Manajemen Biosekuriti Terbaik

Berbicara masalah biosekuriti sama juga dengan membicarakan kehidupan kita sehari-hari. Biosekuriti dapat diartikan sebagai tindakan pencegahan masuknya kuman patogen / bibit penyakit (virus, bakteri, parasit, jamur). Contoh sederhana dan biasa kita lakukan setiap hari yaitu mandi atau mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan suatu pekerjaan.

Masih berhubungan dengan biosekuriti, banyak media cetak saat ini menyorot kerugian besar akibat Ebola Virus Disease / EVD. Penyakit yang pertama kali terjadi tahun 1976 dinegara-negara Afrika Guinea, Sierra Lion, Liberia, Nigeria dan sekarang sudah menjalar ke Senegal sebagai negara kelima terkena wabah. Diawali dengan demam, sakit tenggorokan, nyeri otot dan sakit kepala ini biasanya diikuti dengan gejala mual, muntah dan diare, dapat ditularkan melalui kontak dengan darah / cairan tubuh hewan (monyet) atau manusia yang terinfeksi.

Untuk penanganan virus ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa tertatih-tatih mengumpulkan dana amanah (trustfund) senilai 1 miliar dollar AS atau Rp. 12,2 triliun. Virus yang pertama kali tahun 2014 masuk ke Amerika Serikat saat memulangkan perawat volunternya dari Afrika karena diduga tertular penyakit ini, dicemaskan bisa menyebar ke Eropa dan Asia. Jelas terlihat biosekuriti berperan penting dalam penanggulangan penyakit ini dan penerapan yang tidak konsisten mengakibatkan kerugian yang besar.

Tercatat bahwa Pemerintah Maroko mundur sebagai tuan rumah Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAP) dalam memperebutkan Piala Bangsa-Bangsa Afrika yang semula rencananya akan diselenggarakan tahun 2015, hal ini menyatakan biosekuriti juga mempunyai kaitan dengan kerugian / hilangnya peluang investasi / dana yang akan masuk.

Sebenarnya, penerapan biosekuriti yang ketat dan konsisten berarti juga mengurangi kejadian penyakit menjadi sekecil mungkin, sehingga kerugian ekonomi dapat diminimalkan.

Lalu, bagaimana halnya dengan pelaksanaan Biosekuriti di peternakan kita ? Dalam dunia peternakan khususnya peternakan unggas, penerapan biosekuriti bukan hal yang baru. Umumnya peternak unggas kita selain menerapkan biosekuriti dengan baik, juga melakukan tindakan supporting biosekuriti dengan cermat.

Salah satu contohnya adalah pemasukan bibit yang baik dari sumber terpercaya akan bibit unggul yang menerapkan biosekuriti. Juga pemasukan pakan, dimana selain memperhitungkan nilai nutrisi terkandung, sumber pakan diperoleh dari sumber / daerah bebas penyakit unggas. Pemasukan bibit atau pakan yang dari sumber yang salah atau tidak menerapkan biosekuriti akan riskan terhadap penyakit.

Manajemen kesehatan ternak erat kaitannya dengan biosekuriti, karena akan berdampak terhadap keberhasilan produksi ternak serta mengurangi resiko masuknya penyakit. Disini ada beberapa tips pelaksanaan biosekuriti yang baik untuk mencegah masuknya / menyebarnya kuman patogen / bibit penyakit :

Dhanang Closed House - Do Not Enter

  1. Pencegahan keluar masuknya orang :
    • Membuat tulisan jelas dan mudah terbaca (“DILARANG MASUK” atau “HANYA PETUGAS YANG BOLEH MASUK”)
    • Kandang ayam selalu dalam keaadaan tertutup dan hanya pekerja yang memiliki otoritas tertentu yang bisa membuka atau menutup
    • Jangan membolehkan tamu tak berkepentingan khusus memasuki daerah perkandangan. Tamu khusus yang berhubungan dengan masalah teknisi harus memakai baju luar untuk melindungi mereka maupun unggas kita dari kemungkinan kontaminasi silang
    • Semua rekaman tamu yang masuk (alamat, no telepon maupun instansi) sebaiknya disimpan dengan baik
  2. Pencegahan kontaminasi silang :
    • Petugas kandang sebaiknya memiliki baju, sepatu boots, topi dan sarung tangan khusus untuk bekerja di area kandang
    • Biasakan membasuh / mendesinfeksi tangan dan mengganti baju sebelum dan sesudah meninggalkan area perkandangan
    • Petugas kandang tidak mengunjungi flok unggas lainnya
    • Peralatan yang dibawa masuk untuk digunakan dalam kandang harus didisinfeksi sebelum dan sesudah keluar dari area perkandangan
    • Kendaraaan yang masuk area perkandangan juga didisinfeksi
    • Pemantauan juga diberlakukan bagi hewan liar seperti anjing, kucing, tikus dan burung liar
  3. Pengawasan pakan dan air minum :
    • Biosekuritas terhadap pakan dilakukan mengingat banyaknya agen penyakit dan toksin yang dapat mencemari makanan
    • Air merupakan sumber penularan penyakit seperti Salmonellosis dan Kolibasilosis. Pemeriksaan mutu air dapat berupa pemeriksaan kimiawi (kesadahan, metal, mineral) dan bakteriologis, atau secara kultur biakan
  4. Perawatan kandang :
    • Pencucian kandang ayam merupakan kegiatan biosekuritas yang paling berat. Segera setelah flok ayam diafkir dan liter diangkat keluar kandang, dilakukan pembersihan dan desinfeksi terhadap seluruh kandang dan lingkungannya
    • Pilihlah desinfektan (anti-mikrobial) yang sudah terdaftar dan memiliki nomor registerasi obat hewan. Sanitasi dimulai dari sabun tangan sampai dengan desinfektan semprot / kandang seperti golongan fenol (alkohol, lisol), chlorine, detergen, iodin. Untuk desinfeksi harian pada ayam, dapat menggunakan glutaraldehide
    • Beberapa desinfektan bekerja sendiri atau dikombinasi. Untuk kandang habis pakai dapat memakai formaldehide dicampur kalium permanganat
  5. Penanganan Limbah :
    • Kotoran ayam dan sekam basah, harus segera disingkirkan agar tidak mengundang lalat berkembang biak
  6. Pemeriksaan Laboratorium :
    • Walaupun kita sudah menerapkan biosekuriti dengan baik tidak ada salahnya secara berkala mengirimkan sampel darah ayam kita ke laboratorium yang sudah terakreditasi untuk mengetahui kondisi kesehatan ayam
    • Bila ditemukan penyakit segera mengirimkan sampel darah / ayam yang sehat / penyakit juga ke laboratorium kesehatan hewan

Kesimpulan

Biosekuriti merupakan cara efektif untuk menjaga sanitasi peternakan ayam kita. Program biosekuritas sebenarnya relatif tidak mahal tetapi merupakan cara efektif mencegah masuknya penyakit pada ayam. Dengan penerapan biosecuriti yang konsisten, peternakan dapat meminimalisir tingkat kematian pada ternak serta penularan penyakit.

