Closed House Ideal

Kandang Closed House secara harfiah adalah kandang tertutup. Tetapi, tidak sekadar itu saja. Kandang Closed House dibuat sedemikian rupa sehingga lingkungan di dalam kandang optimum untuk pertumbuhan ayam.

Menurut Boedi Poerwanto, Deputy Poultry Director PT. Sierad Produce, modifikasi kandang adalah penting dan bertujuan menyelamatkan peternak. Aplikasi teknologi ini membuat ayam dan lingkungan nyaman. Apalagi cuaca semakin ekstrim dan lahan peternakan semakin bersaing dengan pemukiman.

Namun yang terpenting dari modifikasi kandang adalah proses menuju Closed House. “Ya, seperti investasi setahap demi setahap menuju Closed House yang sesungguhnya“, katanya. Dengan kalkulasinya, Boedi yakin modifikasi kandang yang di dalamnya ada sentuhan teknologi dapat menurunkan biaya produksi dan meningkatkan keuntungan. Modifikasi kandang, lanjut Boedi, setahap demi setahap mengarah ke Full Closed House. Meski demikian, peternak cenderung melihat nominal investasi yang besar, ketimbang hasil yang akan diperoleh.

Boedi menerangkan, komponen penting yang harus dimodifikasi dan diberi sentuhan teknologi, adalah sistem ventilasi. Sebab ventilasi dapat memengaruhi tingkat kepadatan ayam dalam kandang. Ventilasi harus dibuat sedemikian rupa, agar stress panas dapat dicegah.

Boedi menegaskan, tujuan utama sistem ventilasi adalah memberikan kenyamanan pada ayam yang dipelihara. Ventilasi tidak selalu bisa memberikan kenyamanan. Apakah ventilasi bisa menyediakan suhu tertentu secara konstan dalam 24 jam? Nyatanya tidak setiap saat ada hembusan angin. Bila ada, kecepatan angin belum tentu sesuai. Ini akan berpengaruh pada suhu dan kelembaban dalam kandang. “Memenuhi zona nyaman ayam adalah prioritas, sementara sistem pemberian pakan dan air minum adalah pelengkap“, ujarnya.

Closed House adalah kandang tertutup, tetapi tidak sekadar itu. Banyak hal-hal penting yang harus diperhatikan agar Closed House berjalan dengan maksimal. Boedi mengatakan, sejak mengenal closed house tahun 1997-an, banyak hal yang ia perhalikan.

Masih banyak yang beranggapan bahwa kadang terbuka lalu ditutup sudah dikatakan Closed House. Padahal tidak sekadar itu. Kadangkala, tempat yang sudah tidak digunakan, bahkan gudang dijadikan kandang untuk ayam. Akhirnya lebar dan panjang kandang tidak sesuai dengan semestinya“, ujar Boedi. 12m x 120m sudah barang tentu melalui penelitian yang membutuhkan waktu yang cukup lama. Namun, peternak di Indonesia sendiri mengharapkan kandang yang bisa melebihi itu. “Memang ada efisiensi di sini, tetapi bagaimana dengan kecepatan angin di dalam kandang ?. Semakin lebar, luas penampangnya semakin luas, ini berarti membutuhkan kipas yang banyak. Namun, dengan semakin lebar, tidak menjamin kecepatan angin sama, justru semakin tidak baik. tidak rata“, akunya.

Terlebih, kelembaban pada Closed House harus mencapal 55%, sementara kelembaban di Indonesia lebih dari itu. Sehingga muncul ide minimum ventilation, bagaimana udara panas dan kelembaban bisa lebih cepat keluar. Dari sisi temperatur, apalagi tidak menggunakan cooling pad, panas tidak akan bisa turun. Tetapi, menggunakan cooling pad juga tidak menjamin aman, karena harus tahu cara-caranya. Ujung-ujungnya semua kembali kepada manusianya. Pegawai maupun anak kandang harus dididik. Kebanyakan kegagalan, umumnya karena mempunyai SDM yang tidak paham.

Menurutnya, Closed House diperlukan di Indonesia. Masalah yang sering dihadapi mitra-mitra peternak dengan kandang terbuka adalah mati angin, bahkan ada yang membangun kandang di tengah sawah. Padahal di tengah sawah pun tidak menjamin angin akan terus ada. Saat ini eranya Closed House, namun Closed House yang benar.

Sementara itu, Parlindungan Siahaan, Area Head Production PT. Multi Sarana Pakanindo mengungkapkan bahwa pada dasarnya kandang Closed House adalah kandang yang dibuat sedemikian rupa sehingga lingkungan di dalam kandang optimum untuk pertumbuhan ayam. Caranya adalah dengan meningkatkan ventilasi sehingga memberikan kenyamanan kepada ayam dengan sendirinya density atau kepadatan bisa bertambah, kesehatan ayam lebih baik, dan lingkungan juga menjadi tidak terganggu.

Terdapat liga tipe Closed House dilihat dari arah pergerakan udara di dalam kandang yaitu tipe tunnel, cross, dan transisi. Tipe tunnel merupakan tipe Closed House yang paling banyak digunakan di Indonesia“, terang Parlindungan. Secara sederhana tipe tunnel digambarkan sebagai suatu sistem di mana udara yang masuk melalui inlet di bagian depan kandang ditarik ke belakang dengan bantuan kipas. Tipe tunnel sendiri masih dibedakan menjadi dua yaitu tipe tunnel yang menggunakan cooling pad atau biasa juga disebut sistem Full Closed House dan tipe tunnel yang tidak menggunakan cooling pad atau sering disebut Semi Closed House. Umumnya, sambungnya, kandang Closed House yang tidak menggunakan cooling pad adalah kandang yang dimodifikasi dari kandang open karena terkadang terkendala pada konstruksi bangunannya. Cooling pad sendiri sebenarnya jarang digunakan di Indonesia, terutama di daerah dingin seperti Bogor karena cooling pad membuat kelembaban dalam kandang tinggi. Tetapi di daerah yang kelembabannya tidak terlalu tinggi seperti daerah Pantura dianjurkan untuk menggunakan cooling pad. Selain itu, cooling pad juga harganya mahal, sehingga terkadang peternak memllih untuk tidak menggunakan cooling pad untuk menghemat biaya. “Tetapi idealnya harus ada, sehingga saat dibutuhkan bisa langsung digunakan“, ujarnya.

Tipe yang paling ideal untuk kandang Closed House adalah kombinasi tipe cross dan tunnel. Menurut Slamet Muryo, Poultry Integration West Java PT. Multi Sarana Pakanindo, tipe cross digunakan saat brooding, sedangkan tipe tunnel digunakan saat ayam sudah besar. Tipe cross digunakan pada saat brooding bertujuan untuk menghindarkan ayam kecil terkena angin langsung dan menjaga kualitas oksigen yang masuk ke kandang. Seiring dengan pertumbuhan ayam, kecepatan angin dengan menggunakan tipe cross kurang sehingga beralihlah ke tipe tunnel. Untuk tipe transisi biasanya banyak digunakan di Eropa yang merupakan daerah dingin, untuk daerah tropis lebih cocok digunakan tipe cross yang dikombinasikan dengan tipe tunnel.

Sementara untuk peralatan di dalam kandang yang dibutuhkan oleh sebuah antara lain kipas, alat pengatur suhu, cooling pad (optional), pemanas untuk brooding, bisa gasolek atau heater. “Untuk Closed House temperaturnya adalah temperatur ruangan, karena heater diletakkan di ujung berlawanan dengan kipas sehingga udara panas ditarik oleh kipas jadi bisa menyebar ke seluruh kandang. Kalau gasolek cenderung spot-spot tertentu saja“, akunya. Selain itu, lanjutnya, heater sistemnya otomatis sehingga bisa lebih menghemat penggunaan gas. Dengan gas gasolek 1 tabung gas 50 kg hanya untuk 1000 ekor, sedangkan dengan heater 1 tabung gas 50 kg bisa untuk 2500 ekor. Selain itu diperlukan juga tirai yang rapat dan lampu yang benar-benar uniform. Kalau tempat pakan masih bisa digunakan yang manual, tetapi kalau tempat minum harus nipple. Ini untuk menghindari air tumpah sehingga litter menjadi basah dan membuat kelembaban di dalam kandang menjadi tinggi. “Tetapi yang full automatic lebih menguntungkan. karena hambatan udara di dalam kandang berkurang dibandingkan dengan memakai tempat pakan dan minum manual. Sehingga kerja kipas bisa lebih efisien. Anak kandang juga bisa bekerja dengan lebih nyaman, ayamnya juga tidak terganggu. dan biosekuritinya juga lebih terjaga. Performa ayam yang dicapai dikandang Closed House rata-rata mortalitas ≤ 3%, FCR ± 1.5, IP diatas 300“, ungkapnya.

