Closed House Sebuah Tuntutan Memenangi Pertarungan Di Pasar ASEAN

Efisiensi dan kualitas adalah sebuah keharusan dalam meningkatkan nilai tawar dan memenangi kompetisi pasar. Demikian juga dengan industri perunggasan domestik saat ini, terutama dikaitkan dengan era baru pasar bebas ASEAN pada akhir tahun 2015 mendatang.

Jika kedua hal itu tak mampu ditegakkan, maka sudah pasti pasarlah yang ganti akan menggilas, dan kebangkrutan industri perunggasan di Indonesia menjelma menjadi kenyataan.

Demikianlah paparan Ir Dhanang Purwantoro ketika tampil mempresentasikan pendapatnya di hadapan para investor dari sebuah Konglomerasi Grup Otomotif yang berminat dengan bisnis perunggasan.

Menurut Dhanang, sebagai seorang praktisi Closed House yang cukup dikenal handal di Indonesia itu, bahwa pada sebuah kegiatan bisnis apapun termasuk perunggasan jika telah melalaikan filosofi efisiensi dan kualitas, hal itu ibarat berada di medan perang, tanpa membawa bekal senjata dan amunisinya yang memadai. Akhirnya keinginan dan misi untuk memenangkan sebuah kompetisi hanyalah tinggal impian.

Dalam pasar bebas ASEAN yang segera akan berlaku di Negara Negara anggota persekutuan Asia Tenggara itu, maka perdagangan barang dan jasa akan dibebaskan tarif bea masuk, kecuali memang ada produk tertentu. Kesepakatan pasar terbuka alias pasar bebas ASEAN itu memang akhirnya memaksa dan menuntut adanya jaminan kualitas dan efisiensi. Sebab, disamping masalah harga yang akan menjadi komponen penting dalam kompetisi, maka kualitas adalah komponen lain yang tak dapat ditinggalkan.

Dunia usaha perunggasan Indonesia, selama ini mengalami perkembangan yang cukup pesat. Baik dalam volume skala usaha maupun distribusi keberadaan geografisnya. Peternak dalam negeri selama ini masih diuntungkan dengan belum begitu signifikan produk dari Negara lain, sehingga harga jual hasil produksinya berupa telur dan daging ayam serta ikutannya, relatif “terjaga”. Istilah terjaga dalam tanda petik ini, lebih menjelaskan kondisi bahwa jika saja produk unggas dari negeri manca menyerbu, maka habislah masa depan bisnis perunggasan Indonesia.

Namun sejalan dengan telah diratifikasinya pasar terbuka wilayah regional ASEAN, maka iklim yang selama ini terlihat begitu dinikmati secara nyaman, maka kini menjadi terusik. Pelaku usaha bisnis perunggasan tidak lagi bisa mengandalkan pasar didalam negeri, namun juga harus siap bersaing secara terbuka dengan industri perunggasan dari Negara Negara ASEAN.

Sekali lagi Dhanang menekankan bahwa efisiensi dan kualitas adalah sebuah persyaratan yang tak dapat ditawar-tawar lagi. Dan peternak ayam dalam negeri meskipun hampir 10 tahun terakhir ini harus berjibaku dengan kenaikan ongkos produksi yang terus beranjak naik, juga sergapan aneka penyakit.

Sebuah sistem dan cara memelihara yang selama ini masih banyak peternak ayam di Indonesia lakukan adalah dengan kandang sistem terbuka, maka resikonya sangat besar dan jaminan kualitas produknya sangat rentan. Untuk itu meskipun masih belum begitu banyak peternak ayam di Indonesia yang mengaplikasikan kandang sistem tertutup (Closed House), namun sudah mampu memberikan pengaruh positif terhadap peternak lain yang masih dengan kandang konvensional atau terbuka. Peternak ayam yang masih menggunakan sistem konvensional sedikit demi sedikit telah mulai bermigrasi menerapkan Closed House. Meskipun pelan, akan tetapi secara faktual terus bertambah.

Oleh karena itu, budidaya perunggasan di Indonesia menjelang pasar bebas ASEAN itu, masih sangat prospektif. Sebuah peluang besar bagi para investor baru untuk tampil menjadi pemimpin bisnis unggas di tingkat domestik maupun di kawasan regional.

