Ketika Pakan Berbaur Dengan Jamur

Memang diakui ada peningkatan permintaan obat anti jamur dan juga anti lalat selama musim penghujan akhir-akhir ini. Selain itu memang permintaan vitamin dan enrofloxacin juga sedikit mengalami kenaikan.

Pakan pada ternak adalah ibarat BBM (Bahan Bakar Minyak) pada mesin sebuah kendaraan. Jika saja tercampur baur dengan bahan lain sudah pasti akan menyebabkan jalannya mesin tersendat bahkan bisa mogok.

Begitu juga dengan pakan yang mulai kandungan gizinya sangat tinggi, maka tidak saja sangat bermanfaat dan disukai ayam, akan tetapi juga menjadi tempat yang menyenangkan bagi mikroorganisme untuk tumbuh berkembang dengan cepat.

Jika saja mikroorganisme itu, sebut saja jamur tercampur baur dan berkembang, maka bukan saja menyebabkan kualitas pakan menurun atau terdegradasi. Akibatnya seperti halnya dengan mesin kendaraan, maka bukan saja ayam menjadi terhambat pertumbuhannya akan tetapi juga bisa berakhir dengan sakit dan mati.

Berbicara jamur pada pakan unggas ternyata persoalan menjadi lebih ruwet dibanding esensi dan substansi persolaan itu. Juga bagaimana upaya dan apa yang seharusnya dilakukan. Harus diakui peternak yang sekarang ini masih bertahan memang termasuk peternak pilihan dan cerdas-cerdas. Hal ini dialami oleh Infovet ketika mencoba mengorek masalah jamur pada pakan.

Pengalaman yang sama diutarakan oleh para TS, pendamping lapangan kepada Infovet. Oleh karena itu sebenarnya hal ini merupakan indikator baik, semakin bergerak maju dan profesionalnya para peternak.

Akarnya pada Pakan Pabrikan ?

“Ngomongin jamur sebenarnya adalah membahas sesuatu yang tidak terlihat tetapi nyata kelihatan bentuk kerugian yang akan ditanggung para peternak. Pabrikan pakan jika memang tulus, tidak perlu memberi ‘bonus’ akan tetapi cukup harga pakan yang wajar dengan kondisi riil lapangan. Bonus yang saya maksud adalah terlalu sering pakan dari pabrik sudah mengandung bibit jamur”, ujar Sumardiman kepada Infovet di kandangnya di kawasan Pegunungan Pajangan Bantul Yogyakarta.

Lebih lanjut Sumardiman. menjelaskan bahwa masalah jamur tidak bisa disalahkan dan ditimpakan kepada peternak. Sebab sejatinya, kontaminasi jamur dan bibit jamur sudah ada sejak dari pakan itu dibuat. Meski benar, didalam proses pengolahan sudah diupayakan bahan bebas dari jamur. Namun siapa yang bisa menjamin kemudian pakan itu bisa bebas dari jamur.

Bonus dalam tanda petik, adalah tercemarnya pakan yang diterima oleh peternak dengan jamur. Kalau boleh berbicara serius, memang pada batas ambang atau toleransi tertentu jamur masih bisa dibiarkan alias ditolerir, karena tidak menyebabkan masalah pada ayam.

Namun tidak bisa ada pihak manapun yang bisa membantah bahwa memang benar pada saat itu saja, jumlah koloni memang masih sedikit. Akan tetapi jika memasuki musim hujan, terlebih seperti tahun 2007-2008 ini, bukankah merupakan lingkungan kondusif bagi jamur untuk berbiak dan berbaur di dalam pakan.

Sekecil apapun jumlah koloni itu jika kondisi lingkungan sangat mendukung maka, sudah pasti akan memunculkan masalah ketika pakan itu tiba di gudang para peternak. Kemudian umumnya menimpakan kesalahan munculnya jamur kepada para peternak, yang dikatakan gudangnya kurang baik atau apalah sejuta alasan yang buruk-buruk pada diri peternak.
“Biasanya dan umumnya ketika muncul kasus penyakit yang diduga disebabkan oleh jamur maka pihak produsen pakan jarang mau mengakui akar masalah di pihaknya akan tetapi kita, para peternak yang dikambing hitamkan”, ujar Sumardiman sengit.

