Kipas / Fan Neostar 30 Inchi

Merk : Neostar.
Tipe : DFP750-TW(30″)
Spesifikasi :

  • Diameter : 30 Inchi
  • Tegangan : 220 V∼
  • Frekuensi : 50 Hz
  • Daya : 240 Watt

Harga : Rp. …Call Contact


Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/kipas-fan-neostar-30-inchi/

Kipas / Fan Mondial 30 Inchi

Merk : Mondial.
Tipe : DFM750-TW(30″)
Spesifikasi :

  • Diameter : 30 Inchi
  • Tegangan : 220 V∼
  • Frekuensi : 50 Hz
  • Daya : 240 Watt

Harga : Rp. …Call Contact


Keterangan : http://dhanangclosedhouse.com/kipas-fan-mondial-30-inchi/

Berhasil Di Pemeliharaan Ayam Pedaging Dengan Strategi 4-4-3

Empat kunci sukses yang dimaksud adalah indikator bagi indeks prestasi pemeliharaan ayam pedaging yang baik yaitu bila angka konversi pakan (FCR) rendah, berat badan bagus, umur panen pendek, dan kematian kecil. Sementara 4 elemen strategis itu adalah bibit DOC (Day Old Chicken) yang baik, pola manajemen yang terukur dan teratur, pola pakan yang baik, dan program medikasi yang produktif. Ditambah lagi perhatian ekstra untuk 3 fase kritis kehidupan broiler yaitu fase saat ayam umur 0-12 hari, 12-21 hari dan 21 hari sampai panen.

Demikian diungkapkan Aria Bimateja SPt, Sales Supervisor PT Sierad Produce Area Pare, Kediri, Jawa Timur saat ditemui Infovet disela customer gathering Sierad di Blitar.

Menurut Bima, demikian ia akrab disapa, kunci utama kesuksesan peternakan ayam pedaging ditunjukkan oleh kesuksesan di Indeks Prestasi atau Indeks Penampilan (Index Performance, IP). IP yang baik ini ditunjukkan oleh 4 indikator sebagai tolok ukur kesuksesan. 4 indikator bagi IP yang baik adalah bila angka konversi pakan (Feed Conversion Ratio, FCR) rendah, berat badan bagus, umur panen pendek, dan kematian kecil.

Bagaimana mencapai 4 hal indikator itu semua secara baik ? Dibutuhkan 4 elemen strategis”, ujar pria kelahiran 15 Desember 1980 ini.

Menurutnya 4 elemen yang strategis itu adalah bibit DOC (Day Old Chicken) yang baik, pola manajemen yang terukur dan teratur, pola pakan yang baik, dan program medikasi yang produktif.

Bima menambahkan, bibit DOC yang baik harus memenuhi berat badan standar ayam pedaging, lincah, gesit, terhindar dari kasus-kasus ompalitis, dan angka kematiannya kecil. Sedangkan pola manajemen yang terukur dan teratur harus memenuhi kaidah-kaidah tertentu. Kaidah-kaidah itu adalah konstruksi kandang yang sesuai di mana ventilasi nyaman, kepadatan ruang tidak boleh terlalu padat di mana 1 meter persegi kandang untuk 8 (delapan) ekor ayam untuk yang kandang terbuka, dan biosecurity.

Selanjutnya menurut alumnus Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (Fapet IPB) ini, program pakan yang baik adalah pakan menggunakan pakan-pakan unggulan dengan kualitas yang baik. Kandungan pakan spesifik dan tepat sesuai kebutuhan ayam dalam masa pre starter, starter dan finisher.

Adapun, “Medikasi yang produktif adalah meliputi vaksinasi, pengobatan, dan semprot kandang dengan desinfektan”, kata Aria.

3 Fase Kritis

Aria Bimateja SPt pun membagi masa hidup ayam pedaging dalam 3 fase. Fase pertama adalah fase saat ayam umur 0 hari sampai umur 12 hari. Fase ini disebut dengan nama fase hiperflasia atau sel tubuh mengalami perbanyakan atau pertambahan jumlah melalui pembelahan sel pertumbuhan.

Fase yang kedua adalah fase saat ayam umur 12-21 hari. Fase ini disebut dengan nama fase hiperflasia dan hipertropi, di mana selain bertumbuh ayam juga mulai mengalami pembesaran dan pendewasaan tubuh.

Fase ketiga adalah fase ketika umur ayam lebih dari 21 hari sampai masa panen. Fase ini disebut fase hipertropi, di mana ayam tidak lagi tumbuh namun hanya mengalami masa pembesaran dan pendewasaan tubuh sampai siap untuk dipanen.

Semua masa dalam fase-fase ini menurut Aria Bimateja kondisinya adalah kritis. Dalam kata lain dalam pemeliharaan ayam pedaging menurutnya adalah, “Semua masa kritis”, katanya seraya menegaskan masa kritis ini sejak ayam umur 0 hari sampai umur panen.

Ia juga menjelaskan tahap-tahap hidup ayam pedaging itu sebagai makhluk hidup. Pada mula kehidupannya, komponen hidup dari ayam pedaging itu belum sempurna atau belum ada semua, 48 kromosom belum lengkap. Sampai pada saatnya dengan tahapan hiperflasia semua kromosom itu lengkap jumlahnya sebanyak 48 kromosom. Selanjutnya pada fase hipertropi, 48 kromosom itu diperbesar.

Di masa pertumbuhan atau perbanyakan sel tadi, “Fase hiperflasia bila tidak optimal akan mengganggu pertumbuhan berikutnya”, ujar Aria Bimateja. Jika pertumbuhan pada periode ini terganggu, dapat dipastikan berpengaruh terhadap pertumbuhan selanjutnya di mana terjadi pertumbuhan hipertropia atau pembesaran atau pendewasaan sel tersebut.

