Problematika Penyakit Ayam Pedaging

Banyak ayam pedaging punya masalah target panen tidak tercapai, selalu ada ayam kecil namun bukan kerdil. Penyakit yang banyak muncul adalah penyakit lama, namun gejalanya terkamuflase oleh infeksi sekunder sehingga penyebabnya sulit dipastikan. Beberapa kasus ayam yang sudah divaksin secara in ovo itu tidak kebal menerima tantangan virus lapangan. Mengapa dan bagaimana mengatasi semua problem ini ?

Sebagai dosen dan peneliti Laboratorium Patologi FKH IPB Bogor, Drh Hernomoadi Huminto MS banyak menerima sampel kiriman peternak untuk diperiksa secara laboratorium. Dari sampel ayam dengan berbagai gejala penyakit dan kelainan, yang sering diterima adalah ayam yang mempunyai masalah target panen tidak tercapai. Pada kondisi ayam pedaging sampel itu, ungkap Dr Her (panggilan akrabnya), “Selalu ada ayam kecil namun bukan kerdil”. Dengan otoritasnya sebagai dokter hewan pakar penyakit perunggasan, Drh Hernomoadi pun menganalisa masalah yang dijumpai pada peternakan dan ternak ayam pedaging ini. Menurutnya, banyaknya ayam kecil yang bukan kerdil ini, “Mungkin karena faktor manajemen”, ujarnya.

Lalu Dr Her pun menguraikan hal-hal lain yang sangat mungkin berpengaruh. Di antaranya adalah pakan. “Pakan mungkin berpengaruh”, ucapnya. Demikian pula dengan bahan bakar yang sangat dibutuhkan untuk pemanasan dan operasional kandang. Saat ini, “Bahan bakar sulit dan mahal”, katanya. Padahal bahan bakar ini sangat penting untuk menjadi sumber penghangat tubuh ayam terutama pada masa pengindukan atau pemanasan buatan alias brooding.

Masalah pemanas buatan untuk ayam itu ditengarai menjadi titik kritis pemeliharaan ayam yang akan berpengaruh selamanya pada kehidupan ayam di masa selanjutnya. Pengaruh harga bahan bakar yang mahal ini sangat dirasakan terutama oleh peternak kecil. Karena harganya yang mahal, banyak peternak yang memakai sumber panas alternatif. “Sekarang banyak peternak yang kembali memakai arang, lantaran harga minyak tanah yang mahal”, tulur Drh Hernomoadi.

Pembahan sumber panas juga berpengaruh pada konsistensi dan pengaturan panas yang juga terkait dengan ketekunan peternak. Jangan dianggap enteng, pengaturan pemanas yang tidak sesuai standar pada gilirannya nanti akan, “Berpengaruh pada panen ayam pedaging”, ungkap Dr Her. Tak mengherankan di masa panen muncul berat badan ayam pedaging yang di bawah standar dengan penampilan ayam yang kecil tadi.

Jangan dianggap enteng pula, dengan kondisi ayam yang kurang bagus pemeliharaannya lantaran berbagai faktor, sangat mungkin muncul penyakit-penyakit di peternakan ayam. Mungkin banyak faktor yang sudah dipenuhi, namun celah apapun dapat menjadi jalan masuknya bibit penyakit ayam yang ‘melahirkan’ penyakit pada ternak ayam pedaging.

Terkamuflasenya Penyakit Lama

Menurut Drh Hernomoadi Huminto MS, penyakit yang banyak muncul pada peternakan ayam pedaging adalah penyakit lama. Penyakit lama itu antara lain adalah CRD (Chonic Respiratory Disease), dengan kondisi pendukung utama adalah biosecurity yang kurang. Selain itu, lanjutnya, “Masih sering terjadi serangan penyakit Gumboro (IBD, Infectious Bursal Disease) yang ditandai dengan bursa fabrisius menjadi kecil”.

Sayangnya, tidaklah mudah menentukan diagnosa suatu penyakit di lapangan sehingga banyak peternak yang membutuhkan kepastian pendiagnosaan penyakit di laboratorium-laboratorium yang berkompeten seperti halnya Laboratorium Patologi FKH IPB yang dikepalai oleh Dr Her.

Gejala-gejala yang didapatkan pada penyakit-penyakit yang muncul di peternakan ayam pedaging umumnya terkamuflase oleh infeksi sekunder. Akibatnya untuk menilai kondisi serangan penyakit, penyebabnya akan sulit dipastikan”, tambah Dr Her.

Pasangan dari Drh Lies Parede MSc PhD dengan dikaruniai dua putra ini pun mengutarakan beberapa kemungkinan yang dapat menjadi penyebab adanya kamuflase penyakit oleh infeksi sekunder tersebut. Dia mengutarakan penyebab ini dengan melontarkan pertanyaan, “Apakah karena vaksinasi yang tidak tepat ? Misalnya penggunaan vaksin intermediate atau vaksin hot, apakah sudah tepat ?

Dan inilah yang ditengarai oleh Drh Hernomoadi sebagai hal yang paling kurang diperhatikan secara seksama oleh peternak. Yaitu, soal peneraan antibodi induk (maternal antibody). Banyak peternak yang menerapkan vaksinasi tanpa memperhatikan besar antibodi induk. Padahal, dalam vaksinasi, “Seharusnya peternak tahu berapa maternal antibodi ayam yang hendak divaksin, sehingga vaksinasi dapat tepat”, ujar Dr Her.

Lebih-lebih pada peternakan kecil, pakar kesehatan unggas ini menilai banyak peternakan yang menerapkan vaksinasi dengan patokan tidak tepat. Umumnya peternak melakukan program vaksinasi hanya berdasar perhitungan hari. Misalnya pada hari ke 10, 11 atau 12 melakukan vaksinasi tertentu. Hanya berdasar perhitungan hari tanpa mengindahkan perhitungan antibodi maternal, sangat masuk akal vaksinasi, “Kadang-kadang tidak tepat dan gagal”, ungkap Drh Hernomoadi.

Adapun dari pengamatannya terhadap perilaku peternak terhadap ternak ayam pedagingnya dalam operasional peternakan, beberapa kali dijumpai peternak membeli DOC sudah divaksinasi secara in ovo di hatchery atau masa penetasan. Harga dari DOC yang demikian lebih mahal daripada harga DOC yang tidak divaksin in ovo.

Harapan dari perlakukan pemberian vaksinasi in ovo itu memang ayam sudah punya kekebalan sehingga siap diternakkan dengan kondisi baik guna hasil yang terbaik pula. Namun, menurut pengamatan dan pengalaman Drh Hernomoadi Huminto MS, beberapa kasus yang masuk di Laboratorium Patologi FKH IPB, ayam yang sudah divaksin secara in ovo itu tidak kebal menerima tantangan virus lapangan.