Kiranya mencermati keluhan dan gugatan dari Sumardiman ini, akan lebih baik jika pihak feedmill memberikan penjelasan. agar tidak muncul curiga dan prasangka yang sebenarnya muncul karena misskomunikasi semata. Kita tunggu suara dari pabrikan mendengarkan pendapat Sumardiman itu.

Sumardiman sendiri ketika melihal pakan yang diperuntukkan bagi ayamnya jika sudah terindikasi tercemar jamur, maka pilihannya hanya membakar agar tidak menjadi masalah baru di kandangnya. Langkah itu ditempuh agar tidak disalahgunakan pekerja kandang dengan dijual atau justru diberikan ke ayamnya yang akan beresiko tinggi pada farmnya.

Sebagai peternak ayam petelur yang memulai usahanya dari nol, Sumardiman yang pernah bekerja di sebuah farm besar di Kalimantan itu sangat mafhum sekali dengan pakan yang tercemar jamur. Hasil pengamatannya selama ini, manifestasi pakan jika tercemar jamur, akan tetapi belum kasat mata, maka andalannya dengan melihat indikasi ayam ketika makan dan minum.

Menurut Sumardiman, jika pakan sudah bercampur baur dengan jamur, maka ketika ayam mengkonsumsi pakan sebentar-sebentar minum. “Pokoknya, cara mudah atas dasar pengalaman saya jika ayam mematuk pakan 1-2 kali kemudian diikuti minum berkali-kali maka itu indikasi kuat pakan sudah tercampur jamur meski belum terlihat oleh mata kita.” ujarnya.

Akibatnya Vaksinasi Tidak Optimal

Hal yang hampir mirip juga diungkapkan oleh Tjuntoko, pengelola ayam layer di Sukorejo Jawa Tengah. Hal itu memang benar, ujar Tjuntoko lebih lanjut. Selain itu adalah aspek bau pakan sangat tidak enak. Terutama jika jamur sudah begitu banyak muncul di dalam pakan. Cara menekan agar jamur tidak secara cepat mencemari stock pakan yang lain adalah dengan pemberian obat anti jamur dalam pakan. Tjuntoko biasa memakai merk X yang mengandung bahan aktif propilen glikol dan kalsium propionate.

Sedangkan cara pengobatan ayam yang kemudian sakit akibat pakan seperti itu, tidak ada yang lain selain pemberian multivitamin dan sangat perlu antibiotika untuk jaga-jaga adanya infeksi sekunder. Indikasi lain adanya jamur dalam pakan adalah jika itu berlangsung lama, maka biasanya hasil vaksinasi tidak optimal. Artinya meski program vaksinasi berjalan baik, seperti yang disarankan namun sudah pasti kemampuan memprotek penyakit kurang baik.

Harga dan Kualitas Tidak Sepadan ?

Sedangkan Kartinah. peternak ayam potong di Magelang merasa heran dengan harga pakan yang terus melangit akan telapi kualitasnya tidak sepadan. Dalam awal tahun 2008 ini saja, menurutnya sudah lebih dari 2 kali mengalami kenaikan. Istilah harga pakan yang sering disebut “subsidi harga” sebenarnya telah membuat dirinya bingung. Katanya harga tidak berubah akan tetapi oleh karena pihak pabrikan mencabut subsidi, maka harga sebenarnya juga naik.

“Wong mau bilang naik saja. kenapa mesti bilang subsidinya dicabut”, tegasnya. Sebenarnya lanjut Kartinah bahwa hal itu bukan masalah besar, jika saja kenaikan harga diimbangi dengan peningkatan kualitas. Kartinah semakin bingung, ketika nilai tukar dollar menguat, harga juga ikut naik. Akan tetapi denger-denger nilai dollar melemah alias turun, tetapi tetap saja naik dengan alasan. harga minyak melangit.

Benar juga keluhan kualitas dan korelasinya dengan harga. Akan tetapi hal itu dijelaskan bahwa kemungkinan turunnya kualitas karena musim penghujan, sehingga bahan baku berkualitas buruk, juga dampak dalam pengangkutan yang terus diguyur hujan, bahkan banjir.

