Demi Efisiensi Closed House Kian Diminati (bag 2)

Ukuran ideal kandang Closed House. kata Dhanang, lebar 12 m panjang 120 m untuk kapasitas 21 ribu ekor per lantai. “Itu angka optimal, yang paling efisien. Hubungannya dengan kemampuan alat-alat“, terangnya.

Untuk daya tahan kandang, dijelaskan dia, mulai melakukan renovasi kecil pada tahun ke-5 untuk beberapa komponen tertentu seperti tirai. Sementara mesin pakan, drinker, kipas, baru di tahun ke-10 perlu perawatan.

Sementara itu, Junaidi menerangkan, kelebihan Closed House adalah keuntungan lebih terukur dan bisa
diestimasikan secara lebih pasti sejak awal. Berbeda dengan kandang terbuka yang risiko gagal panennya masih tinggi. Terlebih fluktuasi cuaca saat ini demikian besar, pertaruhan antara untung atau rugi masih sama besar. “Meski investasinya besar, keuntungan dengan Closed House sepadan, dan kembalinya investasi lebih terukur.” katanya.

Junaidi memberi catatan, adanya perbedaan signifikan antara kandang yang sepenuhnya otomatis dengan kandang yang meski sudah tertutup tetapi masih menerapkan sistem manual untuk peralatan pakan. “Ada signifikansi output ketika sistem kandang ditingkatkan dari terbuka menjadi tertutup, dan dari tertutup manual menjadi otomatis penuh.” paparnya. Biasanya FCR dan umur panen beda, kembali ia merujuk pada tabel komparasi (tabel). Penjelasannya, kendati suhu sudah terkontrol potensi kesalahan manusia masih lebar dan eftsiensi pakan belum maksimal.

Pemahaman peternak pada biaya tak jarang masih perlu dikoreksi. Langkah menekan biaya dianggap sebagai keuntungan. Menghemat dengan jalan mengurangi pakan, tidak menyalakan kipas, mengurangi frekuensi pembersihan sekam, masih kerap ditempuh, padahal dampaknya produktivitas menurun signifikan. “Keuntungan itu adanya di ujung usaha. Kalaupun biaya harus dikeluarkan lebih banyak dengan target output yang dihasilkan jauh lebih besar, kenapa tidak dilakukan ?” tanya Junaidi retorik. Biaya seharusnya dihitung dengan rumus “berapa Rp. dibutuhkan untuk mendapatkan 1 kg ayam“.

Lebih Nyaman

Menurut Deddy, dengan penggunaan Closed House ayam akan lebih nyaman hidup di dalam kandang karena mendapat pasokan udara yang cukup. Dari segi penyakit pun bisa dilokalisasi sehingga tidak menyebar ke kandang lain. “Dengan hidup ayam yang lebih nyaman akan berpengaruh pada mortalitas, kesehatan dan keseragamannya.” terangnya.

Hal yang sama disampaikan Teddy. Dengan Closed House udara yang diproduksi selalu segar karena sirkulasi udara tidak pernah absen untuk membuang panas dan amoniak. Sedangkan kandang terbuka, sirkulasi tergantung lingkungan yang terkadang tidak ada tiupan udara. Sirkulasi yang tidak lancar berpotensi menimbulkan penyakit karena suhu tubuh ayam akan naik akibat amoniak dan panas meningkat, berpusaran di kandang dan tidak keluar. “Closed House bukan hanya untuk menurunkan suhu tapi yang penting mengatur sirkulasi udara.” ujarnya.

Dengan Closed House temperatur dalam kandang lebih stabil dan bisa diatur sesuai kebutuhan. Kebutuhan oksigen dalam kandang lebih terpenuhi dan udara dalam kandang lebih sejuk dan segar karena adanya sirkulasi udara yang baik. Ini dikemukakan Agus.

Lingkungan pun lebih bersih karena tidak banyak lalat dan tidak menimbulkan bau yang mencemari lingkungan. “Yang paling penting mengurangi stress ayam karena tidak kontak langsung dengan lingkungan luar. Dan kepadatan kandang lebih besar yaitu 28 kg per m² atau 15 ekor per m² dibanding kandang terbuka yang 15 kg per m² atau 8 ekor per m².” tuturnya.

Edukasi

Meski sistem Closed House sangat mendukung keberhasilan usaha, menjadi tidak berarti apabila tidak dibarengi manajemen yang baik. Tenaga kandang mutlak menguasai teknis produksi dan teknis alat.

Mencegah kejadian buruk, Junaidi menjelaskan pihaknya menerapkan metode khusus dalam alih teknologi kepada pemilik dan tenaga kandang. Calon tenaga kandang “disekolahkan” selama 2 periode di kandang yang sudah lebih dulu menerapkan sistem ini. “Alih teknologi untuk menekan sekecil mungkin kesalahan operasional, penerapan sebuah teknologi tinggi menuntut disiplin dan komitmen tenaga kandang dalam menjalankan prosedur sehari-hari.” jelas pria yang biasa disapa Juned ini.

Lanjut Junaidi, sumber penyakit ada 2, dari dalam dan dari luar peternakan. Dari dalam tergantung sumber daya manusia dan kualitas manajemen. “Kecerobohan adalah sumber penyakit. Meski kandang sudah closed, apabila aspek ini masih rendah, potensi penyakit besar.” kata dia. Sementara dari luar antara lain lingkungan, suhu, hama, dan lalu lintas. Dan untuk variabei ini di dalam sistem Closed House sudah ditekan jauh, sehingga fokusnya lebih pada aspek dari dalam.