Pada giliran berikutnya bila pertumbuhan tersebut tidak maksimal maka profit atau keuntungan peternak berkurang karena ayam kecil-kecil, berat badannya tidak sesuai dengan berat badan standar. Pertumbuhan sel tubuh memang tercermin pada pertambahan bobot badan.

Mengingat penting dan kritisnya semua masa, Bima memberi penekanan agar peternak memperhatikan kondisi ayam pedaging pada awal kehidupannya lantaran kondisi ayam pedaging pada masa ini sangat menentukan masa-masa berikutnya.

Pada periode ‘brooding’ atau masa pemanasan pengindukan buatan, pertumbuhan berlangsung sangat cepat dengan FCR yang sangat rendah. Saat ini hampir semua ransum yang dikonsumsi memang dialokasikan untuk pertumbuhan, sehingga bobot badan pada akhir minggu pertama mencapai 4 kali bobot badan awal DOC.

Sangat beralasan bila kemudian Bima mengatakan, “Pemeliharaan ayam pedaging dari A-Z yang paling penting di masa brooding atau masa pemanasan pengindukan buatan”. Dengan kondisi pemanasan pengindukan buatan ini dibuat seolah-olah sesuai dengan kondisi yang diberikan induk, Bima menegaskan kondisi yang rawan di sekitar 2 minggu pertama.

Selanjutnya setelah melewati masa pemanasan pengindukan buatan, lepas dari masa ini hasil penampilan ayam masuk kategori baik. Namun demikian masa setelah lepas pemanasan pengindukan buatan ini, masih penting bagi peternak untuk mengantisipasi kasus-kasus penyakit yang bersifat imunosupresif atau menekan kekebalan tubuh dan menghambat petumbuhan daging.

Penyakit-penyakit tersebut yang sering muncul berupa penyakit pernapasan, CRD, Koriza, CRD kompleks dan kasus-kasus yang menyerang pencernaan berupa enteritis alias infeksi usus halus. Dan, Aria Bimateja SPt memberi jaminan bila 4 elemen strategis tersebut dipenuhi secara disiplin, niscaya masalah penyakit ini dapat dieliminir, tertanggulangi dan dicegah. Dan lebih dari itu, 4 kunci sukses pemeliharaan ayam pedaging dapat dipenuhi guna produksi terbaik.

Pilah-Pilih Atap Untuk Ayam (bag 2)

Wahyu Pratomo, Direktur CV Intan Cahya, penyedia jasa konstruksi baja Closed House untuk unggas, turut memberi keterangan. Ia mengaku, beberapa waktu lalu tertarik menggunakan atap tersebut tetapi belakangan mundur dengan alasan harga. “Saya sekarang tengah membangun menambah Closed House di Kulon Progo (Yogyakarta – red) ukuran 12 x 126m. Kali ini saya ingin coba pakai atap itu, dikasih harga kisaran Rp. 500 juta. Wah, nggak jadi !“, ujar pria yang juga menyandang status peternak broiler dengan 3 Closed House berkapasitas total 125 ribu per siklus ini.

Wahyu percaya teknologi ini efektif mendukung terpenuhinya lingkungan ideal bagi hidup ayam dan mempermudah operasional Closed House. Ia yakin, teknologi ini akan semakin mendukung performa ayam, karena ayam lebih nyaman. Ditambahkan Dhanang, teknologi ini adalah cara mudah menurunkan suhu dalam kandang sehingga tenaga kandang dapat berkonsentrasi pada peralatan dan pekerjaan lain yang memberi dampak positif terdongkraknya performa ayam.

Menurut Wahyu ini sejatinya bukan teknologi baru. Penggunaan PU sudah banyak pada gedung atau bangunan lain. Lapisan insulasi banyak dimanfaatkan sebagai penahan suhu pada kamar pendingin agar tetap dingin. “Tapi pemanfaatan untuk kandang ayam masih baru“, ujar dia.

Sayangnya harga terlalu tinggi. Sebagai pembanding, dengan ukuran yang sama Wahyu hanya menghabiskan biaya sekitar Rp. 150 juta untuk atap plafon. Wahyu semula mengaku senang saat belakangan dipasarkan produk tersebut yang merupakan buatan dalam negeri. “Saya senang karena saya pikir dengan produk dalam negeri bisa lebih murah, ternyata ndak“, ucapnya bernada menyayangkan.

Wibowo tak menampik produknya 20-30% lebih mahal ketimbang atap konvensional. Tapi selain tampilan jauh lebih bagus, sandwich panel selama 20-30 tahun tidak akan rusak. Pelanggannya mengakui nilai lebih tersebut. “Murah, tapi 3 atau 4 tahun harus dibongkar ganti atap baru, itu jauh lebih tidak efisien“, ujarnya setengah berdalih.

Investasi atap sandwich panel untuk Closed House baik layer maupun broiler sama. Ia menyebut kisaran Rp. 600 juta untuk ukuran 10 x 120 m². Harga Rp. 150 ribu per m². “Kalau pakai atap biasa Rp. 110 – 115 ribu per m². Tapi insulasinya beda jauh, dan praktis tinggal pasang“, ucapnya promosi. Sehari, kata Wibowo, dapat terpasang 300 m² dengan pekerja 4 orang. Sementara atap konvensional paling banter 150 m², belum lagi insulasinya ribet.

Keluhan dana yang terbatas ditanggapi Wibowo dengan menyodorkan alternatif pilihan. “Bisa disesuaikan budgetnya. Yang penting secara fungsi dapat“, katanya. Ia memisalkan, opsi penggunaan jenis natural color dan bagian bawah paperfelt, ini mampu menekan harga sampai 20%. Jadi peternak masih ada pilihan. tetap dapat memiliki atap ideal.