Sumber :

Advertisements

Pilah-Pilih Atap Untuk Ayam (bag 2)

Wahyu Pratomo, Direktur CV Intan Cahya, penyedia jasa konstruksi baja Closed House untuk unggas, turut memberi keterangan. Ia mengaku, beberapa waktu lalu tertarik menggunakan atap tersebut tetapi belakangan mundur dengan alasan harga. “Saya sekarang tengah membangun menambah Closed House di Kulon Progo (Yogyakarta – red) ukuran 12 x 126m. Kali ini saya ingin coba pakai atap itu, dikasih harga kisaran Rp. 500 juta. Wah, nggak jadi !“, ujar pria yang juga menyandang status peternak broiler dengan 3 Closed House berkapasitas total 125 ribu per siklus ini.

Wahyu percaya teknologi ini efektif mendukung terpenuhinya lingkungan ideal bagi hidup ayam dan mempermudah operasional Closed House. Ia yakin, teknologi ini akan semakin mendukung performa ayam, karena ayam lebih nyaman. Ditambahkan Dhanang, teknologi ini adalah cara mudah menurunkan suhu dalam kandang sehingga tenaga kandang dapat berkonsentrasi pada peralatan dan pekerjaan lain yang memberi dampak positif terdongkraknya performa ayam.

Menurut Wahyu ini sejatinya bukan teknologi baru. Penggunaan PU sudah banyak pada gedung atau bangunan lain. Lapisan insulasi banyak dimanfaatkan sebagai penahan suhu pada kamar pendingin agar tetap dingin. “Tapi pemanfaatan untuk kandang ayam masih baru“, ujar dia.

Sayangnya harga terlalu tinggi. Sebagai pembanding, dengan ukuran yang sama Wahyu hanya menghabiskan biaya sekitar Rp. 150 juta untuk atap plafon. Wahyu semula mengaku senang saat belakangan dipasarkan produk tersebut yang merupakan buatan dalam negeri. “Saya senang karena saya pikir dengan produk dalam negeri bisa lebih murah, ternyata ndak“, ucapnya bernada menyayangkan.

Wibowo tak menampik produknya 20-30% lebih mahal ketimbang atap konvensional. Tapi selain tampilan jauh lebih bagus, sandwich panel selama 20-30 tahun tidak akan rusak. Pelanggannya mengakui nilai lebih tersebut. “Murah, tapi 3 atau 4 tahun harus dibongkar ganti atap baru, itu jauh lebih tidak efisien“, ujarnya setengah berdalih.

Investasi atap sandwich panel untuk Closed House baik layer maupun broiler sama. Ia menyebut kisaran Rp. 600 juta untuk ukuran 10 x 120 m². Harga Rp. 150 ribu per m². “Kalau pakai atap biasa Rp. 110 – 115 ribu per m². Tapi insulasinya beda jauh, dan praktis tinggal pasang“, ucapnya promosi. Sehari, kata Wibowo, dapat terpasang 300 m² dengan pekerja 4 orang. Sementara atap konvensional paling banter 150 m², belum lagi insulasinya ribet.

Keluhan dana yang terbatas ditanggapi Wibowo dengan menyodorkan alternatif pilihan. “Bisa disesuaikan budgetnya. Yang penting secara fungsi dapat“, katanya. Ia memisalkan, opsi penggunaan jenis natural color dan bagian bawah paperfelt, ini mampu menekan harga sampai 20%. Jadi peternak masih ada pilihan. tetap dapat memiliki atap ideal.

Plafon Kurang Maksimal

Batal menggunakan atap PU, untuk calon kandang barunya Wahyu mengaku membuat modifikasi atap hasil kreasinya sendiri. Menggunakan beberapa bahan yang banyak ditemui di pasaran ia membuat atap berinsulasi. “Galvalume di 2 sisi, dengan insulasi di tengahnya memanfaatkan aluminium foil“, tuturnya rigid. Kalkulasi dia, ongkos yang dikeluarkan tidak lebih dan Rp. 250 juta. Dan ia yakin, kreasinya ini mampu memberikan fungsi atap yang ideal, menekan suhu dalam kandang.

Sebelumnya, dalam membangun Closed House, baik untuk sendiri maupun penyediaan bagi peternak lain, Wahyu masih menggunakan tipe atap dengan plafon. Dan ia mengakui, di iklim tropis dengan suhu yang fluktuatif, atap biasa memiliki kesulitan tersendiri dalam menurunkan suhu. Dia mencontohkan kandangnya yang di Losari dengan 3 lantai, performa ayam di lantai paling atas adalah yang terendah. “Artinya, di atas ini paling panas dan atap plafon tidak maksimal meredam panas paparan sinar matahari“, terangnya.

Selain itu, atap plafon membutuhkan biaya maintenance (perawatan). Kata Dhanang, untuk plafon berbahan terpal atau plastik menuntut renovasi di tahun ke-6, sementara plafon berbahan galvalume setelah 15 tahun harus diganti. Sedangkan atap golongan III tanpa plafon mampu bertahan selama kandang berdiri.

Wahyu menambahkan, tindakan sanitasi dengan semprotan bertekanan tinggi berpotensi menimbulkan kerusakan pada plafon. Belum lagi, apabila listrik padam. Dijelaskan Wahyu, saat listrik kembali menyala, otomatis semua blower menyala sehingga hembusan angin mendadak kencang dan memberikan tekanan menghentak pada plafon.

Perlu Kipas Banyak

Tapi Teddy punya analisa berbeda. Ia justru menyarankan perlunya mempertimbangkan biaya operasional yang harus dikeluarkan bila akan memilih kandang jenis A frime tanpa plafon untuk Closed House. Meski atap dengan bahan PU dapat menahan panas, kata dia, karena tanpa plafon maka udara di dalam kandang menjadi sangat besar. “Ini membutuhkan jumlah kipas yang lebih banyak untuk mengalirkan udara“, jelas Teddy. Otomatis, penggunaan listrik juga lebih besar. Ia membandingkan, perbedaan pemakaian jumlah kipas antara kandang berplafon dengan tanpa plafon sekitar 25%. Meskipun, ia mengimbuhkan, tergantung cuaca di masing-masing lokasi juga.

Teddy menilai yang paling ideal adalah menggunakan atap PU, dengan ditambah plafon juga. Walaupun investasi atau modal lebih banyak, tetapi metode ini efektif menurunkan suhu kandang. Disamping panas diredam atap, ruang kosoog antara atap dan plafon juga menghambat aliran panas ke dalam kandang sehingga lebih dingin. Nilai lebihnya, plafon juga memperkecil volume udara dalam kandang sehingga tidak menuntut penggunaan kipas yang banyak.

Masing-masing tipe punya plus minus, kata Teddy. Alternatif lain, menggunakan atap zincalume tanpa lapisan PU kemudian dibuat plafon. Bila merujuk pada penjelasan Dhanang, tipe ini adalah atap golongan I. Menurut Teddy, investasi tipe ini sama dengan atap beriapis PU tanpa plafon. Bedanya, yang pakai plafon biaya operasional harian lebih rendah karena menghemat kipas dan listrik.

Sebagai jalan keluar plafon yang mudah rusak, Teddy menyarankan untuk menggunakan zincalume sebagai bahan pembuatan plafon. Alih-alih plastik atau terpal. Teddy mengaku lebih memilih tipe atap dengan zincalume dengan drop ceiling (plafon). “Ditambahkan glass wool di atas plafon juga tidak apa-apa“, ujarnya. Investasinya juga lebih tegangkau, menurut dia.