Beberapa kasus lain yang dijumpai adalah AI (Avian Influenza, Flu Burung) dan ND (New Castle Disease atau Tetelo). Pada ayam yang kelihatannya dipelihara hingga mencapai bobot 2 kilogram atau lebih, Drh Her menyarankan harus direvaksinasi lagi. Berdasar penelitian, pengalaman dan pengamatannya terhadap ayam yang tidak kebal terhadap tantangan virus lapangan meski sudah divaksin in ovo, Drh Hernomoadi Huminto MS berkesimpulan, guna hasil terbaik pemeliharaan ayam pedaging, “Tidak bisa mengandalkan vaksinasi in ovo saja”, pungkasnya.

Sumber :

Advertisements

Berhasil Di Pemeliharaan Ayam Pedaging Dengan Strategi 4-4-3

Empat kunci sukses yang dimaksud adalah indikator bagi indeks prestasi pemeliharaan ayam pedaging yang baik yaitu bila angka konversi pakan (FCR) rendah, berat badan bagus, umur panen pendek, dan kematian kecil. Sementara 4 elemen strategis itu adalah bibit DOC (Day Old Chicken) yang baik, pola manajemen yang terukur dan teratur, pola pakan yang baik, dan program medikasi yang produktif. Ditambah lagi perhatian ekstra untuk 3 fase kritis kehidupan broiler yaitu fase saat ayam umur 0-12 hari, 12-21 hari dan 21 hari sampai panen.

Demikian diungkapkan Aria Bimateja SPt, Sales Supervisor PT Sierad Produce Area Pare, Kediri, Jawa Timur saat ditemui Infovet disela customer gathering Sierad di Blitar.

Menurut Bima, demikian ia akrab disapa, kunci utama kesuksesan peternakan ayam pedaging ditunjukkan oleh kesuksesan di Indeks Prestasi atau Indeks Penampilan (Index Performance, IP). IP yang baik ini ditunjukkan oleh 4 indikator sebagai tolok ukur kesuksesan. 4 indikator bagi IP yang baik adalah bila angka konversi pakan (Feed Conversion Ratio, FCR) rendah, berat badan bagus, umur panen pendek, dan kematian kecil.

Bagaimana mencapai 4 hal indikator itu semua secara baik ? Dibutuhkan 4 elemen strategis”, ujar pria kelahiran 15 Desember 1980 ini.

Menurutnya 4 elemen yang strategis itu adalah bibit DOC (Day Old Chicken) yang baik, pola manajemen yang terukur dan teratur, pola pakan yang baik, dan program medikasi yang produktif.

Bima menambahkan, bibit DOC yang baik harus memenuhi berat badan standar ayam pedaging, lincah, gesit, terhindar dari kasus-kasus ompalitis, dan angka kematiannya kecil. Sedangkan pola manajemen yang terukur dan teratur harus memenuhi kaidah-kaidah tertentu. Kaidah-kaidah itu adalah konstruksi kandang yang sesuai di mana ventilasi nyaman, kepadatan ruang tidak boleh terlalu padat di mana 1 meter persegi kandang untuk 8 (delapan) ekor ayam untuk yang kandang terbuka, dan biosecurity.

Selanjutnya menurut alumnus Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (Fapet IPB) ini, program pakan yang baik adalah pakan menggunakan pakan-pakan unggulan dengan kualitas yang baik. Kandungan pakan spesifik dan tepat sesuai kebutuhan ayam dalam masa pre starter, starter dan finisher.

Adapun, “Medikasi yang produktif adalah meliputi vaksinasi, pengobatan, dan semprot kandang dengan desinfektan”, kata Aria.

3 Fase Kritis

Aria Bimateja SPt pun membagi masa hidup ayam pedaging dalam 3 fase. Fase pertama adalah fase saat ayam umur 0 hari sampai umur 12 hari. Fase ini disebut dengan nama fase hiperflasia atau sel tubuh mengalami perbanyakan atau pertambahan jumlah melalui pembelahan sel pertumbuhan.

Fase yang kedua adalah fase saat ayam umur 12-21 hari. Fase ini disebut dengan nama fase hiperflasia dan hipertropi, di mana selain bertumbuh ayam juga mulai mengalami pembesaran dan pendewasaan tubuh.

Fase ketiga adalah fase ketika umur ayam lebih dari 21 hari sampai masa panen. Fase ini disebut fase hipertropi, di mana ayam tidak lagi tumbuh namun hanya mengalami masa pembesaran dan pendewasaan tubuh sampai siap untuk dipanen.

Semua masa dalam fase-fase ini menurut Aria Bimateja kondisinya adalah kritis. Dalam kata lain dalam pemeliharaan ayam pedaging menurutnya adalah, “Semua masa kritis”, katanya seraya menegaskan masa kritis ini sejak ayam umur 0 hari sampai umur panen.

Ia juga menjelaskan tahap-tahap hidup ayam pedaging itu sebagai makhluk hidup. Pada mula kehidupannya, komponen hidup dari ayam pedaging itu belum sempurna atau belum ada semua, 48 kromosom belum lengkap. Sampai pada saatnya dengan tahapan hiperflasia semua kromosom itu lengkap jumlahnya sebanyak 48 kromosom. Selanjutnya pada fase hipertropi, 48 kromosom itu diperbesar.

Di masa pertumbuhan atau perbanyakan sel tadi, “Fase hiperflasia bila tidak optimal akan mengganggu pertumbuhan berikutnya”, ujar Aria Bimateja. Jika pertumbuhan pada periode ini terganggu, dapat dipastikan berpengaruh terhadap pertumbuhan selanjutnya di mana terjadi pertumbuhan hipertropia atau pembesaran atau pendewasaan sel tersebut.

Pada giliran berikutnya bila pertumbuhan tersebut tidak maksimal maka profit atau keuntungan peternak berkurang karena ayam kecil-kecil, berat badannya tidak sesuai dengan berat badan standar. Pertumbuhan sel tubuh memang tercermin pada pertambahan bobot badan.

Mengingat penting dan kritisnya semua masa, Bima memberi penekanan agar peternak memperhatikan kondisi ayam pedaging pada awal kehidupannya lantaran kondisi ayam pedaging pada masa ini sangat menentukan masa-masa berikutnya.