Plafon Kurang Maksimal

Batal menggunakan atap PU, untuk calon kandang barunya Wahyu mengaku membuat modifikasi atap hasil kreasinya sendiri. Menggunakan beberapa bahan yang banyak ditemui di pasaran ia membuat atap berinsulasi. “Galvalume di 2 sisi, dengan insulasi di tengahnya memanfaatkan aluminium foil“, tuturnya rigid. Kalkulasi dia, ongkos yang dikeluarkan tidak lebih dan Rp. 250 juta. Dan ia yakin, kreasinya ini mampu memberikan fungsi atap yang ideal, menekan suhu dalam kandang.

Sebelumnya, dalam membangun Closed House, baik untuk sendiri maupun penyediaan bagi peternak lain, Wahyu masih menggunakan tipe atap dengan plafon. Dan ia mengakui, di iklim tropis dengan suhu yang fluktuatif, atap biasa memiliki kesulitan tersendiri dalam menurunkan suhu. Dia mencontohkan kandangnya yang di Losari dengan 3 lantai, performa ayam di lantai paling atas adalah yang terendah. “Artinya, di atas ini paling panas dan atap plafon tidak maksimal meredam panas paparan sinar matahari“, terangnya.

Selain itu, atap plafon membutuhkan biaya maintenance (perawatan). Kata Dhanang, untuk plafon berbahan terpal atau plastik menuntut renovasi di tahun ke-6, sementara plafon berbahan galvalume setelah 15 tahun harus diganti. Sedangkan atap golongan III tanpa plafon mampu bertahan selama kandang berdiri.

Wahyu menambahkan, tindakan sanitasi dengan semprotan bertekanan tinggi berpotensi menimbulkan kerusakan pada plafon. Belum lagi, apabila listrik padam. Dijelaskan Wahyu, saat listrik kembali menyala, otomatis semua blower menyala sehingga hembusan angin mendadak kencang dan memberikan tekanan menghentak pada plafon.

Perlu Kipas Banyak

Tapi Teddy punya analisa berbeda. Ia justru menyarankan perlunya mempertimbangkan biaya operasional yang harus dikeluarkan bila akan memilih kandang jenis A frime tanpa plafon untuk Closed House. Meski atap dengan bahan PU dapat menahan panas, kata dia, karena tanpa plafon maka udara di dalam kandang menjadi sangat besar. “Ini membutuhkan jumlah kipas yang lebih banyak untuk mengalirkan udara“, jelas Teddy. Otomatis, penggunaan listrik juga lebih besar. Ia membandingkan, perbedaan pemakaian jumlah kipas antara kandang berplafon dengan tanpa plafon sekitar 25%. Meskipun, ia mengimbuhkan, tergantung cuaca di masing-masing lokasi juga.

Teddy menilai yang paling ideal adalah menggunakan atap PU, dengan ditambah plafon juga. Walaupun investasi atau modal lebih banyak, tetapi metode ini efektif menurunkan suhu kandang. Disamping panas diredam atap, ruang kosoog antara atap dan plafon juga menghambat aliran panas ke dalam kandang sehingga lebih dingin. Nilai lebihnya, plafon juga memperkecil volume udara dalam kandang sehingga tidak menuntut penggunaan kipas yang banyak.

Masing-masing tipe punya plus minus, kata Teddy. Alternatif lain, menggunakan atap zincalume tanpa lapisan PU kemudian dibuat plafon. Bila merujuk pada penjelasan Dhanang, tipe ini adalah atap golongan I. Menurut Teddy, investasi tipe ini sama dengan atap beriapis PU tanpa plafon. Bedanya, yang pakai plafon biaya operasional harian lebih rendah karena menghemat kipas dan listrik.

Sebagai jalan keluar plafon yang mudah rusak, Teddy menyarankan untuk menggunakan zincalume sebagai bahan pembuatan plafon. Alih-alih plastik atau terpal. Teddy mengaku lebih memilih tipe atap dengan zincalume dengan drop ceiling (plafon). “Ditambahkan glass wool di atas plafon juga tidak apa-apa“, ujarnya. Investasinya juga lebih tegangkau, menurut dia.

Plafon untuk Broiler

Aneng Lim, Sales Manager PT Big Dutchman Agriculture Indonesia mengutarakan, tipe kandang dengan flat ceiling (plafon) cocok untuk broiler. Sebaliknya, tipe ini tidak pas untuk layer karena tekanannya terlalu besar bagi kandang layer yang menggunakan cages (kandang individual). Sependapat dengan Teddy, Lim mengatakan untuk broiler yang terbaik adalah menggunakan atap berinsulasi PU dan ditambah plafon.

Atap Closed House paling sederhana, dijelaskan Lim, tipe A sudah menggunakan insulasi dengan tulang rangka yang masih terlihat sehingga aliran udara menemui banyak rintangan yang berakibat terjadi turbelensi. Solusinya, ditutup dengan lapisan metal dengan ketebalan lebih tipis ketimbang metal di bagian atas. “Bisa ditambahkan glass wool atau tidak“, katanya.

Tipe berikutnya menggunakan flat ceiling, dan tipe ketiga menurut Lim menggunahan PU panel atau kadang disebut juga dengan sandwich panel. PU diakuinya mahal, alternatif pilihan adalah galvanis, tetapi perlu plafon dan glass wool yang diletakkan di plafon sebagai insulasi. Dan dibandingkan penggunaan glass wool, PU lebih rapi.

Pihaknya menyediakan kebutuhan galvanis dengan spesifikasi ketebalan 275 gr/m², sementara ukuran panjang tergantung permintaan pelanggan. Tetapi, kata Lim lagi, lebar lebih dari 12m kontraktor akan kesulitan karena panjang besi per 6m. “Di Indonesia ukuran standar kandang 12 x 120m“, sebut dia.

Untuk PU, tersedia di pasaran panjang 6-12m. Lebih dari itu, kata Lim lagi, akan kesulitan loadingnya. PU sedang marak. Menurut dia PU aman, tidak beracun karena lapisannya tertutup. “Untuk satu kandang kira-kira dibutuhkan 315 lembar“, imbuh dia.