Slamet mengatakan, standar kandang Closed House sendiri biasanya menggunakan populasi 20.000 ekor, dengan ukuran kandang lebar 12 meter dan panjang 120 meter, dengan arah sebaiknya tetap timur-barat Hal ini dikarenakan walaupun kandang sudah tertutup, panas matahari tetap akan berpengaruh ke dalam kandang. Untuk jumlah kipas disesuaikan dengan ukuran kandang dan ukuran panen ayam. Ukuran panen 1,6-1,7 kg, 7 kipas cukup, tapi kalau 1,8-2 kg harus 8 buah. Sementara itu lebar inlet untuk masuknya udara harus disesuaikan dengan jumlah kipas dan ukuran kandang. Jika ukuran lebar kandang adalah 12 meter dengan tinggi kandang 2,2 meter, maka lebar inletnya adalah 26,4 m² dengan jumlah kipas 7 buah.

Untuk kandang modifikasi dari Open ke Closed biaya yang ditambahkan jauh lebih efisien dibandingkan dengan membuat kandang baru. Tetapi kandang Open yang mau dimodifikasi menjadi kandang Closed jangan melupakan masalah konstruksi bangunan. “Konstruksi harus kuat karena setelah diubah jadi Closed semua lubang ventilasi ditutup sehingga jika ada hantaman angin dari sisi kandang, angin tidak bisa lewat sehingga jika konstruksi tidak kuat kandang bisa rubuh“, terang Adisak.

Pembangunan kandang Closed House baru dengan ukuran standar 12 x 120 meter lengkap dengan peralatannya menghabiskan dana kurang lebih 1,7-2 miliar rupiah. Sedangkan untuk modifikasi tergantung equipment yg digunakan. Kalau konstruksinya besi kandang bisa tahan sampai 20 tahun, sedangkan jika menggunakan kayu yang kualitasnya baik bisa sampai 15 tahun. “Dengan besaran Investasi ini dengan perkiraan harga ayam normal maka diperkirakan BEP akan tercapai dalam waktu kurang lebih tiga tahun. Sementara untuk efisiensi biaya menurut Adisak dengan menggunakan kandang Closed House bisa menghemat biaya hingga Rp. 500/ekor dibandingkan dengan kandang open“, tambahnya.

Closed House Terbesar

Di Pare, Kediri Jawa Timur terdapat Closed House berukuran kandang 16 m x 126 m (2.015 m² ), tiga lantai. Closed House ini secara nasional berskala terbesar untuk kandang ayam pedaging dan terbaik dengan kontruksi baja. Kapasitasnya, untuk satu kandang mencapai 80-90 ribu ekor. Jadi Closed House terbesar dan terbaik nasional sekarang posisinya dipegang Jawa Timur.

Demikian yang dikatakan, Dhanang yang bertemu pula dengan PI di Indo Livestock Expo & Forum 2013 di Nusa Bali belum lama ini. Sementara, katanya, Closed House terbesar yang berada di Jawa Tengah berukuran 24 m x 74 m (1.800 m²), berlantai tiga. Sedangkan untuk di Jawa Barat yakni di Cirebon, berukuran 16 m x 105 m (1.680 m²), juga berlantai tiga.

Pada Indo Livestock 2013, cerita Dhanang, perusahaannya mengundang pelanggan Closed House. Salah satu pelanggannya mempunyai kandang 18 m x 70 m (1.260 m²), dan saat pameran itu pelanggan tersebut menambah lagi ukuran 12 m x 120 m (1.440 m²). Desain kandang yang digunakan di mana lantai satu tanpa sekam, sementara lantai dua menggunakan sekam. “Kandang tanpa sekam sudah full automatic termasuk pengambilan kotorannya. Jadi, kita memang selalu menciptakan inovasi baru untuk kemajuan bidang peternakan nasional“, ungkapnya.

Menurut Dhanang, kebanyakan orang berpikir bahwa Closed House hanya berukuran 12 m x 120 m saja. Selama ini, dia mengaku selalu menyarankan untuk tidak tanggung-tanggung karena tujuannya untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

PI pernah menjumpai peternakan kandang tertutup di daerah Sugiyo, Lamongan, Jawa Timur, yang temyata merupakan pelanggan Dhanang juga. Dikonfirmasi kepada Dhanang mengenai jenis Closed House ini, dia mengatakan, di sini kalau membicarakan Closed House harus diperjelas dulu, ada Closed House yang sudah menganut sistem otomatis dan ada yang belum. Kedua jenis ini berbeda, di mana yang otomatis hasilnya benar-benar bisa maksimal.

Ada peternakan yang semi Closed House mengaku Closed House. Oleh sebab itu mengenai jenis ini, harus benar-benar jeli. Dhanang menangani Closed House yang full automatic. “Jika bicara Closed House, harus benar-benar diidentifikasi apakah sistemnya bahkan sampai ke dalamnya, karena meskipun sama-sama Closed House perbedaannya sangat besar“, akunya.

Kaitannya jelas dengan produksi. Dhanang mengatakan ini sudah diarahkan agar peternak betul-betul dapat mencapai hasil maksimal dengan investasi yang mungkin hanya selisih 25% lebih mahal, tetapi hasilnya jauh lebih maksimal, dan sangat berbeda.

Perbedaan dengan kompetitor, menurutnya perusahaannya tidak hanya menjual alat tetapi pelanggan juga dididik. Bila peternak mau membuat kandang Closed House, kita didik dulu. Tenaga kerja kandang pun dididik dan diturunkan di kandang yang sudah ada, termasuk di situ ada alih teknologi.

Sebisa mungkin, anak kandang diberikan teknologi Closed House, termasuk sistem cara kerja alat. Dengan demikian, transfer ilmu dan teknologi ke anak kandang atau bagian teknik bisa masuk. Sehingga, kalaupun ada masalah, mereka harus mengatasinya terlebih dahulu“, ujarnya. Dan karena kandang kita banyak. ianjutnya, kita tidak bisa langsung turun setiap ada masalah. Maka dari itu, transfer ilmu dan teknologi ke anak kandang penting. Bila mereka tidak bisa mengatasinya, baru menghubungi kita.

Tidak hanya masalah alat, sparepart pun kita selalu siap. Baginya, bisnis Closed House Sierad bukan hanya alat, kontruksinya pun punya rekanan. Hal ini bertujuan, agar pelanggan tidak pusing, mau membuat kandang tiga lantai dalam waktu 3-4 bulan dapat dilakukan. Pilihan kontruksi baja misalnya, mau pilih yang mana, yang menurut klien paling cocok dengan karakter peternakannya.

Kandang Tanpa Sekam

Kandang tanpa sekam, hampir mirip dengan yang diterapkan pada breeding farm. Alas kandang menggunakan slot, dengan pengeruk kotoran otomatis, sehingga ayam tidak akan terkontak langsung dengan kotoran. “Keuntungan lainnya, lebih hemat biaya, karena peternak tidak perlu belanja sekam“, katanya.

Kotoran ini akan bernilai ekonomi lebih tinggi karena mumi tanpa tercampur sekam. “Kita sudah menyiapkan pabrikasi yang menerima kotoran untuk produksi pupuk organik. Seperti kotoran ayam petelur, murni tanpa sekam. Selain itu, kita punya sistem baru lagi, misalnya digunakan GRV seperti tripleks yang tipis untuk lantai kandang. Kita ingin memberikan sesuatu yang mudah, cepat dan gampang untuk form karena investasi klien tidak sedikit. Dari pengalaman kita sebelumnya kalau peternak mengerjakan kandang sendiri bisa 8-9 bulan baru selesai. Dengan rekanan kita, mau mendirikan kandang 90 ribu ekor dalam 3-4 bulan selesai“, ungkapnya.

Menurutnya, satu kemajuan bahwa klien berinvestasl besar akan secepatnya mendapat hasil. “Jika mereka denqan cara lain, 9 bulan baru selesai, menggunakan uang pinjaman dari bank, segala macam tingkat kerugiannya bisa sangat tinggi. Maka dari itu. kita berusaha memberikan yang terbaik dan tercepat“, tegasnya.