“Banyak penjelasan yang tidak jelas, tetapi semakin membingungkan. Karena kata, para petugas saya di lapangan kasus pakan yang buruk menyebabkan ayam tidak tumbuh besar, tetapi sebaliknya. Bahkan senyatanya banyak kasus penyakit yang menurut dugaan saya yang tidak tabu kesehatan hewan, itu pasti karena DOC dan Pakan yang tidak berkualitas”, ujarnya dengan nada keras.

Menurut Kartinah lebih lanjut, mau jamur atau kuman virus, yang jelas hasil panennya sangat buruk sekali. Tidak ada lain jika ayam tidak bertambah besar pasti karena penyebabnya pakan semata. “Ini pikiran orang bodoh seperti saya, Kalau sampeyan bilang itu mungkin karena jamur, naluri bodoh saya yang tetap saja karena pakannya jelek. Titik.” ujar Kartinah semakin menggebu.

Tidak Semata Soal Pakan

Sedangkan Ir Dhanang Purwantoro, terlalu sederhana menyebut pakan sebagai biang keladi gagalnya penen ayam yang berbobot. Sebab sebagai peternak yang juga Tenaga Pendamping lapangan dari PT Biotek, masalah lambatnya pertumbuhan pada ayam potong tidak semata karena kualitas DOC dan pakan semata.

Terlalu kompleks dan banyak aspek yang melingkupi. Pengalamannya selama ini, ketika banyak orang menolak memelihara ayam dari sebuah merk tertentu karena diduga DOC nya kurang baik, ternyata Dhanang justru tertantang untuk mencoba itu.

Hasilnya, justru tidak kalah dengan merk lain yang menurut para peternak berkualitas baik. “Secara ekstrim saya pernah mencoba memelihara ayam dari DOC polos yang sudah pasti berkualitas kurang baik. Akan tetapi ternyata hasilnya sangat baik. Ini bukan klaim saya tetapi para bakul ayam besar yang mengomentari hasil ayam saya itu”, ujarnya penuh percaya diri.

Juga ketika orang rame-rame menyebut pakan merk X kualitasnya buruk, justru Dhanang tertantang untuk membuktikan. Ini bukan isapan jempol, lanjut Dhanang karena hasilnya juga cukup baik, sekedar untuk tidak mengatakan sangat baik.

Berbicara masalah jamur dalam pakan, menurutnya hal itu sangat sulit untuk membuat sebuah kepastian. Untuk pakan yang bebas dari jamur tentu sebuah keniscayaan. Begitu juga, apakah mesti jamur itu akan menyebabkan sebuah gangguan pertumbuhan apalagi penyakit, tentu juga ada aspek lain yang mendukung.

Kemudian jika berbicara pada ayam petelur, tidak berbeda jauh dengan ayam potong, bahwa untuk munculnya gangguan produktifitas ataupun pada kesehatan ayam. maka tergantung kepada pengelolanya.

Mestinya ketika musim hujan seperti saat ini, tidak boleh peternak dengan seenaknya dan lengah dalam pemberian preparat anti jamur. Sebab kapan sebuah preparat itu dibutuhkan tergantung dari improvisasi dan kecerdasannya.

Memang benar jamur muncul kapan saja. Musim penghujan ataupun ketika kemarau. Artinya lanjut Dhanang, intensitas perhatian pengelolaan pakan dalam menghadapi kemungkinan penurunan kualitas harus diperhatikan sangat cermat.

Secara sederhana, menurutnya, jika musim penghujan yang berjalan dalam periode agak panjang seperti awal tahun 2008 ini, maka sudah pasti perlunya pemberian preparat anti jamur dalam pakan. Peternak dapat memilih merk yang paling sreg di hatinya.