Pada periode ‘brooding’ atau masa pemanasan pengindukan buatan, pertumbuhan berlangsung sangat cepat dengan FCR yang sangat rendah. Saat ini hampir semua ransum yang dikonsumsi memang dialokasikan untuk pertumbuhan, sehingga bobot badan pada akhir minggu pertama mencapai 4 kali bobot badan awal DOC.

Sangat beralasan bila kemudian Bima mengatakan, “Pemeliharaan ayam pedaging dari A-Z yang paling penting di masa brooding atau masa pemanasan pengindukan buatan”. Dengan kondisi pemanasan pengindukan buatan ini dibuat seolah-olah sesuai dengan kondisi yang diberikan induk, Bima menegaskan kondisi yang rawan di sekitar 2 minggu pertama.

Selanjutnya setelah melewati masa pemanasan pengindukan buatan, lepas dari masa ini hasil penampilan ayam masuk kategori baik. Namun demikian masa setelah lepas pemanasan pengindukan buatan ini, masih penting bagi peternak untuk mengantisipasi kasus-kasus penyakit yang bersifat imunosupresif atau menekan kekebalan tubuh dan menghambat petumbuhan daging.

Penyakit-penyakit tersebut yang sering muncul berupa penyakit pernapasan, CRD, Koriza, CRD kompleks dan kasus-kasus yang menyerang pencernaan berupa enteritis alias infeksi usus halus. Dan, Aria Bimateja SPt memberi jaminan bila 4 elemen strategis tersebut dipenuhi secara disiplin, niscaya masalah penyakit ini dapat dieliminir, tertanggulangi dan dicegah. Dan lebih dari itu, 4 kunci sukses pemeliharaan ayam pedaging dapat dipenuhi guna produksi terbaik.

Modernisasi Demi Efisiensi dan Produksi

Tuntutan efisiensi dan produktifitas tinggi, Closed House dipercaya jadi solusi

Dengan pertumbuhan ekonomi 6,7% di 2011, industri perunggasan di Indonesia diprediksi akan terus bertumbuh. Di 2012 ini, Asosiasi Produsen Pakan Indonesia (GPMT) mengestimasi konsumsi pakan ternak akan mencapai angka 12,3 juta ton, tumbuh 9,8% dari tahun lalu.

Dari angka produksi tersebut, 98% adalah pakan unggas dengan rincian 45% broiler (ayam pedaging), 44% layer (ayam petelur), 9% breeder (ayam pembibit). Sementara angka dari Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) produksi DOC (anak ayam umur sehari) broiler pada 2012 diestimasi mencapai 1.961.000.000 ekor, dan DOC layer 83.113.000 ekor. Jumlah DOC broiler meningkat 18% dari angka 2011, sementara jumlah DOC layer tidak ada kenaikan karena ada gangguan produksi di breeder 5-10 %.

Meski tumbuh positif, industri perunggasan tanah air dinilai masih lemah dalam hal efisiensi dan daya saing. Ini diutarakan dengan nada pengakuan oleh Sudirman, Ketua GPMT. Di sebuah diskusi perunggasan di Kementerian Pertanian, ia mengatakan industri perunggasan Indonesia harus mendongkrak efisiensi dan daya saing. Salah satunya dengan modernisasi dari hulu hingga ke hilir. Mengadopsi teknologi adalah salah satu kunci utama meraih target efisiensi. Dan di hulu, pilihan Closed House (kandang tertutup) menjadi keniscayaan sebagai bentuk modernisasi demi efisiensi untuk memenuhi tuntutan pasar, memenangi persaingan, dan menyiasati tekanan perubahan iklim.

Sudirman mengamati, sejak 5 tahun terakhir, tren investasi Closed House tumbuh dengan sangat cepat. “Ini menggembirakan, banyak sekali peternak yang membangun Closed House atau mengkonversi kandangnya menjadi kandang yang lebih modern”, katanya.

A Nirwan, General Manager PT Gemilang Citra Indo, produsen peralatan dan kandang unggas menyampaikan keterangan serupa. Meski breeding masih mendominasi jumlah kandang bertipe Closed House, kata Nirwan, 5 tahun belakangan pertumbuhan investasi Closed House untuk peternakan broiler komersial tumbuh signifikan. Ia menyebut, wilayah Jawa Timur dan Jawa Barat adalah yang terbanyak. Sinyalemen lain positifnya pertumbuhan Closed House di Indonesia, menurut dia adalah berdatangannya produsen peralatan dan kandang asal China dan Taiwan.

Dimintai analisisnya, pakar agribisnis perunggasan Arief Daryanto mengistilahkan, industri perunggasan tengah mengalami “Expansionary Mode On” atau masa perkembangan dan perluasan. Arief menyebut data, ”Di 2011 Charoen Pokphand meningkatkan kapasitas DOC sebesar 18%, Japfa 16%, Malindo 21%, dan Sierad 38%“. Dengan penambahan kapasitas DOC sebesar itu, simpul Arief, bisa dihitung berapa banyak kebutuhan Closed House.

Apa yang diungkapkan Arief sejalan dengan data Nirwan. “Tahun lalu permintaan membangun full Closed House atau sekadar modifikasi sedang tinggi-tingginya. Di 2011, pertumbuhan penjualan kami lebih dari 5“, ungkapnya. Di 2012, Nirwan memprediksi tingkat investasi Closed House akan lebih bagus dibanding 2011. “Trennya bagus, apalagi rupiah menguat“, ujarnya optimis.

Investasi Closed House di Level Peternak

Salah satunya, adalah kandang broiler komersial milik Wahyu Pratomo peternak mitra binaan PT Sierad Produce (Sierad) yang berlokasi di Losari, Jawa Tengah. Closed House berlantai 3 dengan ukuran 16m x 106m ini mampu dimuati hampir 70 ribu ekor broiler, dan sudah chick-in (masuk DOC/anak ayam umur sehari) perdana Juni 2012 lalu. Closed House di Losari ini merupakan kandang ke-3 milik Wahyu dengan menganut sistem full automatic (serba otomatis sepenuhnya).

Kepada TROBOS Wahyu mengaku, kali ini ia menggelontorkan dana tak kurang dari Rp. 4 miliar. Biaya kandang dan peralatan disebut Rp. 55 ribu per ekor, di luar lahan. Dan ia melengkapi kandang dengan 8 kamera CCTV (TV pengawas jarak jauh) di bagian dalam dan luar kandang, serta menggunakan baby chick (tempat pakan DOC) yang harganya 2 kali lipat wadah pakan konvensional, dengan alasan efisiensi. Sementara untuk Closed House pertama plus ke-2 di Purworejo yang berkapasitas total 44 ribu ekor, nilai investasi keduanya hampir Rp. 2 miliar.