Semua tak lepas dari dukungan pimpinan. “Pimpinan support penuh dengan ide kami, dengan apa yang kami lakukan pada ternak membuat ini lebih cepat. Bayangkan kalau pimpinan tidak support. Bahkan ini juga memperlambat”, pungkas Dhanang kepada PI.

Sumber : Trobos, Agustus 2013

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/closed-house-ideal/

Advertisements

Beruntung Dengan Closed House (bag 2)

Adit dan lainnya sudah membuktikan bahwa bisnis perunggasan dengan Closed House memberikan keuntungan yang menggiurkan. Oleh karenanya, Adit tengah membangun Closed House baru di sebelah selatan Closed House lama.
Trio Plasma Sierad pun tak mau ketinggalan, mereka merencanakan untuk membangun Closed House baru. Sumiyana yang visinya membangun desa bahkan berencana akan menjual beberapa ekor sapinya yang dipiara sejak 2003 untuk membangun kandang keduanya.

Lain halnya dengan Yanuar Adhie Wibhowo yang seorang akuntan dan istrinya Yulia Fatiantini yang memulai membangun kandang ayam pada September 2012 lalu di Desa Candali, Kemang, Bogor. Berawal dari ingin coba-coba beternak ayam karena sepertinya cukup menguntungkan. Ia turun langsung dalam proses pembangunan kandang yang dirancang dua lantai dengan konstruksi Closed House dengan panjang 120 meter lebar 12 meter. “Dari awal kami memang ingin beternak dengan sistem yang lebih modern yaitu dengan kandang tertutup atau Closed House“, ujar Yanuar. Namun, lanjutnya, untuk peralatan belum digunakan Full Automotic karena kami masih ingin memberdayakan tenaga kerja warga sekitar. Jadi, baru air minum saja yang memakai nipple otomatis sedangkan tempat pakan masih manual serta untuk sirkulasi udara ditambah 7 buah kipas (fan).

Total tenaga kerja yang digunakan 4 orang, lebih banyak dari yang Full Automatic yang biasanya hanya 2 orang. Kandang yang digunakan baru lantai bawah dengan populasi 20.000 ekor, tetapi lantai atas dalam waktu dekat sudah bisa digunakan karena tinggal penambahan alat-alat saja. Ia mengaku untuk pembangunan kandang saja menghabiskan dana hampir Rp. 1 miliar belum termasuk pembelian peralatan sekitar Rp. 50 juta. “Biaya pembangunan kandang ini agak sedikit lebih mahal, karena kontruksinya memang disiapkan untuk 2 lantai“, jelas Yanuar.

Yanuar yang menjadi plasma dari sebuah perusahaan inti itu, kini masuk ke periode ke enam pemeliharaan. Pada periode pertama hasilnya hanya bisa menutupi biaya operasional, karena semua masalah terjadi saat itu. “Kami semua awam dalam beternak, ya saya juga pegawai kandang. Ayam terkena serangan penyakit CRD serta dihadapkan pula pada berbagai kendala non teknis seperti genset yang tidak menyala. Akibatnya kematian cukup tinggi saat itu. Tapi semuanya itu tidak membuat kami patah semangat justru menjadi pembelajaran untuk antisipasi di masa datang“, terang Yanuar. Pada periode kedua, sambungnya, mulai terasa nikmatnya beternak karena hasilnya menguntungkan, bagai bumi dan langit dibandingkan periode pertama. Kualitas SDM pun ditingkatkan, yang tidak serius kami ganti.

Beternak dengan sistem Closed House pada dasarnya hampir sama dengan kandang terbuka. Juga untuk program kesehatannya dengan menerapkan program kesehatan standar termasuk biosekuriti. Vitamin diberikan 3 kali selama masa pemeliharaan. Sedangkan vaksinasi sudah tidak lagi karena DOC sudah divaksin ND dan IBD dari hatchery, kecuali ada kasus tertentu baru di revak kembali.

Setelah panen kotoran dan sekam diangkat semua, kemudian kandang dicuci dengan deterjen, pakai obat anti frengki, kasih formalin, kemudian istirahatkan kandang selama 1 minggu. Setelah itu bisa diisi sekam lagi dan diformalin kembali. Tak lupa lingkungan kandang selalu dijaga kebersihannya dan rumput dipotong.

Penerapan biosekuriti yang cukup baik ini membuat Puri Handaru Farm pernah mendapatkan penghargaan dalam lomba biosekuriti yang diadakan oleh sebuah institusi.

Lebih lanjut Yanuar mengatakan bahwa beternak dengan sistem Closed House nyatanya lebih mudah dan menguntungkan asalkan dipelihara dengan aturan yang dianjurkan sehingga ayam menjadi nyaman sehingga produktivitas atau performa akan tercapai. Sistem Closed House menjadi pilihan untuk situasi iklim dan temperatur Indonesia yang cukup ekstrim.

Saat ini performa ternak Puri Handaru Farm cukup baik yaitu dengan kepadatan 1:14 kematiannya di bawah 4 persen, FCR terendah 1,3, IP tertinggi 383 di berat 1.98 dengan umur panen terakhir 34 hari. “Dengan FCR 1,48 saja atau dengan bobot 1,82 kg keuntungan per ekor Rp. 5000 atau Rp. 3500 setelah dipotong berbagai biaya operasional“, jelas Yanuar.

Namun keuntungan Rp. 5000 per ekor ini masih bisa dioptimalkan lagi dengan perbaikan manajemen budidaya terus menerus, kualitas sapronak yang lebih baik serta yang tak kalah penting adalah manajemen panen yang tepat waktu. “Karena pada sistem Closed House jika telat panen biaya lainnya jauh meningkat. Tidak hanya biaya pakan bertambah tetapi juga biaya listrik karena harus menggerakkan peralatan listrik di kandang seperti kipas. Jika manajemen panen mendukung, beternak dengan kandang tertutup akan jauh lebih menguntungkan dari kandang terbuka“, tuturnya.

Ia memperkirakan akan balik modal pada periode 12-14 atau dalam masa 2 tahun. Dengan catatan harus diisi dua lantai, jika tetap satu lantai akan memerlukan waktu lebih lama lagi. “Saya sedang mempersiapkan perijinan untuk bisa berkembang menjadi dua lantai. Semoga dalam waktu dekat bisa terwujud“, harap Yanuar optimis.

Ditambahkan pula oleh Huang, kandang percontohan yang berukuran 10 x 76 m dengan kapasitas 10.000 ekor ini hanya membutuhkan tenaga kerja satu orang. Prinsipnya, berapa kilogram pakan yang diberikan, berapa kilogram telur yang dihasilkan. Agar ini berjalan dengan baik, diperlukan teknologi yang baik pula. “Feeding trovel merupakan alat pembagi pakan yang dapat memberikan kemudahan bagi peternak. Pakan yang diberikan tidak tercecer, anak kandang pun tidak terlalu capek, karena alat ini dikontrol langsung. Sehingga anak kandang bisa mengerjakan pekerjaan yang lain. Waktu yang dibutuhkan alat pembagi pakan ini tidak lebih dari 8 menit. Memang sangat efisien“, aku Huang. Selain itu, tambahnya, proses panen telur dapat dimodifikasi dengan adanya lori (kereta dorong) di dalam kandang. Dengan adanya lori, aktivitas mengambil telur dapat dilakukan runtut dan lebih cepat.

Lebih lanjut Huang mengatakan, hal yang perlu diperhatikan membangun kandang tertutup pada layer adalah saat memasang nipple (tempat minum). Lantai yang rata adalah syarat utama agar nipple dapat bekerja dengan baik. Lantai yang bergelombang akan menyebabkan tekanan dalam pipa nipple berbeda, efeknya air minum akan tidak lancar. “Selain itu, lantai yang tidak rata juga memengaruhi ketepatan memasang baterai. Tempat minum sudah cukup otomatis dan sudah teruji. Anak kandang tidak perlu membersihkan setiap hari. Di sini juga kami menggunakan sistem flushing, yang dapat meminimalisir kotoran yang ada di air minum“, tuturnya.

Industri perunggasan, Huang menambahkan, saat ini sudah berkembang sangat pesat. Peternak pun mulai menyadari akan kebutuhan teknologi yang modern tersebut. Inilah yang menjadi alasan untuk kami terus mengembangkan usaha kami. “Lebih efisien, hemat tenaga kerja, produksi yang baik dan merata, adalah tujuan kami. Dan ini pun yang diinginkan peternak“, aku Huang.