Dhanang mengimbuhkan, saat pemasangan alat di kandang baru, calon tenaga kandang ia wajibkan ikut terlibat agar memahami prinsip kerjanya yang serba otomatis. “Sehingga menguasai betul secara teknis, ayam umur sekian harus bagaimana. Dan di kemudian hari bila terjadi kendala mesin atau kerusakan kecil dapat langsung segera menangani.” jelasnya. Ia menambahkan, dengan operasional yang otomatis, tenaga kandang bisa lebih fokus pada kontrol kondisi status ayam. Keganjilan perilaku ayam lebih cepat terdeteksi sehingga hasil pun lebih maksimal.

Prospektif

Junaidi punya kisaran, saat ini 20% mitra Sierad di Jawa Timur menerapkan kandang Closed House. Sementara Jawa Tengah-Jogjakarta riil 11 %, tetapi diperkirakan dengan proses yang tengah berjalan, sampai akhir tahun ini angkanya akan sama dengan Jawa Timur.

Tetapi, sekali lagi dikatakan Dhanang, dalam kualitas Jawa Tengah-Jogjakarta lebih maju. Maksudnya, penerapan sistem sekaligus peralatan yang otomatis penuh lebih progresif. Sedangkan wilayah timur cenderung aplikasinya tidak penuh, tetapi modifikasi. Deddy memprediksi penggunaan Closed House di peternakan khususnya broiler dan layer (ayam petelur) komersial akan menjadi suatu kebutuhan dengan semakin banyaknya tantangan. Ditambah peternakan yang sudah mulai dekat perumahan dan harga tanah yang semakin mahal sehingga dengan tanah yang ada kapasitasnya bisa ditingkatkan. “Sistem Closed House makin prospektif, pasarnya masih terbuka karena penggunaan di broiler komersial baru 20-30%, layer komersial bukan yang pullet baru 10%. Sedangkan di breeding (pembibitan) sudah hampir 80%.” ujarnya.

Teddy mengatakan, jika pertumbuhan ekonomi terus membaik, daya beli masyarakat meningkat permintaan akan penggunaan Closed House akan meningkat pula. Apalagi persoalan penyakit dan pakan yang mahal menuntut pelaku usaha melakukan efisiensi. “Semua mengejar ke efisiensi sekecil apapun untuk menjadi pemenang.” tandasnya.

Titik krusial yang kerap mengganjal tumbuhnya teknologi ini di lapangan adalah kontinuitas pasokan listrik di seluruh wilayah tanah air yang rendah. Kebutuhan listrik tanpa terputus bagi aplikasi terutama yang otomatis penuh bersifat mutlak. Padahal peternak ketika membangun Closed House umumnya sudah harus membangun jaringan listrik yang biayanya tak kecil.

Setya misalnya harus merogoh kocek sedikitnya Rp. 25 juta untuk mengalirkan listrik dengan menambah 3 tiang listrik (togor). Sementara Hari mengaku keluar dana khusus Rp. 68 juta dengan penambahan 11 tiang listrik. Itu pun tak cukup aman. Karena listrik yang kerap padam, peternak harus menyiapkan genset untuk antisipasi. Kalau tidak ingin ayamnya terpanggang kepanasan atau mati kelaparan dan kehausan di saat listrik dari PLN ngadat.

Sumber : Trobos, Juli 2011 (Efisiensi Closed House (bag 2))

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/efisiensi-closed-house-bag-2/

Demi Efisiensi Closed House Kian Diminati (bag 1)

Kalaupun biaya harus dikeluarkan lebih besar dengan target output yang dihasilkan jauh lebih besar, kenapa tidak dilakukan ?

Penggunaan teknologi Closed House (kandang tertutup) pada peternakan unggas di Indonesia dalam 2 tahun terakhir berkembang sangat pesat.

Di Jogjakarta dan Jawa Tengah misalnya, dari segi kuantitas serta kualitas demikian maju dan progresif dalam penerapan Closed House dengan peralatan yang otomatis penuh (full automatic). Secara kualitas menyalip wilayah Jawa Timur yang lebih dulu mengenal dan mengadopsi teknologi tersebut.

Hari Sukmawan, peternak broiler (ayam pedaging) di Kecamatan Temon, Kulon Progo, Jogjakarta di 2011 ini memutuskan merenovasi 2 kandang broiler miliknya yang model panggung terbuka (opened) menjadi Closed House (sistem tertutup). Pasalnya, Hari yang mulai beternak bersama beberapa teman dengan populasi awal 5 ribu ekor di 2001 ini hampir 3 tahun terakhir mengalami kendala yang kompleks.

Sejak total kapasitasnya mencapai 30 ribu ekor per siklus, pengendalian penyakit dan cekaman cuaca ekstrem makin merepotkan, dan serbuan lalat yang dikeluhkan masyarakat saat panen juga makin tinggi. Keuntungan yang diterima pun fluktuatif akibat performa yang dihasilkan juga naik turun.

Pengalaman hampir sama dialami Setya Pudyastiwi. Pemilik kandang yang berlokasi di Bantul, Jogjakarta ini bercerita, kandang terbuka miliknya yang baru berjalan 5 periode belum sekalipun memberikan untung. Salah satu periode bahkan ia hanya memanen 50% ayam karena dihajar wabah penyakit.

Dan periode terakhir ia mengaku tak habis pikir dengan membengkaknya FCR (konversi pakan). Problem cuaca dan penyakit jadi sandungan utama peternakan yang dikelola bersama anaknya Aldhila Putra Satria Jaya ini sehingga ia memutuskan beralih ke Closed House. Berlokasi di daerah Kokap, Kulon Progo kini tengah dalam proses pembangunannya, yang terdiri atas 2 lantai untuk 24 ribu ekor broiler.

Lain kisah Wahyu Pratomo. yang telah membuktikan keuntungan penggunaan Closed House. Peternak broiler di Purworejo ini sejak awal usaha langsung menerapkan teknologi itu dengan kapasitas 23 ribu dan peralatan otomatis penuh, termasuk melengkapi dengan mini silo untuk mencegah keterlambatan pakan.