Dhanang Purwantoro, Sales Area Manager PT Sierad Industries, mengklaim kandang broiler komersial milik Wahyu di Losari itu adalah yang pertama di Indonesia dengan sistem serba otomatis dan dipantau menggunakan CCTV. “Di mana pun pemilik bisa mengontrol kandangnya”, ungkap Dhanang. Recording (pencatatan) performa budidaya dibuat online. Bisa diakses oleh pemilik kandang, tim kemitraan Sierad, teknisi kandang dari PT Sierad Industries, dan pihak manajemen pusat Sierad. “Sepanjang ada akses internet, pihak-pihak itu bisa memantau“, timpalnya.

Di Purbalingga, Adityo Wibowo, juga peternak broiler mitra binaan Sierad, tak kalah ambisius. Bangunan lama berupa gudang disulap jadi Closed House bersistem serba otomatis. Berukuran 18m x 62m, 2 lantai, dan berkapasitas 30 ribu ekor. Bila ditotal, peternak muda ini telah merogoh kocek Rp. 900 juta untuk modifikasi itu.

Sementara itu, Tri Hardiyanto Ketua Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) mengakui, investasi Closed House yang serba otomatis dan canggih di anggotanya masih sangat sedikit. “Ada, tapi tak banyak“, ujar Tri. Tapi ia berkilah, ini bukan berarti peternak Gopan tidak melek teknologi perkandangan modern. “Kami lebih ke arah investasi tepat guna. Setingkat demi setingkat dalam menerapkan teknologi modern yang ada. Sebagai contoh, memberi sentuhan teknologi menggunakan blower (kipas) pada Open House (kandang terbuka) atau modifikasi ke Closed House tanpa cooling pad“, beber dia. Pasalnya, imbuhnya, selain modal, Closed House mutlak diiringi cara berpikir yang modern.

Di peternakan layer komersial, teknologi Closed House juga diserap oleh Eko Yudi Purwanto. Eko adalah pengelola peternakan Rossa Farm yang berlokasi di Srengat, Blitar, Jawa Timur. Jarak antar kandang satu dengan kandang berikutnya dalam satu peternakan dan dengan peternakan lain demikian rapat memaksa Eko me-modern-kan kandang-kandang layernya. Meski belum full Closed House, Eko mengadopsi prinsip-prinsip Closed House, dan secara bertahap ia mengaplikasikan teknologi demi efisiensi dan kenyamanan ayam-ayamnya. Di kandangnya Eko mengadopsi tipe tunnel (seperti terowongan) untuk memastikan sirkulasi udara yang baik.

Closed House di Level Korporasi

Sementara di Jawa Barat, setahun lalu, PT QL Trimitra yang didukung QL Resources Berhad, korporasi asal Malaysia menanamkan dana miliaran rupiah untuk Closed House ayam petelur komersial. Semua peralatan dan sistemnya serba otomatis dan canggih. Pengambilan telur dan pembuangan feses pun sudah menggunakan conveyor. Cecep Mochamad Wahyudin yang Pimpinan PT QL Trimitra menginformasikan, populasi layer komersial perusahaannya 1,6 juta ekor dengan produksi telur per hari 15 ton.

Di korporasi besar, Closed House tampak seperti satu paket, di level breeding dan begitu pula di level company farm yang memelihara broiler atau layer komersial. Sebagai contoh PT Ciomas Adi Satwa (Ciomas). Informasi Imam Wahyudi, Senior Vice President Head of Broiler Division Ciomas, sekitar 90% company farm Ciomas sudah menggunakan Closed House meski tipenya berbeda-beda di tiap daerah, mulai dari semi Closed House hingga Full Closed House.

Begitu juga dengan Sierad. “Pasti, Level On-Farm (budidaya) Sierad semuanya sudah difasilitasi Closed House”, tutur Sudirman FX yang juga direktur Sierad. Sedangkan kemitraannya, di Jawa Tengah saja, info Dhanang, tahun ini 20%-nya menggunakan Closed House. Bahkan untuk menggenjot konversi kandang ke Closed House bagi mitranya di seluruh Indonesia, Sierad Industries menggandeng perusahaan China yang bisa membuat Closed House dengan dana terjangkau.

Efisiensi atau Mati

Menurut Sudirman, yang tidak efisien pasti mati. Sebab proses evolusi dan struktur biaya produksi terus berubah dari tahun ke tahun. “Jadi perubahan pola pemeliharaan unggas dari konvensional ke semi-modern dan modern adalah tuntutan efisiensi, bukan gaya hidup”, tuturnya.

Wahyu bahkan berpendapat, peternak yang tidak mau mengarah ke Closed House secara alami akan tergilas. Hukum bisnisnya, yang tidak mau berubah akan tersingkir. Sebab “pertempuran” saat ini dan ke depan ada di efisiensi. Dan Closed House memberikan jaminan efisiensi. Dari kepadatan populasi saja, Closed House mampu lebih efisien. Kandang open maksimal di angka 10 ekor/m², sementara kandang tertutup mampu 15 ekor/m². Belum penghematan lainnya, dari pakan, periode siklus, sampai kesehatan ayam. “Cepat atau lambat dan tidak bisa tidak ke depan peternak akan memilih Closed House. Catatannya, teknologi tinggi ini perlu dibarengi cara berpikir dan manajemen yang baik”, katanya.

Aneng Lim yang Sales Manager PT Big Dutchman Agriculture Indonesia sependapat bahwa Closed House menjanjikan efisiensi. Bahkan kata Aneng, Closed House dengan menggunakan tipe cage akan jauh lebih efisien. “Pada broiler, kepadatan kandang bisa 3,5 kali lipat dari tipe litter. Panen 2 hari lebih awal. Kesehatan terjaga, sehingga produksi pun lebih optimal”, ungkapnya. Jadi, pesan Aneng, industri perunggasan Indonesia jangan terus tertinggal. Investasi di Closed House adalah salah satu siasat untuk mengejar ketertinggalan dari negara lain.

Eko pun satu suara tentang efisiensi yang diberikan Closed House. Dengan Closed House, Eko mendapatkan efisiensi pakan yang lebih baik. “Selain itu produktivitas tinggi, kematian dan deplesi rendah, dan berat badan saat afkir bagus. Intinya dengan Closed House ayam nyaman, peternak tenang”, tuturnya.

Efisiensi juga terkait dengan pengaruh lingkungan. Kata Chandra Brahmantya, Head Internal Production PT QL Trimitra, pengaruh lingkungan seperti perubahan cuaca menuntut penggunaan Closed House. “Closed House kan memang dibuat untuk mengatasi perubahan cuaca yang sangat ekstrim”, cetusnya.

