak bisa langsung turun setiap ada masalah. Maka dari itu, transfer ilmu dan teknologi ke anak kandang penting. Bila mereka tidak bisa mengatasinya, baru menghubungi kita.

Tidak hanya masalah alat, sparepart pun kita selalu siap. Baginya, bisnis Closed House Sierad bukan hanya alat, kontruksinya pun punya rekanan. Hal ini bertujuan, agar pelanggan tidak pusing, mau membuat kandang tiga lantai dalam waktu 3-4 bulan dapat dilakukan. Pilihan kontruksi baja misalnya, mau pilih yang mana, yang menurut klien paling cocok dengan karakter peternakannya.

Kandang Tanpa Sekam

Kandang tanpa sekam, hampir mirip dengan yang diterapkan pada breeding farm. Alas kandang menggunakan slot, dengan pengeruk kotoran otomatis, sehingga ayam tidak akan terkontak langsung dengan kotoran. “Keuntungan lainnya, lebih hemat biaya, karena peternak tidak perlu belanja sekam“, katanya.

Kotoran ini akan bernilai ekonomi lebih tinggi karena mumi tanpa tercampur sekam. “Kita sudah menyiapkan pabrikasi yang menerima kotoran untuk produksi pupuk organik. Seperti kotoran ayam petelur, murni tanpa sekam. Selain itu, kita punya sistem baru lagi, misalnya digunakan GRV seperti tripleks yang tipis untuk lantai kandang. Kita ingin memberikan sesuatu yang mudah, cepat dan gampang untuk form karena investasi klien tidak sedikit. Dari pengalaman kita sebelumnya kalau peternak mengerjakan kandang sendiri bisa 8-9 bulan baru selesai. Dengan rekanan kita, mau mendirikan kandang 90 ribu ekor dalam 3-4 bulan selesai“, ungkapnya.

Menurutnya, satu kemajuan bahwa klien berinvestasl besar akan secepatnya mendapat hasil. “Jika mereka denqan cara lain, 9 bulan baru selesai, menggunakan uang pinjaman dari bank, segala macam tingkat kerugiannya bisa sangat tinggi. Maka dari itu. kita berusaha memberikan yang terbaik dan tercepat“, tegasnya.

Semua tak lepas dari dukungan pimpinan. “Pimpinan support penuh dengan ide kami, dengan apa yang kami lakukan pada ternak membuat ini lebih cepat. Bayangkan kalau pimpinan tidak support. Bahkan ini juga memperlambat”, pungkas Dhanang kepada PI.

Sumber : Trobos, Agustus 2013

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/closed-house-ideal/

Beruntung Dengan Closed House (bag 2)

Adit dan lainnya sudah membuktikan bahwa bisnis perunggasan dengan Closed House memberikan keuntungan yang menggiurkan. Oleh karenanya, Adit tengah membangun Closed House baru di sebelah selatan Closed House lama.
Trio Plasma Sierad pun tak mau ketinggalan, mereka merencanakan untuk membangun Closed House baru. Sumiyana yang visinya membangun desa bahkan berencana akan menjual beberapa ekor sapinya yang dipiara sejak 2003 untuk membangun kandang keduanya.

Lain halnya dengan Yanuar Adhie Wibhowo yang seorang akuntan dan istrinya Yulia Fatiantini yang memulai membangun kandang ayam pada September 2012 lalu di Desa Candali, Kemang, Bogor. Berawal dari ingin coba-coba beternak ayam karena sepertinya cukup menguntungkan. Ia turun langsung dalam proses pembangunan kandang yang dirancang dua lantai dengan konstruksi Closed House dengan panjang 120 meter lebar 12 meter. “Dari awal kami memang ingin beternak dengan sistem yang lebih modern yaitu dengan kandang tertutup atau Closed House“, ujar Yanuar. Namun, lanjutnya, untuk peralatan belum digunakan Full Automotic karena kami masih ingin memberdayakan tenaga kerja warga sekitar. Jadi, baru air minum saja yang memakai nipple otomatis sedangkan tempat pakan masih manual serta untuk sirkulasi udara ditambah 7 buah kipas (fan).

