Kipas / Fan Neostar 30 Inchi

Merk : Neostar.
Tipe : DFP750-TW(30″)
Spesifikasi :

  • Diameter : 30 Inchi
  • Tegangan : 220 V∼
  • Frekuensi : 50 Hz
  • Daya : 240 Watt

Harga : Rp. …Call Contact


Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/kipas-fan-neostar-30-inchi/

Advertisements

Kipas / Fan Mondial 30 Inchi

Merk : Mondial.
Tipe : DFM750-TW(30″)
Spesifikasi :

  • Diameter : 30 Inchi
  • Tegangan : 220 V∼
  • Frekuensi : 50 Hz
  • Daya : 240 Watt

Harga : Rp. …Call Contact


Keterangan : http://dhanangclosedhouse.com/kipas-fan-mondial-30-inchi/

Kipas / Fan Katsu 30 Inchi

Merk : Katsu.
Tipe : DF750-TW (30″)
Spesifikasi :

  • Diameter : 30 Inchi
  • Tegangan : 220 V ∼
  • Frekuensi : 50 Hz
  • Daya : 240 Watt

Harga : Rp. …Call Contact


Keterangan : http://dhanangclosedhouse.com/kipas-fan-katsu-30-inchi/

Beruntung Dengan Closed House (bag 2)

Adit dan lainnya sudah membuktikan bahwa bisnis perunggasan dengan Closed House memberikan keuntungan yang menggiurkan. Oleh karenanya, Adit tengah membangun Closed House baru di sebelah selatan Closed House lama.
Trio Plasma Sierad pun tak mau ketinggalan, mereka merencanakan untuk membangun Closed House baru. Sumiyana yang visinya membangun desa bahkan berencana akan menjual beberapa ekor sapinya yang dipiara sejak 2003 untuk membangun kandang keduanya.

Lain halnya dengan Yanuar Adhie Wibhowo yang seorang akuntan dan istrinya Yulia Fatiantini yang memulai membangun kandang ayam pada September 2012 lalu di Desa Candali, Kemang, Bogor. Berawal dari ingin coba-coba beternak ayam karena sepertinya cukup menguntungkan. Ia turun langsung dalam proses pembangunan kandang yang dirancang dua lantai dengan konstruksi Closed House dengan panjang 120 meter lebar 12 meter. “Dari awal kami memang ingin beternak dengan sistem yang lebih modern yaitu dengan kandang tertutup atau Closed House“, ujar Yanuar. Namun, lanjutnya, untuk peralatan belum digunakan Full Automotic karena kami masih ingin memberdayakan tenaga kerja warga sekitar. Jadi, baru air minum saja yang memakai nipple otomatis sedangkan tempat pakan masih manual serta untuk sirkulasi udara ditambah 7 buah kipas (fan).

Total tenaga kerja yang digunakan 4 orang, lebih banyak dari yang Full Automatic yang biasanya hanya 2 orang. Kandang yang digunakan baru lantai bawah dengan populasi 20.000 ekor, tetapi lantai atas dalam waktu dekat sudah bisa digunakan karena tinggal penambahan alat-alat saja. Ia mengaku untuk pembangunan kandang saja menghabiskan dana hampir Rp. 1 miliar belum termasuk pembelian peralatan sekitar Rp. 50 juta. “Biaya pembangunan kandang ini agak sedikit lebih mahal, karena kontruksinya memang disiapkan untuk 2 lantai“, jelas Yanuar.

Yanuar yang menjadi plasma dari sebuah perusahaan inti itu, kini masuk ke periode ke enam pemeliharaan. Pada periode pertama hasilnya hanya bisa menutupi biaya operasional, karena semua masalah terjadi saat itu. “Kami semua awam dalam beternak, ya saya juga pegawai kandang. Ayam terkena serangan penyakit CRD serta dihadapkan pula pada berbagai kendala non teknis seperti genset yang tidak menyala. Akibatnya kematian cukup tinggi saat itu. Tapi semuanya itu tidak membuat kami patah semangat justru menjadi pembelajaran untuk antisipasi di masa datang“, terang Yanuar. Pada periode kedua, sambungnya, mulai terasa nikmatnya beternak karena hasilnya menguntungkan, bagai bumi dan langit dibandingkan periode pertama. Kualitas SDM pun ditingkatkan, yang tidak serius kami ganti.