Kandang berbendera PT Organik Alam Lestari ini beroperasi terhitung Maret lalu, sudah panen 3 kali dan masuk periode ke-4. Performa yang dihasilkan 3 periode setidaknya menguatkan keyakinan Wahyu atas aplikasi Closed House. Data performa satu siklus dengan panen terbaik yang dicapai Wahyu adalah FCR 1,76; umur panen 29,84; bobot panen 1,99; kematian 1,99; serta IP 387,6. Sementara hasil rata-rata 3 periode dapat dilihat di tabel.

Investasi

Wahyu yang sebelumnya tak pernah kenal bisnis perunggasan dan lebih akrab dengan bisnis pupuk dan jasa konstruksi ini mengaku mempertaruhkan dana sebesar Rp. 946 juta untuk investasi Closed House. “Saya yakin, setelah dianalisis, modal yang dikeluarkan bakal terbayar lunas dalam waktu 2 tahun. Dengan asumsi target 7 siklus dalam setahun tercapai.” tegas Wahyu kepada TROBOS optimis.

Dijelaskan Wahyu, kandangnya terdiri atas 2 lantai berukuran 16 x 54 m² dengan kepadatan populasi 13,5 ekor per m². Bahkan rencananya akan ditingkatkan jadi 14 ekor per m² karena secara teori 15 ekor per m² dapat diterapkan, dengan catatan dilakukan penjarangan pada umur 28-29 hari. Sebagian ayam dipanen, kisaran bobot di umur tersebut 1,5-1,6 kg.

Hasil memuaskan pada siklus terakhir yang mampu meraup untung Rp. 3.050 per ekornya mendorong Wahyu memperbesar skala usaha. Di lokasi yang sama, ia telah selesai membangun kandang kedua berupa kandang 1 lantai berukuran 23 x 66 m², kapasitas 21 ribu ekor dengan biaya yang diperkirakan lebih kecil dari biaya kandang pertama.

Tidak hanya itu ia pun mengaku tengah mempersiapkan kandang ke-3 di Losari, Brebes dengan kapasitas 75 ribu ekor, 3 lantai ukuran 16 x 100 m² yang diperkirakan akan menelan modal sekitar Rp. 3,6 miliar. “Saya menyesal baru mengenal bisnis ini dengan segala teknologinya September tahun lalu. Kalau saja 10 tahun lalu saya tahu, saya membayangkan punya 600 ribu ayam sekarang.” selorohnya diiringi derai tawa.

Sementara Hari, menyebut biaya yang harus ia siapkan Rp. 400 juta untuk bangunan dan listrik, serta Rp. 400 juta lagi untuk mesin dan alat kelengkapan. “Rancangannya, 2 kandang masing-masing berukuran 10 x 115 m² dengan 2 lantai itu akan mampu meningkatkan populasi 2 kali lipat, menjadi 50 ribu – 60 ribu ekor ayam.” terang Hari.

Sedangkan kandang milik Setya unik. Pembangunannya menggunakan rangka baja ringan. Ia mengklaim ini sebagai uji coba yang pertama di Indonesia dan biaya yang dikeluarkannya 40% lebih rendah ketimbang menggunakan baja. Ia berani mencoba karena pihak kontraktor menjamin kekuatan kandang, dan memberi jaminan penggantian termasuk ayamnya apabila dalam 10 tahun terjadi kerusakan konstruksi.

Setya yakin dana Rp. 1,1 miliar yang dibelanjakannya kali ini akan impas dalam waktu 2,5 tahun. Ia mematok target dengan sistem Closed House, setidaknya ia bisa mendapatkan keuntungan Rp. 3.000 tiap ekor ayam.

Sales Area Manager Jateng-Jatim, PT Sierad Industries, Dhanang Purwantoro ikut menjelaskan Rp. 45 ribu per ekor adalah kisaran biaya atau investasi untuk membangun sebuah Closed House dari nol dengan peralatan otomatis penuh. Angka ini meliputi biaya konstruksi, mesin, dan peralatan otomatis penuh, minus lahan dan listrik. “Tinggal dikalikan jumlah populasi yang diinginkan.” ujar Dhanang. Sementara untuk kandang “up grade” atau modifikasi sebagaimana yang ditempuh Hari, angkanya lebih rendah.

dhanang closed house table

Komparasi Performa Ayam dengan Tipe Kandang Berbeda

Sebagai pembanding, Head of Production area Jateng-DIY, Sierad Produce, Abdullah Junaidi menunjukkan catatan biaya yang dibutuhkan untuk kandang panggung terbuka ada di kisaran Rp. 21 ribu per ekor. Karena investasi yang tidak kecil ini, kebanyakan peternak berpikir ulang untuk menerapkan Closed House. Junaidi sempat mengatakan, perlu hampir 2 tahun sejak ia mengenalkan pada Hari teknologi ini, sampai ia memutuskan merenovasi kandangnya.

Senior Sales Manager PT Sierad Industries, Agus Wahyu S secara terpisah menjelaskan, untuk modifikasi kandang menjadi Closed House dengan penambahan kipas, cooling pad (pendingin), dan tirai plastik biayanya berkisar Rp. 6.000 – Rp. 7.000 per ekor. Sementara modifikasi menjadi Closed House dengan penambahan kipas, cooling pad (pendingin), tirai plastik, tempat minum nipple dan tempat makan otomatis biayanya menjadi Rp. 8.000 – Rp. 9.000 per ekor.

Marketing Manager Equipment Division PT Agrinusa Jaya Santosa, Teddy Chandra punya patokan yang berbeda.
Hitungan dia, modifikasi kandang menjadi Closed House dengan penambahan kipas cooling pad dan tirai plastik, controller biaya per ekornya baik untuk broiler dan layer di kisaran Rp. 10.000. Biaya itu di luar biaya kandang. “Closed House untuk tiap daerah akan berbeda tergantung kondisi daerah tersebut dan untuk daerah pesisir pantai lebih baik karena kelembabannya lebih rendah.” imbuh Teddy.