Total tenaga kerja yang digunakan 4 orang, lebih banyak dari yang Full Automatic yang biasanya hanya 2 orang. Kandang yang digunakan baru lantai bawah dengan populasi 20.000 ekor, tetapi lantai atas dalam waktu dekat sudah bisa digunakan karena tinggal penambahan alat-alat saja. Ia mengaku untuk pembangunan kandang saja menghabiskan dana hampir Rp. 1 miliar belum termasuk pembelian peralatan sekitar Rp. 50 juta. “Biaya pembangunan kandang ini agak sedikit lebih mahal, karena kontruksinya memang disiapkan untuk 2 lantai“, jelas Yanuar.

Yanuar yang menjadi plasma dari sebuah perusahaan inti itu, kini masuk ke periode ke enam pemeliharaan. Pada periode pertama hasilnya hanya bisa menutupi biaya operasional, karena semua masalah terjadi saat itu. “Kami semua awam dalam beternak, ya saya juga pegawai kandang. Ayam terkena serangan penyakit CRD serta dihadapkan pula pada berbagai kendala non teknis seperti genset yang tidak menyala. Akibatnya kematian cukup tinggi saat itu. Tapi semuanya itu tidak membuat kami patah semangat justru menjadi pembelajaran untuk antisipasi di masa datang“, terang Yanuar. Pada periode kedua, sambungnya, mulai terasa nikmatnya beternak karena hasilnya menguntungkan, bagai bumi dan langit dibandingkan periode pertama. Kualitas SDM pun ditingkatkan, yang tidak serius kami ganti.

Beternak dengan sistem Closed House pada dasarnya hampir sama dengan kandang terbuka. Juga untuk program kesehatannya dengan menerapkan program kesehatan standar termasuk biosekuriti. Vitamin diberikan 3 kali selama masa pemeliharaan. Sedangkan vaksinasi sudah tidak lagi karena DOC sudah divaksin ND dan IBD dari hatchery, kecuali ada kasus tertentu baru di revak kembali.

Setelah panen kotoran dan sekam diangkat semua, kemudian kandang dicuci dengan deterjen, pakai obat anti frengki, kasih formalin, kemudian istirahatkan kandang selama 1 minggu. Setelah itu bisa diisi sekam lagi dan diformalin kembali. Tak lupa lingkungan kandang selalu dijaga kebersihannya dan rumput dipotong.

Penerapan biosekuriti yang cukup baik ini membuat Puri Handaru Farm pernah mendapatkan penghargaan dalam lomba biosekuriti yang diadakan oleh sebuah institusi.

Lebih lanjut Yanuar mengatakan bahwa beternak dengan sistem Closed House nyatanya lebih mudah dan menguntungkan asalkan dipelihara dengan aturan yang dianjurkan sehingga ayam menjadi nyaman sehingga produktivitas atau performa akan tercapai. Sistem Closed House menjadi pilihan untuk situasi iklim dan temperatur Indonesia yang cukup ekstrim.

Saat ini performa ternak Puri Handaru Farm cukup baik yaitu dengan kepadatan 1:14 kematiannya di bawah 4 persen, FCR terendah 1,3, IP tertinggi 383 di berat 1.98 dengan umur panen terakhir 34 hari. “Dengan FCR 1,48 saja atau dengan bobot 1,82 kg keuntungan per ekor Rp. 5000 atau Rp. 3500 setelah dipotong berbagai biaya operasional“, jelas Yanuar.

Namun keuntungan Rp. 5000 per ekor ini masih bisa dioptimalkan lagi dengan perbaikan manajemen budidaya terus menerus, kualitas sapronak yang lebih baik serta yang tak kalah penting adalah manajemen panen yang tepat waktu. “Karena pada sistem Closed House jika telat panen biaya lainnya jauh meningkat. Tidak hanya biaya pakan bertambah tetapi juga biaya listrik karena harus menggerakkan peralatan listrik di kandang seperti kipas. Jika manajemen panen mendukung, beternak dengan kandang tertutup akan jauh lebih menguntungkan dari kandang terbuka“, tuturnya.