Sirkulasi dan Turbulensi

Ayam sebagai makhluk hidup bermetabolisme dan melepaskan panas tubuh. Panas tubuh, bersama gas ammonia akan naik ke atas mengisi ruangan dalam Closed House. “Udara inilah yang harus dikeluarkan“, terang Teddy. Aliran udara yang baik akan menghasilkan sirkulasi atau ventilasi ideal dalam kandang, sehingga sejuk dan nyaman bagi ayam.

Konstruksi plafon sangat menentukan nilai aliran udara di dalam kandang. Teddy memberi catatan penting untuk model plafon yang flat (datar) berpenampang melintang berbentuk kotak dengan sudut-sudut lancip. Tipe ini menghasilkan turbelensi aliran udara karena saling bertabrakan. Sedangkan untuk model plafon yang curve, artinya ujung-ujungnya berupa lengkungan, aliran udara lebih lancar. “Turbelensi ini tidak disukai ayam“, katanya. Dan kalau turbelensi itu sangat kuat maka akan ada bagian tempat yang kosong udara dan titik tersebut akan dijauhi ayam. Idealnya, udara mengalir lembut dan rata.

Untuk tinggi antara atap dengan plafon, menurut Teddy tidak ada angka ideal. Ruang kosong ini menjadi pendingin alami. Untuk menambah peredam panas, bisa dipakai glass wool yang ditempel pada plafon. “Dan biasanya tikus tidak suka glass wool. Selain itu, baiknya plafon dilapisi plastik agar tidak ada bocor“, pesan Teddy.

Teddy memberikan keterangan tambahan, dudukan atap jarak antara satu dengan lainnya 3-6m. Banyaknya kolom dudukan kandang sangat tergantung panjang kandang. Panjang kandang rata-rata 120m. Untuk kemiringan atap, ada hitungan tersendiri. “Kita paling sering memakai 8-11 derajat“, sebutnya. Kemiringan ditentukan variabel berapa banyak bahan atap yang akan digunakan, dan aliran air. Atap yang terlalu landai, air akan lambat mengalir sehingga membebani atap tersebut.

Kalkulasi investasi total kandang dengan ukuran standar 12 x 120m, menurut Teddy berkisar Rp. 1,2 – 1,3 M. “Kalau komplit dengan peralatan menghabiskan Rp. 2 M“, sebutnya. Dan atap, katanya, menelan 50-60% dari total biaya. Diakuinya, pembangunan Closed House mahal di atap.

Sumber : Trobos, September 2013

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/pilah-pilih-atap-untuk-kandang-ayam-ii/

Pilah-Pilih Atap Untuk Ayam (bag 1)

Atap sandwich panel dengan insulasi PU dipercaya mampu meredam suhu dalam Closed House, membantu memberikan lingkungan ideal bagi hidup ayam. Tetapi harga mahal banyak dikeluhkan, sebagian lagi masih memilih atap plafon.

Gagasan penyediaan Closed House (kandang tertutup) untuk unggas, ditujukan dengan maksud menyediakan lingkungan yang ideal bagi hidup ayam secara kontinu. Ayam terhindar dari cekaman cuaca ekstrem di luar dan nyaman berada di dalamnya, sehingga akan memberikan feed back berupa performa yang optimal sesuai potensi genetik. Dan ujungnya, peternak pemilik akan dapat meraup untung yang sepadan dari usahanya budidaya ayam, baik itu broiler (ayam pedaging) maupun layer (ayam petelur).

Closed House mensyaratkan terpenuhinya parameter-parameter standar tertentu untuk dapat disebut mampu menyediakan lingkungan sesuai kebutuhan ideal hidup ayam. Area Manager of East Indonesia PT Sierad Industries, Dhanang Purwantoro menyebut parameter vital yang ideal dalam kabin Closed House antara lain suhu 27-28°C, kelembaban di kisaran 70% dan kecepatan aliran udara 2,5 m/detik.

Dan atap, menjadi komponen krusial yang berkontribusi dalam pencapaian parameter-paramater tersebut sehingga sebuah kandang layak menyandang nama Closed House. Terutama perannya dalam mengendalikan suhu dan terciptanya sirkulasi udara atau ventilasi yang baik, dan kedua tersebut akan menentukan tingkat kelembaban dalam kandang.

Sejauh pengalamannya sekian lama dan sekian banyak melayani pembangunan Closed House bagi peternak broiler maupun layer. Dhanang Purwantoro mengelompokkan atap menjadi 3 golongan berdasarkan bahan yang dipakai. Ia memaparkan, golongan pertama adalah atap yang terbuat dari 1 lapis jenis bahan, misalnya seng, galvalume (material berbahan logam baja) atau asbes saja. Golongan dua, berupa atap berbahan seng atau galvalume yang berlapis insulasi sederhana. Dan lapisan insulasi dapat menggunakan aluminium foil, glasswool, atau expanded polystyrene (EPS), sejenis bahan yang umum dikenal dengan styrofoam.

Sementara golongan ketiga, Dhanang menyebut istilah atap galvalume insulated. Tipe ini tebal dan padat, berupa lapisan kompleks yang memanfaatkan EPS dan polyurethane (PU) sebagai bahan insulasi.

Lebih lanjut Dhanang menjelaskan, untuk tipe atap golongan I dan II mensyaratkan beberapa kelengkapan. Pertama, tipe tersebut menuntut desain konstruksi yang kuat. Kedua, harus didukung desain sirkulasi udara yang bagus. “Supaya tercapai sirkulasi yang baik maka perlu tambahan cone di bagian atas kandang, atau penambahan kipas, atau dibuat adanya udara alami dari samping“, papar dia.

Yang ketiga, tipe ini perlu tambahan sprinkle (semprotan) air di atap. Selain itu, atap golongan I dan II menuntut mutlak adanya plafon karena aliran panas sebagian besar masih mampu menerabas tembus atap. Ruang kosong antara atap dan plafon merupakan penghambat aliran panas yang menjadikan kabin di bawahnya lebih dingin.