Dhanang menjelaskan bahwa Closed House adalah salah satu cara budidaya ayam modern dengan sistem kandang tertutup yang banyak memberikan keuntungan. Bukti selama ini menunjukkan bahwa Closed House bukan saja memberikan sejumlah lipatan keuntungan yang nyaris 2,5 kali lipat dibandingkan dengan kandang konvensional. Selain itu juga mampu menekan resiko kerugian yang diakibatkan oleh sergapan aneka penyakit dan performans ayam yang buruk. Populasi ayam dalam kandang Closed House nyaris mengalami pertumbuhan yang seragam dan bagus dalam pencapaian bobotnya. Sehingga secara kualitas ayam yang berasal dari kandang Closed House memang relatif lebih bagus. Ayam yang dipelihara dalam kandang Closed House tumbuh dengan nyaman serta efisien dalam mengubah pakan menjadi bobot badan.

Beberapa keunggulan budidaya ayam modern dengan mengaplikasikan kandang Closed House antara lain adalah pemanfaatan luas lahan yang jauh sangat efisien, sebab untuk luas lahan dalam kandang Closed House bisa menampung 17 ekor ayam per meter persegi. Sedangkan untuk kandang konvensional hanya mampu menampung kapasitas 7-10 ekor saja. Bahkan jika kemudian konstruksinya dibuat bertingkat (tumbuh vertikal), maka berarti mampu menampung 48-51 ekor.

Manfaat utama yang selama ini dirasakan oleh peternak yang baru beralih dari kandang konvensional ke kandang Closed House adalah kasus wabah penyakit relatif dapat ditekan. Sehingga dalam 1 (satu) periode pemeliharaan tingkat kematiannya hanya berkisar 1-2% saja. Sedangkan pada kandang konvensional tingkat kematiannya rata-rata selalu diatas 5%.

“Bayangkan jika populasi dalam kandang Closed House dengan kapasitas 21.000 ekor saja. maka jumlah ayam yang mati hanya sekitar 420 ekor dalam setiap panen (ini saja dihitung dengan tingkat mortalitas paling maksimal 2%). Secdangkan pada kandang konvensional, jumlah ayam yang mati hampir pasti diatas 1050 ekor. Bahkan jika mortalitas pada angka moderat (10%), maka berarti menembus angka 2.100 ekor”, jelas Dhanang.

Jumlah 2.100 ekor itu jika dikonversi ke nominal Rupiah, maka menurut Dhanang berarti peternak sudah kehilangan uang atau menderita kerugian sebanyak Rp. 94.500.000, (dengan catatan bobot ayam 1,8 kg/ekor dan asumsi harga ayam hidup Rp. 25.000/ekor).
Sebuah angka yang sangat besar dan bermakna, bahwa aplikasi kandang Closed House akan mampu menambah keuntungan yang sangat menggiurkan. Masih ada beberapa kelebihan dan keuntungan yang sangat menjanjikan dengan aplikasi Closed House pada budidaya ayam modern. Namun memang kendala utama adalah pada besarnya nilai investasi untuk kandang sistem tertutup ini.

Menurut Dhanang, nominal dana yang dibutuhkan untuk investasi khusus untuk kandang dan peralatan tanpa lahan / tanah dan listrik, berkisar Rp. 1,4 s/d 1,9 Milyar. Meski untuk investasi yang demikian besar itu, sejatinya menurut pakar Closed House Indonesia ini, bahwa jangka waktu untuk kembalinya modal (ROI, Return On Investment) hanya berkisar 2,5-3 tahun saja. Artinya setelah pada tahun ke-4 dan selanjutnya, peternak akan menikmati hasil yang cukup menggiurkan. Terlebih lagi pasar untuk daging ayam pada era perdagangan bebas regional ASEAN akan semakin terbuka.

Disamping itu pasar dalam negeri yang masih potensial untuk menyerap lebih banyak lagi oleh karena realitasnya standar nilai kecukupan gizi penduduk Indonesia masih terlalu jauh dari standar yang direkomendasikan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Aplikasi Closed House pada budidaya ayam di Indonesia akhirnya menjadi sebuah keharusan jika tak ingin dirangsek oleh gelontoran daging ayam dari Negara lain.

(Sumber : Infovet, Nov 2014)

Sumber : http://dhanangclosedhouse.com/closed-house-sebuah-tuntutan-memenangi-pasar-asean/

Advertisements

One thought on “Closed House Sebuah Tuntutan Memenangi Pertarungan Di Pasar ASEAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s