Ia memperkirakan akan balik modal pada periode 12-14 atau dalam masa 2 tahun. Dengan catatan harus diisi dua lantai, jika tetap satu lantai akan memerlukan waktu lebih lama lagi. “Saya sedang mempersiapkan perijinan untuk bisa berkembang menjadi dua lantai. Semoga dalam waktu dekat bisa terwujud“, harap Yanuar optimis.

Ditambahkan pula oleh Huang, kandang percontohan yang berukuran 10 x 76 m dengan kapasitas 10.000 ekor ini hanya membutuhkan tenaga kerja satu orang. Prinsipnya, berapa kilogram pakan yang diberikan, berapa kilogram telur yang dihasilkan. Agar ini berjalan dengan baik, diperlukan teknologi yang baik pula. “Feeding trovel merupakan alat pembagi pakan yang dapat memberikan kemudahan bagi peternak. Pakan yang diberikan tidak tercecer, anak kandang pun tidak terlalu capek, karena alat ini dikontrol langsung. Sehingga anak kandang bisa mengerjakan pekerjaan yang lain. Waktu yang dibutuhkan alat pembagi pakan ini tidak lebih dari 8 menit. Memang sangat efisien“, aku Huang. Selain itu, tambahnya, proses panen telur dapat dimodifikasi dengan adanya lori (kereta dorong) di dalam kandang. Dengan adanya lori, aktivitas mengambil telur dapat dilakukan runtut dan lebih cepat.

Lebih lanjut Huang mengatakan, hal yang perlu diperhatikan membangun kandang tertutup pada layer adalah saat memasang nipple (tempat minum). Lantai yang rata adalah syarat utama agar nipple dapat bekerja dengan baik. Lantai yang bergelombang akan menyebabkan tekanan dalam pipa nipple berbeda, efeknya air minum akan tidak lancar. “Selain itu, lantai yang tidak rata juga memengaruhi ketepatan memasang baterai. Tempat minum sudah cukup otomatis dan sudah teruji. Anak kandang tidak perlu membersihkan setiap hari. Di sini juga kami menggunakan sistem flushing, yang dapat meminimalisir kotoran yang ada di air minum“, tuturnya.

Industri perunggasan, Huang menambahkan, saat ini sudah berkembang sangat pesat. Peternak pun mulai menyadari akan kebutuhan teknologi yang modern tersebut. Inilah yang menjadi alasan untuk kami terus mengembangkan usaha kami. “Lebih efisien, hemat tenaga kerja, produksi yang baik dan merata, adalah tujuan kami. Dan ini pun yang diinginkan peternak“, aku Huang.

Biaya yang dikeluarkan untuk produk-produknya pun terjangkau. Huang mengatakan untuk Closed House biaya yang dibutuhkan tergantung panjangnya kandang, semakin panjang maka semakin murah, karena kebutuhannya tetap. Untuk kandang yang panjang, biaya yang dibutuhkan sebesar Rp. 35.000/ekor, dan untuk kandang yang pendek biaya yang dibutuhkan sebesar Rp. 43.000/ekor, yaitu untuk kandang baterai, tempat minum, tempat makan berupa plat, rangka, dan alat pembagi pakan.

Lighting yang digunakan pun disesuaikan dengan kebutuhan. Menurut Huang, gelombang cahaya bisa mempengaruhi ayam dari warna lampu yang digunakan. Ada 3 efek dari gelombang cahaya yang mempengaruhi sifat ayam yakni kanibalisme, cabut bulu, dan banyak makan. Dan lampu yang digunakan pada kandang percontohan ini adalah untuk mengurangi kanibalisme.

Sumber : Trobos, Agustus 2013

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/beruntung-dengan-kandang-closed-house-bagian-2/

Beruntung Dengan Closed House (bag 1)

Industri perunggasan saat ini sudah berkembang sangat pesat. Peternak pun mulai menyadari akan kebutuhan teknologi yang modern. Kandang Closed House dipilih karena memberikan keuntungan lebih bagi mereka.