Biaya yang dikeluarkan untuk produk-produknya pun terjangkau. Huang mengatakan untuk Closed House biaya yang dibutuhkan tergantung panjangnya kandang, semakin panjang maka semakin murah, karena kebutuhannya tetap. Untuk kandang yang panjang, biaya yang dibutuhkan sebesar Rp. 35.000/ekor, dan untuk kandang yang pendek biaya yang dibutuhkan sebesar Rp. 43.000/ekor, yaitu untuk kandang baterai, tempat minum, tempat makan berupa plat, rangka, dan alat pembagi pakan.

Lighting yang digunakan pun disesuaikan dengan kebutuhan. Menurut Huang, gelombang cahaya bisa mempengaruhi ayam dari warna lampu yang digunakan. Ada 3 efek dari gelombang cahaya yang mempengaruhi sifat ayam yakni kanibalisme, cabut bulu, dan banyak makan. Dan lampu yang digunakan pada kandang percontohan ini adalah untuk mengurangi kanibalisme.

Sumber : Trobos, Agustus 2013

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/beruntung-dengan-kandang-closed-house-bagian-2/

Beruntung Dengan Closed House (bag 1)

Industri perunggasan saat ini sudah berkembang sangat pesat. Peternak pun mulai menyadari akan kebutuhan teknologi yang modern. Kandang Closed House dipilih karena memberikan keuntungan lebih bagi mereka.

Negara Indonesia masih potensial untuk pengembangan Closed House ayam ras mengingat konsumsi masyarakat yang kian tumbuh. Sierad Produce, Tbk. sebagai salah satu perusahaan integrator perunggasan sigap melihat peluang di depan mata. Menurut Dhanang Purwantoro ST, Area Manager East Indonesia PT. Sierad Industries, dua tahun ini Sierad gencar membangun Closed House di seluruh Indonesia, terutama di Jawa, baik internal form maupun kemitraan, baik breeding farm maupun commercial farm. Internal farm banyak di daerah Jawa Barat. Sierad merupakan leader di bisnis unggas Closed House ini. Berbicara proporsi Open House dan Closed House, Dhanang mengatakan bahwa angka nasional peternak pemakai Closed House baru sekitar 10%. Sedangkan dalam konteks Sierad, dikatakan A. Junaidi, S.Pt, selaku Head Region Kemitraan Sierad Produce Jawa Tengah-DIY yang diiyakan oleh drh. Hery Budi Karyono selaku Business Unit Head Commercial Farm Indonesia PT. Sierad Produce, mitra (plasma) Sierad ada sekitar 34% yang sudah menerapkan teknologi Closed House.

Hery mengungkapkan bahwa Closed House optimal pada wilayah dengan ketinggian 200-400 mdpl. “Kalau open house searah angin, sedangkan Closed House searah sinar matahari“. Alih teknologi Closed House diberikan melalui pelatihan bagi anak kandang di kandang mitra Sierad di bilangan Losari, Magelang milik Wahyu Pratomo yang sudah menggunakan CCTV untuk memantau anak kandang. Ada semacam ujian sehingga pihak Sierad dapat memutuskan layak tidaknya anak kandang untuk operasionalisasi Closed House.

Keunggulan Closed House di antaranya umur pemeliharaan lebih pendek, kepadatan (density) lebih padat, mengurangi bau amoniak dan populasi lalat yang pada Open House sering berbenturan dengan masyarakat, kejadian penyakit minim, kecuali terjadi kecerobohan dalam pemeliharaan alias faktor manusia, seperti tidak disiplin dalam biosekuriti, malas, dan lain-lain. Density 20 ekor per m² dipraktekkan di Jawa Barat karena konsumen menerima bobot ayam 0,8-1 kg. Sedangkan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, density pada angka 15 ekor per m² karena ayam kecil tidak laku, justru yang laku ayam besar.

Adalah Adityo Wibowo, pemilik bisnis bernama Mandiri Agro Sejahtera asal Gombong, Kebumen, Jawa Tengah yang melirik peluang Closed House ayam ras pedaging bermitra dengan Sierad karena dipicu oleh menurunnya bisnis pupuk organik yang dilakoninya. “Closed House dua lantai ini Desember jadi, akhir Januari 2012 chick in pertama“, aku lulusan Fakultas Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada ini ketika ditemui PI di farm-nya di bilangan Bukateja, Purbalingga, Jawa Tengah (5/7).

Dikatakan Adit, sapaan akrabnya, kandang Closed House full otomatic itu simple, praktis, mengurangi bau amoniak, dan tidak hanya piara ayam, tetapi diperlukan manajemen orang untuk operasional serta mortalitas hanya sekira 2-3%. Pada awal-awal pemeliharaan, Closed House milik Adit diisi ayam dengan kepadatan 13,5 ekor per m². “Tiga periode ini density sudah 15,7 ekor per m²“, ujarnya.

Kami kongsi berlima dengan populasi 21 ribu ekor selama 7 periode awal“, aku pemilik Closed House dua lantai berukuran 9m x 95m yang berada, di Hargorejo, Kokap, Kulon Progo, DIY ini. Lamanya bertahan di angka 21 ribu ekor itu karena biaya banyak tersedot untuk membangun fasilitas yang memadai di sekitar farm, seperti jalan dan penembokan tanggul sungai karena berbatasan dengan kandang. Bahkan warga sekitar kandang sempat protes karena terganggu dengan bau amoniak dari blower yang mengarah ke permukiman warga. Akhirnya ditemukan solusi membuat cerobong pembuangan amoniak mengarah ke atas.

Pada kesempatan itu pula PI bertemu dengan Trio Plasma Sierad yakni Prof. Dr. Sumiyana, M.Si. selaku Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM, Aldila Putra Satria Jaya selaku pemilik Firma Ayam Sejahtera, dan Wahyu Pratomo selaku pengusaha konstruktor. Diungkapkan Sumiyana, ia melirik bisnis ayam broiler dengan Closed House karena Sumiyana melihat potensi yang besar pada bisnis perunggasan. “Negara belum memenuhi kebutuhan daging (bagi rakyatnya, red). Bisnis ayam broiler masih feasible dan return positif“, tegasnya.

Aldila Putra Satria Jaya mengatakan bisnis ayam sangat prospek. Diungkapkan bahwa periode pemeliharaan selanjutnya kepadatan menjadi 22 ribu, kemudian sampai dengan periode ke-13 kepadatannya sudah 25 ribu ekor. Closed House membutuhkan lima buah pompa air dan setiap lantai terdapat 110 lampu. Selama pemeliharaan, Aldila mengganti bola lampu setiap 4 bulan dan lima buah pompa air. Closed House membutuhkan 3-4 anak kandang setiap lantainya. Perlu tambahan 4-5 orang ketika DOC datang, pelebaran sekat, dan panen.

Sementara itu, menurut Wahyu Pratomo, konstruksi baja konvensional (standar) mampu bertahan hingga 30 tahun, karena sangat minim bersentuhan zat kimia dan air serta kotoran ayam. Sedangkan kalau dengan konstruksi kayu, hanya dapat bertahan kurang dari 5 tahun. Nilai investasi Closed House dengan konstruksi full baja standar beserta kelengkapan equipment-nya sekitar Rp. 60.000 per ekor. Lantai kandang diberi alas terpal, sehingga kotoran menempel di terpal. Ketika selesai memanen ayam, anak kandang tinggal menarik terpal. “Closed House optimal pada daerah dengan kelembaban rendah, seperti di Kulon Progo contohnya“, ungkap pemilik Closed House tiga lantai berukuran 16m x 106m mitra Sierad di losari, Magelang, Jawa Tengah berkapasitas 75 ribu ekor ini.

Pengalaman Peternak Closed House

Menurut Sumiyana, balik modal Closed House miliknya ditaksir tidak sampai dua tahun dengan memanfaatkan modal alias full hutang dari perbankan dengan bunga kredit 11%, atau bunga kredit flat 6,25%. Dhanang mengungkapkan, Sierad terus melakukan inovasi, salah satunya tengah membangun Closed House full automatic tanpa sekam di Jawa Timur sehingga kotoran dapat segera dikeluarkan dari dalam kandang dengan mesin. Sementara Closed House milik Adit dan kawan-kawan masih menggunakan sekam, sehingga ketika ada kotoran yang menggumpal segera diambil, kemudian dilapisi sekam baru. Mengenai sapronak tidak ada permasalahan yang berarti, karena Closed House dapat disetel sesuai keinginan kita. Ayam pun merasakan kenyamanan di dalam Closed House, karena kesehatan ayam terkait dengan suplai oksigen yang sudah standar, sehingga mortalitas kecil. Rata-rata mortalitas ayam strain Cobb yang digunakan Sierad pada Closed House hanya sekitar 1%. Dalam setahun, peternak bisa memelihara ayam broiler sebanyak 7.5 sampai 8 kali. “IP tertinggi pada angka 398. Secara umum, IP mitra kita pada kisaran 350-398“, akunya.