Cara kalkulasi berbeda dipunyai President Director PT Berdikari Sarana Jaya, Deddy Kurnia. Menurut dia, modifikasi kandang menjadi Closed House membutuhkan biaya sekitar Rp. 70 juta. Angka tersebut digunakan untuk membeli kebutuhan kipas 5-6 unit dan tirai plastik pada kandang dengan ukuran 10 x 80 m². “Pembuatan Closed House bisa dipertimbangkan dengan dana yang diinginkan peternak karena Closed House ini bisa dibuat mewah sekali atau justru sederhana. Balik modal Rp. 70 juta bisa dikalkulasi dengan mengkombinasikan tempat makan yang dibuatkan semi otomatis.” paparnya.

Efisiensi

Deddy mengatakan Closed House lebih menguntungkan dari segi efisiensi, performa, dan banyak efek positifnya. Sayang, kompetisi peternak dalam penerapan teknologi Closed House di Indonesia masih rendah sehingga biaya produksi masih tinggi. “Intervensi harga jual produk sulit dilakukan, karena tergantung pasar. Maka yang bisa dimainkan dengan Closed House adalah bagaimana harga pokok produksi (HPP) ini bisa lebih rendah. Investasi awal untuk Closed House mahal, tetapi biaya operasional per ekornya jauh lebih murah.” ia berargumentasi.

Teddy berpendapat, peternak yang sudah mengerti Closed House dan mampu menjalankan dengan lebih baik serta lebih efisien, akan bisa menghitung profit dari teknologi tersebut. Besarnya investasi, pemakaian listrik, termasuk biaya lingkungan, semua bisa dihitung dan dibandingkan dengan sistem kandang terbuka.

Tapi terkadang peternak masih berpikir, begini saja sudah untung kenapa harus pakai Closed House. Padahal beberapa tahun belakangan ini tantangan di peternakan unggas tidak lebih baik bahkan cuaca tidak mendukung, dan Closed House bisa menjadi solusi.” papar Teddy.

Agus membenarkan, penggunaan Closed House secara umum belum banyak berkembang khususnya di broiler komersil karena peternak belum mengetahui atau memahami keuntungannya atau terkendala faktor lainnya. Padahal sistem Closed House sangat baik dan cocok diterapkan di Indonesia yang memiliki temperatur udara tidak stabil. “Dengan sistem Closed House usaha peternakan akan lebih efisien baik di kepadatan populasi, penggunaan pakan, kematian dan keseragaman bobot ayam.” tegasnya.

Dhanang memberikan gambaran efisiensi yang dapat dicapai teknologi ini. Dicontohkannya, 1 kandang closed house dengan ukuran tertentu mampu memuat 24 ribu ekor broiler dan cukup dioperasikan oleh 2 tenaga kerja. Sementara dengan sistem terbuka, untuk ukuran yang sama diperlukan setidaknya 5 kandang yang masing-masing berkapasitas 5 ribu ekor, dengan 10 tenaga kerja (2 orang per kandang).

Belum lagi kalau lokasinya terpencar, problemnya beragam dengan ancaman yang beragam juga. “Keuntungan atau nilai lebih yang utama dari Closed House adalah kepadatan meningkat kapasitas tampung berlipat efisiensi terdongkrak.” ujarnya.

Bersambung : Demi Efisiensi Closed House Kian Diminati (bag 2)
Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/efisiensi-closed-house-bag-1/

AI Terbaru Terus Memburu Dan Diburu

Muncul AI gejala baru ? Infovet melakukan investigasi serentak pada peternak, praktisi, dan ahli di borbagai wilayah di Indonesia. Hasilnya ? Anda akan dibawa pada suatu fenomena baru kasus AI tahun 2007, yang punya gambaran realitas berbeda (baca: ada perkembangan) dengan kasus Al tahun 2003-2004.

Ayam Potong Tidak Terbebas

Awalnya para pedagang ayam potong tidak tahu apa yang terjadi dibalik kematian lebih dari 80% jumlah ayam yang baru diangkut dari kandang milik peternak. Namun oleh karena kejadian itu terus berulang maka, akhirnya terkuak kasus itu adalah manifestasi semakin nyata kasus wabah penyakit Avian Influenza (AI) pada ayam potong.

Kasus penyakit yang sempat menggegerkan industri perunggasan domestik itu meski sudah memasuki tahun ke lima, selama ini lebih banyak menerjang ayam petelur. Sangat sedikit kejadiannya bahkan tidak setiap daerah dijumpai kasus penyakit itu pada ayam potong.

Beberapa waktu lalu para peternak ayam potong masih bisa membusungkan dada bahwa AI hanya menyerang ayam yang umur produksinya tua seperti ayam petelur. Dan ayam potong diasumsikan terbebas dan sergapan.

Dengan semakin merebaknya kasus AI pada ayam potong, menyebabkan hantaman bertalu-talu seperti rendahnya harga jual hasil produksi yang berlangsung cukup lama. Menurut Catatan Infovet selama lebih dari 6 minggu harga jual ayam besar sempat menyentuh setengahnya dari biaya titik impas. Pihak lain juga terjadi daya serap pasar yang terus melemah.

Drh. Wakhid N. dari PT Vaksindo Satwa Nusantara mengungkapkan kasus ini menjadi masalah serius yang harus diupayakan pemecahannya secara bersama seluruh stake holder, seperti peternak, pemerintah ataupun produsen vaksin dan obat-obatan hewan.

Upaya ini sangat mendesak dan penting agar kasus itu tidak semakin meluluh-lantakan industri perunggasan nasional, diperparah dengan ancaman akan masuknya produk unggas dari negeri manca.