“Pengertian saya tentang kualitas pakan dan kontaminan jamur, sangat bergantung kepada para peternak ataupun para manajer farm dalam menyikapinya. Jika musim hujan seperti saat ini, pemberian preparat anti jamur dalam pakan tentu sebuah keharusan, meski gudang yang digunakan sudah sangat representatif. Oleh karena itu jika gudang pakan, di bawah standar, maka tidak ada solusi lain tentang perlunya preparat anti jamur pada pakan”, ujarnya semakin percaya diri.

Obat Anti Jamur Meningkat

Bagaimana kaitan musim hujan di mana potensi pakan berjamur dengan outset penjualan obat anti jamur ?. Mungkin Misaljo dari Samudera PS Kulon Progo setidaknya dapat mewakili penjual sapronak mempunyai jawaban. Menurutnya, omset penjualan obat-obatan selama tahun 2007 sampai awal tahun 2008 tidak banyak berubah alias tetap sepi-sepi saja.

Samudera PS yang banyak melayani para peternak ayam petelur skala mikro di kawasan itu, memang menyediakan secara lengkap aneka kebutuhan sapronak perunggasan. Ketika ditanyakan apakah benar ada permintaan lonjakan obat anti jamur yang dicampur dalam pakan selama musim penghujan ini, Misaljo hanya menggelengkan kepala.

“Wah sepi benar sekarang ini. Sejak tahun lalu (maksudnya 2007) sampai menginjak bulan kedua tahun 2008, omset secara keseluruhan tidak banyak beranjak bahkan ada kecenderungan turun”, ujarnya pelan.

Namun memang diakui ada peningkatan permintaan obat anti jamur dan juga anti lalat selama musim penghujan akhir-akhir ini. Selain itu memang permintaan vitamin dan enrofloxacin juga sedikit mengalami kenaikan. Akan tetapi, Misaljo dengan tegas mengakui bahwa bisnis sapronak perunggasan selama 5 tahun ini semakin sepi saja. Benarkah ?

Sumber : Infovet, Maret 2008

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/ketika-pakan-berbaur-dengan-jamur/

Benarkah “Closed House” Menyimpan Segudang Penyakit ?

Memang di lapangan banyak muncul pertanyaan kritis oleh peternak yang sedang diperkenalkan tentang sistem pemeliharaan kandang tertutup atau Closed House. Mulai yang benar-benar mengkritisi system itu sampai ke jenis pertanyaan yang cenderung menyesatkan.

Demikian paparan Ir Dhanang Purwantoro ketika tulisan Infovet edisi Maret 2012 yang lalu mengupas tentang Closed House dan banyak muncul perasaan skeptis dari yang belum menerapkan sistem itu.

Beredar informasi menyesatkan bahwa Closed House menjadi sarang aneka penyakit bagi kawasan sekitar, juga tentang aneka penyakit jamur yang tumbuh subur di kawasan sekitar dan bahkan ada informasi tentang tingginya kasus penyakit pernafasan dan penyakit lain yang penularannya melalui udara.
Dengan ringan Dhanang menjawab aneka keraguan yang belum menerapkan itu dengan mengajaknya berkunjung dan bertanya langsung yang sudah menerapkan sistem itu. Para peternak yang sedang berminat dan belum mengaplikasikan sistem itu dipersilakan bertanya langsung kepada peternak lain yang sudah menerapkannya.

Hasilnya berupa tanggapan yang memang beraneka ragam. Ada yang langsung memutuskan untuk mengaplikasikan dan ada yang masih terus berfikir ulang. Namun demikian mayoritas yang berminat akan dengan mantap untuk segera menerapkan sistem itu. Sebuah keraguan adalah hal yang biasa dialami oleh pelaku bisnis termasuk peternak. Sebab dengan keraguan akan muncul banyak pemikiran dan pertimbangan sehingga akhirnya dibuatlah sebuah keputusan.

Jika saja Closed House masih banyak persoalan dengan penyakit dan juga dengan hasil / produktifitas, maka tentu saja Closed House sudah tidak akan lagi diaplikasikan dan berhenti dalam pengembangan dan penyempurnaan. Buktinya bahwa sistem Closed House di luar negeri menjadi keharusan dan di Indonesia sendiri, hingga saat ini terus berkembang dan menjadi pilihan para peternak yang cerdas dan ingin meraih keuntungan berlipat.