Paparan Imam sejalan dengan pernyataan Chandra. Terangnya, dengan Closed House pengaruh perubahan cuaca dapat dikendalikan oleh peralatan dan sistem yang telah dipasang. Sedangkan pada Open House dibutuhkan usaha yang tinggi untuk mengatasi ketidakteraturan cuaca yang ada. Bila tidak terkendali, fisiologi ayam akan terganggu, lalu stress dan terserang penyakit. Imbasnya efisiensi tak akan tercapai.

Dari sisi preferensi pasar, tutur Abdullah Junaedi dari Sierad, ayam hasil panen dari Closed House lebih diminati karena lebih bersih, memar pada karkas minimal, dan terpenting harganya tak berbeda dengan ayam hasil panen dari Open House. “Apalagi rumah potong ayam yang menuntut ayam dengan keseragaman tinggi dalam jumlah besar. Maka ayam hasil panen dari Closed House-lah pilihannya”, terang Junaedi.

Sumber : Trobos, Juli 2012

Sumber 2 : http://dhanangclosedhouse.com/modernisasi-demi-efisiensi-dan-produksi/

Pasca AI Kualitas DOC Sangat Fluktuatif

Bibit memang merupakan pangkal awal dari sebuah produktifitas usaha budidaya peternakan, tidak terkecuali ayam negeri, baik potong maupun petelur. Sebagai komponen hulu, bisa menjadi kunci yang mana untuk meraih keuntungan jika diusahakan secara komersial. Sebaliknya, bisa menjadi petaka bagi peternak jika kualitas bibit tidak seperti yang diharapkan.

Dan sebagai produk hidup, maka sudah pasti kestabilan kualitas tidak akan bisa produsen yang menjamin atau memberi garansi. Sebab terlalu banyak aspek yang berpengaruh terhadap produk bibit itu. Walaupun bagaimana, produsen bibit, relatif sama persis dengan usaha komersial, yaitu memproduksi secara intens dan optimal untuk menghasilkan bibit yang akan dilempar ke pasar. Upaya untuk menghasilkan yang terbaik itu, relatif sama persis dengan peternak komersial yaitu menghasilkan produk yang terbaik, berupa tinggi produktifitas dan efisien, rendah angka kesakitan dan juga rendah angka kematian serta yang pasti menguntungkan.

Berikut ini hasil investigasi Tim Pemantau Lapangan Infovet yang menggali pendapat dari peternak dan pemasar bibit ayam (DOC).

Menurut Drh Rama Dharmawan, staf pada Balai Besar Veteriner Wates, bahwa bibit merupakan kunci gerbang pembuka keberhasilan sebuah usaha peternakan. Oleh karena itu jika bisa diperoleh sebuah paket bibit ayam (DOC) dengan kualitas baik, maka pintu ruangan besar untuk meraih keuntungan terbentang luas.

“Secara teoritis dan memang seharusnya begitu, bahwa produsen sudah diberi rambu untuk memproduksi dengan sertifikasi dan persyaratan tertentu. Seperti bobot standar awal, jaminan bebas penyakit tertentu dan kualitas induknya. Namun demikian, oleh karena faktor yang mengitari di sisi masa produksi bibit sangat banyak, maka setidaknya standar terendah yang bisa ditoleransi harus terpenuhi. Misalnya bobot awal bibit”, ujar Rama yang berniat melanjutkan pendidikan di Australia itu.

Lebih lanjut Rama menjelaskan, bahwa harus diketahui dan dipahami oleh para peternak, bahwa memang aspek ke”ajegan” atau stabilitas kualitas bibit relatif tidak akan mungkin terjadi. Sehingga sangat wajar bila kemudian peternak mengeluhkan adanya perbedaan produktifitas walaupun dengan merk yang sama. Terlebih dengan merk yang berbeda, sudah pasti akan menjadi lebih lebar deviasi perbedaan itu.

Menurutnya, ia sering menerima informasi dan keluhan dari peternak tentang naik dan turunnya produktifitas maupun performans. Selalu ia jelaskan hal itu, bahwa tidak ada satupun jaminan pasti kestabilan kualitas bibit. Namun demikian, yang justru lebih penting bagi peternak sebagai konsumen, adalah berupaya dari waktu ke waktu untuk terus memperbaiki cara pengelolaan.

“Wong tidak ada ruginya koq seandainya kita terus berusaha untuk meningkalkan manajemen pemeliharaan. Dan disitulah kunci memasuki keuntungan yang jauh lebih besar”, ujar Rama.

Ketika disodorkan kenyataan bahwa ada aspek penting yang lain yang sangat mempengaruhi keuntungan peternak yaitu harga jual hasil produksi. Rama menjawab, bahwa hal itu jelas sangat tergantung akan tingkat penawaran dan permintaan. Tidak ada sama sekali kaitannya dengan kualitas bibit.

Sedangkan Ir Dhanang Purwantoro, seorang praktisi peternakan kawasan Wonogiri Jawa Tengah dan Wonosari mengungkapkan hal yang berbeda. Menurutnya, kualitas bibit memang dirinya sudah memahami. Kestabilan kualitas DOC memang sangat sulit untuk diperoleh dari satu periode ke periode berikutnya.

Meski demikian, selama ini justru ia mencoba menyiasati dengan cara pengelolaan yang selalu berubah. Pengertian berubah itu, menurut Dhanang adalah selalu mencoba memberikan perhatian yang berlebih dan selalu meningkatkan dari periode ke periode. Bahkan, ujar Dhanang, dirinya selalu membaca dan mengamati perilaku peternak lain. Jika dalam periode ini, para peternak mengerem atau mengurang populasi dari merk tertentu oleh karena periode kemarin/sebelumnya dimana kualitasnya “kurang baik”, kemudian mengganti dengan merk lain yang dipandang lebih baik. Maka ia justru menjatuhkan pilihan bibit/DOC yang kurang disenangi para peternak umum.

Bukan saja pilihan itu oleh karena harganya jauh lebih murah, karena jenis DOC sore hari alias kurang laku, namun justru menurutnya itu sebuah tantangan untuk membuktikan hahwa sebenarnya ada aspek lain yang lebih penting yaitu pengelolaan. Menurutnya, manajemen pemeliharaan yang selama ini diserahkan secara lepas oleh para peternak kepada pekerja kandang, adalah kekeliruan besar. Terlebih jika DOC itu termasuk DOC yang dimarjinalkan/ditolak halus para peternak. Maka harus ada perhatian yang lebih dari cara pengelolaan selama ini. Hasilnya, menurut Dhanang selama ini tidak ada masalah, bahkan selalu mencapai hasil yang memuaskan. “Ini fakta lho… bukan isapan jempol”, tutur Dhanang meyakinkan Infovet.