Plafon untuk Broiler

Aneng Lim, Sales Manager PT Big Dutchman Agriculture Indonesia mengutarakan, tipe kandang dengan flat ceiling (plafon) cocok untuk broiler. Sebaliknya, tipe ini tidak pas untuk layer karena tekanannya terlalu besar bagi kandang layer yang menggunakan cages (kandang individual). Sependapat dengan Teddy, Lim mengatakan untuk broiler yang terbaik adalah menggunakan atap berinsulasi PU dan ditambah plafon.

Atap Closed House paling sederhana, dijelaskan Lim, tipe A sudah menggunakan insulasi dengan tulang rangka yang masih terlihat sehingga aliran udara menemui banyak rintangan yang berakibat terjadi turbelensi. Solusinya, ditutup dengan lapisan metal dengan ketebalan lebih tipis ketimbang metal di bagian atas. “Bisa ditambahkan glass wool atau tidak“, katanya.

Tipe berikutnya menggunakan flat ceiling, dan tipe ketiga menurut Lim menggunahan PU panel atau kadang disebut juga dengan sandwich panel. PU diakuinya mahal, alternatif pilihan adalah galvanis, tetapi perlu plafon dan glass wool yang diletakkan di plafon sebagai insulasi. Dan dibandingkan penggunaan glass wool, PU lebih rapi.

Pihaknya menyediakan kebutuhan galvanis dengan spesifikasi ketebalan 275 gr/m², sementara ukuran panjang tergantung permintaan pelanggan. Tetapi, kata Lim lagi, lebar lebih dari 12m kontraktor akan kesulitan karena panjang besi per 6m. “Di Indonesia ukuran standar kandang 12 x 120m“, sebut dia.

Untuk PU, tersedia di pasaran panjang 6-12m. Lebih dari itu, kata Lim lagi, akan kesulitan loadingnya. PU sedang marak. Menurut dia PU aman, tidak beracun karena lapisannya tertutup. “Untuk satu kandang kira-kira dibutuhkan 315 lembar“, imbuh dia.

Sirkulasi dan Turbulensi

Ayam sebagai makhluk hidup bermetabolisme dan melepaskan panas tubuh. Panas tubuh, bersama gas ammonia akan naik ke atas mengisi ruangan dalam Closed House. “Udara inilah yang harus dikeluarkan“, terang Teddy. Aliran udara yang baik akan menghasilkan sirkulasi atau ventilasi ideal dalam kandang, sehingga sejuk dan nyaman bagi ayam.

Konstruksi plafon sangat menentukan nilai aliran udara di dalam kandang. Teddy memberi catatan penting untuk model plafon yang flat (datar) berpenampang melintang berbentuk kotak dengan sudut-sudut lancip. Tipe ini menghasilkan turbelensi aliran udara karena saling bertabrakan. Sedangkan untuk model plafon yang curve, artinya ujung-ujungnya berupa lengkungan, aliran udara lebih lancar. “Turbelensi ini tidak disukai ayam“, katanya. Dan kalau turbelensi itu sangat kuat maka akan ada bagian tempat yang kosong udara dan titik tersebut akan dijauhi ayam. Idealnya, udara mengalir lembut dan rata.

Untuk tinggi antara atap dengan plafon, menurut Teddy tidak ada angka ideal. Ruang kosong ini menjadi pendingin alami. Untuk menambah peredam panas, bisa dipakai glass wool yang ditempel pada plafon. “Dan biasanya tikus tidak suka glass wool. Selain itu, baiknya plafon dilapisi plastik agar tidak ada bocor“, pesan Teddy.

Teddy memberikan keterangan tambahan, dudukan atap jarak antara satu dengan lainnya 3-6m. Banyaknya kolom dudukan kandang sangat tergantung panjang kandang. Panjang kandang rata-rata 120m. Untuk kemiringan atap, ada hitungan tersendiri. “Kita paling sering memakai 8-11 derajat“, sebutnya. Kemiringan ditentukan variabel berapa banyak bahan atap yang akan digunakan, dan aliran air. Atap yang terlalu landai, air akan lambat mengalir sehingga membebani atap tersebut.

Kalkulasi investasi total kandang dengan ukuran standar 12 x 120m, menurut Teddy berkisar Rp. 1,2 – 1,3 M. “Kalau komplit dengan peralatan menghabiskan Rp. 2 M“, sebutnya. Dan atap, katanya, menelan 50-60% dari total biaya. Diakuinya, pembangunan Closed House mahal di atap.

Sumber : Trobos, September 2013

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/pilah-pilih-atap-untuk-kandang-ayam-ii/

Pilah-Pilih Atap Untuk Ayam (bag 1)

Atap sandwich panel dengan insulasi PU dipercaya mampu meredam suhu dalam Closed House, membantu memberikan lingkungan ideal bagi hidup ayam. Tetapi harga mahal banyak dikeluhkan, sebagian lagi masih memilih atap plafon.

Gagasan penyediaan Closed House (kandang tertutup) untuk unggas, ditujukan dengan maksud menyediakan lingkungan yang ideal bagi hidup ayam secara kontinu. Ayam terhindar dari cekaman cuaca ekstrem di luar dan nyaman berada di dalamnya, sehingga akan memberikan feed back berupa performa yang optimal sesuai potensi genetik. Dan ujungnya, peternak pemilik akan dapat meraup untung yang sepadan dari usahanya budidaya ayam, baik itu broiler (ayam pedaging) maupun layer (ayam petelur).

Closed House mensyaratkan terpenuhinya parameter-parameter standar tertentu untuk dapat disebut mampu menyediakan lingkungan sesuai kebutuhan ideal hidup ayam. Area Manager of East Indonesia PT Sierad Industries, Dhanang Purwantoro menyebut parameter vital yang ideal dalam kabin Closed House antara lain suhu 27-28°C, kelembaban di kisaran 70% dan kecepatan aliran udara 2,5 m/detik.

Dan atap, menjadi komponen krusial yang berkontribusi dalam pencapaian parameter-paramater tersebut sehingga sebuah kandang layak menyandang nama Closed House. Terutama perannya dalam mengendalikan suhu dan terciptanya sirkulasi udara atau ventilasi yang baik, dan kedua tersebut akan menentukan tingkat kelembaban dalam kandang.

Sejauh pengalamannya sekian lama dan sekian banyak melayani pembangunan Closed House bagi peternak broiler maupun layer. Dhanang Purwantoro mengelompokkan atap menjadi 3 golongan berdasarkan bahan yang dipakai. Ia memaparkan, golongan pertama adalah atap yang terbuat dari 1 lapis jenis bahan, misalnya seng, galvalume (material berbahan logam baja) atau asbes saja. Golongan dua, berupa atap berbahan seng atau galvalume yang berlapis insulasi sederhana. Dan lapisan insulasi dapat menggunakan aluminium foil, glasswool, atau expanded polystyrene (EPS), sejenis bahan yang umum dikenal dengan styrofoam.

Sementara golongan ketiga, Dhanang menyebut istilah atap galvalume insulated. Tipe ini tebal dan padat, berupa lapisan kompleks yang memanfaatkan EPS dan polyurethane (PU) sebagai bahan insulasi.

Lebih lanjut Dhanang menjelaskan, untuk tipe atap golongan I dan II mensyaratkan beberapa kelengkapan. Pertama, tipe tersebut menuntut desain konstruksi yang kuat. Kedua, harus didukung desain sirkulasi udara yang bagus. “Supaya tercapai sirkulasi yang baik maka perlu tambahan cone di bagian atas kandang, atau penambahan kipas, atau dibuat adanya udara alami dari samping“, papar dia.