Beternak dengan sistem Closed House pada dasarnya hampir sama dengan kandang terbuka. Juga untuk program kesehatannya dengan menerapkan program kesehatan standar termasuk biosekuriti. Vitamin diberikan 3 kali selama masa pemeliharaan. Sedangkan vaksinasi sudah tidak lagi karena DOC sudah divaksin ND dan IBD dari hatchery, kecuali ada kasus tertentu baru di revak kembali.

Setelah panen kotoran dan sekam diangkat semua, kemudian kandang dicuci dengan deterjen, pakai obat anti frengki, kasih formalin, kemudian istirahatkan kandang selama 1 minggu. Setelah itu bisa diisi sekam lagi dan diformalin kembali. Tak lupa lingkungan kandang selalu dijaga kebersihannya dan rumput dipotong.

Penerapan biosekuriti yang cukup baik ini membuat Puri Handaru Farm pernah mendapatkan penghargaan dalam lomba biosekuriti yang diadakan oleh sebuah institusi.

Lebih lanjut Yanuar mengatakan bahwa beternak dengan sistem Closed House nyatanya lebih mudah dan menguntungkan asalkan dipelihara dengan aturan yang dianjurkan sehingga ayam menjadi nyaman sehingga produktivitas atau performa akan tercapai. Sistem Closed House menjadi pilihan untuk situasi iklim dan temperatur Indonesia yang cukup ekstrim.

Saat ini performa ternak Puri Handaru Farm cukup baik yaitu dengan kepadatan 1:14 kematiannya di bawah 4 persen, FCR terendah 1,3, IP tertinggi 383 di berat 1.98 dengan umur panen terakhir 34 hari. “Dengan FCR 1,48 saja atau dengan bobot 1,82 kg keuntungan per ekor Rp. 5000 atau Rp. 3500 setelah dipotong berbagai biaya operasional“, jelas Yanuar.

Namun keuntungan Rp. 5000 per ekor ini masih bisa dioptimalkan lagi dengan perbaikan manajemen budidaya terus menerus, kualitas sapronak yang lebih baik serta yang tak kalah penting adalah manajemen panen yang tepat waktu. “Karena pada sistem Closed House jika telat panen biaya lainnya jauh meningkat. Tidak hanya biaya pakan bertambah tetapi juga biaya listrik karena harus menggerakkan peralatan listrik di kandang seperti kipas. Jika manajemen panen mendukung, beternak dengan kandang tertutup akan jauh lebih menguntungkan dari kandang terbuka“, tuturnya.

Ia memperkirakan akan balik modal pada periode 12-14 atau dalam masa 2 tahun. Dengan catatan harus diisi dua lantai, jika tetap satu lantai akan memerlukan waktu lebih lama lagi. “Saya sedang mempersiapkan perijinan untuk bisa berkembang menjadi dua lantai. Semoga dalam waktu dekat bisa terwujud“, harap Yanuar optimis.

Ditambahkan pula oleh Huang, kandang percontohan yang berukuran 10 x 76 m dengan kapasitas 10.000 ekor ini hanya membutuhkan tenaga kerja satu orang. Prinsipnya, berapa kilogram pakan yang diberikan, berapa kilogram telur yang dihasilkan. Agar ini berjalan dengan baik, diperlukan teknologi yang baik pula. “Feeding trovel merupakan alat pembagi pakan yang dapat memberikan kemudahan bagi peternak. Pakan yang diberikan tidak tercecer, anak kandang pun tidak terlalu capek, karena alat ini dikontrol langsung. Sehingga anak kandang bisa mengerjakan pekerjaan yang lain. Waktu yang dibutuhkan alat pembagi pakan ini tidak lebih dari 8 menit. Memang sangat efisien“, aku Huang. Selain itu, tambahnya, proses panen telur dapat dimodifikasi dengan adanya lori (kereta dorong) di dalam kandang. Dengan adanya lori, aktivitas mengambil telur dapat dilakukan runtut dan lebih cepat.

Lebih lanjut Huang mengatakan, hal yang perlu diperhatikan membangun kandang tertutup pada layer adalah saat memasang nipple (tempat minum). Lantai yang rata adalah syarat utama agar nipple dapat bekerja dengan baik. Lantai yang bergelombang akan menyebabkan tekanan dalam pipa nipple berbeda, efeknya air minum akan tidak lancar. “Selain itu, lantai yang tidak rata juga memengaruhi ketepatan memasang baterai. Tempat minum sudah cukup otomatis dan sudah teruji. Anak kandang tidak perlu membersihkan setiap hari. Di sini juga kami menggunakan sistem flushing, yang dapat meminimalisir kotoran yang ada di air minum“, tuturnya.