Dikatakan Dhanang, fokus utama fungsi atap adalah membendung panas dari atas, meredam paparan sinar matahari. Dan atap golongan III mampu membendung panas dari atas dengan maksimal sehingga suhu dalam Closed House dapat turun signifikan. “Jadi jenis ini pilihan ideal“, katanya. Dhanang menyebut atap berbahan insulasi EPS dan PU ini, tanpa perlu plafon dipercaya dapat menurunkan suhu 3-5°C, dalam kabin Closed House.

Polyurethane Insulation

Praktisi perunggasan Teddy Chandra punya penjelasan sendiri. Ia mengatakan. saat ini kandang terutama Closed House arahnya menggunakan zincalume sebagai atap karena lebih mudah pemasangannya dan struktur lebih ringan. “Seperti yang banyak digunakan untuk bangunan gudang“, kata dia. Teddy menjelaskan, zincalume adalah lapisan plat yang dilapisi dengan zinc dan sering disebut metal seed. Terbuat dari zinc dan alumunium, zinc dapat menahan panas dan menyerap panas tapi tidak dalam jumlah besar karena ada alumuniumnya.

Dalam aplikasinya, lanjut Teddy, kandang dengan atap zincalume ada 2 tipe. Pertama, kandang tanpa plafon atau diistilahkan dengan A frime (konstruksi menyerupai huruf A), dan kedua adalah kandang dengan plafon yang diistilahkan dengan ceiling.

Pada kandang A frime, atap berfungsi sekaligus sebagai plafon. Ini menjadikan volume udara pada kandang tipe ini lebih besar ketimbang kandang dengan plafon. “Atap kandang A frime biasanya menggunakan bahan PU, bentuk luarnya bergelombang dengan lapisan tengah diberi PU”, terang Teddy.

Kondisi cuaca sekarang yang makin panas, tambah Teddy, menjadikan PU dipilih untuk fungsi meredam panas. Kalau zincalume hanya sedikit menahan panas. sedangkan PU mampu memblokir panas jauh lebih besar.

PU berupa bahan kimia seperti styrofoam yang disuntikan di antara lapisan metal, menjadi keras sehingga mudah dipasang tinggal dirakit. Densitas atau kepadatannya lebih rapat daripada styrofoam. Penggunaan PU mengadopsi metode pembuatan cooling room (ruang pendingin). PU dapat menahan suhu sehingga ruangan dalam pendingin tetap dingin. Artinya bisa juga menahan panas.

Yang belum banyak orang pahami, Teddy memberi catatan, material PU sebagai penahan panas tidak sebaik penggunaan sebagai penahan dingin. “Semakin dingin suhu, PU makin kuat“, ujarnya. Tetapi untuk suhu panas, di titik tertentu PU akan rusak. Sehingga sebagai penahan panas umur penggunaannya (life time) lebih pendek ketimbang sebagai penahan dingin. “Untuk cooling room PU bisa bertahan selamanya, tapi untuk panas lama-lama akan rusak seperti krupuk kena air, jadi gembos atau mengempis“, papar Teddy.

Penggunaan PU yang mulai rusak ditandai dengan kandang yang memanas. PU yang rusak akan menipis dan terbentuk rongga-rongga seperti kawah.

Teddy menambahkan catatan, bagaimanapun PU bahan kimia dan bersifat toksik. Terlebih bila terbakar. “Asapnya aja mematikan, tidak boleh terhirup“, Teddy mewanti-wanti. Tetapi, tidak ada bahan seperti PU yang lebih aman. Untuk itu kandang Closed House mutlak menuntut keamanan karena menggunakan material yang mudah terbakar dan sangat berbahaya jika terbakar.

Sandwich Panel Roof

PT Mitra Manunggal Selaras (MMS), adalah produsen atap berbahan zincalume sebagai lapisan metal di kedua sisi (atas dan bawah) dan PU sebagai insulasi di tengahnya. Direktur PT MMS, FX Triagus S Wibowo mengatakan, produknya ini banyak dikenal dengan sandwich panel roof. “Sekarang lagi tren rangka baja ringan dengan atap sandwich panel atau sering disebut panel roof“, ujar dia.

PT MMS sampai hari ini merupakan satu-satunya produsen dalam negeri untuk atap tipe sandwich. Penyebutan sandwich, karena bentuknya berlapis. Lapisan terluar terbuat dan metal, tengah ada insulasi yang berguna sebagai peredam suara dan peredam panas, dan lapisan bawah metal lagi.

Struktur ini kata Wibowo, lebih efisien daripada struktur konvensional yang menggunakan atap metal dengan insulasi berupa glass wool atau alumunium foil. Dan bahan-bahan tersebut bersifat toksik atau beracun tidak baik untuk kesehatan ayam.

Aplikasi sandwich panel, lanjut dia, menyesuaikan ukuran Closed House yang diinginkan peternak. “Roofing by design“, ujar Wibowo mantap. Ukuran berapapun pihaknya dapat membuat “Tanpa sambungan, tanpa ada space. Efisiensi, itu yang kami tawarkan“, tambah dia. Ketebalan atap produk ini 2,5 cm dengan density (kepadatan) 40 kg/m³, diyakini mampu meredam panas secara efektif, memberikan suhu nyaman bagi ayam dalam kandang.

Wibowo mengklaim, efisiensi bisa mencapai 15-20%. Di siang hari saat suhu di luar mencapai 40°C, di dalam kandang bisa 36-34°C. Sebaliknya, di malam hari dengan fan dan ventilasi yang berjalan baik, suhu dalam kandang tetap hangat meski di luar dingin. Ini karena udara dingin luar tidak mampu menembus atap.

Mahal

Alasan biaya menjadi pertimbangan tersendiri bagi peternak untuk menggunakan PU atau yang menurut Dhanang masuk golongan III. “Harganya sangat tinggi”, kata Dhanang. Ia menambahkan, di lingkungan internal Sierad Group atap jenis ini baru digunakan pada peternakan breeding (pembibitan), untuk komersil belum ada yang menggunakan.