Yang ketiga, tipe ini perlu tambahan sprinkle (semprotan) air di atap. Selain itu, atap golongan I dan II menuntut mutlak adanya plafon karena aliran panas sebagian besar masih mampu menerabas tembus atap. Ruang kosong antara atap dan plafon merupakan penghambat aliran panas yang menjadikan kabin di bawahnya lebih dingin.

Dikatakan Dhanang, fokus utama fungsi atap adalah membendung panas dari atas, meredam paparan sinar matahari. Dan atap golongan III mampu membendung panas dari atas dengan maksimal sehingga suhu dalam Closed House dapat turun signifikan. “Jadi jenis ini pilihan ideal“, katanya. Dhanang menyebut atap berbahan insulasi EPS dan PU ini, tanpa perlu plafon dipercaya dapat menurunkan suhu 3-5°C, dalam kabin Closed House.

Polyurethane Insulation

Praktisi perunggasan Teddy Chandra punya penjelasan sendiri. Ia mengatakan. saat ini kandang terutama Closed House arahnya menggunakan zincalume sebagai atap karena lebih mudah pemasangannya dan struktur lebih ringan. “Seperti yang banyak digunakan untuk bangunan gudang“, kata dia. Teddy menjelaskan, zincalume adalah lapisan plat yang dilapisi dengan zinc dan sering disebut metal seed. Terbuat dari zinc dan alumunium, zinc dapat menahan panas dan menyerap panas tapi tidak dalam jumlah besar karena ada alumuniumnya.

Dalam aplikasinya, lanjut Teddy, kandang dengan atap zincalume ada 2 tipe. Pertama, kandang tanpa plafon atau diistilahkan dengan A frime (konstruksi menyerupai huruf A), dan kedua adalah kandang dengan plafon yang diistilahkan dengan ceiling.

Pada kandang A frime, atap berfungsi sekaligus sebagai plafon. Ini menjadikan volume udara pada kandang tipe ini lebih besar ketimbang kandang dengan plafon. “Atap kandang A frime biasanya menggunakan bahan PU, bentuk luarnya bergelombang dengan lapisan tengah diberi PU”, terang Teddy.

Kondisi cuaca sekarang yang makin panas, tambah Teddy, menjadikan PU dipilih untuk fungsi meredam panas. Kalau zincalume hanya sedikit menahan panas. sedangkan PU mampu memblokir panas jauh lebih besar.

PU berupa bahan kimia seperti styrofoam yang disuntikan di antara lapisan metal, menjadi keras sehingga mudah dipasang tinggal dirakit. Densitas atau kepadatannya lebih rapat daripada styrofoam. Penggunaan PU mengadopsi metode pembuatan cooling room (ruang pendingin). PU dapat menahan suhu sehingga ruangan dalam pendingin tetap dingin. Artinya bisa juga menahan panas.

Yang belum banyak orang pahami, Teddy memberi catatan, material PU sebagai penahan panas tidak sebaik penggunaan sebagai penahan dingin. “Semakin dingin suhu, PU makin kuat“, ujarnya. Tetapi untuk suhu panas, di titik tertentu PU akan rusak. Sehingga sebagai penahan panas umur penggunaannya (life time) lebih pendek ketimbang sebagai penahan dingin. “Untuk cooling room PU bisa bertahan selamanya, tapi untuk panas lama-lama akan rusak seperti krupuk kena air, jadi gembos atau mengempis“, papar Teddy.

Penggunaan PU yang mulai rusak ditandai dengan kandang yang memanas. PU yang rusak akan menipis dan terbentuk rongga-rongga seperti kawah.

Teddy menambahkan catatan, bagaimanapun PU bahan kimia dan bersifat toksik. Terlebih bila terbakar. “Asapnya aja mematikan, tidak boleh terhirup“, Teddy mewanti-wanti. Tetapi, tidak ada bahan seperti PU yang lebih aman. Untuk itu kandang Closed House mutlak menuntut keamanan karena menggunakan material yang mudah terbakar dan sangat berbahaya jika terbakar.

Sandwich Panel Roof

PT Mitra Manunggal Selaras (MMS), adalah produsen atap berbahan zincalume sebagai lapisan metal di kedua sisi (atas dan bawah) dan PU sebagai insulasi di tengahnya. Direktur PT MMS, FX Triagus S Wibowo mengatakan, produknya ini banyak dikenal dengan sandwich panel roof. “Sekarang lagi tren rangka baja ringan dengan atap sandwich panel atau sering disebut panel roof“, ujar dia.

PT MMS sampai hari ini merupakan satu-satunya produsen dalam negeri untuk atap tipe sandwich. Penyebutan sandwich, karena bentuknya berlapis. Lapisan terluar terbuat dan metal, tengah ada insulasi yang berguna sebagai peredam suara dan peredam panas, dan lapisan bawah metal lagi.

Struktur ini kata Wibowo, lebih efisien daripada struktur konvensional yang menggunakan atap metal dengan insulasi berupa glass wool atau alumunium foil. Dan bahan-bahan tersebut bersifat toksik atau beracun tidak baik untuk kesehatan ayam.

Aplikasi sandwich panel, lanjut dia, menyesuaikan ukuran Closed House yang diinginkan peternak. “Roofing by design“, ujar Wibowo mantap. Ukuran berapapun pihaknya dapat membuat “Tanpa sambungan, tanpa ada space. Efisiensi, itu yang kami tawarkan“, tambah dia. Ketebalan atap produk ini 2,5 cm dengan density (kepadatan) 40 kg/m³, diyakini mampu meredam panas secara efektif, memberikan suhu nyaman bagi ayam dalam kandang.

Wibowo mengklaim, efisiensi bisa mencapai 15-20%. Di siang hari saat suhu di luar mencapai 40°C, di dalam kandang bisa 36-34°C. Sebaliknya, di malam hari dengan fan dan ventilasi yang berjalan baik, suhu dalam kandang tetap hangat meski di luar dingin. Ini karena udara dingin luar tidak mampu menembus atap.

Mahal

Alasan biaya menjadi pertimbangan tersendiri bagi peternak untuk menggunakan PU atau yang menurut Dhanang masuk golongan III. “Harganya sangat tinggi”, kata Dhanang. Ia menambahkan, di lingkungan internal Sierad Group atap jenis ini baru digunakan pada peternakan breeding (pembibitan), untuk komersil belum ada yang menggunakan.

Bersambung (Pilah-Pilih Atap Untuk Ayam (bag 2))
Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/pilah-pilih-atap-untuk-kandang-ayam-i/

Beruntung Dengan Closed House (bag 2)

Adit dan lainnya sudah membuktikan bahwa bisnis perunggasan dengan Closed House memberikan keuntungan yang menggiurkan. Oleh karenanya, Adit tengah membangun Closed House baru di sebelah selatan Closed House lama.
Trio Plasma Sierad pun tak mau ketinggalan, mereka merencanakan untuk membangun Closed House baru. Sumiyana yang visinya membangun desa bahkan berencana akan menjual beberapa ekor sapinya yang dipiara sejak 2003 untuk membangun kandang keduanya.