Industri perunggasan, Huang menambahkan, saat ini sudah berkembang sangat pesat. Peternak pun mulai menyadari akan kebutuhan teknologi yang modern tersebut. Inilah yang menjadi alasan untuk kami terus mengembangkan usaha kami. “Lebih efisien, hemat tenaga kerja, produksi yang baik dan merata, adalah tujuan kami. Dan ini pun yang diinginkan peternak“, aku Huang.

Biaya yang dikeluarkan untuk produk-produknya pun terjangkau. Huang mengatakan untuk Closed House biaya yang dibutuhkan tergantung panjangnya kandang, semakin panjang maka semakin murah, karena kebutuhannya tetap. Untuk kandang yang panjang, biaya yang dibutuhkan sebesar Rp. 35.000/ekor, dan untuk kandang yang pendek biaya yang dibutuhkan sebesar Rp. 43.000/ekor, yaitu untuk kandang baterai, tempat minum, tempat makan berupa plat, rangka, dan alat pembagi pakan.

Lighting yang digunakan pun disesuaikan dengan kebutuhan. Menurut Huang, gelombang cahaya bisa mempengaruhi ayam dari warna lampu yang digunakan. Ada 3 efek dari gelombang cahaya yang mempengaruhi sifat ayam yakni kanibalisme, cabut bulu, dan banyak makan. Dan lampu yang digunakan pada kandang percontohan ini adalah untuk mengurangi kanibalisme.

Sumber : Trobos, Agustus 2013

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/beruntung-dengan-kandang-closed-house-bagian-2/

Benarkah “Closed House” Menyimpan Segudang Penyakit ?

Memang di lapangan banyak muncul pertanyaan kritis oleh peternak yang sedang diperkenalkan tentang sistem pemeliharaan kandang tertutup atau Closed House. Mulai yang benar-benar mengkritisi system itu sampai ke jenis pertanyaan yang cenderung menyesatkan.

Demikian paparan Ir Dhanang Purwantoro ketika tulisan Infovet edisi Maret 2012 yang lalu mengupas tentang Closed House dan banyak muncul perasaan skeptis dari yang belum menerapkan sistem itu.

Beredar informasi menyesatkan bahwa Closed House menjadi sarang aneka penyakit bagi kawasan sekitar, juga tentang aneka penyakit jamur yang tumbuh subur di kawasan sekitar dan bahkan ada informasi tentang tingginya kasus penyakit pernafasan dan penyakit lain yang penularannya melalui udara.
Dengan ringan Dhanang menjawab aneka keraguan yang belum menerapkan itu dengan mengajaknya berkunjung dan bertanya langsung yang sudah menerapkan sistem itu. Para peternak yang sedang berminat dan belum mengaplikasikan sistem itu dipersilakan bertanya langsung kepada peternak lain yang sudah menerapkannya.

Hasilnya berupa tanggapan yang memang beraneka ragam. Ada yang langsung memutuskan untuk mengaplikasikan dan ada yang masih terus berfikir ulang. Namun demikian mayoritas yang berminat akan dengan mantap untuk segera menerapkan sistem itu. Sebuah keraguan adalah hal yang biasa dialami oleh pelaku bisnis termasuk peternak. Sebab dengan keraguan akan muncul banyak pemikiran dan pertimbangan sehingga akhirnya dibuatlah sebuah keputusan.

Jika saja Closed House masih banyak persoalan dengan penyakit dan juga dengan hasil / produktifitas, maka tentu saja Closed House sudah tidak akan lagi diaplikasikan dan berhenti dalam pengembangan dan penyempurnaan. Buktinya bahwa sistem Closed House di luar negeri menjadi keharusan dan di Indonesia sendiri, hingga saat ini terus berkembang dan menjadi pilihan para peternak yang cerdas dan ingin meraih keuntungan berlipat.

“Kalau memang Closed House menjadi masalah baru dalam sistem pemeliharaan ayam, maka sudah pasti tiada lagi pengembangan dan penyempurnaan sistem itu, bahkan tidak ada lagi yang membuat peralatan pendukung untuk sistem itu. Namun buktinya, justru model dan bentuk peralatan pelengkap untuk Closed House terus diperbarui dan terus disempurnakan oleh para produsennya. Ini bukti nyata bahwa Closed House bukan menjadi biang munculnya aneka penyakit” ujar Dhanang dengan tegas, menolak sinyalemen yang salah.