Negara Indonesia masih potensial untuk pengembangan Closed House ayam ras mengingat konsumsi masyarakat yang kian tumbuh. Sierad Produce, Tbk. sebagai salah satu perusahaan integrator perunggasan sigap melihat peluang di depan mata. Menurut Dhanang Purwantoro ST, Area Manager East Indonesia PT. Sierad Industries, dua tahun ini Sierad gencar membangun Closed House di seluruh Indonesia, terutama di Jawa, baik internal form maupun kemitraan, baik breeding farm maupun commercial farm. Internal farm banyak di daerah Jawa Barat. Sierad merupakan leader di bisnis unggas Closed House ini. Berbicara proporsi Open House dan Closed House, Dhanang mengatakan bahwa angka nasional peternak pemakai Closed House baru sekitar 10%. Sedangkan dalam konteks Sierad, dikatakan A. Junaidi, S.Pt, selaku Head Region Kemitraan Sierad Produce Jawa Tengah-DIY yang diiyakan oleh drh. Hery Budi Karyono selaku Business Unit Head Commercial Farm Indonesia PT. Sierad Produce, mitra (plasma) Sierad ada sekitar 34% yang sudah menerapkan teknologi Closed House.

Hery mengungkapkan bahwa Closed House optimal pada wilayah dengan ketinggian 200-400 mdpl. “Kalau open house searah angin, sedangkan Closed House searah sinar matahari“. Alih teknologi Closed House diberikan melalui pelatihan bagi anak kandang di kandang mitra Sierad di bilangan Losari, Magelang milik Wahyu Pratomo yang sudah menggunakan CCTV untuk memantau anak kandang. Ada semacam ujian sehingga pihak Sierad dapat memutuskan layak tidaknya anak kandang untuk operasionalisasi Closed House.

Keunggulan Closed House di antaranya umur pemeliharaan lebih pendek, kepadatan (density) lebih padat, mengurangi bau amoniak dan populasi lalat yang pada Open House sering berbenturan dengan masyarakat, kejadian penyakit minim, kecuali terjadi kecerobohan dalam pemeliharaan alias faktor manusia, seperti tidak disiplin dalam biosekuriti, malas, dan lain-lain. Density 20 ekor per m² dipraktekkan di Jawa Barat karena konsumen menerima bobot ayam 0,8-1 kg. Sedangkan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, density pada angka 15 ekor per m² karena ayam kecil tidak laku, justru yang laku ayam besar.

Adalah Adityo Wibowo, pemilik bisnis bernama Mandiri Agro Sejahtera asal Gombong, Kebumen, Jawa Tengah yang melirik peluang Closed House ayam ras pedaging bermitra dengan Sierad karena dipicu oleh menurunnya bisnis pupuk organik yang dilakoninya. “Closed House dua lantai ini Desember jadi, akhir Januari 2012 chick in pertama“, aku lulusan Fakultas Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada ini ketika ditemui PI di farm-nya di bilangan Bukateja, Purbalingga, Jawa Tengah (5/7).

Dikatakan Adit, sapaan akrabnya, kandang Closed House full otomatic itu simple, praktis, mengurangi bau amoniak, dan tidak hanya piara ayam, tetapi diperlukan manajemen orang untuk operasional serta mortalitas hanya sekira 2-3%. Pada awal-awal pemeliharaan, Closed House milik Adit diisi ayam dengan kepadatan 13,5 ekor per m². “Tiga periode ini density sudah 15,7 ekor per m²“, ujarnya.