“Kalau memang Closed House menjadi masalah baru dalam sistem pemeliharaan ayam, maka sudah pasti tiada lagi pengembangan dan penyempurnaan sistem itu, bahkan tidak ada lagi yang membuat peralatan pendukung untuk sistem itu. Namun buktinya, justru model dan bentuk peralatan pelengkap untuk Closed House terus diperbarui dan terus disempurnakan oleh para produsennya. Ini bukti nyata bahwa Closed House bukan menjadi biang munculnya aneka penyakit” ujar Dhanang dengan tegas, menolak sinyalemen yang salah.

Dhanang memang mengakui, banyak penawaran pembuatan Closed House yang diterima oleh para peternak di Indonesia, dengan tidak jelas jejak rekam perusahaannya. Kandang yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit itu, meskipun mampu memberikan peningkatkan produktifitas, ternyata ada yang tidak sepadan dengan nilai investasinya. Hal itu menurut Dhanang oleh karena ada segelintir perencana dan pembuat konstruksi kandang Closed House yang tidak menerapkan layanan lengkap atau paripurna. Antara perencana dan penyedia perlengkapan Closed House tidak satu atap, sehingga akan menghasilkan kandang sistem Closed House yang asal-asalan. “Jika perencana dan equipment untuk kandang Closed House tidak kualified, maka hanya akan menghasilkan kandang Closed House “ecek-ecek” dan barangkali benar jika kemudian banyak aneka penyakit dan gangguan pertumbuhan pada ayam-ayamnya” tegas Dhanang.

Sepertinya Dhanang memang berniat menyanggah pendapat yang salah tentang sistem kandang tertutup, maka kepada Infovet ditawarkan untuk melihat sendiri di lapangan akan hasil yang diperoleh para peternak yang sudah mengaplikasikan Closed House. Memang benar adanya, bahwa ada beberapa konstruksi Closed House yang asal-asalan, meski equipment yang digunakan berkualitas relative bagus. Akhirnya memang kurang optimal, alias tidak setara dengan nilai investasi pembuatan kandang Closed House. Sedangkan pada Closed House dengan disain konstruksi dan equipment yang sesuai rekomendasi pembuat peralatan, akan diperoleh hasil yang sungguh mencengangkan.

Bahkan ketua APAYO Drh Hary Wibowo, dengan nada berkelakar bahwa jika Closed House sudah banyak menjadi pilihan peternak, akan mengancam para peternak skala menengah seperti dirinya.
“Kalau Closed House sudah banyak diterapkan oleh para peternak, maka tidak perlu ada lagi model kemitraan, karena hasil pemeliharaan dengan sistem itu mampu memelihara dalam jumlah banyak dalam satu kandang dan irit tenaga kerja. Sedangkan model kemitraan, sampai saat ini lebih cenderung memberi kesempatan peluang usaha kepada para peternak skala gurem” jelasnya.

Berkaitan dengan intensitas gangguan kesehatan atau serangan penyakit pada kandang Closed House, menurut Hary, memang harus diakui menjadi sangat minimalis. Artinya problema penyakit yang sering menjadi masalah pada sistem terbuka, akan dipangkas pada titik terkecil dan sebaliknya produktifitas akan mencapai titik maksimal. Hal yang sama ditekankan oleh Dhanang, bahwa Closed House akan membuat produktifitas ayam mencapai titik optimal, dengan resiko gangguan kesehatan atau serangan penyakit sangat rendah sekali.
Di samping itu, memang harus diakui pula, bahwa tingkat keseragaman pertumbuhan dapat terjaga dengan baik. Namun dengan catatan jika Closed House dibuat dengan aturan yang benar. Disain dan equipment yang ditawarkan oleh Dhanang, memberikan jaminan akan hasil yang memuaskan. Dan bahkan ia mengklaim sebagai perencana dan pelaksana pembuatan Closed House yang terbaik di Indonesia sampai saat ini.