Dhanang memang mengakui, banyak penawaran pembuatan Closed House yang diterima oleh para peternak di Indonesia, dengan tidak jelas jejak rekam perusahaannya. Kandang yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit itu, meskipun mampu memberikan peningkatkan produktifitas, ternyata ada yang tidak sepadan dengan nilai investasinya. Hal itu menurut Dhanang oleh karena ada segelintir perencana dan pembuat konstruksi kandang Closed House yang tidak menerapkan layanan lengkap atau paripurna. Antara perencana dan penyedia perlengkapan Closed House tidak satu atap, sehingga akan menghasilkan kandang sistem Closed House yang asal-asalan. “Jika perencana dan equipment untuk kandang Closed House tidak kualified, maka hanya akan menghasilkan kandang Closed House “ecek-ecek” dan barangkali benar jika kemudian banyak aneka penyakit dan gangguan pertumbuhan pada ayam-ayamnya” tegas Dhanang.

Sepertinya Dhanang memang berniat menyanggah pendapat yang salah tentang sistem kandang tertutup, maka kepada Infovet ditawarkan untuk melihat sendiri di lapangan akan hasil yang diperoleh para peternak yang sudah mengaplikasikan Closed House. Memang benar adanya, bahwa ada beberapa konstruksi Closed House yang asal-asalan, meski equipment yang digunakan berkualitas relative bagus. Akhirnya memang kurang optimal, alias tidak setara dengan nilai investasi pembuatan kandang Closed House. Sedangkan pada Closed House dengan disain konstruksi dan equipment yang sesuai rekomendasi pembuat peralatan, akan diperoleh hasil yang sungguh mencengangkan.

Bahkan ketua APAYO Drh Hary Wibowo, dengan nada berkelakar bahwa jika Closed House sudah banyak menjadi pilihan peternak, akan mengancam para peternak skala menengah seperti dirinya.
“Kalau Closed House sudah banyak diterapkan oleh para peternak, maka tidak perlu ada lagi model kemitraan, karena hasil pemeliharaan dengan sistem itu mampu memelihara dalam jumlah banyak dalam satu kandang dan irit tenaga kerja. Sedangkan model kemitraan, sampai saat ini lebih cenderung memberi kesempatan peluang usaha kepada para peternak skala gurem” jelasnya.

Berkaitan dengan intensitas gangguan kesehatan atau serangan penyakit pada kandang Closed House, menurut Hary, memang harus diakui menjadi sangat minimalis. Artinya problema penyakit yang sering menjadi masalah pada sistem terbuka, akan dipangkas pada titik terkecil dan sebaliknya produktifitas akan mencapai titik maksimal. Hal yang sama ditekankan oleh Dhanang, bahwa Closed House akan membuat produktifitas ayam mencapai titik optimal, dengan resiko gangguan kesehatan atau serangan penyakit sangat rendah sekali.
Di samping itu, memang harus diakui pula, bahwa tingkat keseragaman pertumbuhan dapat terjaga dengan baik. Namun dengan catatan jika Closed House dibuat dengan aturan yang benar. Disain dan equipment yang ditawarkan oleh Dhanang, memberikan jaminan akan hasil yang memuaskan. Dan bahkan ia mengklaim sebagai perencana dan pelaksana pembuatan Closed House yang terbaik di Indonesia sampai saat ini.

Infovet yang melihat dan membuktikan di lapangan pada kandang Closed House hasil pekerjaan Dhanang, bahwa aspek uniformitas / keseragaman pertumbuhan nyaris mencapai 95% atau jauh di atas rata-rata keseragaman pertumbuhan pada sistem kandang terbuka yang hanya mencapai 65-75% saja. Dan dari hasil recording / catatan harian, terlihat sekali tingkat mortalitas yang sangat rendah sekali dan bahkan nyaris total dalam periode pemeliharaan selalu di bawah 1%. Sebuah angka yang selalu dinanti dan diharapkan oleh para peternak.  Memang harus diakui, bahwa meski secara kasat mata terlihat, bahwa begitu padat dan rapat populasi ayam dalam suatu kandang, namun ternyata ayam sangat nyaman dan tidak terlihat sedikitpun ayam terganggu dalam bernafas maupun gerakannya. Inilah yang dimaksud dengan efisiensi ruangan dan kenyamanan.