Urusan harga jual pasar yang naik turun, itu memang akan dialami oleh semua peternak. Artinya meskipun mereka memakai bibit yang sedang favorit pada periode itu, toh masalah harga jual juga mengikuti mekanisme pasar. Oleh karena itu jika kita menjatuhkan pilihan dengan bibit/DOC yang kurang favorit pada suatu periode, dengan harga di bawah harga pasar, namun dengan sistem dan cara pengelolaan yang benar, akhirnya hasil akhir sama saja dengan yang memakai bibit favorit.

Kemudian datang pendapat lain dari Misaljo dan Drs Irwanto, yang berprofesi sebagai pemasar bibit ayam/DOC. Menurut Misaljo, yang juga menjadi agen aneka DOC ayam negeri maupun ayam kampung bahwa dirinya terlalu sering menerima keluhan yang beraneka dengan substansi keluhan yang sama yaitu performans kurang baik.

Bibit Ayam Potong Merk “A” dan “B“ pada periode ini menunjukkan hasil baik, yaitu cepat tumbuh besar, konsumsi pakan efisien, angka kematian rendah. Sedangkan Merk “C” dan “D” serta “E” sebaliknya yaitu angka kematian tinggi, kurang efisien pakan serta lambat tumbuh, ayamnya kerdil. Begitu juga dengan ayam petelur, dengan ragam keluhan masa produksi lambat, tingkat kematian tinggi dan masa produksi pendek/cepat afkir, puncak produksi sangat pendek.

Namun ternyata periode berikutnya bisa berbalik. dimana DOC merk “A” dan “B” performansnya sangat buruk sekali. Dan sebaliknya merk “C” dan “D” justru menjadi lebih baik. Sedangkan merk “E” tetap buruk performansnya.

Sebagai penjual DOC, memang dirinya akan selalu menerima dan berhadapan secara langsung dengan keluhan itu, oleh karena itu menurutnya para produsen memang harus selalu menjaga kualitasnya, agar dirinya yang termasuk penghubung antara produsen dengan peternak tidak terus terteror dengan masalah itu. Lebih dari 20 tahun sebagai penjual DOC, Misaljo akhirnya menganggap keluhan itu menjadi kurang begitu direspon jika berhadapan dengan peternak. Sedangkan Irwanto yang baru menekuni itu sekitar 10 tahun terakhir ini, masih selalu risau jika dikomplain oleh peternak.

Misaljo akhirnya mengambil jalur tengah dengan siap selalu menerima keluhan dan keluhan itu ia sampaikan lagi ke agen pemasok. Masalah itu menjadi perhatian atau tidak bagi Misaljo itu bukan soal. Sebab Misaljo sudah faham benar akan fluktuasi kualitas DOC selama ini. Bahkan menurutnya, sejak ada wabah AI, kualitas DOC ayam petelur sangat jauh sekali jika dibandingkan dengan kualitas sebelum merebak wabah AI.

Menurut Misaljo atas dasar laporan para peternak pelanggannya, bahwa usia awal produksi ayam pasca wabah AI menjadi lebih lambat, alias tertunda dan mundur. Begitu juga dengan puncak produksi yang relatif lebih pendek. Ayam lebih sering mengalami gangguan kesehatan serta yang meresahkan adalah usia produksi lebih pendek. Katanya ayam petelur dan potong sekarang adalah ayam modern, ternyata justru lebih rendah performansnya dari pada ayam klasik atau masa lalu.

Hal yang sama dirasakan oleh Haji Saelan, peternak ayam potong di Tegal Jateng, bahwa produktifitas ayam potong sekarang jauh dibawah performans ayam potong masa 10 tahun yang lalu. Apakah ini oleh karena akibat penyakit AI atau karena memang kualitas pakan yang ada saat ini kurang baik. Padahal harga pakan terus bergerak naik dari waktu ke waktu. Jika bukan oleh karena pakan, tentunya bibitnya yang harus dipertanyakan tentang kualitas baik buruknya.

Sedangkan Dhanang dan Rama berpendapat memang benar pasca wabah AI masuk Indonesia, harus diakui adanya penurunan performans ayam komersial. Menurut Dhanang, tidak bisa dibantah, bahwa produsen bibit/DOC juga pasti terkena imbas wabah AI, sehingga ibarat pabrik, mesinnya juga kena, sudah pasti hasil produksinya akan terpengaruh juga. Beberapa produsen mungkin akan tetap mencoba menekan pengaruh buruk dari libasan penyakit AI itu, sehingga produk DOC nya masih relatif lebih sama. Sedangkan yang lain meski sudah berupaya namun barangkali gagal mencapai tujuan, akhirnya DOC yang diproduksi kurang seperti yang diharapkan.

Menurut Rama, keluhan yang ia terima tentang produktifitas dan kualitas DOC memang bersitat linier atau terkait langsung. Dimana akibat wabah AI 5-6 tahun yang lalu itu, para produsen DOC masih belum berhasil juga melepaskan pengaruh buruknya. Terkait dengan lambat pertumbuhan dan lambat produksi adalah indikator penting yang tidak bisa dibantah akan adanya pengaruh buruk itu yang masih melekat. Untuk itu peternak hanya ada satu jalan yaitu selalu meningkatkan dan meningkatkan cara budidayanya.

Infovet, Oktober 2009

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/pasca-ai-kualitas-doc-sangat-fluktuatif/

Ketika Pakan Berbaur Dengan Jamur

Memang diakui ada peningkatan permintaan obat anti jamur dan juga anti lalat selama musim penghujan akhir-akhir ini. Selain itu memang permintaan vitamin dan enrofloxacin juga sedikit mengalami kenaikan.

Pakan pada ternak adalah ibarat BBM (Bahan Bakar Minyak) pada mesin sebuah kendaraan. Jika saja tercampur baur dengan bahan lain sudah pasti akan menyebabkan jalannya mesin tersendat bahkan bisa mogok.

Begitu juga dengan pakan yang mulai kandungan gizinya sangat tinggi, maka tidak saja sangat bermanfaat dan disukai ayam, akan tetapi juga menjadi tempat yang menyenangkan bagi mikroorganisme untuk tumbuh berkembang dengan cepat.