Respon Peternak

Diceritakan oleh Wakhid banyak peternak juga pedagang ayam potong mengeluhkan wabah penyakit itu, yang nota bene selama ini disikapi oleh peternak ayam potong dengan dingin. Di Jogjakarta dan Jawa Tengah sendiri kasus penyakit itu pada ayam potong relatif belum menjadi masalah, namun di daerah lain sudah menjadi teror yang sangat menakutkan.

Teror yang menakutkan itu dapat diambil contoh kasus yang faktual terjadi belum lama ini di kawasan Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi. Seperti diutarakan Ir Dhanang Purwantoro dan PT Biotek Jogja yang pernah terjadi peternak ayam potong dengan populasi 60.000 ekor berumur 11 hari, nekad mengambil keputusan menumpas total populasi oleh karena kandang-kandang di sekitarya sudah terserang penyakit AI.

Argumen pemilik daripada menderita kerugian yang lebih besar di kemudian hari alias pada saat bertambah umur, maka langkah yang sengaja merugikan diri sendiri itu jauh lebih ringan. Langkah itu menurut pandangan umum adalah sebuah langkah “gila” tetapi justru rasional menurut si pelaku.

Kasus tersebut membuat jantung pelaku usaha budidaya perunggasan berdetak tak karuan. Oleh karena itu kebersamaan antar pemangku usaha itu menjadi sangat penting sekali.

Investigasi Infovet ke lapangan di Jogjakarta kasus penyakit itu sampai saat tulisan ini dibuat memang belum ditemukan. Namun di Jawa Tengah, khususnya di Purwokerto kasus itu sudah pernah ditemukan meski frekuensinya baru 4 kali dengan populasi yang relatif sangat kccil yaitu total populasi 4.500 ekor.

Ir Agus W alias “Suwingi” petugas lapangan yang banyak membimbing para peternak mengungkapkan umumnya kasus itu banyak terjadi di kawasan pantai selatan sekitar Gombong terjadi pada peternak mikro dengan populasi 1500 ekor per periode.

Berbeda dengan yang di Botabek yang terkuak karena komplain dari pedagang ayam, justru peternak dan Agus yang pertama kali menduga hal itu oleh karena penyakit AI.

“Ayam-ayam itu seminggu saat mau dipanen masih segar bugar dan nafsu makan biasa saja, tapi 2 hari kemudian langsung mati mendadak dengan total kematian mencapai 60% dari total populasi 1000-1500 ekor. Sava menduga hal itu mungkin karena ND. Namun kemudian ada sejawat Dokter hewan mendiagnosa kasus penyakit itu tak lain adalah AI”, ujar Agus.

Gejala Klinik Berbeda

Pada Pebruari 2007, tim Drh Agus Damar Kristiyanto Kepala Seksi Penjualan PT Romindo Primavetcom di Tangerang menjumpai kasus AI pada ayam broiler di Baleraja, dengan kematian 70 persen, dijumpai pada ayam umur 15 hari, 23 hari, dan saat panen.

Kondisi biosecurity peternakan di tempat itu cenderung ketat, namun ayam tidak divaksin. Khawatir kondisi itu terulang, peterak beramai-ramai menjual dan membagi-bagi ayamnya. Namun kondisi masing-masing peternakan, tidaklah sama.

Hikmahnya, peternak yang tidak pernah memakai vaksin AI pada ayam pedaging mau mencobanya. Pada anak ayam umur 1 atau 4 hari, dosis yang dipakai adalah 1/2 dosis untuk ayam petelur. Kemudian setelah ditest antibodinya pada umur 27 hari, tidak menunjukkan kena AI.

Menurut Drh Damar, kasus AI semacam itu saat itu belum muncul di Jakarta, diketahui tidak ada antibodinya. Namun perlu terus untuk dipantau.

Sedangkan di Jawa Timur, Drh Prabadasanta Hudyono dari PT Multibreeder Adirama Indonesia menuturkan menemui AI yang tergolong baru dengan kecenderungan berbeda dengan AI yang telah dikenal.

Pada kasus AI yang ditemui Maret 2007 suhu tubuh ayam rata-rata sangat tinggi.

Panasnya tubuh ayam dapat dibandingkan dengan kasus gumboro di mana suhu tubuh sangat panas. Kasus AI di Madiun dan Magetan Jawa Timur ini juga menyerang 2500 milik seorang peternak yang membuatnya sangat kehilangan.

“Kelihatannya AI pun punya generasi baru, tidak kalah sama Nissan (merek mobil) yang punya generasi baru”, Drh Praba mengambil perumpamaan. Menurutnya, tampaknya virus sudah mengganggu pusat pengaturan suhu tubuh, sehingga suhu tubuh panas sekali.

Keiika jari tangan dimasukkan kloaka hingga tuba fallopii untuk memeriksa telur, nyenggol daging di sekitar ginjal, jari tangan seperti dislomot (terkena bara panas) api. Telur, daerah tuba fallopii sangat panas. Ayam demam bersuhu lebih panas dari kasus-kasus terdahulu. Jenis antigennya membuat orang penasaran untuk mengetahui secara pasti.

Masih H5N1

Akibat serangannya, ayam kampung banyak yang mati. Pertama kali menemukan kasusnya, tim Drh Praba melakukan kroscek, hasilnya memang cenderung ada ciri baru, tapi tipe virusnya masih H5N1.

Namun virus H5N1 ini menyerang ke organ tubuh yang beda. Sifatnya pun masih HPAI (tipe ganas/Highly Photogenic Avian Influenza) bukan LPAI (Lowly hatogenic Avian Influenza/AI tipe tidak ganas).

Kasus ini mulai kelihatan di beberapa tempat. Pada kasus yang terjadi di Magetan, pada kandang yang terserang, ternyata dalam satu kandang terdapat ayam yang campur-campur jenisnya, ada ayam ras yang bercampur ayam kampung dan lain-lain. Belum ada kasus pada orang.