Selanjutnya terkait dengan informasi adanya gangguan penyakit yang berasal dari Jamur dalam pakan dan penyakit CRD kompleks, Dhanang menyanggah dan menjelaskan akan sinyalemen itu. Memang tidak salah jika sinyalemen akan munculnya penyakit itu pada kandang Closed House, namun itu terjadi umumnya pada kandang Closed House yang konstruksinya ecek-ecek. Mengapa bissa terjadi demikian ?. Oleh karena umumnya, kandang Closed House yang dibangun tidak sesuai dengan disain yang benar, justru akan menjadi masalah bagi ternak yang berada di dalamnya. Kasus penyakit oleh karena jamur yang terjadi pada Closed House ecek-ecek, lebih disebabkan mekanisme penyimpanan dan pengelolaan pakan yang tidak baik. Pada Closed House yang baik, lanjut Dhanang, tempat utama pakan / silo, ada treatment pakan sebelum di alirkan ke tempat-tempat pakan pada kandang. Sehingga potensi terjadi kontaminasi agen infeksi jamur relative akan sangat kecil terjadi. Begitu juga dengan tangki penyimpan air minum yang selalu rutin mendapatkan treatmen, maka akan diperoleh air minum yang sangat hygienis. Jadi Closed House konstruksi yang ditawarkan Dhanang dengan tempat pakan dan minum yang serba otomatis.

Selain itu, sistem pengatur udara yang bersifat otomatis dan didukung mega blower keluar / exhaust fan yang penempatannya selalu diperhitungkan dengan matang, maka potensi gangguan penyakit CRD ataupun penyakit pernafasan lainnya,  akan sangat kecil terjadi. Penempatan mega blower yang asal pasang, tidak sesuai dengan seharusnya, maka tidak akan mampu memberikan kenyamanan ayam yang berada di dalam. Mega blower tidak hanya berfungsi untuk membantu mengatur suhu udara di dalam kandang saja, namun juga berfungsi membuang gas amoniak dan sulfida yang  menjadi gas iritans pada sistem pernafasan ayam. Dengan demikian, efek buruk gas iritans itu tiada akan merusak kesehatan ayam. Sebab gas itu menjadi pemicu awal munculnya gangguan pernafasan yang disebabkan oleh agen penyakit virus, mycoplasma maupun bakteri serta jamur.

Pada kandang Closed House ‘ecek-ecek’ sering justru kasus penyakit CRD maupun mycotoxin, memang menjadi masalah serius setelah kasus penyakit konvensional lainnya mampu ditekan. Hal itu jelas sekali oleh karena penempatan dan penataan alat pengatur suhu ruangan yang salah dan atau kurang tepat. Juga oleh karena pengatur suhu ruangan yang tidak bersifat otomatis. Mestinya jika mau menerapkan Closed House, maka semua haruslah bersifat otomatis, dengan mengurangi kontak sekecil mungkin pekerja dengan ayam.

Kasus penyakit CRD ataupun penyakit lainnya yang penularannya lebih cenderung melalui udara, pada kandang sistem Closed House akan dapat ditekan sekecil mungkin. Namun dengan syarat, bahwa disain dan konstruksi Closed House harus sesuai dengan rekomendasi termasuk peralatan yang digunakan.

(Sumber : Infovet, 2012)

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/benarkah-closed-house-menyimpan-segudang-penyakit/

Tingkatkan Produksi Broiler Dengan Cara Modern

Ayam pedaging atau broiler lebih bagus hasil produksinya pada kandang sistem closed house daripada ayam petelur dengan sistem sama. Peningkatan teknologi secara menyeluruh berdampak besar bagi peningkatan produksi. Tidak ada kata tidak untuk penggunaan sistem closed house buat pemeliharaan ayam pedaging dengan hasil terbaik.

Inilah suatu cara modern untuk meningkatkan produksi ayam pedaging secara signifikan. Dengan cara ini tidak ada gangguan pemeliharaan ayam pedaging karena lingkungan lebih baik, tempat pemeliharaan lebih hemat, kualitas ayam lebih baik, angka kematian rendah, kondisi pertumbuhan ayam merata, dan penampilan ayam yang dihasilkan baik secara maksimal.