Bersambung (Beruntung Dengan Closed House (bag 2))

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/beruntung-dengan-closed-house-bag-1/

Modernisasi Demi Efisiensi dan Produksi

Tuntutan efisiensi dan produktifitas tinggi, Closed House dipercaya jadi solusi

Dengan pertumbuhan ekonomi 6,7% di 2011, industri perunggasan di Indonesia diprediksi akan terus bertumbuh. Di 2012 ini, Asosiasi Produsen Pakan Indonesia (GPMT) mengestimasi konsumsi pakan ternak akan mencapai angka 12,3 juta ton, tumbuh 9,8% dari tahun lalu.

Dari angka produksi tersebut, 98% adalah pakan unggas dengan rincian 45% broiler (ayam pedaging), 44% layer (ayam petelur), 9% breeder (ayam pembibit). Sementara angka dari Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) produksi DOC (anak ayam umur sehari) broiler pada 2012 diestimasi mencapai 1.961.000.000 ekor, dan DOC layer 83.113.000 ekor. Jumlah DOC broiler meningkat 18% dari angka 2011, sementara jumlah DOC layer tidak ada kenaikan karena ada gangguan produksi di breeder 5-10 %.

Meski tumbuh positif, industri perunggasan tanah air dinilai masih lemah dalam hal efisiensi dan daya saing. Ini diutarakan dengan nada pengakuan oleh Sudirman, Ketua GPMT. Di sebuah diskusi perunggasan di Kementerian Pertanian, ia mengatakan industri perunggasan Indonesia harus mendongkrak efisiensi dan daya saing. Salah satunya dengan modernisasi dari hulu hingga ke hilir. Mengadopsi teknologi adalah salah satu kunci utama meraih target efisiensi. Dan di hulu, pilihan Closed House (kandang tertutup) menjadi keniscayaan sebagai bentuk modernisasi demi efisiensi untuk memenuhi tuntutan pasar, memenangi persaingan, dan menyiasati tekanan perubahan iklim.

Sudirman mengamati, sejak 5 tahun terakhir, tren investasi Closed House tumbuh dengan sangat cepat. “Ini menggembirakan, banyak sekali peternak yang membangun Closed House atau mengkonversi kandangnya menjadi kandang yang lebih modern”, katanya.

A Nirwan, General Manager PT Gemilang Citra Indo, produsen peralatan dan kandang unggas menyampaikan keterangan serupa. Meski breeding masih mendominasi jumlah kandang bertipe Closed House, kata Nirwan, 5 tahun belakangan pertumbuhan investasi Closed House untuk peternakan broiler komersial tumbuh signifikan. Ia menyebut, wilayah Jawa Timur dan Jawa Barat adalah yang terbanyak. Sinyalemen lain positifnya pertumbuhan Closed House di Indonesia, menurut dia adalah berdatangannya produsen peralatan dan kandang asal China dan Taiwan.

Dimintai analisisnya, pakar agribisnis perunggasan Arief Daryanto mengistilahkan, industri perunggasan tengah mengalami “Expansionary Mode On” atau masa perkembangan dan perluasan. Arief menyebut data, ”Di 2011 Charoen Pokphand meningkatkan kapasitas DOC sebesar 18%, Japfa 16%, Malindo 21%, dan Sierad 38%“. Dengan penambahan kapasitas DOC sebesar itu, simpul Arief, bisa dihitung berapa banyak kebutuhan Closed House.

Apa yang diungkapkan Arief sejalan dengan data Nirwan. “Tahun lalu permintaan membangun full Closed House atau sekadar modifikasi sedang tinggi-tingginya. Di 2011, pertumbuhan penjualan kami lebih dari 5“, ungkapnya. Di 2012, Nirwan memprediksi tingkat investasi Closed House akan lebih bagus dibanding 2011. “Trennya bagus, apalagi rupiah menguat“, ujarnya optimis.

Investasi Closed House di Level Peternak

Salah satunya, adalah kandang broiler komersial milik Wahyu Pratomo peternak mitra binaan PT Sierad Produce (Sierad) yang berlokasi di Losari, Jawa Tengah. Closed House berlantai 3 dengan ukuran 16m x 106m ini mampu dimuati hampir 70 ribu ekor broiler, dan sudah chick-in (masuk DOC/anak ayam umur sehari) perdana Juni 2012 lalu. Closed House di Losari ini merupakan kandang ke-3 milik Wahyu dengan menganut sistem full automatic (serba otomatis sepenuhnya).

Kepada TROBOS Wahyu mengaku, kali ini ia menggelontorkan dana tak kurang dari Rp. 4 miliar. Biaya kandang dan peralatan disebut Rp. 55 ribu per ekor, di luar lahan. Dan ia melengkapi kandang dengan 8 kamera CCTV (TV pengawas jarak jauh) di bagian dalam dan luar kandang, serta menggunakan baby chick (tempat pakan DOC) yang harganya 2 kali lipat wadah pakan konvensional, dengan alasan efisiensi. Sementara untuk Closed House pertama plus ke-2 di Purworejo yang berkapasitas total 44 ribu ekor, nilai investasi keduanya hampir Rp. 2 miliar.

Dhanang Purwantoro, Sales Area Manager PT Sierad Industries, mengklaim kandang broiler komersial milik Wahyu di Losari itu adalah yang pertama di Indonesia dengan sistem serba otomatis dan dipantau menggunakan CCTV. “Di mana pun pemilik bisa mengontrol kandangnya”, ungkap Dhanang. Recording (pencatatan) performa budidaya dibuat online. Bisa diakses oleh pemilik kandang, tim kemitraan Sierad, teknisi kandang dari PT Sierad Industries, dan pihak manajemen pusat Sierad. “Sepanjang ada akses internet, pihak-pihak itu bisa memantau“, timpalnya.

Di Purbalingga, Adityo Wibowo, juga peternak broiler mitra binaan Sierad, tak kalah ambisius. Bangunan lama berupa gudang disulap jadi Closed House bersistem serba otomatis. Berukuran 18m x 62m, 2 lantai, dan berkapasitas 30 ribu ekor. Bila ditotal, peternak muda ini telah merogoh kocek Rp. 900 juta untuk modifikasi itu.

Sementara itu, Tri Hardiyanto Ketua Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) mengakui, investasi Closed House yang serba otomatis dan canggih di anggotanya masih sangat sedikit. “Ada, tapi tak banyak“, ujar Tri. Tapi ia berkilah, ini bukan berarti peternak Gopan tidak melek teknologi perkandangan modern. “Kami lebih ke arah investasi tepat guna. Setingkat demi setingkat dalam menerapkan teknologi modern yang ada. Sebagai contoh, memberi sentuhan teknologi menggunakan blower (kipas) pada Open House (kandang terbuka) atau modifikasi ke Closed House tanpa cooling pad“, beber dia. Pasalnya, imbuhnya, selain modal, Closed House mutlak diiringi cara berpikir yang modern.

Di peternakan layer komersial, teknologi Closed House juga diserap oleh Eko Yudi Purwanto. Eko adalah pengelola peternakan Rossa Farm yang berlokasi di Srengat, Blitar, Jawa Timur. Jarak antar kandang satu dengan kandang berikutnya dalam satu peternakan dan dengan peternakan lain demikian rapat memaksa Eko me-modern-kan kandang-kandang layernya. Meski belum full Closed House, Eko mengadopsi prinsip-prinsip Closed House, dan secara bertahap ia mengaplikasikan teknologi demi efisiensi dan kenyamanan ayam-ayamnya. Di kandangnya Eko mengadopsi tipe tunnel (seperti terowongan) untuk memastikan sirkulasi udara yang baik.

Closed House di Level Korporasi

Sementara di Jawa Barat, setahun lalu, PT QL Trimitra yang didukung QL Resources Berhad, korporasi asal Malaysia menanamkan dana miliaran rupiah untuk Closed House ayam petelur komersial. Semua peralatan dan sistemnya serba otomatis dan canggih. Pengambilan telur dan pembuangan feses pun sudah menggunakan conveyor. Cecep Mochamad Wahyudin yang Pimpinan PT QL Trimitra menginformasikan, populasi layer komersial perusahaannya 1,6 juta ekor dengan produksi telur per hari 15 ton.