Panas tubuh yang sangat tinggi pada ayam ini. menurut Drh Praba merupakan manifestasi dari atresia ovari. Ayam yang dulu belum pernah di vaksin, belum nampak gejala. Namun setelah ayam divaksin, ada serangan baru, maka terjadi tarik-menarik kekuatan antara antigen dan antibodi secara luar biasa sehingga suhu tubuh meningkat drastis lantaran syaraf pusat di hipofisa terganggu. Akibatnya pengontrol suhu tubuh pun turun.

Menurut Prof Drh Charles Ranggatabbu MSc PhD, gejala itu muncul seiring perkembangan AI di mana ayam yang sudah vaksin AI dan diberlakukan biosecurity secara ketat. Dalam tubuh ayam antibodi virus ditekan terus, sehingga antibodi membentuk sistem perlawanan baru.

Dekan FKH UGM ini mengungkapkan, kasus ini berbeda dengan kasus tahun 2003-2004 yang kondisinya sama. Variasi pada kasus yang sekarang, mungkin terjadi variasi susunan genetik virus. Misalnya susunan asam amino 1-3, walau tipe virus ini masih HPAI. Akibatnya gejala klinis dan patologi klinis berbeda dengan yang terjadi pada kasus 2003-2004.

Kasus 2003-2004 gejalanya khas, dan tidak terjadi pada ayam broiler. Kasus pada ayam layer fase pertumbuhan dan remaja (pullet) pun tidak ada. Namun terjadi kematian ringan pada ayam layer yang menyebabkan penurunan produksi.

Kasus yang sekarang, secara patologi memang tidak ada gejala. Namun gejala klinis pada ayam petelur terjadi perdarahan di ovarium. Adapun pemeriksaan secara klinis dan patologi klinis, serologis titer AB tidak seragam.

Umumnya broiler yang tidak divaksinasi, begitu ada kontak dengan virus lapang, serangan susah dielakkan. Kematian pun tak dapat dihindari. Sementara itu, gejala perdarahan yang ekstensif tidak dijumpai pada ayam petelur dan ayam pedaging. Biosccurity mulai kendor.

Kasus AI pada ayam layer peternakan komersial, membuat peterak sangat tegang. Kematian ayam meningkat. Antigen virus itu diperiksa di laboratorium FKHU UGM, tipe virusnya masih HPAI H5N1.

Kasusnya ternyata tidak hanya terjadi pada ayam layer, tapi juga pada ayam broiler dan ayam buras pada petrmakan rakyat. Walaupun tipe virus juga H5N1, susahnya gejala klinis dan patologi klinisnya tidak spesifik seperti kasus AI pada tahun 2003 dan 2004.

Perubahan Molekular Serang Otak

Terjadinya variasi gejala dan patologi ayam pada kasus 2007 ini, menurut Prof Charles karena ada pergerakan dinamika molekularnya. Ada perubahan variasi 1-2 asam amino, 1-2 isolat dicurigai telah mengalami perubahan ini. Untuk penelitian ini diperlukan standar emasnya, standar penelitian terbaik.

Menurut Prof Charles, penelitian terhadap kasus demi kasus, terutama terhadap faktor selular dan bioselular virus, tidak bisa dengan pola dan cara seperti yang telah dilakukan, begitu saja terus-menerus. Perlu diteliti lebih dalam terhadap gen H dan N-nya, protein-protein lain, reseptor-reseptornya dan lain-lain yang sejauh ini belum dilakukan mengingat terbatasnya dana.

Untuk penelitian lebih canggih memang diperlukan kerjasama dengan berbagai institusi yang lebih maju, misalnya Biologi Molekular Balitbangkes dan dibutuhkan prakarsa ahli-ahli biologi. Juga dibutuhkan program yang lebih maju dan penelitian-penelitian canggih lain mengingat isolat-isolat bahan hewan di Indonesia jumlahnya banyak sekali. Kita pun tidak bisa menekuni dan mengelola bidang ini secara sepotong-sepotong seperti yang terjadi saat ini.

Dr Drh CA Nidom MS yang kini juga Wakil Dekan III FKH Unair ini, menuturkan kasus AI bergaya baru itu dalam analisanya sudah menyerang otak. Toksin atau racun dari virus itu sudah mengganggu termoregulator di otak. Akibatnya suhu tubuh yang ditimbulkan sangat tinggi dan dengan sendirinya mengganggu metabolisme.

Menurut Dr Nidom, akibatnya ada dua kemungkinan yang terjadi pada ayam, yaitu ayam itu dapat bertahan atau tidak dapat bertahan. Bila ayam dapat bertahan, produksinya akan turun Sedangkan ayam yang tidak bertahan akan mati.

Dr Nidom saat ini sedang mendeteksi ada hal aneh dengan perubahan itu. Saat ini tahap penelitian di laboratoriumnya, preparat virus masih ditanam pada telur, dan membutuhkan waktu sekitar 2-3 minggu untuk mendapatkan hasilnya.

Untuk kali ini kita tahu kecurigaannya, dengan menyerangnya virus ke otak/susunan syaraf pusat, kemungkinan dapat terjadi perubahan protein dan DNA dari virus sehingga dapat menembus barier syaraf di otak, menganggu termoregulator dan muncullah panas tinggi itu!

Adapun menurut Drh Lies Parede MSc PhD dari Balitvet Bogor, mungkin virus HPAI H5N1 dari daerah-daerah yang disebutkan para narasumber tadi sudah mengalami rekombinasi, dengan perbedaan kecil dibanding kasus pada tahun 2003. Analisa akurat menunggu hasil pemeriksaan dan laboratorium biologi molekuler.