Cara ini adalah cara yang sudah dikenal masyarakat perunggasan Indonesia dalam dekade ini, dan kali ini ditegaskan oleh Sales Area Manager PT Sierad Industry, Dhanang Purwantoro ST. Tak lain tak bukan, cara ini adalah sistem kandang tertutup atau lebih dikenal dengan closed house yang ternyata lebih banyak digunakan untuk pemeliharaan ayam pedaging dibanding untuk pemeliharaan ayam petelur.

Bagaimana dan mengapa penerapan kandang tertutup lebih banyak khusus pada pemeliharaan ayam pedaging ?. Menurut Dhanang, secara penelitian, efek kandang tertutup untuk ayam pedaging menghasilkan perbedaan mencolok dibanding kandang postal dan kandang terbuka.
“Keberadaan, fungsi dan manfaat closed house pada prinsipnya tidak peduli kondisi daerah. Pada keadaan lingkungan daerah apapun, secara fleksibel kondisinya dapat diadaptasi oleh kandang tertutup”, tuturnya.

Akan tetapi, untuk pemeliharaan ayam petelur penggunaan kandang tertutup masih diteliti efektivitasnya. Secara keseluruhan, sedikit atau kurang dilakukan penelitian oleh berbagai pihak tentang dampak penggunaan kandang tertutup terhadap pemeliharaan ayam petelur.

Efektivitas pemeliharaan ayam petelur pada dasarnya tergantung produksi telur. Berdasar penelitian di Bali, Malang dan Tuban, penggunaan kandang tertutup untuk ayam petelur tetap berdampak pada pertumbuhan tubuh ayam, kurang berpengaruh untuk peningkatan produksi telur. Dari sedikit penelitian yang ada itu, hasilnya memang, “Ada perbedaan tapi belum signifikan, berbeda dengan untuk ayam pedaging yang hasilnya sangat signifikan atau berbeda nyata”, tegas Dhanang.

Menurut Dhanang Purwantoro, dengan kandang tertutup peternak bisa mengantisipasi segala musim. “Perbedaan musim panas dan musim penghujan dapat diatasi dengan penggunaan kandang closed house”, katanya. Dengan kandang tertutup, kondisi lingkungan bisa diantisipasi dengan baik. Bilamana suhu tidak panas, kondisi ayam tidak bermasalah, open house baik, closed house pun baik.

Hal ini berbeda dengan pemakaian kandang terbuka atau open house. Pada daerah panas seperti di Tuban Jawa Timur yang kondisi suhunya cenderung tinggi pada musim panas, pengaruh suhu panas sangat terasa. Kecenderungan suhu pada saat ini sebesar 32, 34, 37 derajat Celsius. Pada suhu lingkungan setinggi ini, ayam susah untuk berproduksi maksimal.

Sebaliknya pada musim banyak hujan, kelembaban sangat tinggi. Kondisi lingkungan memang antara lain mempengaruhi keberadaan lalat dan lain-lain. Pada peternakan open house kondisi berpengaruh buruk seperti ini sangat terasakan. Sebaliknya, dapat dikurangi dengan pemakaian kandang tertutup.

“Penggunaan closed house tetap efisien untuk menghadapi kondisi lingkungan ini”, ujar Dhanang. Memang pengaruh musim masih ada namun dapat dikata sedikit. Adapun kelembaban udara susah dikendalikan, namun demikian lebih banyak keunggulan kandang tertutup.

Kondisi kandang tertutup yang paling susah mengendalikan kelembaban ini lantaran pengaruh udara luar yang basah, di mana hujan terjadi secara terus-menerus baik siang maupun malam. Untuk menetralisir hal ini bagi kondisi dalam ruang, dibutuhkan heater atau pemanas ruangan untuk kandang tertutup.

Kecepatan udara dalam ruangan sudah diatur oleh adanya external house van. Pengaturan kecepatan udara ini seharusnya melewati heater atau mesin pemanas ruangan. Namun, untuk lingkungan di Indonesia, mesin pemanas ruangan tidak lazim digunakan. Mesin pendingin ruangan sudah ada namun mesin pemanas ruangan tidak ada.

Secara kenyataan di lapangan, tidak lazim digunakan mesin pemanas ruangan untuk Indonesia yang beriklim tropis. Berbeda dengan lingkungan di luar negeri yang lazim digunakan mesin pendingin dan pemanas ruangan“, ujar Dhanang Purwantoro.