Infovet yang melihat dan membuktikan di lapangan pada kandang Closed House hasil pekerjaan Dhanang, bahwa aspek uniformitas / keseragaman pertumbuhan nyaris mencapai 95% atau jauh di atas rata-rata keseragaman pertumbuhan pada sistem kandang terbuka yang hanya mencapai 65-75% saja. Dan dari hasil recording / catatan harian, terlihat sekali tingkat mortalitas yang sangat rendah sekali dan bahkan nyaris total dalam periode pemeliharaan selalu di bawah 1%. Sebuah angka yang selalu dinanti dan diharapkan oleh para peternak.  Memang harus diakui, bahwa meski secara kasat mata terlihat, bahwa begitu padat dan rapat populasi ayam dalam suatu kandang, namun ternyata ayam sangat nyaman dan tidak terlihat sedikitpun ayam terganggu dalam bernafas maupun gerakannya. Inilah yang dimaksud dengan efisiensi ruangan dan kenyamanan.

Selanjutnya terkait dengan informasi adanya gangguan penyakit yang berasal dari Jamur dalam pakan dan penyakit CRD kompleks, Dhanang menyanggah dan menjelaskan akan sinyalemen itu. Memang tidak salah jika sinyalemen akan munculnya penyakit itu pada kandang Closed House, namun itu terjadi umumnya pada kandang Closed House yang konstruksinya ecek-ecek. Mengapa bissa terjadi demikian ?. Oleh karena umumnya, kandang Closed House yang dibangun tidak sesuai dengan disain yang benar, justru akan menjadi masalah bagi ternak yang berada di dalamnya. Kasus penyakit oleh karena jamur yang terjadi pada Closed House ecek-ecek, lebih disebabkan mekanisme penyimpanan dan pengelolaan pakan yang tidak baik. Pada Closed House yang baik, lanjut Dhanang, tempat utama pakan / silo, ada treatment pakan sebelum di alirkan ke tempat-tempat pakan pada kandang. Sehingga potensi terjadi kontaminasi agen infeksi jamur relative akan sangat kecil terjadi. Begitu juga dengan tangki penyimpan air minum yang selalu rutin mendapatkan treatmen, maka akan diperoleh air minum yang sangat hygienis. Jadi Closed House konstruksi yang ditawarkan Dhanang dengan tempat pakan dan minum yang serba otomatis.

Selain itu, sistem pengatur udara yang bersifat otomatis dan didukung mega blower keluar / exhaust fan yang penempatannya selalu diperhitungkan dengan matang, maka potensi gangguan penyakit CRD ataupun penyakit pernafasan lainnya,  akan sangat kecil terjadi. Penempatan mega blower yang asal pasang, tidak sesuai dengan seharusnya, maka tidak akan mampu memberikan kenyamanan ayam yang berada di dalam. Mega blower tidak hanya berfungsi untuk membantu mengatur suhu udara di dalam kandang saja, namun juga berfungsi membuang gas amoniak dan sulfida yang  menjadi gas iritans pada sistem pernafasan ayam. Dengan demikian, efek buruk gas iritans itu tiada akan merusak kesehatan ayam. Sebab gas itu menjadi pemicu awal munculnya gangguan pernafasan yang disebabkan oleh agen penyakit virus, mycoplasma maupun bakteri serta jamur.

Pada kandang Closed House ‘ecek-ecek’ sering justru kasus penyakit CRD maupun mycotoxin, memang menjadi masalah serius setelah kasus penyakit konvensional lainnya mampu ditekan. Hal itu jelas sekali oleh karena penempatan dan penataan alat pengatur suhu ruangan yang salah dan atau kurang tepat. Juga oleh karena pengatur suhu ruangan yang tidak bersifat otomatis. Mestinya jika mau menerapkan Closed House, maka semua haruslah bersifat otomatis, dengan mengurangi kontak sekecil mungkin pekerja dengan ayam.

Kasus penyakit CRD ataupun penyakit lainnya yang penularannya lebih cenderung melalui udara, pada kandang sistem Closed House akan dapat ditekan sekecil mungkin. Namun dengan syarat, bahwa disain dan konstruksi Closed House harus sesuai dengan rekomendasi termasuk peralatan yang digunakan.

(Sumber : Infovet, 2012)

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/benarkah-closed-house-menyimpan-segudang-penyakit/