Tentang pantat ayam yang dimasuki jari orang, ia menjelaskan, suhu badan orang adalah 37 derajad Celsius, sedang badan ayam 41 derajad Celsius. Dengan dimasukkannya jari orang ke dalam pantat ayam sudah tentu akan sangat panas. Apalagi bila ayam dalam kondisi demam bersuhu 42-43 derajad Celsius.

Di samping itu Dr Lies menganjurkan untuk perlakuan itu supaya berhati-hati sebab tangan itu dapat memasukkan kuman ke dalam tubuh ayam dan dapat mengakibatkan infeksi Salphingitis.

Menurutnya, serangan virus HPAI H5NI mengakibatkan septisemia dengan peradangan sistemik pada multi organ interna maupun eksterna. Maka timbulah demam seperti interleukin, TNF (Tumor Nekrosis faktoe Alfa), PGE-2 (Prostaglandin E-2) dan lain-lain.

Menurut penelitian Lab Patologi FKH IPB, sepanjang tahun 2003-2007 kasus HPAI H5N1 menimbulkan kerusakan patologi makro dan mikro yang sama, perdarahan multifokus organ, di antaranya ovum dari ovarium ayam yang bertelur dan enchepalitis pada otak dari multifokus nekrosis yang masih ditemukan.

Soal kerusakan otak ayam pada tahun 2003, sudah dikonfirmasikan oleh Lab Patologi FKH IPB dan BPPV Wates Yogyakarta dalam Konferensi Asosiasi Patologi Veteriner 2004 di Maros Sulawesi Selatan.

Analisa secara ilmiah virus tahun 2007 tersebut sudah mengalami rekombinasi. meski sifatnya masih serupa ganasnya dengan virus H5N1 tahun 2003. Sedangkan kejadiannya pada ayam juga masih serupa, yaitu pada ayam kampung, ayam aduan, ayam komersil petelur maupun pedaging dari berbagai umur.

Kembali ke Biosecurity

Soal pengendalian, menurut Dr Lies, sudah merupakan kenyataan bahwa virus HPAI H5NI dapat dikendalikan dengan vaksin, yaitu dengan vaksin holomog dan virus lapang. Dan pemilihannya, dianjurkan sebagaimana pencarian untuk vaksin pada manusia, vaksin AI mesti cocok, program tepat dan murah terjangkau peternak.

Munculnya kasus yang mengejutkan itu, menurut Prof Charles Ranggatabbu karena biosecurity mulai kendor. Terjadi perbedaan nyata antara layer divaksinasi dan biosecurity ketat dengan biosecurity yang jebol dan tidak dilakukan vaksinasi. Pada kondisi yang terakhir, kematian meningkat sangat tinggi.

Prof Charles mengingatkan bila ada kasus janganlah gegabah, Lalu jangan menjual hidup-hidup yang ayam terserang AI. Kotoran ayam yang sudah disimpan 1 minggu, harus dikeluarkan. Juga ketatkan kontrol lalu lintas. “Biosecurity adalah andalan. Tanpa itu ayam akan kena AI lagi”, tekan Charles. (Untung Satriyo, Yonathan Rahardjo)

Sumber : Infovet, Mei 2007

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/ai-avian-influenza-terbaru-terus-memburu-dan-diburu/

Closed House Sebuah Tuntutan Memenangi Pertarungan Di Pasar ASEAN

Efisiensi dan kualitas adalah sebuah keharusan dalam meningkatkan nilai tawar dan memenangi kompetisi pasar. Demikian juga dengan industri perunggasan domestik saat ini, terutama dikaitkan dengan era baru pasar bebas ASEAN pada akhir tahun 2015 mendatang.

Jika kedua hal itu tak mampu ditegakkan, maka sudah pasti pasarlah yang ganti akan menggilas, dan kebangkrutan industri perunggasan di Indonesia menjelma menjadi kenyataan.

Demikianlah paparan Ir Dhanang Purwantoro ketika tampil mempresentasikan pendapatnya di hadapan para investor dari sebuah Konglomerasi Grup Otomotif yang berminat dengan bisnis perunggasan.

Menurut Dhanang, sebagai seorang praktisi Closed House yang cukup dikenal handal di Indonesia itu, bahwa pada sebuah kegiatan bisnis apapun termasuk perunggasan jika telah melalaikan filosofi efisiensi dan kualitas, hal itu ibarat berada di medan perang, tanpa membawa bekal senjata dan amunisinya yang memadai. Akhirnya keinginan dan misi untuk memenangkan sebuah kompetisi hanyalah tinggal impian.

Dalam pasar bebas ASEAN yang segera akan berlaku di Negara Negara anggota persekutuan Asia Tenggara itu, maka perdagangan barang dan jasa akan dibebaskan tarif bea masuk, kecuali memang ada produk tertentu. Kesepakatan pasar terbuka alias pasar bebas ASEAN itu memang akhirnya memaksa dan menuntut adanya jaminan kualitas dan efisiensi. Sebab, disamping masalah harga yang akan menjadi komponen penting dalam kompetisi, maka kualitas adalah komponen lain yang tak dapat ditinggalkan.

Dunia usaha perunggasan Indonesia, selama ini mengalami perkembangan yang cukup pesat. Baik dalam volume skala usaha maupun distribusi keberadaan geografisnya. Peternak dalam negeri selama ini masih diuntungkan dengan belum begitu signifikan produk dari Negara lain, sehingga harga jual hasil produksinya berupa telur dan daging ayam serta ikutannya, relatif “terjaga”. Istilah terjaga dalam tanda petik ini, lebih menjelaskan kondisi bahwa jika saja produk unggas dari negeri manca menyerbu, maka habislah masa depan bisnis perunggasan Indonesia.

Namun sejalan dengan telah diratifikasinya pasar terbuka wilayah regional ASEAN, maka iklim yang selama ini terlihat begitu dinikmati secara nyaman, maka kini menjadi terusik. Pelaku usaha bisnis perunggasan tidak lagi bisa mengandalkan pasar didalam negeri, namun juga harus siap bersaing secara terbuka dengan industri perunggasan dari Negara Negara ASEAN.