Kalau unsur-unsur pemeliharaan ayam pedaging yang baik di dalam kandang tertutup tersebut dipenuhi, sesungguhnya apapun kondisi lingkungan tidak ada pengaruhnya bagi pemeliharaan dan hasilnya. Sedangkan di Indonesia sendiri, tidak harus diterapkan mesin pengatur udara tersebut, karena kondisinya belum terlalu ekstrim, masih bisa ditolerir dan peternak masih dapat berhati-hati.

Jelas pemakaian teknologi modern kandang tertutup untuk pemeliharaan ayam pedaging ini lebih baik dari pada pemakaian open house. Pada musim penghujan, kondisi kandang open house semakin beresiko lagi.

Oleh karena manfaat yang begitu besar itu, menurut Ir Dhanang Purwantoro, orang-orang yang menggunakan kandang open house sudah mengarah ke kandang modern closed house dengan teknologi tinggi, dan hasil yang signifikan atau nyata.

Orang baru tidak takut lagi, mereka langsung membangun kandang modern closed house“, katanya.

Seorang peternak lokasi peternakannya di dekat WBL (Wisata Bahari Lamongan) dengan populasi pada satu lokasi sejumlah 100.000 ekor ayam pedaging misalnya, bahkan sudah memakai tempat pakan dan tempat minum otomatis.

Mengikuti perkembangan teknologi ini, manajemen pemeliharaan ayam pedaging memang terus di upgrade atau terus ditingkatkan dan disesuaikan. Kebutuhan pengelolaan peternakan yang mengikuti perkembangan ini kondisinya tidak seperti pada pemeliharaan dengan kandang terbuka lagi.

Pada umumnya, manajemen penangkapan dan penanganan setiap panen menyebabkan kematian tinggi pada saat panen. Adapun mulanya suhu stabil tidak berubah, namun lingkungan luar bersuhu panas. Perubahan suhu secara mencolok dari yang stabil menyebabkan ayam menjadi mudah mati. Problem ini sudah dapat diantisipasi dan diatasi dengan metode manajemen untuk kandang tertutup.

Adanya Closed House diikuti dengan kebutuhan-kebutuhan penunjang pada sisi obat-obatan dan lain-lain bidang pun mengikuti perkembangan ini. Perihal obat-obatan, ada obat yang didesain khusus dengan kondisi kandang tertutup. Untuk menghasilkan produksi terbaik, kondisi penanganan ayam di dalam kandang tertutup membutuhkan obat khusus. Dhanang pun mengungkap diproduksinya obat khusus antistres sebelum panen, dan obat ini masih merupakan rahasia perusahaan.

Adapun perlakuan khusus sebelum panen pun mempunyai perbedaan. Di sini para ahli terus mempersiapkan dan melakukan penelitian. “Perlakuan pada satu kandang tertutup berbeda dengan perlakuan pada kandang tertutup lain“, kata Dhanang.

Unsur-unsur penunjang yang khusus seperti obat khusus ini bermanfaat untuk menghilangkan efek-efek yang negatif. Jelas, dengan Closed House manajemen meningkat, teknik pengelolaan meningkat, “Tidak hanya monoton dengan cara pemeliharaan secara umum.” kata Dhanang.

Menurut Dhanang sendiri perusahaan-perusahaan tertentu mempunyai kelebihan tersendiri dalam hal pembangunan kandang tertutup ini. Ada perusahaan yang punya banyak kandang tertutup dengan banyaknya riset yang berhasil. Sementara untuk riset yang kurang berhasil dicoba dengan kandang yang lain.

Tim Dhanang sendiri memberi dukungan kepada manajemen kemitraan. Berapa jumlah kandang modern yang patut dibangun, timnya memberi masukan kepada manajemen kandang modern. Tempat pakan, tempat minum, Cooling Pad (mesin pendingin), pemanas ayam, Central Heater (pusat pengatur panas), External House Van (kipas angin udara luar), semua disiapkan 100 persen. Termasuk alat-alat untuk mengukur kelembaban, suhu dan kecepatan udara, semua dikelola secara komputer atau otomatis.

Dengan demikian tidak ada kata tidak untuk memanfaatkan teknologi modern guna diperoleh hasil paling baik bagi produksi dari pemeliharaan ayam pedaging.

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/tingkatkan-produksi-broiler-dengan-cara-modern/