Di korporasi besar, Closed House tampak seperti satu paket, di level breeding dan begitu pula di level company farm yang memelihara broiler atau layer komersial. Sebagai contoh PT Ciomas Adi Satwa (Ciomas). Informasi Imam Wahyudi, Senior Vice President Head of Broiler Division Ciomas, sekitar 90% company farm Ciomas sudah menggunakan Closed House meski tipenya berbeda-beda di tiap daerah, mulai dari semi Closed House hingga Full Closed House.

Begitu juga dengan Sierad. “Pasti, Level On-Farm (budidaya) Sierad semuanya sudah difasilitasi Closed House”, tutur Sudirman FX yang juga direktur Sierad. Sedangkan kemitraannya, di Jawa Tengah saja, info Dhanang, tahun ini 20%-nya menggunakan Closed House. Bahkan untuk menggenjot konversi kandang ke Closed House bagi mitranya di seluruh Indonesia, Sierad Industries menggandeng perusahaan China yang bisa membuat Closed House dengan dana terjangkau.

Efisiensi atau Mati

Menurut Sudirman, yang tidak efisien pasti mati. Sebab proses evolusi dan struktur biaya produksi terus berubah dari tahun ke tahun. “Jadi perubahan pola pemeliharaan unggas dari konvensional ke semi-modern dan modern adalah tuntutan efisiensi, bukan gaya hidup”, tuturnya.

Wahyu bahkan berpendapat, peternak yang tidak mau mengarah ke Closed House secara alami akan tergilas. Hukum bisnisnya, yang tidak mau berubah akan tersingkir. Sebab “pertempuran” saat ini dan ke depan ada di efisiensi. Dan Closed House memberikan jaminan efisiensi. Dari kepadatan populasi saja, Closed House mampu lebih efisien. Kandang open maksimal di angka 10 ekor/m², sementara kandang tertutup mampu 15 ekor/m². Belum penghematan lainnya, dari pakan, periode siklus, sampai kesehatan ayam. “Cepat atau lambat dan tidak bisa tidak ke depan peternak akan memilih Closed House. Catatannya, teknologi tinggi ini perlu dibarengi cara berpikir dan manajemen yang baik”, katanya.

Aneng Lim yang Sales Manager PT Big Dutchman Agriculture Indonesia sependapat bahwa Closed House menjanjikan efisiensi. Bahkan kata Aneng, Closed House dengan menggunakan tipe cage akan jauh lebih efisien. “Pada broiler, kepadatan kandang bisa 3,5 kali lipat dari tipe litter. Panen 2 hari lebih awal. Kesehatan terjaga, sehingga produksi pun lebih optimal”, ungkapnya. Jadi, pesan Aneng, industri perunggasan Indonesia jangan terus tertinggal. Investasi di Closed House adalah salah satu siasat untuk mengejar ketertinggalan dari negara lain.

Eko pun satu suara tentang efisiensi yang diberikan Closed House. Dengan Closed House, Eko mendapatkan efisiensi pakan yang lebih baik. “Selain itu produktivitas tinggi, kematian dan deplesi rendah, dan berat badan saat afkir bagus. Intinya dengan Closed House ayam nyaman, peternak tenang”, tuturnya.

Efisiensi juga terkait dengan pengaruh lingkungan. Kata Chandra Brahmantya, Head Internal Production PT QL Trimitra, pengaruh lingkungan seperti perubahan cuaca menuntut penggunaan Closed House. “Closed House kan memang dibuat untuk mengatasi perubahan cuaca yang sangat ekstrim”, cetusnya.

Paparan Imam sejalan dengan pernyataan Chandra. Terangnya, dengan Closed House pengaruh perubahan cuaca dapat dikendalikan oleh peralatan dan sistem yang telah dipasang. Sedangkan pada Open House dibutuhkan usaha yang tinggi untuk mengatasi ketidakteraturan cuaca yang ada. Bila tidak terkendali, fisiologi ayam akan terganggu, lalu stress dan terserang penyakit. Imbasnya efisiensi tak akan tercapai.

Dari sisi preferensi pasar, tutur Abdullah Junaedi dari Sierad, ayam hasil panen dari Closed House lebih diminati karena lebih bersih, memar pada karkas minimal, dan terpenting harganya tak berbeda dengan ayam hasil panen dari Open House. “Apalagi rumah potong ayam yang menuntut ayam dengan keseragaman tinggi dalam jumlah besar. Maka ayam hasil panen dari Closed House-lah pilihannya”, terang Junaedi.

Sumber : Trobos, Juli 2012

Sumber 2 : http://dhanangclosedhouse.com/modernisasi-demi-efisiensi-dan-produksi/

Demi Efisiensi Closed House Kian Diminati (bag 2)

Ukuran ideal kandang Closed House. kata Dhanang, lebar 12 m panjang 120 m untuk kapasitas 21 ribu ekor per lantai. “Itu angka optimal, yang paling efisien. Hubungannya dengan kemampuan alat-alat“, terangnya.

Untuk daya tahan kandang, dijelaskan dia, mulai melakukan renovasi kecil pada tahun ke-5 untuk beberapa komponen tertentu seperti tirai. Sementara mesin pakan, drinker, kipas, baru di tahun ke-10 perlu perawatan.

Sementara itu, Junaidi menerangkan, kelebihan Closed House adalah keuntungan lebih terukur dan bisa
diestimasikan secara lebih pasti sejak awal. Berbeda dengan kandang terbuka yang risiko gagal panennya masih tinggi. Terlebih fluktuasi cuaca saat ini demikian besar, pertaruhan antara untung atau rugi masih sama besar. “Meski investasinya besar, keuntungan dengan Closed House sepadan, dan kembalinya investasi lebih terukur.” katanya.

Junaidi memberi catatan, adanya perbedaan signifikan antara kandang yang sepenuhnya otomatis dengan kandang yang meski sudah tertutup tetapi masih menerapkan sistem manual untuk peralatan pakan. “Ada signifikansi output ketika sistem kandang ditingkatkan dari terbuka menjadi tertutup, dan dari tertutup manual menjadi otomatis penuh.” paparnya. Biasanya FCR dan umur panen beda, kembali ia merujuk pada tabel komparasi (tabel). Penjelasannya, kendati suhu sudah terkontrol potensi kesalahan manusia masih lebar dan eftsiensi pakan belum maksimal.

Pemahaman peternak pada biaya tak jarang masih perlu dikoreksi. Langkah menekan biaya dianggap sebagai keuntungan. Menghemat dengan jalan mengurangi pakan, tidak menyalakan kipas, mengurangi frekuensi pembersihan sekam, masih kerap ditempuh, padahal dampaknya produktivitas menurun signifikan. “Keuntungan itu adanya di ujung usaha. Kalaupun biaya harus dikeluarkan lebih banyak dengan target output yang dihasilkan jauh lebih besar, kenapa tidak dilakukan ?” tanya Junaidi retorik. Biaya seharusnya dihitung dengan rumus “berapa Rp. dibutuhkan untuk mendapatkan 1 kg ayam“.

Lebih Nyaman

Menurut Deddy, dengan penggunaan Closed House ayam akan lebih nyaman hidup di dalam kandang karena mendapat pasokan udara yang cukup. Dari segi penyakit pun bisa dilokalisasi sehingga tidak menyebar ke kandang lain. “Dengan hidup ayam yang lebih nyaman akan berpengaruh pada mortalitas, kesehatan dan keseragamannya.” terangnya.

Hal yang sama disampaikan Teddy. Dengan Closed House udara yang diproduksi selalu segar karena sirkulasi udara tidak pernah absen untuk membuang panas dan amoniak. Sedangkan kandang terbuka, sirkulasi tergantung lingkungan yang terkadang tidak ada tiupan udara. Sirkulasi yang tidak lancar berpotensi menimbulkan penyakit karena suhu tubuh ayam akan naik akibat amoniak dan panas meningkat, berpusaran di kandang dan tidak keluar. “Closed House bukan hanya untuk menurunkan suhu tapi yang penting mengatur sirkulasi udara.” ujarnya.

Dengan Closed House temperatur dalam kandang lebih stabil dan bisa diatur sesuai kebutuhan. Kebutuhan oksigen dalam kandang lebih terpenuhi dan udara dalam kandang lebih sejuk dan segar karena adanya sirkulasi udara yang baik. Ini dikemukakan Agus.