Bersambung (Pilah-Pilih Atap Untuk Ayam (bag 2))
Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/pilah-pilih-atap-untuk-kandang-ayam-i/

Closed House Ideal

Kandang Closed House secara harfiah adalah kandang tertutup. Tetapi, tidak sekadar itu saja. Kandang Closed House dibuat sedemikian rupa sehingga lingkungan di dalam kandang optimum untuk pertumbuhan ayam.

Menurut Boedi Poerwanto, Deputy Poultry Director PT. Sierad Produce, modifikasi kandang adalah penting dan bertujuan menyelamatkan peternak. Aplikasi teknologi ini membuat ayam dan lingkungan nyaman. Apalagi cuaca semakin ekstrim dan lahan peternakan semakin bersaing dengan pemukiman.

Namun yang terpenting dari modifikasi kandang adalah proses menuju Closed House. “Ya, seperti investasi setahap demi setahap menuju Closed House yang sesungguhnya“, katanya. Dengan kalkulasinya, Boedi yakin modifikasi kandang yang di dalamnya ada sentuhan teknologi dapat menurunkan biaya produksi dan meningkatkan keuntungan. Modifikasi kandang, lanjut Boedi, setahap demi setahap mengarah ke Full Closed House. Meski demikian, peternak cenderung melihat nominal investasi yang besar, ketimbang hasil yang akan diperoleh.

Boedi menerangkan, komponen penting yang harus dimodifikasi dan diberi sentuhan teknologi, adalah sistem ventilasi. Sebab ventilasi dapat memengaruhi tingkat kepadatan ayam dalam kandang. Ventilasi harus dibuat sedemikian rupa, agar stress panas dapat dicegah.

Boedi menegaskan, tujuan utama sistem ventilasi adalah memberikan kenyamanan pada ayam yang dipelihara. Ventilasi tidak selalu bisa memberikan kenyamanan. Apakah ventilasi bisa menyediakan suhu tertentu secara konstan dalam 24 jam? Nyatanya tidak setiap saat ada hembusan angin. Bila ada, kecepatan angin belum tentu sesuai. Ini akan berpengaruh pada suhu dan kelembaban dalam kandang. “Memenuhi zona nyaman ayam adalah prioritas, sementara sistem pemberian pakan dan air minum adalah pelengkap“, ujarnya.

Closed House adalah kandang tertutup, tetapi tidak sekadar itu. Banyak hal-hal penting yang harus diperhatikan agar Closed House berjalan dengan maksimal. Boedi mengatakan, sejak mengenal closed house tahun 1997-an, banyak hal yang ia perhalikan.

Masih banyak yang beranggapan bahwa kadang terbuka lalu ditutup sudah dikatakan Closed House. Padahal tidak sekadar itu. Kadangkala, tempat yang sudah tidak digunakan, bahkan gudang dijadikan kandang untuk ayam. Akhirnya lebar dan panjang kandang tidak sesuai dengan semestinya“, ujar Boedi. 12m x 120m sudah barang tentu melalui penelitian yang membutuhkan waktu yang cukup lama. Namun, peternak di Indonesia sendiri mengharapkan kandang yang bisa melebihi itu. “Memang ada efisiensi di sini, tetapi bagaimana dengan kecepatan angin di dalam kandang ?. Semakin lebar, luas penampangnya semakin luas, ini berarti membutuhkan kipas yang banyak. Namun, dengan semakin lebar, tidak menjamin kecepatan angin sama, justru semakin tidak baik. tidak rata“, akunya.

Terlebih, kelembaban pada Closed House harus mencapal 55%, sementara kelembaban di Indonesia lebih dari itu. Sehingga muncul ide minimum ventilation, bagaimana udara panas dan kelembaban bisa lebih cepat keluar. Dari sisi temperatur, apalagi tidak menggunakan cooling pad, panas tidak akan bisa turun. Tetapi, menggunakan cooling pad juga tidak menjamin aman, karena harus tahu cara-caranya. Ujung-ujungnya semua kembali kepada manusianya. Pegawai maupun anak kandang harus dididik. Kebanyakan kegagalan, umumnya karena mempunyai SDM yang tidak paham.

Menurutnya, Closed House diperlukan di Indonesia. Masalah yang sering dihadapi mitra-mitra peternak dengan kandang terbuka adalah mati angin, bahkan ada yang membangun kandang di tengah sawah. Padahal di tengah sawah pun tidak menjamin angin akan terus ada. Saat ini eranya Closed House, namun Closed House yang benar.

Sementara itu, Parlindungan Siahaan, Area Head Production PT. Multi Sarana Pakanindo mengungkapkan bahwa pada dasarnya kandang Closed House adalah kandang yang dibuat sedemikian rupa sehingga lingkungan di dalam kandang optimum untuk pertumbuhan ayam. Caranya adalah dengan meningkatkan ventilasi sehingga memberikan kenyamanan kepada ayam dengan sendirinya density atau kepadatan bisa bertambah, kesehatan ayam lebih baik, dan lingkungan juga menjadi tidak terganggu.