Lain halnya dengan Yanuar Adhie Wibhowo yang seorang akuntan dan istrinya Yulia Fatiantini yang memulai membangun kandang ayam pada September 2012 lalu di Desa Candali, Kemang, Bogor. Berawal dari ingin coba-coba beternak ayam karena sepertinya cukup menguntungkan. Ia turun langsung dalam proses pembangunan kandang yang dirancang dua lantai dengan konstruksi Closed House dengan panjang 120 meter lebar 12 meter. “Dari awal kami memang ingin beternak dengan sistem yang lebih modern yaitu dengan kandang tertutup atau Closed House“, ujar Yanuar. Namun, lanjutnya, untuk peralatan belum digunakan Full Automotic karena kami masih ingin memberdayakan tenaga kerja warga sekitar. Jadi, baru air minum saja yang memakai nipple otomatis sedangkan tempat pakan masih manual serta untuk sirkulasi udara ditambah 7 buah kipas (fan).

Total tenaga kerja yang digunakan 4 orang, lebih banyak dari yang Full Automatic yang biasanya hanya 2 orang. Kandang yang digunakan baru lantai bawah dengan populasi 20.000 ekor, tetapi lantai atas dalam waktu dekat sudah bisa digunakan karena tinggal penambahan alat-alat saja. Ia mengaku untuk pembangunan kandang saja menghabiskan dana hampir Rp. 1 miliar belum termasuk pembelian peralatan sekitar Rp. 50 juta. “Biaya pembangunan kandang ini agak sedikit lebih mahal, karena kontruksinya memang disiapkan untuk 2 lantai“, jelas Yanuar.

Yanuar yang menjadi plasma dari sebuah perusahaan inti itu, kini masuk ke periode ke enam pemeliharaan. Pada periode pertama hasilnya hanya bisa menutupi biaya operasional, karena semua masalah terjadi saat itu. “Kami semua awam dalam beternak, ya saya juga pegawai kandang. Ayam terkena serangan penyakit CRD serta dihadapkan pula pada berbagai kendala non teknis seperti genset yang tidak menyala. Akibatnya kematian cukup tinggi saat itu. Tapi semuanya itu tidak membuat kami patah semangat justru menjadi pembelajaran untuk antisipasi di masa datang“, terang Yanuar. Pada periode kedua, sambungnya, mulai terasa nikmatnya beternak karena hasilnya menguntungkan, bagai bumi dan langit dibandingkan periode pertama. Kualitas SDM pun ditingkatkan, yang tidak serius kami ganti.

Beternak dengan sistem Closed House pada dasarnya hampir sama dengan kandang terbuka. Juga untuk program kesehatannya dengan menerapkan program kesehatan standar termasuk biosekuriti. Vitamin diberikan 3 kali selama masa pemeliharaan. Sedangkan vaksinasi sudah tidak lagi karena DOC sudah divaksin ND dan IBD dari hatchery, kecuali ada kasus tertentu baru di revak kembali.

Setelah panen kotoran dan sekam diangkat semua, kemudian kandang dicuci dengan deterjen, pakai obat anti frengki, kasih formalin, kemudian istirahatkan kandang selama 1 minggu. Setelah itu bisa diisi sekam lagi dan diformalin kembali. Tak lupa lingkungan kandang selalu dijaga kebersihannya dan rumput dipotong.

Penerapan biosekuriti yang cukup baik ini membuat Puri Handaru Farm pernah mendapatkan penghargaan dalam lomba biosekuriti yang diadakan oleh sebuah institusi.

Lebih lanjut Yanuar mengatakan bahwa beternak dengan sistem Closed House nyatanya lebih mudah dan menguntungkan asalkan dipelihara dengan aturan yang dianjurkan sehingga ayam menjadi nyaman sehingga produktivitas atau performa akan tercapai. Sistem Closed House menjadi pilihan untuk situasi iklim dan temperatur Indonesia yang cukup ekstrim.

Saat ini performa ternak Puri Handaru Farm cukup baik yaitu dengan kepadatan 1:14 kematiannya di bawah 4 persen, FCR terendah 1,3, IP tertinggi 383 di berat 1.98 dengan umur panen terakhir 34 hari. “Dengan FCR 1,48 saja atau dengan bobot 1,82 kg keuntungan per ekor Rp. 5000 atau Rp. 3500 setelah dipotong berbagai biaya operasional“, jelas Yanuar.

Namun keuntungan Rp. 5000 per ekor ini masih bisa dioptimalkan lagi dengan perbaikan manajemen budidaya terus menerus, kualitas sapronak yang lebih baik serta yang tak kalah penting adalah manajemen panen yang tepat waktu. “Karena pada sistem Closed House jika telat panen biaya lainnya jauh meningkat. Tidak hanya biaya pakan bertambah tetapi juga biaya listrik karena harus menggerakkan peralatan listrik di kandang seperti kipas. Jika manajemen panen mendukung, beternak dengan kandang tertutup akan jauh lebih menguntungkan dari kandang terbuka“, tuturnya.

Ia memperkirakan akan balik modal pada periode 12-14 atau dalam masa 2 tahun. Dengan catatan harus diisi dua lantai, jika tetap satu lantai akan memerlukan waktu lebih lama lagi. “Saya sedang mempersiapkan perijinan untuk bisa berkembang menjadi dua lantai. Semoga dalam waktu dekat bisa terwujud“, harap Yanuar optimis.

Ditambahkan pula oleh Huang, kandang percontohan yang berukuran 10 x 76 m dengan kapasitas 10.000 ekor ini hanya membutuhkan tenaga kerja satu orang. Prinsipnya, berapa kilogram pakan yang diberikan, berapa kilogram telur yang dihasilkan. Agar ini berjalan dengan baik, diperlukan teknologi yang baik pula. “Feeding trovel merupakan alat pembagi pakan yang dapat memberikan kemudahan bagi peternak. Pakan yang diberikan tidak tercecer, anak kandang pun tidak terlalu capek, karena alat ini dikontrol langsung. Sehingga anak kandang bisa mengerjakan pekerjaan yang lain. Waktu yang dibutuhkan alat pembagi pakan ini tidak lebih dari 8 menit. Memang sangat efisien“, aku Huang. Selain itu, tambahnya, proses panen telur dapat dimodifikasi dengan adanya lori (kereta dorong) di dalam kandang. Dengan adanya lori, aktivitas mengambil telur dapat dilakukan runtut dan lebih cepat.

Lebih lanjut Huang mengatakan, hal yang perlu diperhatikan membangun kandang tertutup pada layer adalah saat memasang nipple (tempat minum). Lantai yang rata adalah syarat utama agar nipple dapat bekerja dengan baik. Lantai yang bergelombang akan menyebabkan tekanan dalam pipa nipple berbeda, efeknya air minum akan tidak lancar. “Selain itu, lantai yang tidak rata juga memengaruhi ketepatan memasang baterai. Tempat minum sudah cukup otomatis dan sudah teruji. Anak kandang tidak perlu membersihkan setiap hari. Di sini juga kami menggunakan sistem flushing, yang dapat meminimalisir kotoran yang ada di air minum“, tuturnya.

Industri perunggasan, Huang menambahkan, saat ini sudah berkembang sangat pesat. Peternak pun mulai menyadari akan kebutuhan teknologi yang modern tersebut. Inilah yang menjadi alasan untuk kami terus mengembangkan usaha kami. “Lebih efisien, hemat tenaga kerja, produksi yang baik dan merata, adalah tujuan kami. Dan ini pun yang diinginkan peternak“, aku Huang.