Lingkungan pun lebih bersih karena tidak banyak lalat dan tidak menimbulkan bau yang mencemari lingkungan. “Yang paling penting mengurangi stress ayam karena tidak kontak langsung dengan lingkungan luar. Dan kepadatan kandang lebih besar yaitu 28 kg per m² atau 15 ekor per m² dibanding kandang terbuka yang 15 kg per m² atau 8 ekor per m².” tuturnya.

Edukasi

Meski sistem Closed House sangat mendukung keberhasilan usaha, menjadi tidak berarti apabila tidak dibarengi manajemen yang baik. Tenaga kandang mutlak menguasai teknis produksi dan teknis alat.

Mencegah kejadian buruk, Junaidi menjelaskan pihaknya menerapkan metode khusus dalam alih teknologi kepada pemilik dan tenaga kandang. Calon tenaga kandang “disekolahkan” selama 2 periode di kandang yang sudah lebih dulu menerapkan sistem ini. “Alih teknologi untuk menekan sekecil mungkin kesalahan operasional, penerapan sebuah teknologi tinggi menuntut disiplin dan komitmen tenaga kandang dalam menjalankan prosedur sehari-hari.” jelas pria yang biasa disapa Juned ini.

Lanjut Junaidi, sumber penyakit ada 2, dari dalam dan dari luar peternakan. Dari dalam tergantung sumber daya manusia dan kualitas manajemen. “Kecerobohan adalah sumber penyakit. Meski kandang sudah closed, apabila aspek ini masih rendah, potensi penyakit besar.” kata dia. Sementara dari luar antara lain lingkungan, suhu, hama, dan lalu lintas. Dan untuk variabei ini di dalam sistem Closed House sudah ditekan jauh, sehingga fokusnya lebih pada aspek dari dalam.

Dhanang mengimbuhkan, saat pemasangan alat di kandang baru, calon tenaga kandang ia wajibkan ikut terlibat agar memahami prinsip kerjanya yang serba otomatis. “Sehingga menguasai betul secara teknis, ayam umur sekian harus bagaimana. Dan di kemudian hari bila terjadi kendala mesin atau kerusakan kecil dapat langsung segera menangani.” jelasnya. Ia menambahkan, dengan operasional yang otomatis, tenaga kandang bisa lebih fokus pada kontrol kondisi status ayam. Keganjilan perilaku ayam lebih cepat terdeteksi sehingga hasil pun lebih maksimal.

Prospektif

Junaidi punya kisaran, saat ini 20% mitra Sierad di Jawa Timur menerapkan kandang Closed House. Sementara Jawa Tengah-Jogjakarta riil 11 %, tetapi diperkirakan dengan proses yang tengah berjalan, sampai akhir tahun ini angkanya akan sama dengan Jawa Timur.

Tetapi, sekali lagi dikatakan Dhanang, dalam kualitas Jawa Tengah-Jogjakarta lebih maju. Maksudnya, penerapan sistem sekaligus peralatan yang otomatis penuh lebih progresif. Sedangkan wilayah timur cenderung aplikasinya tidak penuh, tetapi modifikasi. Deddy memprediksi penggunaan Closed House di peternakan khususnya broiler dan layer (ayam petelur) komersial akan menjadi suatu kebutuhan dengan semakin banyaknya tantangan. Ditambah peternakan yang sudah mulai dekat perumahan dan harga tanah yang semakin mahal sehingga dengan tanah yang ada kapasitasnya bisa ditingkatkan. “Sistem Closed House makin prospektif, pasarnya masih terbuka karena penggunaan di broiler komersial baru 20-30%, layer komersial bukan yang pullet baru 10%. Sedangkan di breeding (pembibitan) sudah hampir 80%.” ujarnya.

Teddy mengatakan, jika pertumbuhan ekonomi terus membaik, daya beli masyarakat meningkat permintaan akan penggunaan Closed House akan meningkat pula. Apalagi persoalan penyakit dan pakan yang mahal menuntut pelaku usaha melakukan efisiensi. “Semua mengejar ke efisiensi sekecil apapun untuk menjadi pemenang.” tandasnya.

Titik krusial yang kerap mengganjal tumbuhnya teknologi ini di lapangan adalah kontinuitas pasokan listrik di seluruh wilayah tanah air yang rendah. Kebutuhan listrik tanpa terputus bagi aplikasi terutama yang otomatis penuh bersifat mutlak. Padahal peternak ketika membangun Closed House umumnya sudah harus membangun jaringan listrik yang biayanya tak kecil.

Setya misalnya harus merogoh kocek sedikitnya Rp. 25 juta untuk mengalirkan listrik dengan menambah 3 tiang listrik (togor). Sementara Hari mengaku keluar dana khusus Rp. 68 juta dengan penambahan 11 tiang listrik. Itu pun tak cukup aman. Karena listrik yang kerap padam, peternak harus menyiapkan genset untuk antisipasi. Kalau tidak ingin ayamnya terpanggang kepanasan atau mati kelaparan dan kehausan di saat listrik dari PLN ngadat.

Sumber : Trobos, Juli 2011 (Efisiensi Closed House (bag 2))

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/efisiensi-closed-house-bag-2/

Demi Efisiensi Closed House Kian Diminati (bag 1)

Kalaupun biaya harus dikeluarkan lebih besar dengan target output yang dihasilkan jauh lebih besar, kenapa tidak dilakukan ?

Penggunaan teknologi Closed House (kandang tertutup) pada peternakan unggas di Indonesia dalam 2 tahun terakhir berkembang sangat pesat.

Di Jogjakarta dan Jawa Tengah misalnya, dari segi kuantitas serta kualitas demikian maju dan progresif dalam penerapan Closed House dengan peralatan yang otomatis penuh (full automatic). Secara kualitas menyalip wilayah Jawa Timur yang lebih dulu mengenal dan mengadopsi teknologi tersebut.

Hari Sukmawan, peternak broiler (ayam pedaging) di Kecamatan Temon, Kulon Progo, Jogjakarta di 2011 ini memutuskan merenovasi 2 kandang broiler miliknya yang model panggung terbuka (opened) menjadi Closed House (sistem tertutup). Pasalnya, Hari yang mulai beternak bersama beberapa teman dengan populasi awal 5 ribu ekor di 2001 ini hampir 3 tahun terakhir mengalami kendala yang kompleks.

Sejak total kapasitasnya mencapai 30 ribu ekor per siklus, pengendalian penyakit dan cekaman cuaca ekstrem makin merepotkan, dan serbuan lalat yang dikeluhkan masyarakat saat panen juga makin tinggi. Keuntungan yang diterima pun fluktuatif akibat performa yang dihasilkan juga naik turun.

Pengalaman hampir sama dialami Setya Pudyastiwi. Pemilik kandang yang berlokasi di Bantul, Jogjakarta ini bercerita, kandang terbuka miliknya yang baru berjalan 5 periode belum sekalipun memberikan untung. Salah satu periode bahkan ia hanya memanen 50% ayam karena dihajar wabah penyakit.

Dan periode terakhir ia mengaku tak habis pikir dengan membengkaknya FCR (konversi pakan). Problem cuaca dan penyakit jadi sandungan utama peternakan yang dikelola bersama anaknya Aldhila Putra Satria Jaya ini sehingga ia memutuskan beralih ke Closed House. Berlokasi di daerah Kokap, Kulon Progo kini tengah dalam proses pembangunannya, yang terdiri atas 2 lantai untuk 24 ribu ekor broiler.

Lain kisah Wahyu Pratomo. yang telah membuktikan keuntungan penggunaan Closed House. Peternak broiler di Purworejo ini sejak awal usaha langsung menerapkan teknologi itu dengan kapasitas 23 ribu dan peralatan otomatis penuh, termasuk melengkapi dengan mini silo untuk mencegah keterlambatan pakan.

Kandang berbendera PT Organik Alam Lestari ini beroperasi terhitung Maret lalu, sudah panen 3 kali dan masuk periode ke-4. Performa yang dihasilkan 3 periode setidaknya menguatkan keyakinan Wahyu atas aplikasi Closed House. Data performa satu siklus dengan panen terbaik yang dicapai Wahyu adalah FCR 1,76; umur panen 29,84; bobot panen 1,99; kematian 1,99; serta IP 387,6. Sementara hasil rata-rata 3 periode dapat dilihat di tabel.

Investasi

Wahyu yang sebelumnya tak pernah kenal bisnis perunggasan dan lebih akrab dengan bisnis pupuk dan jasa konstruksi ini mengaku mempertaruhkan dana sebesar Rp. 946 juta untuk investasi Closed House. “Saya yakin, setelah dianalisis, modal yang dikeluarkan bakal terbayar lunas dalam waktu 2 tahun. Dengan asumsi target 7 siklus dalam setahun tercapai.” tegas Wahyu kepada TROBOS optimis.