Terdapat liga tipe Closed House dilihat dari arah pergerakan udara di dalam kandang yaitu tipe tunnel, cross, dan transisi. Tipe tunnel merupakan tipe Closed House yang paling banyak digunakan di Indonesia“, terang Parlindungan. Secara sederhana tipe tunnel digambarkan sebagai suatu sistem di mana udara yang masuk melalui inlet di bagian depan kandang ditarik ke belakang dengan bantuan kipas. Tipe tunnel sendiri masih dibedakan menjadi dua yaitu tipe tunnel yang menggunakan cooling pad atau biasa juga disebut sistem Full Closed House dan tipe tunnel yang tidak menggunakan cooling pad atau sering disebut Semi Closed House. Umumnya, sambungnya, kandang Closed House yang tidak menggunakan cooling pad adalah kandang yang dimodifikasi dari kandang open karena terkadang terkendala pada konstruksi bangunannya. Cooling pad sendiri sebenarnya jarang digunakan di Indonesia, terutama di daerah dingin seperti Bogor karena cooling pad membuat kelembaban dalam kandang tinggi. Tetapi di daerah yang kelembabannya tidak terlalu tinggi seperti daerah Pantura dianjurkan untuk menggunakan cooling pad. Selain itu, cooling pad juga harganya mahal, sehingga terkadang peternak memllih untuk tidak menggunakan cooling pad untuk menghemat biaya. “Tetapi idealnya harus ada, sehingga saat dibutuhkan bisa langsung digunakan“, ujarnya.

Tipe yang paling ideal untuk kandang Closed House adalah kombinasi tipe cross dan tunnel. Menurut Slamet Muryo, Poultry Integration West Java PT. Multi Sarana Pakanindo, tipe cross digunakan saat brooding, sedangkan tipe tunnel digunakan saat ayam sudah besar. Tipe cross digunakan pada saat brooding bertujuan untuk menghindarkan ayam kecil terkena angin langsung dan menjaga kualitas oksigen yang masuk ke kandang. Seiring dengan pertumbuhan ayam, kecepatan angin dengan menggunakan tipe cross kurang sehingga beralihlah ke tipe tunnel. Untuk tipe transisi biasanya banyak digunakan di Eropa yang merupakan daerah dingin, untuk daerah tropis lebih cocok digunakan tipe cross yang dikombinasikan dengan tipe tunnel.

Sementara untuk peralatan di dalam kandang yang dibutuhkan oleh sebuah antara lain kipas, alat pengatur suhu, cooling pad (optional), pemanas untuk brooding, bisa gasolek atau heater. “Untuk Closed House temperaturnya adalah temperatur ruangan, karena heater diletakkan di ujung berlawanan dengan kipas sehingga udara panas ditarik oleh kipas jadi bisa menyebar ke seluruh kandang. Kalau gasolek cenderung spot-spot tertentu saja“, akunya. Selain itu, lanjutnya, heater sistemnya otomatis sehingga bisa lebih menghemat penggunaan gas. Dengan gas gasolek 1 tabung gas 50 kg hanya untuk 1000 ekor, sedangkan dengan heater 1 tabung gas 50 kg bisa untuk 2500 ekor. Selain itu diperlukan juga tirai yang rapat dan lampu yang benar-benar uniform. Kalau tempat pakan masih bisa digunakan yang manual, tetapi kalau tempat minum harus nipple. Ini untuk menghindari air tumpah sehingga litter menjadi basah dan membuat kelembaban di dalam kandang menjadi tinggi. “Tetapi yang full automatic lebih menguntungkan. karena hambatan udara di dalam kandang berkurang dibandingkan dengan memakai tempat pakan dan minum manual. Sehingga kerja kipas bisa lebih efisien. Anak kandang juga bisa bekerja dengan lebih nyaman, ayamnya juga tidak terganggu. dan biosekuritinya juga lebih terjaga. Performa ayam yang dicapai dikandang Closed House rata-rata mortalitas ≤ 3%, FCR ± 1.5, IP diatas 300“, ungkapnya.

Slamet mengatakan, standar kandang Closed House sendiri biasanya menggunakan populasi 20.000 ekor, dengan ukuran kandang lebar 12 meter dan panjang 120 meter, dengan arah sebaiknya tetap timur-barat Hal ini dikarenakan walaupun kandang sudah tertutup, panas matahari tetap akan berpengaruh ke dalam kandang. Untuk jumlah kipas disesuaikan dengan ukuran kandang dan ukuran panen ayam. Ukuran panen 1,6-1,7 kg, 7 kipas cukup, tapi kalau 1,8-2 kg harus 8 buah. Sementara itu lebar inlet untuk masuknya udara harus disesuaikan dengan jumlah kipas dan ukuran kandang. Jika ukuran lebar kandang adalah 12 meter dengan tinggi kandang 2,2 meter, maka lebar inletnya adalah 26,4 m² dengan jumlah kipas 7 buah.

Untuk kandang modifikasi dari Open ke Closed biaya yang ditambahkan jauh lebih efisien dibandingkan dengan membuat kandang baru. Tetapi kandang Open yang mau dimodifikasi menjadi kandang Closed jangan melupakan masalah konstruksi bangunan. “Konstruksi harus kuat karena setelah diubah jadi Closed semua lubang ventilasi ditutup sehingga jika ada hantaman angin dari sisi kandang, angin tidak bisa lewat sehingga jika konstruksi tidak kuat kandang bisa rubuh“, terang Adisak.

Pembangunan kandang Closed House baru dengan ukuran standar 12 x 120 meter lengkap dengan peralatannya menghabiskan dana kurang lebih 1,7-2 miliar rupiah. Sedangkan untuk modifikasi tergantung equipment yg digunakan. Kalau konstruksinya besi kandang bisa tahan sampai 20 tahun, sedangkan jika menggunakan kayu yang kualitasnya baik bisa sampai 15 tahun. “Dengan besaran Investasi ini dengan perkiraan harga ayam normal maka diperkirakan BEP akan tercapai dalam waktu kurang lebih tiga tahun. Sementara untuk efisiensi biaya menurut Adisak dengan menggunakan kandang Closed House bisa menghemat biaya hingga Rp. 500/ekor dibandingkan dengan kandang open“, tambahnya.

Closed House Terbesar

Di Pare, Kediri Jawa Timur terdapat Closed House berukuran kandang 16 m x 126 m (2.015 m² ), tiga lantai. Closed House ini secara nasional berskala terbesar untuk kandang ayam pedaging dan terbaik dengan kontruksi baja. Kapasitasnya, untuk satu kandang mencapai 80-90 ribu ekor. Jadi Closed House terbesar dan terbaik nasional sekarang posisinya dipegang Jawa Timur.