Sekali lagi Dhanang menekankan bahwa efisiensi dan kualitas adalah sebuah persyaratan yang tak dapat ditawar-tawar lagi. Dan peternak ayam dalam negeri meskipun hampir 10 tahun terakhir ini harus berjibaku dengan kenaikan ongkos produksi yang terus beranjak naik, juga sergapan aneka penyakit.

Sebuah sistem dan cara memelihara yang selama ini masih banyak peternak ayam di Indonesia lakukan adalah dengan kandang sistem terbuka, maka resikonya sangat besar dan jaminan kualitas produknya sangat rentan. Untuk itu meskipun masih belum begitu banyak peternak ayam di Indonesia yang mengaplikasikan kandang sistem tertutup (Closed House), namun sudah mampu memberikan pengaruh positif terhadap peternak lain yang masih dengan kandang konvensional atau terbuka. Peternak ayam yang masih menggunakan sistem konvensional sedikit demi sedikit telah mulai bermigrasi menerapkan Closed House. Meskipun pelan, akan tetapi secara faktual terus bertambah.

Oleh karena itu, budidaya perunggasan di Indonesia menjelang pasar bebas ASEAN itu, masih sangat prospektif. Sebuah peluang besar bagi para investor baru untuk tampil menjadi pemimpin bisnis unggas di tingkat domestik maupun di kawasan regional.

Dhanang menjelaskan bahwa Closed House adalah salah satu cara budidaya ayam modern dengan sistem kandang tertutup yang banyak memberikan keuntungan. Bukti selama ini menunjukkan bahwa Closed House bukan saja memberikan sejumlah lipatan keuntungan yang nyaris 2,5 kali lipat dibandingkan dengan kandang konvensional. Selain itu juga mampu menekan resiko kerugian yang diakibatkan oleh sergapan aneka penyakit dan performans ayam yang buruk. Populasi ayam dalam kandang Closed House nyaris mengalami pertumbuhan yang seragam dan bagus dalam pencapaian bobotnya. Sehingga secara kualitas ayam yang berasal dari kandang Closed House memang relatif lebih bagus. Ayam yang dipelihara dalam kandang Closed House tumbuh dengan nyaman serta efisien dalam mengubah pakan menjadi bobot badan.

Beberapa keunggulan budidaya ayam modern dengan mengaplikasikan kandang Closed House antara lain adalah pemanfaatan luas lahan yang jauh sangat efisien, sebab untuk luas lahan dalam kandang Closed House bisa menampung 17 ekor ayam per meter persegi. Sedangkan untuk kandang konvensional hanya mampu menampung kapasitas 7-10 ekor saja. Bahkan jika kemudian konstruksinya dibuat bertingkat (tumbuh vertikal), maka berarti mampu menampung 48-51 ekor.

Manfaat utama yang selama ini dirasakan oleh peternak yang baru beralih dari kandang konvensional ke kandang Closed House adalah kasus wabah penyakit relatif dapat ditekan. Sehingga dalam 1 (satu) periode pemeliharaan tingkat kematiannya hanya berkisar 1-2% saja. Sedangkan pada kandang konvensional tingkat kematiannya rata-rata selalu diatas 5%.

“Bayangkan jika populasi dalam kandang Closed House dengan kapasitas 21.000 ekor saja. maka jumlah ayam yang mati hanya sekitar 420 ekor dalam setiap panen (ini saja dihitung dengan tingkat mortalitas paling maksimal 2%). Secdangkan pada kandang konvensional, jumlah ayam yang mati hampir pasti diatas 1050 ekor. Bahkan jika mortalitas pada angka moderat (10%), maka berarti menembus angka 2.100 ekor”, jelas Dhanang.

Jumlah 2.100 ekor itu jika dikonversi ke nominal Rupiah, maka menurut Dhanang berarti peternak sudah kehilangan uang atau menderita kerugian sebanyak Rp. 94.500.000, (dengan catatan bobot ayam 1,8 kg/ekor dan asumsi harga ayam hidup Rp. 25.000/ekor).
Sebuah angka yang sangat besar dan bermakna, bahwa aplikasi kandang Closed House akan mampu menambah keuntungan yang sangat menggiurkan. Masih ada beberapa kelebihan dan keuntungan yang sangat menjanjikan dengan aplikasi Closed House pada budidaya ayam modern. Namun memang kendala utama adalah pada besarnya nilai investasi untuk kandang sistem tertutup ini.

Menurut Dhanang, nominal dana yang dibutuhkan untuk investasi khusus untuk kandang dan peralatan tanpa lahan / tanah dan listrik, berkisar Rp. 1,4 s/d 1,9 Milyar. Meski untuk investasi yang demikian besar itu, sejatinya menurut pakar Closed House Indonesia ini, bahwa jangka waktu untuk kembalinya modal (ROI, Return On Investment) hanya berkisar 2,5-3 tahun saja. Artinya setelah pada tahun ke-4 dan selanjutnya, peternak akan menikmati hasil yang cukup menggiurkan. Terlebih lagi pasar untuk daging ayam pada era perdagangan bebas regional ASEAN akan semakin terbuka.

Disamping itu pasar dalam negeri yang masih potensial untuk menyerap lebih banyak lagi oleh karena realitasnya standar nilai kecukupan gizi penduduk Indonesia masih terlalu jauh dari standar yang direkomendasikan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Aplikasi Closed House pada budidaya ayam di Indonesia akhirnya menjadi sebuah keharusan jika tak ingin dirangsek oleh gelontoran daging ayam dari Negara lain.

(Sumber : Infovet, Nov 2014)

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/closed-house-sebuah-tuntutan-memenangi-pasar-asean/