Biaya yang dikeluarkan untuk produk-produknya pun terjangkau. Huang mengatakan untuk Closed House biaya yang dibutuhkan tergantung panjangnya kandang, semakin panjang maka semakin murah, karena kebutuhannya tetap. Untuk kandang yang panjang, biaya yang dibutuhkan sebesar Rp. 35.000/ekor, dan untuk kandang yang pendek biaya yang dibutuhkan sebesar Rp. 43.000/ekor, yaitu untuk kandang baterai, tempat minum, tempat makan berupa plat, rangka, dan alat pembagi pakan.

Lighting yang digunakan pun disesuaikan dengan kebutuhan. Menurut Huang, gelombang cahaya bisa mempengaruhi ayam dari warna lampu yang digunakan. Ada 3 efek dari gelombang cahaya yang mempengaruhi sifat ayam yakni kanibalisme, cabut bulu, dan banyak makan. Dan lampu yang digunakan pada kandang percontohan ini adalah untuk mengurangi kanibalisme.

Sumber : Trobos, Agustus 2013

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/beruntung-dengan-kandang-closed-house-bagian-2/

Beruntung Dengan Closed House (bag 1)

Industri perunggasan saat ini sudah berkembang sangat pesat. Peternak pun mulai menyadari akan kebutuhan teknologi yang modern. Kandang Closed House dipilih karena memberikan keuntungan lebih bagi mereka.

Negara Indonesia masih potensial untuk pengembangan Closed House ayam ras mengingat konsumsi masyarakat yang kian tumbuh. Sierad Produce, Tbk. sebagai salah satu perusahaan integrator perunggasan sigap melihat peluang di depan mata. Menurut Dhanang Purwantoro ST, Area Manager East Indonesia PT. Sierad Industries, dua tahun ini Sierad gencar membangun Closed House di seluruh Indonesia, terutama di Jawa, baik internal form maupun kemitraan, baik breeding farm maupun commercial farm. Internal farm banyak di daerah Jawa Barat. Sierad merupakan leader di bisnis unggas Closed House ini. Berbicara proporsi Open House dan Closed House, Dhanang mengatakan bahwa angka nasional peternak pemakai Closed House baru sekitar 10%. Sedangkan dalam konteks Sierad, dikatakan A. Junaidi, S.Pt, selaku Head Region Kemitraan Sierad Produce Jawa Tengah-DIY yang diiyakan oleh drh. Hery Budi Karyono selaku Business Unit Head Commercial Farm Indonesia PT. Sierad Produce, mitra (plasma) Sierad ada sekitar 34% yang sudah menerapkan teknologi Closed House.

Hery mengungkapkan bahwa Closed House optimal pada wilayah dengan ketinggian 200-400 mdpl. “Kalau open house searah angin, sedangkan Closed House searah sinar matahari“. Alih teknologi Closed House diberikan melalui pelatihan bagi anak kandang di kandang mitra Sierad di bilangan Losari, Magelang milik Wahyu Pratomo yang sudah menggunakan CCTV untuk memantau anak kandang. Ada semacam ujian sehingga pihak Sierad dapat memutuskan layak tidaknya anak kandang untuk operasionalisasi Closed House.

Keunggulan Closed House di antaranya umur pemeliharaan lebih pendek, kepadatan (density) lebih padat, mengurangi bau amoniak dan populasi lalat yang pada Open House sering berbenturan dengan masyarakat, kejadian penyakit minim, kecuali terjadi kecerobohan dalam pemeliharaan alias faktor manusia, seperti tidak disiplin dalam biosekuriti, malas, dan lain-lain. Density 20 ekor per m² dipraktekkan di Jawa Barat karena konsumen menerima bobot ayam 0,8-1 kg. Sedangkan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, density pada angka 15 ekor per m² karena ayam kecil tidak laku, justru yang laku ayam besar.

Adalah Adityo Wibowo, pemilik bisnis bernama Mandiri Agro Sejahtera asal Gombong, Kebumen, Jawa Tengah yang melirik peluang Closed House ayam ras pedaging bermitra dengan Sierad karena dipicu oleh menurunnya bisnis pupuk organik yang dilakoninya. “Closed House dua lantai ini Desember jadi, akhir Januari 2012 chick in pertama“, aku lulusan Fakultas Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada ini ketika ditemui PI di farm-nya di bilangan Bukateja, Purbalingga, Jawa Tengah (5/7).

Dikatakan Adit, sapaan akrabnya, kandang Closed House full otomatic itu simple, praktis, mengurangi bau amoniak, dan tidak hanya piara ayam, tetapi diperlukan manajemen orang untuk operasional serta mortalitas hanya sekira 2-3%. Pada awal-awal pemeliharaan, Closed House milik Adit diisi ayam dengan kepadatan 13,5 ekor per m². “Tiga periode ini density sudah 15,7 ekor per m²“, ujarnya.

Kami kongsi berlima dengan populasi 21 ribu ekor selama 7 periode awal“, aku pemilik Closed House dua lantai berukuran 9m x 95m yang berada, di Hargorejo, Kokap, Kulon Progo, DIY ini. Lamanya bertahan di angka 21 ribu ekor itu karena biaya banyak tersedot untuk membangun fasilitas yang memadai di sekitar farm, seperti jalan dan penembokan tanggul sungai karena berbatasan dengan kandang. Bahkan warga sekitar kandang sempat protes karena terganggu dengan bau amoniak dari blower yang mengarah ke permukiman warga. Akhirnya ditemukan solusi membuat cerobong pembuangan amoniak mengarah ke atas.

Pada kesempatan itu pula PI bertemu dengan Trio Plasma Sierad yakni Prof. Dr. Sumiyana, M.Si. selaku Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM, Aldila Putra Satria Jaya selaku pemilik Firma Ayam Sejahtera, dan Wahyu Pratomo selaku pengusaha konstruktor. Diungkapkan Sumiyana, ia melirik bisnis ayam broiler dengan Closed House karena Sumiyana melihat potensi yang besar pada bisnis perunggasan. “Negara belum memenuhi kebutuhan daging (bagi rakyatnya, red). Bisnis ayam broiler masih feasible dan return positif“, tegasnya.

Aldila Putra Satria Jaya mengatakan bisnis ayam sangat prospek. Diungkapkan bahwa periode pemeliharaan selanjutnya kepadatan menjadi 22 ribu, kemudian sampai dengan periode ke-13 kepadatannya sudah 25 ribu ekor. Closed House membutuhkan lima buah pompa air dan setiap lantai terdapat 110 lampu. Selama pemeliharaan, Aldila mengganti bola lampu setiap 4 bulan dan lima buah pompa air. Closed House membutuhkan 3-4 anak kandang setiap lantainya. Perlu tambahan 4-5 orang ketika DOC datang, pelebaran sekat, dan panen.