Dijelaskan Wahyu, kandangnya terdiri atas 2 lantai berukuran 16 x 54 m² dengan kepadatan populasi 13,5 ekor per m². Bahkan rencananya akan ditingkatkan jadi 14 ekor per m² karena secara teori 15 ekor per m² dapat diterapkan, dengan catatan dilakukan penjarangan pada umur 28-29 hari. Sebagian ayam dipanen, kisaran bobot di umur tersebut 1,5-1,6 kg.

Hasil memuaskan pada siklus terakhir yang mampu meraup untung Rp. 3.050 per ekornya mendorong Wahyu memperbesar skala usaha. Di lokasi yang sama, ia telah selesai membangun kandang kedua berupa kandang 1 lantai berukuran 23 x 66 m², kapasitas 21 ribu ekor dengan biaya yang diperkirakan lebih kecil dari biaya kandang pertama.

Tidak hanya itu ia pun mengaku tengah mempersiapkan kandang ke-3 di Losari, Brebes dengan kapasitas 75 ribu ekor, 3 lantai ukuran 16 x 100 m² yang diperkirakan akan menelan modal sekitar Rp. 3,6 miliar. “Saya menyesal baru mengenal bisnis ini dengan segala teknologinya September tahun lalu. Kalau saja 10 tahun lalu saya tahu, saya membayangkan punya 600 ribu ayam sekarang.” selorohnya diiringi derai tawa.

Sementara Hari, menyebut biaya yang harus ia siapkan Rp. 400 juta untuk bangunan dan listrik, serta Rp. 400 juta lagi untuk mesin dan alat kelengkapan. “Rancangannya, 2 kandang masing-masing berukuran 10 x 115 m² dengan 2 lantai itu akan mampu meningkatkan populasi 2 kali lipat, menjadi 50 ribu – 60 ribu ekor ayam.” terang Hari.

Sedangkan kandang milik Setya unik. Pembangunannya menggunakan rangka baja ringan. Ia mengklaim ini sebagai uji coba yang pertama di Indonesia dan biaya yang dikeluarkannya 40% lebih rendah ketimbang menggunakan baja. Ia berani mencoba karena pihak kontraktor menjamin kekuatan kandang, dan memberi jaminan penggantian termasuk ayamnya apabila dalam 10 tahun terjadi kerusakan konstruksi.

Setya yakin dana Rp. 1,1 miliar yang dibelanjakannya kali ini akan impas dalam waktu 2,5 tahun. Ia mematok target dengan sistem Closed House, setidaknya ia bisa mendapatkan keuntungan Rp. 3.000 tiap ekor ayam.

Sales Area Manager Jateng-Jatim, PT Sierad Industries, Dhanang Purwantoro ikut menjelaskan Rp. 45 ribu per ekor adalah kisaran biaya atau investasi untuk membangun sebuah Closed House dari nol dengan peralatan otomatis penuh. Angka ini meliputi biaya konstruksi, mesin, dan peralatan otomatis penuh, minus lahan dan listrik. “Tinggal dikalikan jumlah populasi yang diinginkan.” ujar Dhanang. Sementara untuk kandang “up grade” atau modifikasi sebagaimana yang ditempuh Hari, angkanya lebih rendah.

dhanang closed house table

Komparasi Performa Ayam dengan Tipe Kandang Berbeda

Sebagai pembanding, Head of Production area Jateng-DIY, Sierad Produce, Abdullah Junaidi menunjukkan catatan biaya yang dibutuhkan untuk kandang panggung terbuka ada di kisaran Rp. 21 ribu per ekor. Karena investasi yang tidak kecil ini, kebanyakan peternak berpikir ulang untuk menerapkan Closed House. Junaidi sempat mengatakan, perlu hampir 2 tahun sejak ia mengenalkan pada Hari teknologi ini, sampai ia memutuskan merenovasi kandangnya.

Senior Sales Manager PT Sierad Industries, Agus Wahyu S secara terpisah menjelaskan, untuk modifikasi kandang menjadi Closed House dengan penambahan kipas, cooling pad (pendingin), dan tirai plastik biayanya berkisar Rp. 6.000 – Rp. 7.000 per ekor. Sementara modifikasi menjadi Closed House dengan penambahan kipas, cooling pad (pendingin), tirai plastik, tempat minum nipple dan tempat makan otomatis biayanya menjadi Rp. 8.000 – Rp. 9.000 per ekor.

Marketing Manager Equipment Division PT Agrinusa Jaya Santosa, Teddy Chandra punya patokan yang berbeda.
Hitungan dia, modifikasi kandang menjadi Closed House dengan penambahan kipas cooling pad dan tirai plastik, controller biaya per ekornya baik untuk broiler dan layer di kisaran Rp. 10.000. Biaya itu di luar biaya kandang. “Closed House untuk tiap daerah akan berbeda tergantung kondisi daerah tersebut dan untuk daerah pesisir pantai lebih baik karena kelembabannya lebih rendah.” imbuh Teddy.

Cara kalkulasi berbeda dipunyai President Director PT Berdikari Sarana Jaya, Deddy Kurnia. Menurut dia, modifikasi kandang menjadi Closed House membutuhkan biaya sekitar Rp. 70 juta. Angka tersebut digunakan untuk membeli kebutuhan kipas 5-6 unit dan tirai plastik pada kandang dengan ukuran 10 x 80 m². “Pembuatan Closed House bisa dipertimbangkan dengan dana yang diinginkan peternak karena Closed House ini bisa dibuat mewah sekali atau justru sederhana. Balik modal Rp. 70 juta bisa dikalkulasi dengan mengkombinasikan tempat makan yang dibuatkan semi otomatis.” paparnya.

Efisiensi

Deddy mengatakan Closed House lebih menguntungkan dari segi efisiensi, performa, dan banyak efek positifnya. Sayang, kompetisi peternak dalam penerapan teknologi Closed House di Indonesia masih rendah sehingga biaya produksi masih tinggi. “Intervensi harga jual produk sulit dilakukan, karena tergantung pasar. Maka yang bisa dimainkan dengan Closed House adalah bagaimana harga pokok produksi (HPP) ini bisa lebih rendah. Investasi awal untuk Closed House mahal, tetapi biaya operasional per ekornya jauh lebih murah.” ia berargumentasi.

Teddy berpendapat, peternak yang sudah mengerti Closed House dan mampu menjalankan dengan lebih baik serta lebih efisien, akan bisa menghitung profit dari teknologi tersebut. Besarnya investasi, pemakaian listrik, termasuk biaya lingkungan, semua bisa dihitung dan dibandingkan dengan sistem kandang terbuka.

Tapi terkadang peternak masih berpikir, begini saja sudah untung kenapa harus pakai Closed House. Padahal beberapa tahun belakangan ini tantangan di peternakan unggas tidak lebih baik bahkan cuaca tidak mendukung, dan Closed House bisa menjadi solusi.” papar Teddy.

Agus membenarkan, penggunaan Closed House secara umum belum banyak berkembang khususnya di broiler komersil karena peternak belum mengetahui atau memahami keuntungannya atau terkendala faktor lainnya. Padahal sistem Closed House sangat baik dan cocok diterapkan di Indonesia yang memiliki temperatur udara tidak stabil. “Dengan sistem Closed House usaha peternakan akan lebih efisien baik di kepadatan populasi, penggunaan pakan, kematian dan keseragaman bobot ayam.” tegasnya.

Dhanang memberikan gambaran efisiensi yang dapat dicapai teknologi ini. Dicontohkannya, 1 kandang closed house dengan ukuran tertentu mampu memuat 24 ribu ekor broiler dan cukup dioperasikan oleh 2 tenaga kerja. Sementara dengan sistem terbuka, untuk ukuran yang sama diperlukan setidaknya 5 kandang yang masing-masing berkapasitas 5 ribu ekor, dengan 10 tenaga kerja (2 orang per kandang).

Belum lagi kalau lokasinya terpencar, problemnya beragam dengan ancaman yang beragam juga. “Keuntungan atau nilai lebih yang utama dari Closed House adalah kepadatan meningkat kapasitas tampung berlipat efisiensi terdongkrak.” ujarnya.

Bersambung : Demi Efisiensi Closed House Kian Diminati (bag 2)
Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/efisiensi-closed-house-bag-1/