Demikian yang dikatakan, Dhanang yang bertemu pula dengan PI di Indo Livestock Expo & Forum 2013 di Nusa Bali belum lama ini. Sementara, katanya, Closed House terbesar yang berada di Jawa Tengah berukuran 24 m x 74 m (1.800 m²), berlantai tiga. Sedangkan untuk di Jawa Barat yakni di Cirebon, berukuran 16 m x 105 m (1.680 m²), juga berlantai tiga.

Pada Indo Livestock 2013, cerita Dhanang, perusahaannya mengundang pelanggan Closed House. Salah satu pelanggannya mempunyai kandang 18 m x 70 m (1.260 m²), dan saat pameran itu pelanggan tersebut menambah lagi ukuran 12 m x 120 m (1.440 m²). Desain kandang yang digunakan di mana lantai satu tanpa sekam, sementara lantai dua menggunakan sekam. “Kandang tanpa sekam sudah full automatic termasuk pengambilan kotorannya. Jadi, kita memang selalu menciptakan inovasi baru untuk kemajuan bidang peternakan nasional“, ungkapnya.

Menurut Dhanang, kebanyakan orang berpikir bahwa Closed House hanya berukuran 12 m x 120 m saja. Selama ini, dia mengaku selalu menyarankan untuk tidak tanggung-tanggung karena tujuannya untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

PI pernah menjumpai peternakan kandang tertutup di daerah Sugiyo, Lamongan, Jawa Timur, yang temyata merupakan pelanggan Dhanang juga. Dikonfirmasi kepada Dhanang mengenai jenis Closed House ini, dia mengatakan, di sini kalau membicarakan Closed House harus diperjelas dulu, ada Closed House yang sudah menganut sistem otomatis dan ada yang belum. Kedua jenis ini berbeda, di mana yang otomatis hasilnya benar-benar bisa maksimal.

Ada peternakan yang semi Closed House mengaku Closed House. Oleh sebab itu mengenai jenis ini, harus benar-benar jeli. Dhanang menangani Closed House yang full automatic. “Jika bicara Closed House, harus benar-benar diidentifikasi apakah sistemnya bahkan sampai ke dalamnya, karena meskipun sama-sama Closed House perbedaannya sangat besar“, akunya.

Kaitannya jelas dengan produksi. Dhanang mengatakan ini sudah diarahkan agar peternak betul-betul dapat mencapai hasil maksimal dengan investasi yang mungkin hanya selisih 25% lebih mahal, tetapi hasilnya jauh lebih maksimal, dan sangat berbeda.

Perbedaan dengan kompetitor, menurutnya perusahaannya tidak hanya menjual alat tetapi pelanggan juga dididik. Bila peternak mau membuat kandang Closed House, kita didik dulu. Tenaga kerja kandang pun dididik dan diturunkan di kandang yang sudah ada, termasuk di situ ada alih teknologi.

Sebisa mungkin, anak kandang diberikan teknologi Closed House, termasuk sistem cara kerja alat. Dengan demikian, transfer ilmu dan teknologi ke anak kandang atau bagian teknik bisa masuk. Sehingga, kalaupun ada masalah, mereka harus mengatasinya terlebih dahulu“, ujarnya. Dan karena kandang kita banyak. ianjutnya, kita tidak bisa langsung turun setiap ada masalah. Maka dari itu, transfer ilmu dan teknologi ke anak kandang penting. Bila mereka tidak bisa mengatasinya, baru menghubungi kita.

Tidak hanya masalah alat, sparepart pun kita selalu siap. Baginya, bisnis Closed House Sierad bukan hanya alat, kontruksinya pun punya rekanan. Hal ini bertujuan, agar pelanggan tidak pusing, mau membuat kandang tiga lantai dalam waktu 3-4 bulan dapat dilakukan. Pilihan kontruksi baja misalnya, mau pilih yang mana, yang menurut klien paling cocok dengan karakter peternakannya.

Kandang Tanpa Sekam

Kandang tanpa sekam, hampir mirip dengan yang diterapkan pada breeding farm. Alas kandang menggunakan slot, dengan pengeruk kotoran otomatis, sehingga ayam tidak akan terkontak langsung dengan kotoran. “Keuntungan lainnya, lebih hemat biaya, karena peternak tidak perlu belanja sekam“, katanya.

Kotoran ini akan bernilai ekonomi lebih tinggi karena mumi tanpa tercampur sekam. “Kita sudah menyiapkan pabrikasi yang menerima kotoran untuk produksi pupuk organik. Seperti kotoran ayam petelur, murni tanpa sekam. Selain itu, kita punya sistem baru lagi, misalnya digunakan GRV seperti tripleks yang tipis untuk lantai kandang. Kita ingin memberikan sesuatu yang mudah, cepat dan gampang untuk form karena investasi klien tidak sedikit. Dari pengalaman kita sebelumnya kalau peternak mengerjakan kandang sendiri bisa 8-9 bulan baru selesai. Dengan rekanan kita, mau mendirikan kandang 90 ribu ekor dalam 3-4 bulan selesai“, ungkapnya.

Menurutnya, satu kemajuan bahwa klien berinvestasl besar akan secepatnya mendapat hasil. “Jika mereka denqan cara lain, 9 bulan baru selesai, menggunakan uang pinjaman dari bank, segala macam tingkat kerugiannya bisa sangat tinggi. Maka dari itu. kita berusaha memberikan yang terbaik dan tercepat“, tegasnya.

Semua tak lepas dari dukungan pimpinan. “Pimpinan support penuh dengan ide kami, dengan apa yang kami lakukan pada ternak membuat ini lebih cepat. Bayangkan kalau pimpinan tidak support. Bahkan ini juga memperlambat”, pungkas Dhanang kepada PI.

Sumber : Trobos, Agustus 2013

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/closed-house-ideal/