Kami kongsi berlima dengan populasi 21 ribu ekor selama 7 periode awal“, aku pemilik Closed House dua lantai berukuran 9m x 95m yang berada, di Hargorejo, Kokap, Kulon Progo, DIY ini. Lamanya bertahan di angka 21 ribu ekor itu karena biaya banyak tersedot untuk membangun fasilitas yang memadai di sekitar farm, seperti jalan dan penembokan tanggul sungai karena berbatasan dengan kandang. Bahkan warga sekitar kandang sempat protes karena terganggu dengan bau amoniak dari blower yang mengarah ke permukiman warga. Akhirnya ditemukan solusi membuat cerobong pembuangan amoniak mengarah ke atas.

Pada kesempatan itu pula PI bertemu dengan Trio Plasma Sierad yakni Prof. Dr. Sumiyana, M.Si. selaku Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM, Aldila Putra Satria Jaya selaku pemilik Firma Ayam Sejahtera, dan Wahyu Pratomo selaku pengusaha konstruktor. Diungkapkan Sumiyana, ia melirik bisnis ayam broiler dengan Closed House karena Sumiyana melihat potensi yang besar pada bisnis perunggasan. “Negara belum memenuhi kebutuhan daging (bagi rakyatnya, red). Bisnis ayam broiler masih feasible dan return positif“, tegasnya.

Aldila Putra Satria Jaya mengatakan bisnis ayam sangat prospek. Diungkapkan bahwa periode pemeliharaan selanjutnya kepadatan menjadi 22 ribu, kemudian sampai dengan periode ke-13 kepadatannya sudah 25 ribu ekor. Closed House membutuhkan lima buah pompa air dan setiap lantai terdapat 110 lampu. Selama pemeliharaan, Aldila mengganti bola lampu setiap 4 bulan dan lima buah pompa air. Closed House membutuhkan 3-4 anak kandang setiap lantainya. Perlu tambahan 4-5 orang ketika DOC datang, pelebaran sekat, dan panen.

Sementara itu, menurut Wahyu Pratomo, konstruksi baja konvensional (standar) mampu bertahan hingga 30 tahun, karena sangat minim bersentuhan zat kimia dan air serta kotoran ayam. Sedangkan kalau dengan konstruksi kayu, hanya dapat bertahan kurang dari 5 tahun. Nilai investasi Closed House dengan konstruksi full baja standar beserta kelengkapan equipment-nya sekitar Rp. 60.000 per ekor. Lantai kandang diberi alas terpal, sehingga kotoran menempel di terpal. Ketika selesai memanen ayam, anak kandang tinggal menarik terpal. “Closed House optimal pada daerah dengan kelembaban rendah, seperti di Kulon Progo contohnya“, ungkap pemilik Closed House tiga lantai berukuran 16m x 106m mitra Sierad di losari, Magelang, Jawa Tengah berkapasitas 75 ribu ekor ini.

Pengalaman Peternak Closed House

Menurut Sumiyana, balik modal Closed House miliknya ditaksir tidak sampai dua tahun dengan memanfaatkan modal alias full hutang dari perbankan dengan bunga kredit 11%, atau bunga kredit flat 6,25%. Dhanang mengungkapkan, Sierad terus melakukan inovasi, salah satunya tengah membangun Closed House full automatic tanpa sekam di Jawa Timur sehingga kotoran dapat segera dikeluarkan dari dalam kandang dengan mesin. Sementara Closed House milik Adit dan kawan-kawan masih menggunakan sekam, sehingga ketika ada kotoran yang menggumpal segera diambil, kemudian dilapisi sekam baru. Mengenai sapronak tidak ada permasalahan yang berarti, karena Closed House dapat disetel sesuai keinginan kita. Ayam pun merasakan kenyamanan di dalam Closed House, karena kesehatan ayam terkait dengan suplai oksigen yang sudah standar, sehingga mortalitas kecil. Rata-rata mortalitas ayam strain Cobb yang digunakan Sierad pada Closed House hanya sekitar 1%. Dalam setahun, peternak bisa memelihara ayam broiler sebanyak 7.5 sampai 8 kali. “IP tertinggi pada angka 398. Secara umum, IP mitra kita pada kisaran 350-398“, akunya.

Bersambung (Beruntung Dengan Closed House (bag 2))

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/beruntung-dengan-closed-house-bag-1/