Sementara itu, menurut Wahyu Pratomo, konstruksi baja konvensional (standar) mampu bertahan hingga 30 tahun, karena sangat minim bersentuhan zat kimia dan air serta kotoran ayam. Sedangkan kalau dengan konstruksi kayu, hanya dapat bertahan kurang dari 5 tahun. Nilai investasi Closed House dengan konstruksi full baja standar beserta kelengkapan equipment-nya sekitar Rp. 60.000 per ekor. Lantai kandang diberi alas terpal, sehingga kotoran menempel di terpal. Ketika selesai memanen ayam, anak kandang tinggal menarik terpal. “Closed House optimal pada daerah dengan kelembaban rendah, seperti di Kulon Progo contohnya“, ungkap pemilik Closed House tiga lantai berukuran 16m x 106m mitra Sierad di losari, Magelang, Jawa Tengah berkapasitas 75 ribu ekor ini.

Pengalaman Peternak Closed House

Menurut Sumiyana, balik modal Closed House miliknya ditaksir tidak sampai dua tahun dengan memanfaatkan modal alias full hutang dari perbankan dengan bunga kredit 11%, atau bunga kredit flat 6,25%. Dhanang mengungkapkan, Sierad terus melakukan inovasi, salah satunya tengah membangun Closed House full automatic tanpa sekam di Jawa Timur sehingga kotoran dapat segera dikeluarkan dari dalam kandang dengan mesin. Sementara Closed House milik Adit dan kawan-kawan masih menggunakan sekam, sehingga ketika ada kotoran yang menggumpal segera diambil, kemudian dilapisi sekam baru. Mengenai sapronak tidak ada permasalahan yang berarti, karena Closed House dapat disetel sesuai keinginan kita. Ayam pun merasakan kenyamanan di dalam Closed House, karena kesehatan ayam terkait dengan suplai oksigen yang sudah standar, sehingga mortalitas kecil. Rata-rata mortalitas ayam strain Cobb yang digunakan Sierad pada Closed House hanya sekitar 1%. Dalam setahun, peternak bisa memelihara ayam broiler sebanyak 7.5 sampai 8 kali. “IP tertinggi pada angka 398. Secara umum, IP mitra kita pada kisaran 350-398“, akunya.

Bersambung (Beruntung Dengan Closed House (bag 2))

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/beruntung-dengan-closed-house-bag-1/

Modernisasi Demi Efisiensi dan Produksi

Tuntutan efisiensi dan produktifitas tinggi, Closed House dipercaya jadi solusi

Dengan pertumbuhan ekonomi 6,7% di 2011, industri perunggasan di Indonesia diprediksi akan terus bertumbuh. Di 2012 ini, Asosiasi Produsen Pakan Indonesia (GPMT) mengestimasi konsumsi pakan ternak akan mencapai angka 12,3 juta ton, tumbuh 9,8% dari tahun lalu.

Dari angka produksi tersebut, 98% adalah pakan unggas dengan rincian 45% broiler (ayam pedaging), 44% layer (ayam petelur), 9% breeder (ayam pembibit). Sementara angka dari Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) produksi DOC (anak ayam umur sehari) broiler pada 2012 diestimasi mencapai 1.961.000.000 ekor, dan DOC layer 83.113.000 ekor. Jumlah DOC broiler meningkat 18% dari angka 2011, sementara jumlah DOC layer tidak ada kenaikan karena ada gangguan produksi di breeder 5-10 %.

Meski tumbuh positif, industri perunggasan tanah air dinilai masih lemah dalam hal efisiensi dan daya saing. Ini diutarakan dengan nada pengakuan oleh Sudirman, Ketua GPMT. Di sebuah diskusi perunggasan di Kementerian Pertanian, ia mengatakan industri perunggasan Indonesia harus mendongkrak efisiensi dan daya saing. Salah satunya dengan modernisasi dari hulu hingga ke hilir. Mengadopsi teknologi adalah salah satu kunci utama meraih target efisiensi. Dan di hulu, pilihan Closed House (kandang tertutup) menjadi keniscayaan sebagai bentuk modernisasi demi efisiensi untuk memenuhi tuntutan pasar, memenangi persaingan, dan menyiasati tekanan perubahan iklim.

Sudirman mengamati, sejak 5 tahun terakhir, tren investasi Closed House tumbuh dengan sangat cepat. “Ini menggembirakan, banyak sekali peternak yang membangun Closed House atau mengkonversi kandangnya menjadi kandang yang lebih modern”, katanya.

A Nirwan, General Manager PT Gemilang Citra Indo, produsen peralatan dan kandang unggas menyampaikan keterangan serupa. Meski breeding masih mendominasi jumlah kandang bertipe Closed House, kata Nirwan, 5 tahun belakangan pertumbuhan investasi Closed House untuk peternakan broiler komersial tumbuh signifikan. Ia menyebut, wilayah Jawa Timur dan Jawa Barat adalah yang terbanyak. Sinyalemen lain positifnya pertumbuhan Closed House di Indonesia, menurut dia adalah berdatangannya produsen peralatan dan kandang asal China dan Taiwan.

Dimintai analisisnya, pakar agribisnis perunggasan Arief Daryanto mengistilahkan, industri perunggasan tengah mengalami “Expansionary Mode On” atau masa perkembangan dan perluasan. Arief menyebut data, ”Di 2011 Charoen Pokphand meningkatkan kapasitas DOC sebesar 18%, Japfa 16%, Malindo 21%, dan Sierad 38%“. Dengan penambahan kapasitas DOC sebesar itu, simpul Arief, bisa dihitung berapa banyak kebutuhan Closed House.

Apa yang diungkapkan Arief sejalan dengan data Nirwan. “Tahun lalu permintaan membangun full Closed House atau sekadar modifikasi sedang tinggi-tingginya. Di 2011, pertumbuhan penjualan kami lebih dari 5“, ungkapnya. Di 2012, Nirwan memprediksi tingkat investasi Closed House akan lebih bagus dibanding 2011. “Trennya bagus, apalagi rupiah menguat“, ujarnya optimis.

Investasi Closed House di Level Peternak

Salah satunya, adalah kandang broiler komersial milik Wahyu Pratomo peternak mitra binaan PT Sierad Produce (Sierad) yang berlokasi di Losari, Jawa Tengah. Closed House berlantai 3 dengan ukuran 16m x 106m ini mampu dimuati hampir 70 ribu ekor broiler, dan sudah chick-in (masuk DOC/anak ayam umur sehari) perdana Juni 2012 lalu. Closed House di Losari ini merupakan kandang ke-3 milik Wahyu dengan menganut sistem full automatic (serba otomatis sepenuhnya).

Kepada TROBOS Wahyu mengaku, kali ini ia menggelontorkan dana tak kurang dari Rp. 4 miliar. Biaya kandang dan peralatan disebut Rp. 55 ribu per ekor, di luar lahan. Dan ia melengkapi kandang dengan 8 kamera CCTV (TV pengawas jarak jauh) di bagian dalam dan luar kandang, serta menggunakan baby chick (tempat pakan DOC) yang harganya 2 kali lipat wadah pakan konvensional, dengan alasan efisiensi. Sementara untuk Closed House pertama plus ke-2 di Purworejo yang berkapasitas total 44 ribu ekor, nilai investasi keduanya hampir Rp. 2 miliar.

Dhanang Purwantoro, Sales Area Manager PT Sierad Industries, mengklaim kandang broiler komersial milik Wahyu di Losari itu adalah yang pertama di Indonesia dengan sistem serba otomatis dan dipantau menggunakan CCTV. “Di mana pun pemilik bisa mengontrol kandangnya”, ungkap Dhanang. Recording (pencatatan) performa budidaya dibuat online. Bisa diakses oleh pemilik kandang, tim kemitraan Sierad, teknisi kandang dari PT Sierad Industries, dan pihak manajemen pusat Sierad. “Sepanjang ada akses internet, pihak-pihak itu bisa memantau“, timpalnya.