Jika saja mikroorganisme itu, sebut saja jamur tercampur baur dan berkembang, maka bukan saja menyebabkan kualitas pakan menurun atau terdegradasi. Akibatnya seperti halnya dengan mesin kendaraan, maka bukan saja ayam menjadi terhambat pertumbuhannya akan tetapi juga bisa berakhir dengan sakit dan mati.

Berbicara jamur pada pakan unggas ternyata persoalan menjadi lebih ruwet dibanding esensi dan substansi persolaan itu. Juga bagaimana upaya dan apa yang seharusnya dilakukan. Harus diakui peternak yang sekarang ini masih bertahan memang termasuk peternak pilihan dan cerdas-cerdas. Hal ini dialami oleh Infovet ketika mencoba mengorek masalah jamur pada pakan.

Pengalaman yang sama diutarakan oleh para TS, pendamping lapangan kepada Infovet. Oleh karena itu sebenarnya hal ini merupakan indikator baik, semakin bergerak maju dan profesionalnya para peternak.

Akarnya pada Pakan Pabrikan ?

“Ngomongin jamur sebenarnya adalah membahas sesuatu yang tidak terlihat tetapi nyata kelihatan bentuk kerugian yang akan ditanggung para peternak. Pabrikan pakan jika memang tulus, tidak perlu memberi ‘bonus’ akan tetapi cukup harga pakan yang wajar dengan kondisi riil lapangan. Bonus yang saya maksud adalah terlalu sering pakan dari pabrik sudah mengandung bibit jamur”, ujar Sumardiman kepada Infovet di kandangnya di kawasan Pegunungan Pajangan Bantul Yogyakarta.

Lebih lanjut Sumardiman. menjelaskan bahwa masalah jamur tidak bisa disalahkan dan ditimpakan kepada peternak. Sebab sejatinya, kontaminasi jamur dan bibit jamur sudah ada sejak dari pakan itu dibuat. Meski benar, didalam proses pengolahan sudah diupayakan bahan bebas dari jamur. Namun siapa yang bisa menjamin kemudian pakan itu bisa bebas dari jamur.

Bonus dalam tanda petik, adalah tercemarnya pakan yang diterima oleh peternak dengan jamur. Kalau boleh berbicara serius, memang pada batas ambang atau toleransi tertentu jamur masih bisa dibiarkan alias ditolerir, karena tidak menyebabkan masalah pada ayam.

Namun tidak bisa ada pihak manapun yang bisa membantah bahwa memang benar pada saat itu saja, jumlah koloni memang masih sedikit. Akan tetapi jika memasuki musim hujan, terlebih seperti tahun 2007-2008 ini, bukankah merupakan lingkungan kondusif bagi jamur untuk berbiak dan berbaur di dalam pakan.

Sekecil apapun jumlah koloni itu jika kondisi lingkungan sangat mendukung maka, sudah pasti akan memunculkan masalah ketika pakan itu tiba di gudang para peternak. Kemudian umumnya menimpakan kesalahan munculnya jamur kepada para peternak, yang dikatakan gudangnya kurang baik atau apalah sejuta alasan yang buruk-buruk pada diri peternak.
“Biasanya dan umumnya ketika muncul kasus penyakit yang diduga disebabkan oleh jamur maka pihak produsen pakan jarang mau mengakui akar masalah di pihaknya akan tetapi kita, para peternak yang dikambing hitamkan”, ujar Sumardiman sengit.

Kiranya mencermati keluhan dan gugatan dari Sumardiman ini, akan lebih baik jika pihak feedmill memberikan penjelasan. agar tidak muncul curiga dan prasangka yang sebenarnya muncul karena misskomunikasi semata. Kita tunggu suara dari pabrikan mendengarkan pendapat Sumardiman itu.

Sumardiman sendiri ketika melihal pakan yang diperuntukkan bagi ayamnya jika sudah terindikasi tercemar jamur, maka pilihannya hanya membakar agar tidak menjadi masalah baru di kandangnya. Langkah itu ditempuh agar tidak disalahgunakan pekerja kandang dengan dijual atau justru diberikan ke ayamnya yang akan beresiko tinggi pada farmnya.

Sebagai peternak ayam petelur yang memulai usahanya dari nol, Sumardiman yang pernah bekerja di sebuah farm besar di Kalimantan itu sangat mafhum sekali dengan pakan yang tercemar jamur. Hasil pengamatannya selama ini, manifestasi pakan jika tercemar jamur, akan tetapi belum kasat mata, maka andalannya dengan melihat indikasi ayam ketika makan dan minum.

Menurut Sumardiman, jika pakan sudah bercampur baur dengan jamur, maka ketika ayam mengkonsumsi pakan sebentar-sebentar minum. “Pokoknya, cara mudah atas dasar pengalaman saya jika ayam mematuk pakan 1-2 kali kemudian diikuti minum berkali-kali maka itu indikasi kuat pakan sudah tercampur jamur meski belum terlihat oleh mata kita.” ujarnya.

Akibatnya Vaksinasi Tidak Optimal

Hal yang hampir mirip juga diungkapkan oleh Tjuntoko, pengelola ayam layer di Sukorejo Jawa Tengah. Hal itu memang benar, ujar Tjuntoko lebih lanjut. Selain itu adalah aspek bau pakan sangat tidak enak. Terutama jika jamur sudah begitu banyak muncul di dalam pakan. Cara menekan agar jamur tidak secara cepat mencemari stock pakan yang lain adalah dengan pemberian obat anti jamur dalam pakan. Tjuntoko biasa memakai merk X yang mengandung bahan aktif propilen glikol dan kalsium propionate.

Sedangkan cara pengobatan ayam yang kemudian sakit akibat pakan seperti itu, tidak ada yang lain selain pemberian multivitamin dan sangat perlu antibiotika untuk jaga-jaga adanya infeksi sekunder. Indikasi lain adanya jamur dalam pakan adalah jika itu berlangsung lama, maka biasanya hasil vaksinasi tidak optimal. Artinya meski program vaksinasi berjalan baik, seperti yang disarankan namun sudah pasti kemampuan memprotek penyakit kurang baik.

Harga dan Kualitas Tidak Sepadan ?

Sedangkan Kartinah. peternak ayam potong di Magelang merasa heran dengan harga pakan yang terus melangit akan telapi kualitasnya tidak sepadan. Dalam awal tahun 2008 ini saja, menurutnya sudah lebih dari 2 kali mengalami kenaikan. Istilah harga pakan yang sering disebut “subsidi harga” sebenarnya telah membuat dirinya bingung. Katanya harga tidak berubah akan tetapi oleh karena pihak pabrikan mencabut subsidi, maka harga sebenarnya juga naik.