Di Purbalingga, Adityo Wibowo, juga peternak broiler mitra binaan Sierad, tak kalah ambisius. Bangunan lama berupa gudang disulap jadi Closed House bersistem serba otomatis. Berukuran 18m x 62m, 2 lantai, dan berkapasitas 30 ribu ekor. Bila ditotal, peternak muda ini telah merogoh kocek Rp. 900 juta untuk modifikasi itu.

Sementara itu, Tri Hardiyanto Ketua Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) mengakui, investasi Closed House yang serba otomatis dan canggih di anggotanya masih sangat sedikit. “Ada, tapi tak banyak“, ujar Tri. Tapi ia berkilah, ini bukan berarti peternak Gopan tidak melek teknologi perkandangan modern. “Kami lebih ke arah investasi tepat guna. Setingkat demi setingkat dalam menerapkan teknologi modern yang ada. Sebagai contoh, memberi sentuhan teknologi menggunakan blower (kipas) pada Open House (kandang terbuka) atau modifikasi ke Closed House tanpa cooling pad“, beber dia. Pasalnya, imbuhnya, selain modal, Closed House mutlak diiringi cara berpikir yang modern.

Di peternakan layer komersial, teknologi Closed House juga diserap oleh Eko Yudi Purwanto. Eko adalah pengelola peternakan Rossa Farm yang berlokasi di Srengat, Blitar, Jawa Timur. Jarak antar kandang satu dengan kandang berikutnya dalam satu peternakan dan dengan peternakan lain demikian rapat memaksa Eko me-modern-kan kandang-kandang layernya. Meski belum full Closed House, Eko mengadopsi prinsip-prinsip Closed House, dan secara bertahap ia mengaplikasikan teknologi demi efisiensi dan kenyamanan ayam-ayamnya. Di kandangnya Eko mengadopsi tipe tunnel (seperti terowongan) untuk memastikan sirkulasi udara yang baik.

Closed House di Level Korporasi

Sementara di Jawa Barat, setahun lalu, PT QL Trimitra yang didukung QL Resources Berhad, korporasi asal Malaysia menanamkan dana miliaran rupiah untuk Closed House ayam petelur komersial. Semua peralatan dan sistemnya serba otomatis dan canggih. Pengambilan telur dan pembuangan feses pun sudah menggunakan conveyor. Cecep Mochamad Wahyudin yang Pimpinan PT QL Trimitra menginformasikan, populasi layer komersial perusahaannya 1,6 juta ekor dengan produksi telur per hari 15 ton.

Di korporasi besar, Closed House tampak seperti satu paket, di level breeding dan begitu pula di level company farm yang memelihara broiler atau layer komersial. Sebagai contoh PT Ciomas Adi Satwa (Ciomas). Informasi Imam Wahyudi, Senior Vice President Head of Broiler Division Ciomas, sekitar 90% company farm Ciomas sudah menggunakan Closed House meski tipenya berbeda-beda di tiap daerah, mulai dari semi Closed House hingga Full Closed House.

Begitu juga dengan Sierad. “Pasti, Level On-Farm (budidaya) Sierad semuanya sudah difasilitasi Closed House”, tutur Sudirman FX yang juga direktur Sierad. Sedangkan kemitraannya, di Jawa Tengah saja, info Dhanang, tahun ini 20%-nya menggunakan Closed House. Bahkan untuk menggenjot konversi kandang ke Closed House bagi mitranya di seluruh Indonesia, Sierad Industries menggandeng perusahaan China yang bisa membuat Closed House dengan dana terjangkau.

Efisiensi atau Mati

Menurut Sudirman, yang tidak efisien pasti mati. Sebab proses evolusi dan struktur biaya produksi terus berubah dari tahun ke tahun. “Jadi perubahan pola pemeliharaan unggas dari konvensional ke semi-modern dan modern adalah tuntutan efisiensi, bukan gaya hidup”, tuturnya.

Wahyu bahkan berpendapat, peternak yang tidak mau mengarah ke Closed House secara alami akan tergilas. Hukum bisnisnya, yang tidak mau berubah akan tersingkir. Sebab “pertempuran” saat ini dan ke depan ada di efisiensi. Dan Closed House memberikan jaminan efisiensi. Dari kepadatan populasi saja, Closed House mampu lebih efisien. Kandang open maksimal di angka 10 ekor/m², sementara kandang tertutup mampu 15 ekor/m². Belum penghematan lainnya, dari pakan, periode siklus, sampai kesehatan ayam. “Cepat atau lambat dan tidak bisa tidak ke depan peternak akan memilih Closed House. Catatannya, teknologi tinggi ini perlu dibarengi cara berpikir dan manajemen yang baik”, katanya.

Aneng Lim yang Sales Manager PT Big Dutchman Agriculture Indonesia sependapat bahwa Closed House menjanjikan efisiensi. Bahkan kata Aneng, Closed House dengan menggunakan tipe cage akan jauh lebih efisien. “Pada broiler, kepadatan kandang bisa 3,5 kali lipat dari tipe litter. Panen 2 hari lebih awal. Kesehatan terjaga, sehingga produksi pun lebih optimal”, ungkapnya. Jadi, pesan Aneng, industri perunggasan Indonesia jangan terus tertinggal. Investasi di Closed House adalah salah satu siasat untuk mengejar ketertinggalan dari negara lain.

Eko pun satu suara tentang efisiensi yang diberikan Closed House. Dengan Closed House, Eko mendapatkan efisiensi pakan yang lebih baik. “Selain itu produktivitas tinggi, kematian dan deplesi rendah, dan berat badan saat afkir bagus. Intinya dengan Closed House ayam nyaman, peternak tenang”, tuturnya.

Efisiensi juga terkait dengan pengaruh lingkungan. Kata Chandra Brahmantya, Head Internal Production PT QL Trimitra, pengaruh lingkungan seperti perubahan cuaca menuntut penggunaan Closed House. “Closed House kan memang dibuat untuk mengatasi perubahan cuaca yang sangat ekstrim”, cetusnya.

Paparan Imam sejalan dengan pernyataan Chandra. Terangnya, dengan Closed House pengaruh perubahan cuaca dapat dikendalikan oleh peralatan dan sistem yang telah dipasang. Sedangkan pada Open House dibutuhkan usaha yang tinggi untuk mengatasi ketidakteraturan cuaca yang ada. Bila tidak terkendali, fisiologi ayam akan terganggu, lalu stress dan terserang penyakit. Imbasnya efisiensi tak akan tercapai.

Dari sisi preferensi pasar, tutur Abdullah Junaedi dari Sierad, ayam hasil panen dari Closed House lebih diminati karena lebih bersih, memar pada karkas minimal, dan terpenting harganya tak berbeda dengan ayam hasil panen dari Open House. “Apalagi rumah potong ayam yang menuntut ayam dengan keseragaman tinggi dalam jumlah besar. Maka ayam hasil panen dari Closed House-lah pilihannya”, terang Junaedi.

Sumber : Trobos, Juli 2012

Sumber 2 : http://dhanangclosedhouse.com/modernisasi-demi-efisiensi-dan-produksi/