“Wong mau bilang naik saja. kenapa mesti bilang subsidinya dicabut”, tegasnya. Sebenarnya lanjut Kartinah bahwa hal itu bukan masalah besar, jika saja kenaikan harga diimbangi dengan peningkatan kualitas. Kartinah semakin bingung, ketika nilai tukar dollar menguat, harga juga ikut naik. Akan tetapi denger-denger nilai dollar melemah alias turun, tetapi tetap saja naik dengan alasan. harga minyak melangit.

Benar juga keluhan kualitas dan korelasinya dengan harga. Akan tetapi hal itu dijelaskan bahwa kemungkinan turunnya kualitas karena musim penghujan, sehingga bahan baku berkualitas buruk, juga dampak dalam pengangkutan yang terus diguyur hujan, bahkan banjir.

“Banyak penjelasan yang tidak jelas, tetapi semakin membingungkan. Karena kata, para petugas saya di lapangan kasus pakan yang buruk menyebabkan ayam tidak tumbuh besar, tetapi sebaliknya. Bahkan senyatanya banyak kasus penyakit yang menurut dugaan saya yang tidak tabu kesehatan hewan, itu pasti karena DOC dan Pakan yang tidak berkualitas”, ujarnya dengan nada keras.

Menurut Kartinah lebih lanjut, mau jamur atau kuman virus, yang jelas hasil panennya sangat buruk sekali. Tidak ada lain jika ayam tidak bertambah besar pasti karena penyebabnya pakan semata. “Ini pikiran orang bodoh seperti saya, Kalau sampeyan bilang itu mungkin karena jamur, naluri bodoh saya yang tetap saja karena pakannya jelek. Titik.” ujar Kartinah semakin menggebu.

Tidak Semata Soal Pakan

Sedangkan Ir Dhanang Purwantoro, terlalu sederhana menyebut pakan sebagai biang keladi gagalnya penen ayam yang berbobot. Sebab sebagai peternak yang juga Tenaga Pendamping lapangan dari PT Biotek, masalah lambatnya pertumbuhan pada ayam potong tidak semata karena kualitas DOC dan pakan semata.

Terlalu kompleks dan banyak aspek yang melingkupi. Pengalamannya selama ini, ketika banyak orang menolak memelihara ayam dari sebuah merk tertentu karena diduga DOC nya kurang baik, ternyata Dhanang justru tertantang untuk mencoba itu.

Hasilnya, justru tidak kalah dengan merk lain yang menurut para peternak berkualitas baik. “Secara ekstrim saya pernah mencoba memelihara ayam dari DOC polos yang sudah pasti berkualitas kurang baik. Akan tetapi ternyata hasilnya sangat baik. Ini bukan klaim saya tetapi para bakul ayam besar yang mengomentari hasil ayam saya itu”, ujarnya penuh percaya diri.

Juga ketika orang rame-rame menyebut pakan merk X kualitasnya buruk, justru Dhanang tertantang untuk membuktikan. Ini bukan isapan jempol, lanjut Dhanang karena hasilnya juga cukup baik, sekedar untuk tidak mengatakan sangat baik.

Berbicara masalah jamur dalam pakan, menurutnya hal itu sangat sulit untuk membuat sebuah kepastian. Untuk pakan yang bebas dari jamur tentu sebuah keniscayaan. Begitu juga, apakah mesti jamur itu akan menyebabkan sebuah gangguan pertumbuhan apalagi penyakit, tentu juga ada aspek lain yang mendukung.

Kemudian jika berbicara pada ayam petelur, tidak berbeda jauh dengan ayam potong, bahwa untuk munculnya gangguan produktifitas ataupun pada kesehatan ayam. maka tergantung kepada pengelolanya.

Mestinya ketika musim hujan seperti saat ini, tidak boleh peternak dengan seenaknya dan lengah dalam pemberian preparat anti jamur. Sebab kapan sebuah preparat itu dibutuhkan tergantung dari improvisasi dan kecerdasannya.

Memang benar jamur muncul kapan saja. Musim penghujan ataupun ketika kemarau. Artinya lanjut Dhanang, intensitas perhatian pengelolaan pakan dalam menghadapi kemungkinan penurunan kualitas harus diperhatikan sangat cermat.

Secara sederhana, menurutnya, jika musim penghujan yang berjalan dalam periode agak panjang seperti awal tahun 2008 ini, maka sudah pasti perlunya pemberian preparat anti jamur dalam pakan. Peternak dapat memilih merk yang paling sreg di hatinya.

“Pengertian saya tentang kualitas pakan dan kontaminan jamur, sangat bergantung kepada para peternak ataupun para manajer farm dalam menyikapinya. Jika musim hujan seperti saat ini, pemberian preparat anti jamur dalam pakan tentu sebuah keharusan, meski gudang yang digunakan sudah sangat representatif. Oleh karena itu jika gudang pakan, di bawah standar, maka tidak ada solusi lain tentang perlunya preparat anti jamur pada pakan”, ujarnya semakin percaya diri.

Obat Anti Jamur Meningkat

Bagaimana kaitan musim hujan di mana potensi pakan berjamur dengan outset penjualan obat anti jamur ?. Mungkin Misaljo dari Samudera PS Kulon Progo setidaknya dapat mewakili penjual sapronak mempunyai jawaban. Menurutnya, omset penjualan obat-obatan selama tahun 2007 sampai awal tahun 2008 tidak banyak berubah alias tetap sepi-sepi saja.

Samudera PS yang banyak melayani para peternak ayam petelur skala mikro di kawasan itu, memang menyediakan secara lengkap aneka kebutuhan sapronak perunggasan. Ketika ditanyakan apakah benar ada permintaan lonjakan obat anti jamur yang dicampur dalam pakan selama musim penghujan ini, Misaljo hanya menggelengkan kepala.

“Wah sepi benar sekarang ini. Sejak tahun lalu (maksudnya 2007) sampai menginjak bulan kedua tahun 2008, omset secara keseluruhan tidak banyak beranjak bahkan ada kecenderungan turun”, ujarnya pelan.

Namun memang diakui ada peningkatan permintaan obat anti jamur dan juga anti lalat selama musim penghujan akhir-akhir ini. Selain itu memang permintaan vitamin dan enrofloxacin juga sedikit mengalami kenaikan. Akan tetapi, Misaljo dengan tegas mengakui bahwa bisnis sapronak perunggasan selama 5 tahun ini semakin sepi saja. Benarkah ?

Sumber : Infovet, Maret 2008

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/ketika-pakan-berbaur-dengan-jamur/